oleh

Hamzah Wazn

Oleh : Ali Assegaf

Reff Tafsir Surat Jum’at Rahbar

DALAM surat Jum’at terdapat 3 topik dengan satu pengantar yaitu – bertasbih semua yang di langit dan dibumi sebagai pengantar

يُسَبِّحُ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ

Adapun topik surat Jum’at berkaitan 3 hal yaitu

  • Bi’stah Rasulullah SAW ( ayat 2 sd 4 )
  • Sikap orang Yahudi merasa lebih dari yang lain ( ayat 5 sd 8 )
  • Management berkumpulnya muslimin dengan sholat Jum’at ( ayat 9 sd 11 )

Bertasbih

Benda-benda di langit dan apa yang berada di bumi dan didalamnya,  semua bertasbih – yang oleh Rahbar ( Imam Ali Khamenei Hf) – definisi tasbih adalah : Tuhan ada, Maha mengetahui dan tidak cacat, tidak bodoh, tidak tanpa daya. Itu sebabnya mereka menjadi tanda Allah di seantero alam semesta ini.

 سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا فِي الْآفَاقِ وَفِي أَنْفُسِهِمْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ

maka kami hamparkan tanda-tanda Kami di seluruh ufuk dan didalam diri mereka hingga menjadi bukti DIA pusat kebenaran.

Sehingga benda-benda langit itu menunjukkan Penciptanya – seperti definisi bertasbih tersebut – hamzah wazn kehadirannya bukan untuk dirinya.

Bacaan yang maknanya sangat dalam ini – penafsir surat ini (rahbar) – menunjukan kepada kita, betapa banyak perbuatan kita dan diri kita bukan cermin Tuhan. Penempatan seorang dalam masyarakat dengan julukan hujjatullah, ayatullah – mencerminkan tasbih ini. Bahwa keberadaan masyarakat islam ada yang diberi wewenang mengkelola urusan, tetapi itu berdasar kehendak Allah, mereka wakil Allah yang tidak memiliki peran apapun dalam dirinya.

Saya tulis text asli – tafsir surat jumat oleh imam Ali Khamenei – hal 16 sbb : Jika kita dalam masyarakat kita mengakui wali faqih sebagai pemimpin urusan kaum muslimin, itu karena dia hamba Allah yang menyampaikan firman-Nya, berbicara atas nama Allah, dan melaksanakan kehendak Allah ditengah masyarakat, dirinya sendiri tidak memiliki Otoritas apa pun dan tidak membawa sesuatu dari dirinya. Ketika “ego” atau “aku” Muncul dihadapan Allah, itulah yang menjadi peran setan – seperti yang sering kita dengar dari Imam (Khomeini) sebagai pelajaran moral yang sangat mendalam bagi kita semua

Filsafat dan Irfan

Beberapa hari lalu, diskusi dengan salah seorang ustadz menarik bagi saya, sehingga merasa perlu menukilkan pesannya tentang pandangan Imam Khomeini qds yang belum juga saya dapatkan referensinya. Namun isi bahasan – meyakinkan hal itu. Bahwa menurut Imam (Khomeini) – ahli filsafat ibarat orang yang mengerti jalan – bukan menjelaskan perjalanannya, seorang Irfan mereka yang merasakan setiap saat perjalanan dan bersaksi (alam syuhud).****

Komentar