Oleh: Prof. Ir. H. Agus Pakpahan, M.S., Ph.D.___Pengembang Teori Koperasi Kuantum
Serial Tropikanisasi-Kooperatisasi, Edisi 28 September 2026
Abstrak
Esai ini adalah catatan reflektif tentang sebuah realitas yang selama ini terpinggirkan dari wacana publik: bahwa koperasi—yang kerap distigma sebagai institusi ketinggalan zaman—justru telah menjelma menjadi rumah bagi generasi muda. Melalui studi kasus Koperasi Kredit Keling Kumang (CUKK) di Kalimantan Barat, esai ini membuktikan bahwa lebih dari 80 persen dari 500 staf CUKK adalah generasi milenial dan Gen Z, dengan CEO yang memiliki gelar magister dan telah merintis karier sejak tahun 2000. Esai ini juga membongkar disinformasi yang menyesatkan tentang koperasi, menunjukkan bagaimana CUKK—dengan jaringan ekosistem yang mencakup pendidikan, ritel, perhotelan, dan agribisnis—telah membuktikan bahwa generasi muda bukan hanya tulang punggung operasional, tetapi juga brain power yang menggerakkan inovasi dan transformasi. Pada 2026, aset CUKK menembus Rp 3 triliun—sebuah lompatan kuantum dari modal awal Rp 291.000 pada 1993. Refleksi ini juga mengajak pembaca membayangkan: bagaimana jadinya perekonomian Indonesia jika memiliki 80.000 CUKK? Refleksi ini berangkat dari pengalaman empiris dan menjadi persembahan bagi para pejuang koperasi Indonesia.
Kata kunci: CUKK, generasi muda, tulang punggung, brain power, Koperasi Kuantum, disinformasi, tropikanisasi-kooperatisasi, 80.000 koperasi.
I. Pembuka: Stigma yang Harus Diruntuhkan
Ada sebuah stigma yang telah lama menghantui koperasi. Ia dipandang sebagai institusi ekonomi yang ketinggalan zaman—kaku, birokratis, dan tidak relevan dengan denyut zaman. Media kerap mendiskreditkannya. Berita tentang kegagalan, konflik internal, dan pengelolaan buruk menjadi santapan harian. Sementara kisah-kisah sukses dan transformasi tenggelam dalam sunyi.
Akibatnya, lahir kesimpulan keliru: generasi muda tidak menyukai koperasi. Mereka dicap hanya tertarik pada startup, investasi daring, atau bisnis berbasis teknologi. Koperasi? Tidak hype. Tidak relatable.
Tapi stigma itu salah.
Dan hari ini, saya ingin bercerita tentang sebuah organisasi yang membuktikan bahwa stigma itu runtuh. Organisasi itu bernama Credit Union Keling Kumang. CUKK.
CUKK lahir pada 25 Maret 1993 di Desa Tapang Sambas, Kabupaten Sekadau, Kalimantan Barat. Ia lahir dari keprihatinan sosial-ekonomi terhadap masyarakat Dayak dan kelompok marjinal—sebuah gerakan untuk melawan kemiskinan dan membangun kemandirian ekonomi. Nama “Keling Kumang” diambil dari tokoh legenda Dayak—Keling dan istrinya, Kumang—yang melambangkan kebijaksanaan, kerja keras, dan semangat membangun kehidupan yang lebih baik.
Hari ini, legenda itu hidup. Ia bernapas melalui anak-anak muda yang mengelola CUKK.
II. Disinformasi yang Menyesatkan: Membongkar Mitos Koperasi Kuno
2.1 Pandangan yang Keliru
Selama puluhan tahun, koperasi dipandang sebagai fosil ekonomi. Pandangan ini bukanlah kebenaran, melainkan disinformasi yang menyesatkan. Ia adalah kabut tebal yang sengaja atau tidak sengaja ditiupkan ke ruang publik, seolah-olah koperasi hanyalah bangunan tua dengan jendela berdebu, tempat orang-orang tua berdiskusi tentang hal-hal yang telah usang.
Padahal, jika kita mau membuka mata dan menyingkap tabir, koperasi adalah organisme hidup yang terus bermetamorfosis.
2.2 Dampak Disinformasi
Dari disinformasi itu, lahirlah kesimpulan keliru berikutnya: bahwa generasi muda tidak menyukai koperasi. Anak-anak muda zaman ini—yang lahir di era digital, yang tumbuh bersama algoritma dan kecepatan—dituduh enggan menyentuh koperasi karena dianggap kuno, tidak hype, dan tidak relatable. Mereka dicap hanya tertarik pada startup, investasi daring, atau bisnis berbasis teknologi.
Narasi ini diperkuat oleh informasi di berbagai media yang sering mendiskreditkan koperasi, memberitakan kasus-kasus gagal, konflik internal, atau pengelolaan yang buruk, seolah-olah itu adalah satu-satunya wajah koperasi. Media, dengan kekuatan narasinya, kerap melupakan kisah-kisah sukses dan transformasi yang terjadi di lapangan.
2.3 Kebenaran yang Terungkap
Namun, kebenaran sejati tidak pernah bisa disembunyikan selamanya. Ia akan menemukan jalannya untuk bersinar, seperti fajar yang menyusup di celah-celah malam. Dan di sinilah Koperasi Kuantum CUKK hadir sebagai antitesis dari segala stigma itu. Ia adalah bukti hidup bahwa koperasi bukanlah masa lalu, melainkan masa depan yang sedang dibangun hari ini.
III. Data yang Tidak Bisa Dibantah: 80 Persen Generasi Muda
Mari kita lihat angka. Bukan opini. Bukan prasangka. Angka.
CUKK memiliki lebih dari 500 staf.
Dari jumlah itu, sekitar 80 persen adalah generasi milenial dan Gen Z—usia 20 hingga 35 tahun.
Mereka mengisi posisi-posisi krusial:
· Manajer area
· Manajer cabang
· Kasir
· Staf lapangan
Mereka tersebar di puluhan kantor pelayanan di seluruh Kalimantan Barat.
Inilah tulang punggung organisasi.
Mereka bukan pelengkap. Mereka bukan sekadar pekerja. Mereka adalah kekuatan utama yang memastikan layanan simpan-pinjam berjalan setiap hari, menyentuh ratusan ribu anggota, dan menjaga denyut ekonomi rakyat kecil tetap hidup.
Data internal CUKK menunjukkan bahwa lebih dari 80% posisi manajer area, manajer cabang, kasir, hingga staf lapangan diisi oleh kelompok usia 20 hingga 35 tahun. CUKK memiliki kultur rekrutmen talenta lokal sejak usia dini—banyak yang bergabung sejak usia 20 tahun—untuk kemudian dipromosikan ke jenjang manajemen.
Ini bukan omong kosong. Ini fakta. Ini data. Dan data tidak pernah berbohong.
IV. Brain Power di Tangan Anak Muda: Kepemimpinan Visioner
4.1 CEO Hilarius Gimawan: Pemimpin Muda dengan Gelar Magister
Tulang punggung saja tidak cukup. Organisasi butuh otak. Butuh brain power.
Dan di CUKK, otak itu ada di tangan anak muda.
Hilarius Gimawan, S.E., M.M.
Ia resmi dilantik sebagai Chief Executive Officer (CEO) pada 25 Maret 2026, untuk masa bakti 2026–2031. Ia menggantikan Valentinus Narung yang telah purna tugas setelah satu dekade memimpin.
Hilarius bukanlah pemimpin biasa. Ia telah merintis karier di CUKK sejak tahun 2000. Artinya, ia tumbuh bersama organisasi ini. Ia memahami setiap sudut, setiap masalah, setiap peluang.
Dengan gelar Magister Manajemen, ia membawa kapasitas akademik dan pengalaman lapangan yang matang. Di bawah kepemimpinannya, CUKK sedang bertransisi menuju inovasi layanan digital dan ekspansi jaringan pelayanan yang lebih luas.
Inilah brain power.
4.2 Tim Eksekutif yang Didominasi Anak Muda
Kepemimpinan Hilarius tidak berdiri sendiri. Ia memimpin tim eksekutif yang didominasi oleh profesional muda—mereka yang memahami bahasa teknologi, sensitif terhadap perubahan perilaku konsumen, dan berani bereksperimen dengan model bisnis baru. Inilah brain power yang menjadikan CUKK bukan sekadar koperasi simpan-pinjam, melainkan ekosistem ekonomi yang adaptif.
V. Ekosistem yang Digerakkan Anak Muda
Brain power generasi muda CUKK tidak berhenti di ruang rapat. Ia menjelma menjadi jaringan ekosistem yang luas dan beragam:
Pendidikan:
· Institut Teknologi Keling Kumang
· SMK Keling Kumang
Bisnis & Ritel:
· Keling Kumang Mart
· Ladja Hotel
· Keling Kumang Agrotani
Semua unit usaha ini dikelola oleh tim-tim muda yang mengintegrasikan teknologi, manajemen modern, dan kearifan lokal.
Mereka adalah bukti bahwa generasi muda tidak hanya mampu mewarisi koperasi, tetapi juga mentransformasikannya.
Ini bukan lagi teori. Ini praktik. Ini kenyataan.
VI. Sinergi Antar Generasi: Keseimbangan yang Cerdas
Tentu, bukan berarti generasi senior tersingkir. Struktur tata kelola CUKK justru mengadopsi sistem sinergi antar generasi:
Jajaran Pengurus dan Pengawas:
· Stefanus Masiun (Ketua Pengurus)
· Marjuntak (Sekretaris)
· Erpina (Bendahara)
· Gregorius Bruno, Fransiska Yuniati, Bonaventura Richardus Bajae (Anggota)
· Darius Sila (Ketua Pengawas)
· Oktavianus Ngubang (Sekretaris Pengawas)
· Xaverius Maju Ratu (Anggota Pengawas)
Mereka umumnya diisi oleh tokoh senior, akademisi, dan aktivis sosial yang memiliki rekam jejak panjang. Mereka adalah penjaga ideologi dan stabilitas visi jangka panjang.
Founder:
· Drs. Munaldus, M.A. (lahir 1963)
Beliau adalah jangkar ideologis—sumber inspirasi dan legitimasi historis.
Sementara eksekusi bisnis dan inovasi teknologi diserahkan sepenuhnya kepada generasi milenial.
Kombinasi ini sengaja dibentuk untuk mengimbangi agresivitas eksekusi tim muda dengan kebijaksanaan strategis generasi senior.
Hasilnya adalah keseimbangan yang cerdas: stabilitas tanpa kelumpuhan, inovasi tanpa kehilangan arah.
Inilah yang saya sebut sebagai tropikanisasi-kooperarisasi—sebuah model pembangunan yang mengakar pada nilai-nilai lokal, tetapi terbuka terhadap perubahan zaman.
VII. Realitas yang Tak Terbantahkan: Capaian CUKK
Mari kita lihat capaian CUKK hingga periode laporan terbaru:
· Total aset: Menembus Rp 3 triliun pada 2026
· Jumlah anggota aktif: Ratusan ribu orang, tersebar di wilayah Kalimantan Barat
· Jaringan kantor: Puluhan kantor pelayanan, dengan kantor ke-82 baru saja diresmikan di Desa Kunyil, Meliau
Dalam RAT Tahun Buku 2025 yang diselenggarakan pada Februari 2026, beberapa keputusan strategis diambil:
· Penguatan Cadangan Risiko: Pemindahan Dana Cadangan sebesar Rp41 miliar menjadi Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN)
· Asuransi Pinjaman: Pinjaman dengan jumlah maksimal Rp10.000.000 sepenuhnya ditanggung oleh CUKK
Ini bukan koperasi yang ketinggalan zaman. Ini koperasi yang memimpin zaman.
VIII. Refleksi Tropikanisasi-Kooperarisasi: Pelajaran dari CUKK
Apa yang bisa kita pelajari dari CUKK?
Pertama, bahwa koperasi bukanlah institusi ketinggalan zaman. Koperasi adalah institusi yang mampu beradaptasi, berinovasi, dan bertransformasi—asalkan dikelola dengan visi yang jelas dan kepemimpinan yang tepat.
Kedua, bahwa generasi muda bukanlah masalah, melainkan solusi. Mereka adalah tulang punggung dan brain power yang mampu membawa koperasi melintasi zaman.
Ketiga, bahwa sinergi antar generasi adalah kunci. Generasi senior memberikan stabilitas, ideologi, dan legitimasi. Generasi muda memberikan energi, inovasi, dan adaptasi.
Keempat, bahwa disinformasi yang menyesatkan harus dilawan dengan data dan fakta. CUKK adalah bukti hidup bahwa koperasi bisa menjadi rumah bagi generasi milenial dan Gen Z—bukan karena dipaksa, tetapi karena mereka menemukan relevansi, tantangan, dan makna di dalamnya.
IX. Andaikan Indonesia Memiliki 80.000 CUKK
Sekarang, mari kita bertanya: andaikan Indonesia memiliki 80.000 CUKK—bukan 80.000 koperasi biasa, melainkan 80.000 Koperasi Kuantum yang dikelola oleh generasi muda, dengan ekosistem yang mencakup pendidikan, ritel, perhotelan, dan agribisnis, serta aset rata-rata Rp 3 triliun?
Mari kita hitung. 80.000 × Rp 3 triliun = Rp 240.000 triliun, atau Rp 240 kuadriliun. Angka ini jauh melampaui total aset perbankan nasional, bahkan melampaui PDB Indonesia yang berkisar Rp 20.000 triliun. Ini bukan sekadar angka—ini adalah kekuatan ekonomi rakyat yang terorganisir.
9.1 Distribusi Kekayaan yang Merata
Dengan 80.000 CUKK yang tersebar di seluruh pelosok negeri—dari Sabang hingga Merauke, dari desa tertinggal hingga kota metropolitan—kekayaan tidak akan terkonsentrasi di Jakarta atau kota-kota besar. Ia akan mengalir ke desa-desa, ke tangan petani, nelayan, pedagang kecil, dan pengrajin. Setiap rupiah yang disimpan akan berputar di komunitas lokal, menciptakan efek berganda yang luar biasa.
9.2 Kemandirian Ekonomi Desa
Selama ini, desa-desa Indonesia sering terjebak dalam jerat rentenir, tengkulak, dan sistem keuangan yang tidak berpihak pada rakyat kecil. Dengan 80.000 CUKK, setiap desa akan memiliki lembaga keuangan sendiri—yang dimiliki oleh anggota, dikelola oleh anggota, dan untuk kesejahteraan anggota. Tidak ada lagi ketergantungan pada pihak luar. Tidak ada lagi eksploitasi.
9.3 Generasi Muda sebagai Penggerak
Dengan 80.000 CUKK, akan ada jutaan lapangan kerja baru bagi generasi muda. Mereka tidak perlu merantau ke kota untuk mencari pekerjaan. Mereka bisa membangun karier di kampung halaman—sebagai manajer cabang, analis kredit, pengembang teknologi, atau pengusaha mikro yang dibiayai oleh koperasi. Ini adalah solusi nyata bagi masalah pengangguran dan urbanisasi.
9.4 Ekosistem Pendidikan dan Inovasi
Setiap CUKK, seperti halnya CUKK, akan mendirikan sekolah, politeknik, dan pusat pelatihan. Dengan 80.000 CUKK, akan ada 80.000 institusi pendidikan vokasi yang mencetak generasi muda terampil di bidang keuangan, agribisnis, teknologi, dan manajemen. Ini adalah revolusi pendidikan yang berbasis pada kebutuhan nyata masyarakat.
9.5 Ketahanan Pangan dan Energi
Dengan ekosistem agrotani yang dikembangkan oleh setiap CUKK, Indonesia akan memiliki jaringan pangan yang terdesentralisasi. Setiap daerah akan mampu memproduksi pangan sendiri, mengurangi ketergantungan pada impor, dan memperkuat ketahanan pangan nasional. Demikian pula dengan energi—CUKK bisa mengembangkan energi terbarukan berbasis komunitas.
9.6 Demokrasi Ekonomi yang Sejati
Dengan 80.000 CUKK, demokrasi ekonomi bukan lagi slogan. Setiap anggota memiliki satu suara, tanpa memandang besar kecilnya simpanan. Keputusan diambil secara musyawarah, bukan berdasarkan modal. Ini adalah wujud nyata dari Pasal 33 UUD 1945—ekonomi yang disusun sebagai usaha bersama berdasarkan atas asas kekeluargaan.
9.7 Indonesia sebagai Kekuatan Ekonomi Dunia
Jika Indonesia memiliki 80.000 CUKK dengan total aset Rp 240 kuadriliun, Indonesia akan menjadi kekuatan ekonomi terbesar di Asia Tenggara, bahkan mungkin di dunia. Tidak ada negara lain yang memiliki jaringan lembaga keuangan rakyat sebesar ini. Ini adalah keunggulan kompetitif yang tidak dimiliki oleh negara mana pun.
9.8 Refleksi: Dari Mimpi ke Kenyataan
Tentu, 80.000 CUKK bukanlah angka yang bisa dicapai dalam semalam. Ia memerlukan visi jangka panjang, kepemimpinan yang konsisten, dan komitmen dari seluruh elemen bangsa. Tetapi, jika CUKK—yang lahir dari 12 orang dengan modal Rp 291.000—bisa tumbuh menjadi Rp 3 triliun dalam 33 tahun, mengapa kita tidak bisa membayangkan 80.000 CUKK?
Yang diperlukan adalah kemauan politik, kebijakan yang mendukung, dan gerakan bersama dari seluruh masyarakat. Selama ini, koperasi sering diabaikan dalam kebijakan pembangunan. Padahal, sebagaimana ditunjukkan oleh CUKK, koperasi bisa menjadi tulang punggung ekonomi rakyat jika dikelola dengan serius, profesional, dan berbasis nilai.
Andaikan Indonesia memiliki 80.000 CUKK, maka Indonesia bukan hanya akan menjadi negara yang makmur secara material, tetapi juga berkeadilan secara sosial. Kekayaan tidak akan menumpuk di segelintir orang, tetapi akan tersebar merata ke seluruh pelosok negeri. Generasi muda tidak akan menjadi penonton, tetapi akan menjadi pelaku utama pembangunan.
Inilah tropikanisasi-kooperarisasi yang sesungguhnya—sebuah gerakan yang mengakar pada nilai-nilai lokal, dikelola oleh generasi muda, dan diarahkan untuk kesejahteraan bersama. Sebuah gerakan yang mampu melintasi zaman dan mewujudkan cita-cita kemerdekaan: keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
X. Penutup: Melintasi Zaman
Pada akhirnya, CUKK adalah bukti hidup bahwa koperasi bukanlah fosil yang menunggu waktu. Ia adalah organisme hidup yang bernapas dengan denyut zaman—dan denyut itu datang dari generasi mudanya.
Dengan 80% staf anak muda, CEO berusia matang dengan gelar magister, serta jaringan ekosistem yang terus berkembang, CUKK telah membuktikan bahwa generasi muda adalah tulang punggung dan brain power koperasi.
Mereka bukan hanya pekerja. Mereka adalah pemilik masa depan.
Mereka bukan hanya pelaksana. Mereka adalah perancang zaman.
Di bawah naungan legenda Keling Kumang, generasi muda CUKK sedang menulis babak baru sejarah koperasi Indonesia. Mereka melintasi zaman, bukan dengan terjebak di masa lalu, melainkan dengan membawa masa lalu itu ke masa depan.
Disinformasi yang menyesatkan telah runtuh.
Pandangan bahwa generasi muda tidak menyukai koperasi telah terbantahkan.
Informasi media yang mendiskreditkan koperasi tidak berlaku bagi CUKK.
Sebab CUKK adalah bukti.
Bukti bahwa koperasi bisa menjadi rumah bagi generasi milenial dan Gen Z.
Bukan karena dipaksa.
Tetapi karena mereka menemukan relevansi, tantangan, dan makna di dalamnya.
Inilah tropikanisasi-kooperarisasi yang sesungguhnya: sebuah gerakan yang mengakar pada nilai-nilai lokal, dikelola oleh generasi muda, dan diarahkan untuk kesejahteraan bersama.
Cooperative minds are quantum minds. Dan pikiran kuantum adalah pikiran yang mampu melihat bahwa perjalanan itu sendiri adalah tujuan—bahwa setiap langkah adalah bagian dari peradaban yang sedang kita bangun. Dan jika Indonesia memiliki 80.000 CUKK, maka peradaban itu bukan lagi mimpi—ia adalah kenyataan yang sedang kita bangun bersama.
DAFTAR PUSTAKA
- Pakpahan, A. (2026). Koperasi Kuantum: Membangun Peradaban dari Pedalaman—Studi Kasus Koperasi Kredit Keling Kumang 1993–2025. Jatinangor: Universitas Koperasi Indonesia.
- Tabloid Lintas Pena. (2026, September 23). Sejarah Berdirinya CU Keling Kumang: Dari Seminar Budaya Dayak hingga Lompatan Kuantum Rp 3 Triliun.
- Zohar, D. (2022). Zero Distance: Management in the Quantum Age. Singapore: Palgrave Macmillan.
- CU Keling Kumang. (2026). Laporan Tahunan Tahun Buku 2025. Sekadau: CU Keling Kumang.
- Pemerintah Kabupaten Sekadau. (2026, Maret 31). Pelantikan CEO CU Keling Kumang Periode 2026–2031.








Komentar