TASIKMALAYA – Kelurahan Indihiang, Kecamatan Indihiang, Kota Tasikmalaya dikenal sebagai salah satu sentra produksi tahu terbesar di Kota Tasikmalaya. Berdasarkan data Dinas Perindustrian Kota Tasikmalaya, terdapat 13 unit usaha tahu yang secara kolektif mampu memproduksi lebih dari 13 juta potong tahu setiap tahun. Di balik besarnya produksi tersebut, tersimpan tantangan berupa melimpahnya limbah ampas tahu yang selama ini hanya dimanfaatkan sebagai pakan ternak atau ditumpuk dan bahkan dibuang ke sungai sehingga berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan.
Melihat kondisi tersebut, mahasiswa Universitas Bakti Tunas Husada (UBTH) Tasikmalaya melalui Program Kreativitas Mahasiswa Skema Pengabdian kepada Masyarakat (PKM-PM) Tahun Pendanaan 2026 yang diketuai oleh Syahla Nur’aqiilah dengan anggota Talitha Shanda Nabila, Irfa Nizmah Sallamah, Salma Fariha Maulida, dan Muhammad Zainal Muttaqin, di bawah bimbingan Ibu Maerani, S.Si., M.Si., dosen Program Studi S1 Teknologi Pangan Universitas Bakti Tunas Husada. Program ini menghadirkan inovasi berupa SOTAHU (Sosis Limbah Tahu), sebuah produk pangan olahan berbahan dasar ampas tahu yang memiliki nilai gizi sekaligus nilai ekonomi lebih tinggi.
Program bertajuk “Inisiasi Pembentukan Rumah Produksi SOTAHU (Sosis Limbah Tahu) sebagai Upaya Pemberdayaan PKK Indihiang dalam Mewujudkan Kemandirian Pangan dan Ekonomi Kreatif” ini didanai oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa) dalam Program Kreativitas Mahasiswa Tahun Pendanaan 2026.
Sebelum program dijalankan, tim PKM-PM melakukan observasi lapangan ke sejumlah rumah produksi tahu di kawasan Nagrog Kidul, Kelurahan Indihiang. Hasil observasi menunjukkan bahwa sebagian besar ampas tahu belum dimanfaatkan secara optimal dan masih menjadi sumber pencemaran lingkungan. Kondisi inilah yang kemudian menjadi dasar lahirnya inovasi SOTAHU sebagai solusi pengelolaan limbah yang berorientasi pada pemberdayaan masyarakat.
Setelah memperoleh dukungan dari Pemerintah Kelurahan Indihiang, tim PKM-PM melakukan koordinasi bersama Lurah Kelurahan Indihiang, Bapak Toni Kuswoyo, S.E., untuk menyampaikan rencana pelaksanaan program. Selanjutnya, tim melaksanakan Focus Group Discussion (FGD) awal bersama Ketua TP PKK Kelurahan Indihiang, Ibu Faridatus Sholikha, dan Sekretaris TP PKK, Ibu Heppy Avianti, guna membahas kebutuhan mitra, potensi wilayah, serta arah pelaksanaan program. Hasil diskusi tersebut kemudian menjadi dasar pelaksanaan FGD bersama anggota PKK Kelurahan Indihiang.
Melalui FGD, tim bersama mitra mengidentifikasi berbagai permasalahan dan peluang pengembangan masyarakat, khususnya terkait pemanfaatan limbah ampas tahu, pengembangan produk pangan bernilai tambah, serta kebutuhan pembentukan rumah produksi sebagai sarana usaha bersama. Diskusi tersebut menjadi dasar penyusunan program kerja yang disesuaikan dengan kebutuhan mitra sehingga diharapkan mampu memberikan manfaat yang berkelanjutan.
Ketua tim PKM-PM, Syahla Nur’aqiilah, menyampaikan, “Melalui FGD ini kami ingin memastikan bahwa program yang dilaksanakan benar-benar berangkat dari kondisi dan kebutuhan masyarakat. Kolaborasi bersama Pemerintah Kelurahan dan PKK menjadi langkah awal dalam menghadirkan solusi pemanfaatan limbah ampas tahu menjadi produk pangan bernilai tambah yang mampu mendukung kemandirian pangan sekaligus meningkatkan ekonomi masyarakat.”
Melalui rangkaian observasi, koordinasi, dan Focus Group Discussion (FGD), tim PKM-PM UBTH bersama Pemerintah Kelurahan dan PKK Kelurahan Indihiang berhasil menyusun arah pelaksanaan program yang sesuai dengan kebutuhan mitra. Sinergi tersebut diharapkan menjadi fondasi dalam mengembangkan pemanfaatan limbah ampas tahu menjadi produk pangan bernilai tambah melalui program SOTAHU serta mendorong terwujudnya pemberdayaan masyarakat yang berkelanjutan.(DEDE SOMANTRI)***








Komentar