oleh

Gelar Budaya “Sedekah Laut 2018” Nelayan Kab.Cilacap Berlangsung Meriah dan Khidmat

Cilacap, LINTAS PENA

 

Sedekah laut merupakan bagian ritual “keagamaan” pada saat itu yang saat itu yang masih tertinggal hingga kini dalam lingkup keberlangsungan hidup nelayan. Ritual sedekah laut sangat kental terasa di wilayah Jawa khususnya Pantai selatan Jawa.

Ritual sedekah laut dikenal pada masyarakat Jawa dengan definisi pemberian macam-macam sesaji kepada ratu kidul, sebagai bentuk rasa syukur (berterima kasih) atas rejeki laut dan keselamatan yang telah diterima saat melaut kepada Nyai Roro Kidul. Sosok Nyai Roro Kidul sangat dihormati dikalangan nelayan Cilacap, mereka berpendapat bahwa Nyai Roro Kidul adalah Ratu Pantai Selatan yang menjaga, mengatur serta menghidupi kelangsungan kehidupan di Pantai Selatan Jawa.

Mereka juga berpendapat bahwa penghasilan baik dan buruknya mereka melaut adalah tergantung dari bagaimana kebaikan Ratu Pantai Selatan, oleh sebab itu guna menarik mendapatkan keselamatan dari sang ratu, maka setiap tahun masyarakat melakukan persembahan kepada Nyai Roro Kidul.

Tradisi sedekah laut adalah membuang sesaji ke laut dengan maksud memberikan makanan kepada yang mbaurekso atau penguasa laut. Upacara Sedekah Laut merupakan upacara tradisional masyarakat nelayan Kabupaten Cilacap sebagai ungkapan rasa syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang dilaksanakan pada setiap tahun Bulan Syuro/Muharam pada hari Jumat Wage.

Sesaji yang dikemas dengan bungkus kain warna kuning dan suatu usungan rumah joglo yang beratap daun nipah berisi antara lain kepala sapi serta berbagai kelengkapan kehidupan sehari-hari dari bahan mentah sampai makanan yang beraneka macam, rumah joglo tersebut disebut Jolen. Untuk selanjutnya sesaji dan jolen tersebut dibawa oleh para nelayan untuk dilarung dilaut selatan dekat Pulau Nusakambangan dengan dipercayai oleh para nelayan bahwa tempat tersebut tumbuh Bunga Wijayakusuma.

Sebelum pelaksanaan prosesi larung sesaji yang diadakan hari Jum’at Kliwon 5 Oktober 2018, pada hari Kamis Wage, 4 Oktober 2018 pada pukul 07.00 WIB s.d selesai melakukan Ziarah Nelayan di Pulau Nusakambangan selanjutnya dilanjutkan prosesi acara pada pukul 19.00 WIB s.d selesai diadakan acara Tasyakuran bersama nelayan di Pendopo Kabupaten Cilacap. Prosesi Pelepasan Jolen dan Larungan Jolen di adakan pada pagi harinya yaitu hari Jum’at Kliwon kurang lebih pukul 08.00 WIB. Masing – masing kelompok nelayan membawa sesaji dan jolen yang berisi jajan pasar, makanan mentah dan mainan anak – anak serta kepala kerbau, sapi atau kambing tergntung kemampuan kelompok masing – masing dengan di iringi beberapa pasukan dan kesenian tradisional menuju Pendopo Kabupaten. Setelah semua jolen dari kelompok nelayan berada di Pendopo Kabupaten kemudian di bawa menuju pantai teluk penyu. Proses pelarungan di laksanakan di tengah laut yaitu dengan cara membuang sesaji yang berada di dalam jolen. Sesaji di buang ke laut dan masyarakat akan ramai-ramai merebut sesaji tesebut karena diyakini akan membawa berkah bagi dirinya.

Puncak acara wiyosan Bupati Cilacap H. Tatto Suwarto Pamuji di Pendopo Widjaja Koesoema Cakti Cilacap. Dalam keheningan malam Jum’at Kliwon 4-5 Oktober 2018 mengalun dalam hikmat tembang macapat, disungsung (persembahan) memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa untuk Bupati Cilacap H. Tatto Suwarto Pamuji, semoga diberi kekuatan dalam mengemban amanat rakyat, serta anugerah, berkah dan keselamatan selalu menyertai pisungsung para sesepuh ini dirangkai tembang gambuh, asamarandana dan kinanti dalam wujud sandiasma.

Dewan presidium daerah badan kerjasama organisasi penghayat kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dalam rangka menghayu bagja wiyosan Bupati Cilacap H. Tatto Suwarto Pamuji. Saresehan agung dihadiri kurang lebuh 1000 orang warga penghayat dari 24 paguyuban se-Kabupaten Cilacap. Dalam iring-iringannya nampak pula segenap masyarakat yang ingin melihat jalannya gebray sedekah laut mereka saling berjubel-jubel untuk menyaksikan prosesi gebyar sedekah laut dari tahun ke tahun sangat meriah dan diiringi lagu-lagu kesenian barongsay, ebeg, egrang dan lain-lain. Nampak pula dengan naik dokar (delman) Bupati Cilacap H. Tatto Suwarto Pamuji beserta istri, Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Kebudayaan Warsono, SH. M.Hum, Bagian Hubungan Masyarakat Taryo, S.Sos, M.Si, Kepala Dinas Pemuda, olahraga dan Pariwisata Murniyah, S.Pd, M.Pd, Kepala Dinas Pangan dan Perkebunan Kabupaten Cilacap Ir. Susilan. Mereka mengenakan pakaian kebesaran lengkap yang bermakna mengingatkan kita “NYLINGUK MBURI” melihat ke belakang bahwa leluhur kita menitipkan nagari Cilacap yang gemah ripah lojinawi ini, untuk dibangun dengan dilandasi saling asah, saling asih, saling asuh menuju Cilacap yang lebih martabat berbudaya ayem tantrem kartaraharja. Mari kita bersama-sama dalam membangun Cilacap yang kita cintai ini dan generasi mudah untuk nguri-uri melalui budaya dan adat, melestarikan budaya, menghormati leluhur dan meluhurkan budaya. Jelasnya (Laporan H. ARIYANTO SULAEMAN & RAMA PUTRA)****

Komentar