oleh

Membaca Koperasi Dengan Menggunakan Teori Ekonomi Neoklasik: ”SEBUAH KEGAGALAN PARADIGMATIK”

Oleh: Prof. Ir. Agus Pakpahan, M.S., Ph.D.—Rektor Universitas Koperasi Indonesia (2023–2026) dan Pengembang Teori Koperasi Kuantum

Serial Tropikanisasi-Kooperatisasi Edisi 16 September 2026

I.

Saya membaca koperasi.

Saya membaca dengan kacamata Neoklasik.

Saya mencoba memahami koperasi dengan alat-alat analisis yang saya pelajari dari buku-buku teks ekonomi arus utama. Utilitas. Preferensi. Rasionalitas. Ekuilibrium. Efisiensi.

Saya berpikir: ini pasti bisa menjelaskan koperasi.

Lalu saya sadar: saya tidak bisa.

II.

Teori Neoklasik dibangun di atas fondasi metodologis individualisme.

Individu adalah unit analisis dasar. Individu memiliki preferensi yang diberikan (given). Individu memaksimalkan utilitas. Individu bertindak rasional.

Pasar adalah tempat di mana individu-individu ini bertemu. Harga adalah sinyal. Ekuilibrium adalah hasil.

Koperasi tidak masuk dalam kerangka ini.

Koperasi bukan sekadar kumpulan individu yang bertransaksi. Koperasi adalah usaha bersama. Koperasi adalah asas kekeluargaan. Koperasi adalah entitas kolektif yang tidak bisa direduksi menjadi sekadar jumlah anggotanya.

III.

Saya mencoba menjelaskan koperasi dengan teori perusahaan (theory of the firm) .

Dalam Neoklasik, perusahaan adalah kotak hitam (black box) . Input masuk, output keluar. Tujuannya adalah memaksimalkan laba. Pemilik adalah pemegang saham. Manajer bekerja untuk pemilik.

Koperasi bukan perusahaan biasa.

Dalam koperasi, anggota adalah pemilik sekaligus pengguna. Tujuannya bukan memaksimalkan laba, melainkan memaksimalkan layanan kepada anggota. Surplus bukan dividen, melainkan Sisa Hasil Usaha (SHU) yang dibagikan sebanding dengan jasa usaha masing-masing anggota.

Teori perusahaan Neoklasik tidak memiliki alat untuk menjelaskan struktur seperti ini.

IV.

Saya mencoba menjelaskan koperasi dengan teori permainan (game theory) .

Dalam teori permainan, ada pemain. Ada strategi. Ada hasil. Ada ekuilibrium.

Koperasi bisa dilihat sebagai permainan kooperatif. Anggota bekerja sama untuk mencapai hasil yang lebih baik daripada jika mereka bertindak sendiri-sendiri.

Tetapi teori permainan tidak bisa menjelaskan mengapa anggota koperasi merasa memiliki. Mengapa mereka loyal. Mengapa mereka merasa terikat secara batin. Mengapa mereka rela berkontribusi lebih dari yang diminta.

Nilai-nilai seperti kekeluargaan, kebersamaan, dan loyalitas tidak masuk dalam model.

V.

Saya mencoba menjelaskan koperasi dengan ekonomi kelembagaan baru (new institutional economics) .

Dalam kerangka ini, institusi adalah aturan main. Institusi mengurangi biaya transaksi. Koperasi bisa dilihat sebagai institusi yang mengurangi biaya transaksi antara anggota.

Tetapi mengapa koperasi bisa mengurangi biaya transaksi? Neoklasik akan menjawab: karena ada trust, karena ada reputasi, karena ada norma sosial.

Tetapi dari mana trust itu datang? Dari mana reputasi? Dari mana norma?

Neoklasik tidak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan ini.

VI.

Saya mencoba menjelaskan koperasi dengan ekonomi informasi (information economics) .

Dalam kerangka ini, informasi adalah komoditas. Informasi asimetris menyebabkan masalah. Koperasi bisa dilihat sebagai solusi untuk masalah informasi asimetris.

Tetapi koperasi bukan hanya solusi teknis. Koperasi adalah komunitas. Koperasi adalah keluarga. Koperasi adalah gerakan.

Neoklasik tidak memiliki konsep untuk “komunitas” atau “keluarga” atau “gerakan”.

VII.

Saya mencoba menjelaskan koperasi dengan ekonofisika (econophysics) .

Ekonofisika menggunakan fisika statistik untuk menjelaskan fenomena ekonomi. Distribusi kekayaan. Fluktuasi pasar. Jaringan.

Tetapi ekonofisika tetap berbasis pada fisika Newtonian—dunia sebagai mesin. Partikel-partikel yang terpisah. Gaya-gaya yang bekerja.

Koperasi bukan mesin. Koperasi adalah organisme. Koperasi adalah jaringan yang hidup.

VIII.

Saya menemukan jawabannya.

Koperasi tidak bisa dijelaskan dengan Neoklasik karena Neoklasik dibangun di atas metafora yang salah.

Metafora Neoklasik adalah Newtonian Mechanics. Dunia sebagai mesin. Individu sebagai atom. Hubungan sebagai gaya.

Metafora ini tidak cocok untuk koperasi.

Koperasi membutuhkan metafora baru. Metafora yang bisa menjelaskan keterhubungan (connectedness) , keterikatan (entanglement) , kebersamaan (togetherness) .

Metafora itu adalah fisika kuantum.

Dalam fisika kuantum, partikel tidak terpisah. Mereka terjerat (entangled) . Mereka saling memengaruhi tanpa jarak. Mereka terhubung secara mendasar.

Dalam koperasi, anggota tidak terpisah. Mereka terhubung secara batin. Mereka saling memengaruhi. Mereka terikat secara mendasar.

Inilah yang saya sebut Koperasi Kuantum.

Koperasi bukan sekadar kumpulan individu yang bertransaksi. Koperasi adalah entitas yang hidup. Koperasi adalah medan (field) di mana anggotanya terhubung.

Manusia tidak bisa dipahami di luar relasinya dengan Tuhan, dengan sesama, dengan alam, dan dengan leluhur. Inilah hakikat manusia sebagai homo connectus—makhluk yang terhubung, bukan atom yang terpisah.

IX.

Saya menulis buku tentang ini.

“Teori Koperasi Kuantum: Membangun Peradaban dari Pedalaman—Studi Kasus Koperasi Kredit Keling Kumang 1993–2025.”

508 halaman.

Buku ini adalah upaya untuk melahirkan paradigma baru bagi ilmu koperasi. Paradigma yang tidak menginduk pada Neoklasik. Paradigma yang menggunakan fisika kuantum sebagai metafora.

Buku ini telah digunakan oleh Lemhannas RI dan menginspirasi 5 buku terbitan LEMHANNAS PRESS.

X.

Saya membaca koperasi dengan menggunakan teori ekonomi Neoklasik.

Saya gagal.

Saya membaca koperasi dengan menggunakan fisika kuantum.

Saya menemukan jawabannya.

Koperasi bukan mesin. Koperasi bukan pasar. Koperasi bukan sekadar institusi.

Koperasi adalah keterhubungan. Koperasi adalah kekeluargaan. Koperasi adalah asas yang paling mendasar dari kehidupan bersama.

Dan untuk memahami itu, kita perlu ilmu yang mandiri. Ilmu yang tidak menginduk pada disiplin lain. Ilmu yang lahir dari jiwa koperasi itu sendiri.

XI.

Pasal 33 UUD 1945 menyatakan:

“Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan.”

Ini bukan pernyataan Neoklasik. Ini bukan pernyataan Newtonian. Ini adalah pernyataan kuantum tentang bagaimana manusia harus hidup bersama.

Dan jika kita ingin mewujudkannya, kita perlu ilmu yang sesuai.

Bukan Neoklasik. Tetapi Koperasi Kuantum.

Komentar