JAKARTA—-Konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran telah berkembang menjadi titik balik penting dalam dinamika geopolitik global. Eskalasi militer yang terjadi tidak hanya mencerminkan ketegangan kawasan, tetapi juga membuka secara terang bagaimana tatanan dunia bekerja dalam realitasnya yang paling jujur. Dalam konteks ini, kedaulatan tidak sepenuhnya dijaga oleh hukum internasional, melainkan oleh kekuatan yang dimiliki dan diakui oleh pihak lain.
Pembacaan yang jernih menjadi penting karena konflik ini menyentuh isu mendasar tentang kekuatan, nuklir, dan standar ganda global. Dalam konteks tersebut, Ir. R. Haidar Alwi, MT – Presiden Haidar Alwi Care dan Haidar Alwi Institute, serta Dewan Pembina Ikatan Alumni ITB, menempatkan konflik ini sebagai pelajaran geopolitik yang harus dipahami secara mendalam, terutama bagi Indonesia yang berada di persimpangan kepentingan global.
“Konflik ini bukan sekadar benturan militer, melainkan demonstrasi terbuka bahwa tatanan dunia masih dikendalikan oleh logika kekuatan. Hukum internasional sering dikutip, tetapi kekuatanlah yang menentukan apakah hukum itu berlaku atau diabaikan,” tegas Haidar Alwi.
Penegasan tersebut membongkar satu ilusi yang selama ini dipelihara: bahwa dunia berjalan dalam keseimbangan aturan. Padahal dalam praktiknya, aturan sering kali mengikuti kekuatan, bukan sebaliknya.
Standar Ganda Global dan Retaknya Dominasi.
Konflik ini memperlihatkan bagaimana standar ganda terus menjadi fondasi praktik geopolitik dunia. Amerika Serikat dan Israel memposisikan diri sebagai penjaga stabilitas, tetapi pada saat yang sama melakukan tindakan militer yang justru memperluas ketegangan kawasan.
“Amerika dan sekutunya tidak sedang menjaga stabilitas, tetapi sedang menjaga struktur dominasi. Dunia tidak kekurangan aturan, yang hilang adalah keberanian untuk berlaku adil kepada semua pihak,” ujar Haidar Alwi.
Dalam konteks ini, Iran tidak lagi dapat dilihat hanya sebagai objek konflik, melainkan sebagai aktor yang secara aktif menantang struktur dominasi tersebut. Keteguhan Iran menghadapi tekanan militer, sanksi ekonomi, dan isolasi politik menunjukkan bahwa ada negara yang tidak lagi tunduk pada logika ketakutan global.
“Iran bukan sekadar negara dalam konflik, tetapi titik balik psikologis dalam geopolitik dunia. Ia menunjukkan bahwa dominasi tidak selalu absolut, dan bahwa keberanian dapat mengubah cara dunia menghitung kekuatan,” kata Haidar Alwi.
Lebih dari itu, kemampuan Iran dalam merespons serangan dengan presisi tinggi telah mulai mengubah kalkulasi militer global. Bahkan sistem pertahanan yang selama ini dianggap nyaris tak tertembus mulai menunjukkan celah, dan hal ini mengguncang persepsi lama tentang siapa yang benar-benar unggul dalam teknologi pertahanan.
Di titik ini, dunia tidak hanya menyaksikan konflik, tetapi juga menyaksikan retaknya aura dominasi yang selama ini dianggap mapan.
Nuklir: Daya Tangkal, Ketakutan, dan Bahasa Kekuatan Dunia.
Dalam pembacaan Haidar Alwi, konflik ini membuka realitas yang selama ini sering disembunyikan di balik diplomasi global.
*“Konflik antara Amerika Serikat dan Iran telah membuka satu realitas yang selama ini disamarkan: tanpa daya tangkal ekstrem seperti nuklir, kedaulatan sebuah negara selalu berada dalam posisi tawar yang rapuh dan berisiko diinjak oleh kekuatan besar,”* tegas Haidar Alwi.
Nuklir dalam konteks ini bukan hanya teknologi atau senjata, melainkan instrumen psikologis yang membentuk perilaku negara. Ia menciptakan batas tak terlihat yang membuat kekuatan besar sekalipun harus berpikir ulang sebelum bertindak.
*“Nuklir bukan sekadar senjata, tetapi instrumen psikologis dalam geopolitik. Ia menciptakan ketakutan yang cukup besar untuk mencegah perang, sekaligus cukup kuat untuk memaksa dunia menghitung ulang setiap langkahnya,”* ujar Haidar Alwi.
Namun pemahaman tentang nuklir tidak boleh berhenti pada aspek militer. Nuklir adalah energi dari inti atom yang juga digunakan untuk kepentingan damai seperti pembangkit listrik, kesehatan, dan riset. Indonesia sendiri telah mengembangkan teknologi nuklir dalam konteks damai melalui lembaga riset nasional, tetapi tidak memiliki senjata nuklir dan terikat dalam komitmen global untuk tidak mengembangkannya.
*“Masalahnya bukan pada apakah kita mampu, tetapi apakah kita siap menanggung konsekuensi geopolitik dari setiap pilihan strategis yang diambil,”* kata Haidar Alwi.
Di sinilah letak kecerdasan membaca nuklir. Ia bukan sekadar alat, tetapi keputusan peradaban yang membawa konsekuensi besar bagi posisi sebuah negara dalam sistem global.
Indonesia dan Jalan Kedaulatan di Tengah Dunia yang Tidak Netral.
Bagi Indonesia, pelajaran dari konflik ini tidak boleh dibaca secara emosional, tetapi secara strategis. Dunia tidak berjalan secara netral, dan kedaulatan tidak dijaga oleh niat baik semata.
*“Indonesia tidak boleh terjebak pada romantisme kekuatan, tetapi juga tidak boleh hidup dalam ilusi keamanan. Dalam dunia yang tidak adil, hanya negara yang memiliki daya tangkal yang akan diperlakukan dengan hormat,”* ujar Haidar Alwi.
Indonesia tidak harus menjadi negara nuklir untuk menjadi kuat, tetapi Indonesia harus memiliki daya tangkal yang nyata melalui kekuatan ekonomi, teknologi pertahanan, dan posisi strategis dalam percaturan global. Penguatan pertahanan modern, kemandirian industri, serta penguasaan wilayah maritim menjadi bagian dari strategi besar tersebut.
Sebagai negara kepulauan dengan posisi strategis di jalur perdagangan dunia, Indonesia memiliki potensi untuk menjadi kekuatan yang diperhitungkan. Namun potensi tersebut harus ditopang oleh kemandirian nasional dan persatuan internal yang kokoh.
Sebagai pencetus Gerakan Nasional Rakyat Bantu Rakyat, Haidar Alwi menegaskan bahwa kekuatan bangsa tidak hanya ditentukan oleh teknologi dan senjata, tetapi oleh rakyat yang mandiri dan tidak bergantung pada kekuatan asing.
*“Jika dunia masih berbicara dengan bahasa kekuatan, maka kedaulatan tidak cukup dijaga dengan niat baik. Ia harus ditopang oleh kekuatan yang nyata dan strategi yang membuat siapa pun berpikir dua kali sebelum menekan Indonesia,”* pungkas Haidar Alwi.(ABAH YUSUF BACHTIAR)****








Komentar