KEDIRI—Seorang guru ngaji sekaligus pensiunan guru berinisial H diamankan Satreskrim Polres Kediri terkait dugaan tindak asusila terhadap anak di bawah umur di wilayah Kecamatan Ngadiluwih, Kabupaten Kediri, Jawa Timur.Pelaku diamankan Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) pada Sabtu malam, (16/5/2026).
Kasus tersebut terungkap setelah salah satu anak menceritakan kejadian yang dialaminya kepada orang tua di rumah. Dari cerita itu, warga kemudian melakukan penelusuran hingga ditemukan korban lain dengan pengakuan serupa.
Menurut keterangan warga, pelaku dikenal sebagai guru ngaji di lingkungan masjid setempat. Dugaan peristiwa tersebut disebut telah berlangsung sejak beberapa tahun terakhir dengan korban mayoritas anak usia sekolah dasar hingga SMP.
Kepala dusun setempat, Desi Putri, mengatakan warga sempat mencoba menyelesaikan persoalan tersebut secara kekeluargaan dengan mengundang pihak pelaku untuk berdiskusi bersama keluarga korban. Namun upaya itu tidak berjalan sehingga kasus akhirnya dilaporkan kepada pihak kepolisian.
“Awalnya satu anak bercerita di rumah, kemudian setelah ditanya lebih lanjut ternyata ada anak-anak lain yang mengalami hal serupa. Sebenarnya kita sudah punya iktikad baik mengundang untuk duduk bersamalah ibaratnya begitu, tapi dari pihaknya tidak datang. Masalahnya kalau memang di dusun sudah tidak bisa, langsung diangkat saja,” kata Desi Putri kepada detikJatim, Minggu (17/5/2026).
Modus yang dilancarkan pelaku memanfaatkan kepolosan para murid mengajinya, salah satunya terjadi saat momen libur Lebaran. Berdasarkan keterangan warga, dugaan tindakan dilakukan ketika anak-anak sedang beristirahat di area masjid.Pelaku memanggil mereka secara bergantian untuk masuk ke dalam sebuah gudang di bagian belakang ketika suasana sedang sepi.
Di lokasi terisolasi itulah pelaku memaksa korban untuk melihat tindakan asusila yang dilakukannya, kemudian memberikan uang tutup mulut sebesar Rp 50.000.
Ketua RT setempat, Murjito, menyebut laporan awal hanya berasal dari empat anak. Namun jumlah korban terus bertambah setelah kasus mulai terungkap.
“Pertama empat anak yang melapor. Setelah itu bertambah lagi sampai sekitar 10 anak. Korbannya rata-rata masih anak-anak,” jelas Murjito.
Saat proses penangkapan berlangsung, suasana sempat memanas karena sejumlah warga berkumpul dan meluapkan kemarahan terhadap pelaku.
Polisi kemudian membawa tersangka ke Polres Kediri untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.Akibat kejadian tersebut, sejumlah korban disebut mengalami trauma psikologis dan kini telah mendapatkan pendampingan guna membantu proses pemulihan mental mereka.
Pihak RT dan perangkat desa sebenarnya sempat berupaya melakukan mediasi dengan mengundang terduga pelaku untuk hadir dan memberikan klarifikasi.Namun pelaku disebut tidak memenuhi undangan tersebut.”Kami sudah mencoba mengundang untuk duduk bersama dengan keluarga korban, tapi yang bersangkutan tidak hadir,” jelas Murjito.
Warga sekitar mengaku tidak menyangka sosok H yang dikenal sebagai tokoh agama dan guru ngaji diduga terlibat dalam kasus tersebut.Selama ini, pelaku dikenal ramah dan aktif di lingkungan masyarakat.”Kalau kesehariannya orangnya baik dan halus. Jadi warga benar-benar tidak menyangka,” tambahnya.
Polisi hingga kini masih terus mendalami kasus tersebut, termasuk kemungkinan adanya korban lain yang belum melapor. Pemeriksaan terhadap korban juga dilakukan dengan pendampingan guna memastikan kondisi psikologis anak.Sejumlah korban disebut telah menjalani pemeriksaan psikologis sebagai bagian dari proses penyelidikan dan pendampingan.
Polres Kediri mengimbau masyarakat untuk segera melapor apabila mengetahui adanya tindakan kekerasan atau pelecehan terhadap anak agar dapat segera ditindaklanjuti oleh pihak berwajib.(BERBAGAI SUMBER)***














Komentar