oleh

Kratina, Kode Rahasia Harta Karun Cawan Emas Lebak Cawane Milik Keturunan Prabu Kiansantang ?

Oleh: Abah Yusuf Bachtiar (Tokoh Budaya Jawa Barat dan Sesepuh Kabuyutan Geger Kalong Bandung)

SOSOK Prabu Ki Gedeng Tapa Singapura, adalah putra Prabu Anggalarang atau Prabu Niskala Wastukancana, Raja Sunda Galuh dan Pakuan. Prabu Ki Gedeng Tapa Singapura, adalah raja Kerajaan Singapura di Cirebon Girang. Puterinya, Nyi Subang Larang dinikahi oleh Maha Prabu Siliwangi. Dari pernikahan ini lahirlah legenda Cawan Emas Lebak Cawene dan Nagara Pajajaran Anyar dalam wangsit Siliwangi.

Kutipan wangsit Siliwangi : “Kalian yang disebelah barat ! Carilah oleh kalian Ki Santang !Sebab nanti, keturunan kalian yang akan mwngingatkan saudara kalian dan orang lain. Ke saudara sedaerah, ke saudara yang datang sependirian dan semua orang yang baik hatinya. Suatu saat nanti, apabila tengah malam, dari Gunung Halimun terdengar suara minta tolong, nah itu lah tandanya, semua keturunan kalian  dipanggil oleh yang mau menikah di Lebak Cawane. Jangan sampai berlebihan, sebab nanti telaga akan banjir ! Silahkan pergi ! Ingat ! Jangan menoleh kebelakang ! “

 Wangsit Siliwangi adalah catatan filosofis yang sakral dan memprioritaskan metidologi metafisika sosial Sundanesia tentang ruang dan waktu. Penentuan hubungan sebab akibat dari setiap peristiwa masa lalu, masa kini dan masa depan, secara detil disebutkan. Pengikut setia Prabu Siliwangi dari arah barat, adalah petunjuk kepada kelompok dan entitas Sundanesia yang sudah terbangun lama. Prabu Siliwangi secara kinsisten menyebut nama putranya Ki Santang sebagai jaminan petunjuk resmi dan konstitusiional.

Penyebutan nama Gunung Halimun dan Lebak Cawene secara lugas, melenyapkan semua usaha-usaha mustahil yang coba berargumentasi dgn taktik-taktik verbal sok tahu tentang sejarah masa lalu. Hadirnya rasa identitas diri dengan penyebutan frasa “semua keturunan kalian dipanggil dari arah Gunung Halimun “ adalah sikap dukungan psikologi spiritual dari Prabu Siliwangi yang jadi pedoman rantai metafisika sosial kepada senya aktor pengikut setia dan keturunannya yang berbudi luhur dan tidak serakah.

Sosok Prabu Kian Santang Galantrang Setra sejak dulu namanya disingkat jadi Prabu Kratina oleh kelompok Sundanesia, Balinesia dan Jawanesia. Hingga semuanya bersatu jadi rakyat Indonesia Nusa Jayai, nama besarnya terus harum wangi dan melegenda seperti ayahnya Maha Prabu Siliwangi dan leluhurnya Prabu Guru Darmasiksa. Penyebutan nama Prabu Kratina adalah bentuk Silogisme dari kesimpulan dan proposisi terhadap istilah Nagara Pajajaran Anyar dalam wangsit Siliwangi.

Kesimpulan khusus dan kesimpulan umum terhadap istilah Nagara Pajajaran Anyar, Indonesia Nusa Jaya dan Negara Nusantara, secara sistematis akan menguji dan membedakan argumentasi-argumentasi logis dan valid dengan yang keliru. Bukti prasasti dan wangsit, teori pembuktian matematis usia kerajaan masa lalu, eksistensi negara masa kini dan ramalan munculnya kekaisaran masa depan, bisa dipahami oleh setiap generasi. Supaya praktek-praktek terapi rasional emotif yang berdasar induktif umum dari kelompok separatisme bisa dihancurkan.(******

Komentar