Jakarta – Jika kita perhatikan narasi Indonesia Bangkrut, Sale Indonesia, Indonesia Gelap, Kabur dari Indonesia, Buang Rupiah. Narasi sampah anti kemandirian Indonesia seperti ini sangat anomali dan tidak pernah dikenal dalam tradisi gerakan sosial. Hal ini menjadi pendapat yang disampaikan Koordinator 98 Resolution Network, Haris Rusly Moti melalui rilis Media, Minggu (14/6/2026) di Jakarta.
Haris membandingkan narasi sampah di atas dengan narasi terbaik era revolusi kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, tahun 1928, Bung Hatta membacakan pledoi di depan pengadilan kolonial Den Haag, Belanda. Bung Hatta membangun narasi Indonesia Merdeka.
Dua tahun kemudian, 1930, lanjut Haris, Bung Karno, tampil di depan pengadilan kolonial, Bandung, membacakan pledoi Indonesia Menggugat. Baik Bung Karno maupun Bung Hatta keduanya menyampaikan pandangan dan narasi anti-tesis terhadap kolonialisme, yaitu Indonesia merdeka dan berdaulat.
“Kita prihatin, 80 tahun setelah Indonesia merdeka, justru muncul narasi sampah anti kemandirian Indonesia seperti Indonesia bangkrut, sale Indonesia, dll. Sangat menyakitkan karena narasi sampah seperti ini justru digerakin oleh sejumlah intelektual dan kelompok mahasiswa yang mengatasnamakan gerakan sosial”, ujar Haris.
Haris mengatakan justru Presiden Prabowo yang menghidupkan kembali narasi era revolusi kemerdekaan tersebut. Pandangan atau narasi kemandirian ekonomi dan perampokan kekayaan dan SDA oleh oligarki yang selama ini hanya berputar di arus pinggiran gerakan sosial, justru di era Presiden Prabowo menjadi arus utama narasi dan kebijakan di pusat istana negara.
Dalam berbagai pidatonya, Presiden Prabowo selalu tegaskan Indonesia harus berdaulat dan mandiri. Dan tidak sekedar narasi dan omon-omon, sejumlah kebijakan dibuat Presiden Prabowo untuk membangun ekonomi nasional yang berdikari seperti yang dicita-citakan oleh para pendiri bangsa.
“Ketika para pengkritik menuntut pemberantasan korupsi, Presiden Prabowo justru duluan melangkah lebih mendasar, yaitu memberantas kebocoran penerimaan negara, under invoicing dan transfer pricing. Sebelumnya KPK hanya menyentuh korupsi belanja negara yang nilainya kecil”, ucap Haris.
Haris mengatakan tampaknya para pengkritik pemerintah itu frustasi dan kehabisan akal. “Sepertinya mereka tidak punya kapasitas intelektual untuk meng anti tesis pandangan dan kebijakan Presiden Prabowo. Makanya yang mereka lakukan adalah cari-cari masalah dengan melakukan intrik dan menghina pribadi Presiden Prabowo”, jelas Haris.
“Mereka berharap agar hinaan dan intrik yang mereka lakukan kepada pribadi Presiden Prabowo direspon dengan cara represif. Dengan demikian mereka dapat menemukan alasan lanjutan untuk melakukan framing dengan narasi rezim otoritarian anti demokrasi”, tagas Haris.
Gerakan Indonesia Bersih
Haris menjelaskan tradisi gerakan sosial adalah menawarkan pandangan alternatif sebagai anti-tesis dari situasi yang dianggap meyimpang. Haris memberi contoh era gerakan sosial sebelumnya yang membangun narasi gerakan “Indonesia bersih”, sebagai anti tesis dari situasi negara yang dinilai kotor dikuasai koruptor dan oligarki serakahnomic.
“Mari kita perhatikan gerakan sosial politik era Orde Baru yang membangun narasi demokrasi politik sebagai anti-tesis dari negara otoriter yang dipimpin Presiden Soeharto. Di era reformasi, gerakan sosial melancarkan gerakan anti kebijakan neoliberalisme yang melakukan privatisasi BUMN dan mencabut subsidi untuk kepentingan rakyat”, lanjut Haris.
Haris menjelaskan, ketika itu penguatan BUMN sebagai motor pertumbuhan dan pemerataan …
[22:43, 15/06/2026] Redi SEMAR Ganteng: Hanya Dia (Gus Din) Pemuda Yang Bisa Menunjuk Konglomerat Hary Tanoesoedibdjo (HT)
Sosok – Pada 2016 lalu Konglomerat pemilik MNC Group Hary Tanoesoedibdjo (HT) pernah berdiskusi dengan Gus Din atau Syafrudin Budiman SIP dalam 2-3 pertemuan. Dalam salah satu pertemuan tersebut berbincang akrab dan mendapat janji HT akan main ke rumah Gus Din di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, 1200 Km lebih dari Ibukota Jakarta.
Sebelum HT menepati janjinya Gus Din menyerahkan Keris indah berpamor jungjung derajat kepadanya. Keris itu diterima saat acara besar tepat 4 September 2026 dan tepat demo FPI dan Ormas-Ormas Islam meminta Ahok dipenjara karena dugaan penistaan agama.
Singkat cerita HT hadir ke Sumenep, bulan Desember 2016 dengan disambut 1000 massa di Gedung Korpri Kota Sumenep, 100 kepala desa, 1500 massa nelayan di Bluto Sumenep, 2000 massa Ulama dan Santri se Sumenep di Ganding Sumenep. Ada momen istimewa di tengah obrolan di Gedung Korpri tampak Gus Din akrab seperti biasanya dengan HT.
Gus Din dengan santai dan tanpa canggung berteman dengan konglomerat sampai menunjukkan telunjuk tangannya setengah memberi arahan. Entah apa yang dibahas Gus Din dan HT, intinya HT kagum dengan Gus Din dan Gus Din sebaliknya kagum dengan HT.
Konglomerat dan anak SAKERA MADURA ini tentu berdiskusi tentang bangsa, bisnis dan pertumbuhan ekonomi Indonesia kedepan. Sebuah harapan dan cita-cita keduanya yang sama sama terlibat dalam politik dan tertarik pada bahasan ekonomi politik baik nasional atau global.
Hari ini HT tetap semangat jadi bisnisman dan konglomerat dengan payung MNC Group yang menggeluti berbagai bidang usaha, baik itu media, telekomunikasi, satelit, perbankan, perumahan dll. Sementara hari ini Gus Din semangat jadi Ketua Umum DPP Perhimpunan UKM Indonesia, Ekonom Muda dan Komisaris BUMN PT. Jasa Marga Related Business (JMRB).
Belajar dari keberanian Gus Din yang saat itu berusia 36 tahun dan lahir 21 Mei 1980 sudah akrab dengan konglomerat HT. Hal ini menandakan sejak berusia muda Gus Din adalah pelaku usaha, profesional bisnis yang dikenal banyak pihak dinegeri ini.
Tercatat tokoh-tokoh besar yang pernah singgah di rumah Gus Din di Sumenep. Diantaranya Khofifah Indar Parawansa Ketua Umum PP Muslimat NU (Sekarang Gubernur Jawa Timur), Imam Addaruqutni, MA Sekjen PP Dewan Masjid Indonesia (DMI)/Majelis Tabligh PP Muhammadiyah, Hary Tanoesoedibjo (CEO MNC Group), Soekarwo (Gubernur Jawa Timur), Ton Abdillah Ketua Umum DPP IMM/Ketua Umum Angkatan Muda Dakwah Indonesia (AMDI), dan tokoh-tokoh nasional lainnya.
Untuk urusan bisnis Gus Din juga dikenal dan dekat dengan beberapa konglomerat asal Surabaya. Diantaranya, Hary Tanoesoedibdjo, Budi Santoso (PT. Rutan/Agrindo), Soedomo Mergonoto (atau Go Tek Hwie) adalah sosok di balik kesuksesan PT Kapal Api Global, almarhum Herman Halim PT. Bank Maspion, JOS Soetomo si raja kayu dan pengusaha-pengusaha besar di Kota Surabaya.
Sosok Gus Din yang berbakat di bisnis dan politik juga dikenal dan pernah dekat berinteraksi dengan tokoh-tokoh besar NU. Diantaranya, Alm. KH. Hasyim Muzadi, Alm. Salahuddin Wahid, Alm. Lily Wahid, Khofifah Indar Parawansa, Saifulah Jusuf dan tokoh-tokoh lainnya.
Jadi Si Telunjuk Tangan Gus Din memang akrab dan sangat dekat dengan berbagai kalangan. Pemuda ini sekarang 46 tahun di 21 Mei 2026 lalu. Ia terus tumbuh untuk mengabdi untuk bangsa dan negara lewat jalur bisnis, UMKM, politik dan dakwah. Salam Semangat (red)













Komentar