Oleh: Agus Pakpahan (Ekonom Kelembagaan/ Rektor Universitas Koperasi Indonesia)
Serial Tropikanisasi-Kooperatisasi | Edisi 2 Juli 2026
- Pendahuluan: Saat Frustrasi Menghimpit dan Harapan Mulai Pudar
Pernahkah Anda merasa lelah? Lelah melihat kemiskinan yang tak kunjung usai. Lelah melihat tetangga, saudara, bahkan anak-anak sendiri harus berutang kepada rentenir dengan bunga yang mencekik. Lelah melihat sawah dan kebun yang digarap dengan keringat, tetapi hasilnya hanya cukup untuk bertahan hidup, bukan untuk hidup.
Rasa frustrasi itu wajar. Bahkan, ia adalah manusiawi. Ketika kita hidup dalam sistem yang seolah dirancang untuk membuat kita tetap miskin, ketika setiap upaya untuk bangkit selalu kandas oleh biaya yang terlalu tinggi, akses yang tertutup, dan ketidakadilan yang terstruktur—rasa putus asa adalah respons yang paling alami.
“Mungkin ini sudah takdirku,” pikir banyak orang. “Mungkin orang seperti kami memang tidak bisa berubah.”
Dan di sinilah letak bahaya terbesar: ketika keputusasaan berubah menjadi penerimaan. Ketika orang mulai percaya bahwa kemiskinan adalah nasib, bahwa ketidakberdayaan adalah takdir, bahwa perubahan tidak mungkin terjadi. Inilah yang membuat sebuah bangsa terjebak dalam lingkaran kemiskinan turun-temurun—bukan karena kurangnya potensi, tetapi karena hilangnya keyakinan bahwa perubahan itu mungkin.
Namun, sejarah membuktikan bahwa keyakinan itu adalah kunci. Bangsa-bangsa yang berhasil bangkit dari keterpurukan adalah bangsa yang berhasil membangkitkan kembali keyakinan bahwa perubahan itu mungkin. Dan keyakinan itu tidak datang begitu saja—ia datang dari bukti. Dari cerita tentang bangsa lain yang pernah berada di posisi yang sama, bahkan lebih buruk, tetapi berhasil keluar.
Artikel ini adalah tentang bukti-bukti itu. Tentang bagaimana bangsa yang dianggap “malas” dan “tidak kreatif” berubah menjadi bangsa paling disiplin di dunia. Tentang bagaimana bangsa yang dianggap “pembohong” dan “pemalsu” berubah menjadi bangsa dengan reputasi kualitas terbaik. Tentang bagaimana bangsa yang memperbudak sesamanya berubah menjadi bangsa yang memperjuangkan kesetaraan. Tentang bagaimana bangsa yang dilanda depresi terbesar dalam sejarah berubah menjadi bangsa yang membangun jaring pengaman sosial bagi semua warganya.
Jika mereka bisa, kita juga bisa. Tapi untuk itu, kita memerlukan bukti bahwa perubahan itu nyata, dan kepemimpinan yang mampu mewujudkannya.
- Ha-Joon Chang: Budaya Bukan Takdir
Ha-Joon Chang, dalam bukunya Bad Samaritans (2007), membongkar mitos yang paling merusak: bahwa budaya adalah hambatan permanen bagi pembangunan ekonomi. Mitos ini telah membuat banyak bangsa tropika menyerah sebelum berjuang. “Ah, orang kita memang malas,” kata mereka. “Budaya kita tidak mendukung kemajuan.” Padahal, seperti ditunjukkan Chang, apa yang disebut “budaya” sering kali adalah respons terhadap insentif institusional, bukan karakter bangsa yang melekat.
Chang menulis bab berjudul “Lazy Japanese and Thieving Germans” —sebuah provokasi untuk menunjukkan bagaimana stereotip budaya berubah seiring waktu.
Orang Jepang yang “Malas”
Pada abad ke-19, orang Jepang dianggap “malas” dan “tidak kreatif” oleh pengamat Barat. Mereka digambarkan sebagai bangsa yang tertidur, terjebak dalam feodalisme, tidak mampu berinovasi. Namun, setelah Restorasi Meiji (1868) dan transformasi institusional yang mendalam, Jepang menjadi salah satu negara paling disiplin dan produktif di dunia. Dalam satu generasi, “bangsa malas” berubah menjadi bangsa yang kerja kerasnya legendaris.
Apa yang berubah? Bukan genetikanya. Bukan “budaya” dalam arti yang dalam dan tak tersentuh. Yang berubah adalah institusi—sistem pendidikan, struktur ekonomi, dan insentif yang dihadapi rakyat Jepang.
Orang Jerman yang “Mencuri”
Demikian pula orang Jerman. Pada abad ke-19, produk-produk Jerman dianggap murahan dan tiruan. Orang Jerman dijuluki “pembohong” dan “pemalsu” karena mereka meniru produk Inggris. Namun, setelah Jerman membangun sistem pendidikan dan institusi industri yang kuat, reputasi mereka berubah total. Dalam satu generasi, “bangsa pemalsu” berubah menjadi bangsa dengan reputasi kualitas dan ketepatan yang mendunia.
Apa yang berubah? Bukan “budaya” Jerman yang tiba-tiba bermetamorfosis. Yang berubah adalah institusi—sistem pendidikan vokasi, standar industri, dan perlindungan hukum atas kekayaan intelektual.
Chang menyimpulkan dengan tegas:
“Budaya itu penting, tetapi ia berubah. Apa yang kita sebut ‘budaya’ sering kali adalah respons terhadap insentif dan institusi yang kita hadapi.”
Ini adalah kabar baik bagi kita semua. Budaya bukan takdir. Budaya adalah respons. Dan jika kita bisa mengubah insentif dan institusi, kita bisa mengubah budaya. Kemalasan yang tampak bisa berubah menjadi disiplin yang luar biasa. Ketidakjujuran yang tampak bisa berubah menjadi integritas yang kokoh. Keputusasaan yang tampak bisa berubah menjadi harapan yang membara.
- Perubahan Masyarakat Jepang Zaman Tokugawa: Akumulasi Kesadaran
Perubahan budaya Jepang tidak terjadi dalam semalam. Ia adalah puncak dari akumulasi kesadaran yang berlangsung selama berabad-abad.
Selama periode Tokugawa (1603-1867), Jepang mengalami transformasi sosial-ekonomi yang mendalam di bawah “Pax Tokugawana”—periode perdamaian yang berlangsung lebih dari 250 tahun. Di bawah Keshogunan Tokugawa, Jepang menerapkan kebijakan sakoku (isolasi) yang ketat. Namun, di balik isolasi itu, terjadi perubahan besar.
Urbanisasi meningkat pesat, dengan kota Edo (kini Tokyo) menjadi salah satu kota terbesar di dunia dengan populasi lebih dari satu juta jiwa. Ekonomi pasar berkembang—pedagang, meskipun secara resmi berada di kelas sosial terendah, mengakumulasi kekayaan dan kekuasaan ekonomi yang signifikan. Kebijakan sankin kōtai—yang mewajibkan para daimyō (tuan tanah feodal) untuk tinggal bergantian di Edo dan wilayah mereka—menciptakan jaringan transportasi dan komunikasi yang menghubungkan seluruh Jepang. Jalan-jalan besar seperti Tōkaidō menghubungkan Edo dengan Kyoto, memungkinkan pertukaran informasi, barang, dan budaya. Perkembangan seni cetak kayu (ukiyo-e) dan sastra populer mencerminkan munculnya budaya urban yang dinamis.
Apa pelajaran dari Tokugawa? Perubahan kesadaran terjadi melalui akumulasi. Tidak ada lompatan tanpa persiapan. Tidak ada revolusi tanpa evolusi. Selama 250 tahun, Jepang membangun fondasi—jalan, pasar, pendidikan, birokrasi—yang kemudian memungkinkan lompatan Meiji.
Kebangkitan Jepang pada akhir abad ke-19 bukanlah keajaiban; ia adalah puncak dari akumulasi perubahan sosial, ekonomi, dan budaya yang berlangsung selama berabad-abad. Ketika Komodor Perry datang pada 1853, Jepang bukanlah negara yang “terbelakang”—ia memiliki tingkat literasi yang tinggi (lebih tinggi dari banyak negara Eropa), birokrasi yang efisien, dan pengalaman dalam mengelola ekonomi pasar.
Indonesia juga memiliki fondasi. Kita memiliki akar budaya gotong royong yang kuat. Kita memiliki konstitusi yang visioner. Kita memiliki pengetahuan empiris dari CUKK. Kita tidak memulai dari nol. Kita memulai dengan modal yang tidak dimiliki banyak bangsa. Yang kita butuhkan adalah kepemimpinan yang mampu mengaktifkan modal itu.
- Abraham Lincoln: Perubahan Perbudakan dan Kekuatan Keteladanan
Jika Tokugawa menunjukkan perubahan bertahap, penghapusan perbudakan di Amerika Serikat oleh Abraham Lincoln menunjukkan perubahan radikal yang dipimpin oleh kepemimpinan visioner dan keteladanan moral.
Lincoln memahami bahwa perbudakan bukan hanya masalah moral, tetapi juga masalah institusional. Ia tahu bahwa menghapus perbudakan bukan hanya tentang mengubah hati orang—itu juga tentang mengubah hukum dan struktur kekuasaan. Proklamasi Emansipasi (1863) dan Amandemen ke-13 (1865) secara radikal mengubah struktur institusional Amerika.
Namun, yang lebih penting, perubahan institusional ini mengubah kesadaran. Ia memaksa bangsa Amerika untuk menghadapi kontradiksi antara deklarasi kemerdekaan (“semua manusia diciptakan sama”) dan praktik perbudakan. Ia memulai proses panjang penyembuhan dan rekonsiliasi yang masih berlanjut hingga hari ini.
Apa yang bisa kita pelajari dari Lincoln?
Pertama, kepemimpinan yang berani. Lincoln mengambil keputusan yang tidak populer. Ia kehilangan banyak dukungan, tetapi ia tetap teguh pada prinsipnya. Ia menunjukkan bahwa pemimpin sejati tidak menunggu kesadaran publik berubah—ia membantu mengubahnya melalui keteladanan dan tindakan berani.
Kedua, perubahan institusional mengubah kesadaran. Banyak orang Selatan yang mendukung perbudakan bukan karena mereka jahat, tetapi karena mereka tumbuh dalam sistem yang membuat perbudakan tampak “normal.” Ketika institusi berubah—ketika perbudakan dihapuskan secara hukum—kesadaran pun mulai berubah. Generasi berikutnya tumbuh dalam realitas baru di mana perbudakan tidak lagi “normal.”
Ketiga, perubahan tidak instan. Lincoln tidak hidup untuk melihat selesainya perjuangan yang ia mulai. Ia dibunuh sebelum Rekonstruksi selesai. Tapi ia memulai proses yang pada akhirnya mengubah bangsa. Kadang, yang terbaik yang bisa kita lakukan adalah memulai sesuatu yang akan diselesaikan oleh generasi berikutnya.
- Franklin D. Roosevelt: The Forgotten Man dan Peran Negara
Franklin D. Roosevelt, dalam pidato “The Forgotten Man” (1932), menyerukan perubahan radikal dalam peran negara. Ia berkata:
“These unhappy times call for the building of plans that rest upon the forgotten, the unorganized but the indispensable units of economic power, for plans … that build from the bottom up and not from the top down, that put their faith once more in the forgotten man at the bottom of the economic pyramid.”
FDR memahami bahwa kesadaran kolektif tidak bisa dibangun hanya dari atas; ia harus melibatkan “orang yang dilupakan” di dasar piramida ekonomi. New Deal-nya mengubah institusi Amerika secara fundamental—menciptakan jaring pengaman sosial, mengatur pasar keuangan, dan memberikan kekuatan pada serikat pekerja.
Perubahan institusional ini mengubah kesadaran: orang Amerika mulai percaya bahwa negara memiliki tanggung jawab untuk melindungi warga negaranya dari kesulitan ekonomi. Keyakinan ini tidak lahir begitu saja; ia lahir dari pengalaman—dari melihat bahwa pemerintah benar-benar peduli, bahwa ada kekuatan di luar diri mereka yang bisa diandalkan.
FDR memberikan bukti bahwa perubahan itu mungkin. Ia menunjukkan bahwa kepemimpinan yang visioner, dikombinasikan dengan kebijakan yang berani, bisa mengubah keputusasaan menjadi harapan, dan ketidakberdayaan menjadi kekuatan.
Chang, dalam kritiknya terhadap neoliberalisme, menunjukkan bahwa negara-negara berkembang dipaksa untuk mengadopsi kebijakan yang tidak pernah digunakan oleh negara-negara maju ketika mereka membangun kemakmuran mereka. Ini adalah “menyepak tangga” (kicking away the ladder) —negara maju mempromosikan pasar bebas setelah mereka sendiri mencapai industrialisasi melalui proteksionisme.
- Indonesia Juga Bisa: Mengapa Kita Harus Percaya
Dari Jepang, Jerman, Amerika, dan Inggris, ada satu pelajaran yang sama: negara-negara maju tidak menjadi kaya melalui mengikuti aturan yang mereka ajarkan kepada negara berkembang. Mereka menjadi kaya melalui melanggar aturan, melalui intervensi negara, melalui proteksionisme, melalui kebijakan industri yang agresif. Dan ketika mereka sudah kaya, mereka mengubah aturan sehingga negara lain tidak bisa melakukan apa yang mereka lakukan.
Chang, dalam Bad Samaritans, menunjukkan dengan data yang meyakinkan:
· Inggris menggunakan proteksionisme berat selama abad ke-18 dan 19, dengan tarif impor mencapai 50-80% untuk produk manufaktur.
· Amerika Serikat adalah negara dengan tarif tertinggi di dunia pada abad ke-19. Alexander Hamilton, dalam Report on Manufactures (1791), secara eksplisit merancang kebijakan industri nasional.
· Jerman di bawah Friedrich List menerapkan kebijakan proteksionisme dan pendidikan vokasi yang kuat.
· Jepang di bawah Meiji menggunakan kebijakan industri yang agresif, dengan negara memilih industri yang akan dikembangkan dan melindunginya dari persaingan asing.
Indonesia tidak perlu menemukan jalan baru. Jalan itu sudah ditemukan—oleh Inggris, AS, Jerman, Jepang, dan Korea. Apa yang diperlukan adalah keberanian untuk melangkah di jalan yang sama, dan kepemimpinan yang mampu meyakinkan rakyat bahwa perubahan itu mungkin.
Dan di sinilah koperasi menjadi kunci. Karena koperasi adalah institusi yang memungkinkan rakyat membangun kekuatan dari bawah, tanpa harus menunggu bantuan dari atas. CUKK membuktikan bahwa ini mungkin: dari Rp291.000 menjadi Rp2,3 triliun. Dari 12 orang menjadi 232.200 anggota. Dari satu ruangan 4×4 meter menjadi 79 kantor dan spin-out di berbagai sektor.
- Kesimpulan: Dari Frustrasi ke Harapan, dari Harapan ke Tindakan
Saudara-saudara, kita bisa frustrasi. Kita bisa lelah. Kita bisa merasa bahwa perubahan tidak mungkin terjadi. Perasaan itu manusiawi.
Tetapi jangan biarkan perasaan itu menghentikan kita. Karena sejarah membuktikan bahwa perubahan itu mungkin—bagi Jepang, bagi Jerman, bagi Amerika, bagi Inggris. Dan jika mereka bisa, kita juga bisa.
Yang kita butuhkan adalah bukti. Dan bukti itu sudah ada:
- CUKK membuktikan bahwa koperasi bisa menjadi kekuatan ekonomi rakyat yang dahsyat.
- Pasal 33 memberikan landasan konstitusional yang jelas.
- Budaya gotong royong adalah akar yang kuat yang tinggal dihidupkan kembali.
Yang hilang adalah medan kesadaran—keyakinan bersama bahwa perubahan itu mungkin, dan bahwa kita bisa menjadi bagian dari perubahan itu. Medan kesadaran ini tidak bisa dibangun oleh pemerintah saja; ia harus dibangun oleh kita semua, melalui keteladanan, melalui pendidikan, melalui tindakan nyata.
Seperti yang tertulis dalam buku Koperasi Kuantum:
“Koperasi bukanlah produk yang bisa dirakit, melainkan proses yang harus disemai.”
Tugas kita adalah menyemai—menciptakan ekosistem yang memungkinkan koperasi tumbuh secara organik dari bawah, sambil memberikan dukungan institusional yang diperlukan dari atas. Dengan demikian, kita membangun medan kesadaran yang kuat—bukan dengan memaksa, tetapi dengan memfasilitasi.
Dan ketika medan kesadaran itu terbangun, lompatan akan terjadi. Seperti Jepang yang melompat dari feodalisme menjadi kekuatan industri dunia dalam satu generasi. Seperti Jerman yang melompat dari negara pemalsu menjadi negara dengan reputasi kualitas terbaik. Seperti Amerika yang melompat dari negara yang membolehkan perbudakan menjadi negara yang memperjuangkan kesetaraan.
Indonesia juga bisa melompat. Dan lompatan itu bisa dimulai dari koperasi.
DAFTAR PUSTAKA
- Chang, H.-J. (2007). Bad Samaritans: The Myth of Free Trade and the Secret History of Capitalism. New York: Bloomsbury Press.
- Chang, H.-J. (2002). Kicking Away the Ladder: Development Strategy in Historical Perspective. London: Anthem Press.
- Pakpahan, A. (2026). Koperasi Kuantum: Membangun Peradaban dari Pedalaman. Sumedang: Universitas Koperasi Indonesia Press.











Komentar