Oleh: Gus Qusyairi Zaini (Majlis Zikir Tauhid Padepokan Sadar Bumi Alif Kabupaten Sumenep)
قال الحسن البصري: في العصا ست خصال، سنة للأنبياء وزينة الصلحاء وسلاح على الأعداء وعون للضعفاء وغم المنافقين وزيادة في الطاعات، ويقال: إذا كان مع المؤمن العصا يهرب منه الشيطان، ويخشع منه المنافق والفاجر، وتكون قبلته إذا صلى، وقوة له إذا أعيا، والعصا تتخذ قبلة في الصحراء.
Ḥasan al-Baṣrī berkata: Pada tongkat terdapat enam keutamaan:
- (1) sunnah para nabi,
- (2) perhiasan bagi orang-orang saleh
- (3) senjata untuk menghadapi musuh
- (4) penolong bagi orang-orang lemah
- (5) membuat sedih hati orang-orang munafik
- (6) menambah dalam ketaatan.
Dan dikatakan: Apabila seorang mukmin membawa tongkat, maka setan lari darinya, orang munafik dan orang fasik menjadi tunduk karenanya, tongkat itu menjadi kiblatnya ketika ia salat, menjadi kekuatannya saat ia letih, dan tongkat dapat dijadikan kiblat ketika berada di padang pasir.
Baik, mari kita lihat makna sufistik dari perkataan Ḥasan al-Baṣrī tentang al-‘aṣā (tongkat) :
1. سُنَّة للأنبياء (sunnah para nabi)
Makna lahir: Nabi-nabi banyak menggunakan tongkat, misalnya Nabi Musa dengan tongkatnya yang penuh mukjizat.
Makna batin/sufistik: Tongkat melambangkan pegangan hati seorang salik. Seperti nabi menjadikan tongkatnya sarana untuk menegakkan kebenaran, seorang hamba menjadikan dzikir dan keyakinan sebagai tongkat yang meneguhkan perjalanannya menuju Allah.
2. زينة الصلحاء (perhiasan bagi orang-orang saleh)
Makna lahir: Orang saleh membawa tongkat bukan karena lemah, tetapi sebagai simbol kewibawaan.
Makna batin: Tongkat adalah simbol istiqāmah. Bagi para wali dan salik, keindahan mereka bukan pada pakaian, tetapi pada “pegangan” kuat pada Allah. Tongkat melambangkan keteguhan batin yang membuat mereka indah dipandang.
3. سلاح على الأعداء (senjata untuk menghadapi musuh)
Makna lahir: Tongkat bisa jadi alat pertahanan.
Makna batin: Musuh terdekat manusia adalah hawa nafsu dan syaitan. Tongkat di sini ibarat mujāhadah (kesungguhan melawan nafsu) yang menjadi senjata rohani seorang salik.
4. عون للضعفاء (penolong bagi orang lemah)
Makna lahir: Tongkat membantu orang yang sudah tua atau lemah berjalan.
Makna batin: Tongkat adalah ilmu dan dzikir yang menopang hamba ketika imannya lemah. Ia jadi sandaran rohani, agar tidak jatuh dalam keraguan.
5. غم المنافقين (menyusahkan orang-orang munafik)
Makna lahir: Orang munafik merasa risih dengan simbol kewibawaan orang saleh.
Makna batin: Tongkat adalah simbol kekokohan iman. Orang munafik dan fasik tidak nyaman dengan keteguhan seorang salik, karena keberadaan orang beriman membuat kemunafikan mereka tampak jelas.
6. زيادة في الطاعات (menambah ketaatan)
Makna lahir: Tongkat bisa dipakai untuk menunjang salat (misalnya dijadikan sutrah, pembatas dalam salat), atau sebagai alat kekuatan saat lelah.
Makna batin: Tongkat menjadi simbol wirid dan dzikir yang menopang ibadah. Dengan “tongkat batin” ini, salik mampu menambah ibadah dan mendekat lebih jauh pada Allah.
Tambahan:“Jika seorang mukmin membawa tongkat, setan lari darinya, orang munafik dan fajir tunduk karenanya, tongkat itu menjadi kiblat ketika ia salat, menjadi kekuatan ketika lelah, dan dijadikan kiblat di padang pasir.”
Dalam sufisme, ini isyarat bahwa tongkat = istiqāmah.
- Setan lari dari orang yang punya istiqamah.
- Nafsu dan kemunafikan tunduk pada hati yang teguh.
- Istiqamah menjadi penunjuk arah (kiblat batin), dan jadi kekuatan saat letih dalam perjalanan rohani.
Kesimpulan sufistik:Tongkat dalam pandangan Hasan al-Bashri bukan hanya benda, tapi simbol pegangan hati, istiqamah, dzikir, dan keyakinan Tanpa “tongkat batin”, seorang salik akan mudah jatuh dalam kelemahan dan tersesat di padang pasir kehidupan.
@sorotan










Komentar