oleh

Imam Ali Ridho as di Jawa Tengah

Oleh : Ali Assegaf

JIKA seluruh para nabi dihidupkan kembali dalam satu zaman – kita akan mendapatinya tak ada perselisihan satupun dari mereka ( Imam Khomeini Qds ) , Pesan sederhana ini punya kandungan makna yang sangat dalam, setidaknya perbuatan dan sikap para nabi-nabi yang dibaca dalam al Qur’an dan Riwayat Islam – memahamkan perbedaan mereka (para nabi) ini karena perbedaan mereaksi masyarakat yang berbeda-beda. Namun mereka satu tujuan pada Allah SWT, mereka satu jalan risalahNya.

Penerus Imam Khomeini Qds – yakni Imam Ali Khamenei Hf – menyampaikan kajian kisah para Maksum As. yang kemudian dibukukan dengan judul manusia 250tahun – yang berarti rentan jarak imamah pertama pasca wafat nabi – 11 H hingga wafatnya Imam Hasan Al Asykari – 261 H sebagai peran seorang manusia. Artinya perbedaan yang kita saksikan pada 11 imam itu bukan karena faktor perbedaan watak, bukan juga karena faktor-faktor beda ilmu, makrifat, apalagi perbedaan tujuan.

Jika para nabi-nabi dan maksumin sebanyak itu – sepanjang sejarah manusia – tentu menjelaskan satu pola yang bagi kaum berakal jika melihat tanda-tanda itu mereka beriman dg sumber keimanan yang fundamental. Itu sebabnya salman alfarsi mengenal nabi Muhammad itu dari ciri kenabiannya yang kemudian beriman atas ciri tersebut.

Salah satu kisah sejarah yang menyimpan rahasia dan dapat dipahami kaum khowas (yang dapat melihat di balik tabir) yaitu imam Ali Ridho As yang bersedia menjadi wali ahd bagi Harun Ar-Rasyid dengan beberapa syaratnya. Salah satu syarat itu – iman Ali Ridho as tidak sedia disertakan dalam urusan pemerintahan Harun Ar-Rasyid ini, dan disetujui. Ini ciri utama wilayah ahl bait as yang menetapkan syarat ketika melihat kedudukan pemerintahan itu manipulasi pada ahl bait as dan benar dalam kisah buku 250 tahun kemudian syiah menjadi popular dengan posisi imam Ali Ridho as dengan tetap diatas prinsip bahwa imam Ali Ridho as tidak bersama Dinasti Dzalim Abasiah.

Saya menyaksikan pribadi cerdas dan berani pada Ust Toha Musawa yang mungkin awalnya saya ikut protes kenapa beliau gabung pada ormas syiah. Setelah saya tahu – ketika almarhum berkata – sedia jadi ketua lembaga ormas syiah ini dengan syarat independen dari pengurus pusatnya, saya menyaksikan kecerdasan Imam Ali Ridho as yang diperankannya itu alasan judul tulisan ini imam Ali Ridho as di Jawa Tengah  sekalipun saya mendengar langsung dari beliau, saya terimakasih pada seketaris beliau semasa hidupnya yang telah membenarkan apa yang saya dengar ditelinga ini.(****

Komentar