Oleh: Abah Yusuf Bachtiar (Sesepuh Kabuyutan Dayeuh Luhur Gegerkalong Bandung)
KATA “nikmat” yang lazim ditengah kehidupan, biasanya adalah nikmat duniawi. Nilmat memiliki harta melimpah, nikmat memiliki Isteri (lebih dari satu) , nikmat memiliki keturunan (anak, cucu), nikmat ketika makan dengan beragam hidangan , dan nikmat kekuasaan / kedudukan dimana orang lain tak berkesempatan. Semua kata nikmat yang diungkapkan tersebut adalah bersifat fana, temporer, tak kekal.
Ada kata nikmat yang tidak boleh didustakan , ” nikmat apalagi yang telah engkau dustakan..” dalam Kitab Suci Al Quran, surat ArRahman , srt ke 55, Allah Azawajalla, mengingatkan hingga 31 kali. Ternyata, yang tidak boleh didustakan adalah nikmat Rahman Allah yang telah menurunkan Al Quran, yang merupakan petunjuk beserta penjelasNya, agar kehidupa manusia selaku makhluk bumi, memilik arah dan tujuan yang jelas, agar manusia tidak tersesat jalan dari dunia hingga hari akhir kehidupan. Pada srt Adhuha ayat terakhir , “..maka sampaikanlah, kabarkanlah nikmat -kebenaran keNabian Muhammad saw, al Musthafa- yang telah Allah berikan terhadap kalian.
Jadi nikmat yang tidak boleh didustakan pertama Allah turunkan Al Quran, kitab suci, agar manusia berada pada jalan kesucian; kedua , nikmat diutusanya, kanjeng Rasulullah SAW, sebagai yang menerima mukjizat Al Quran dan hak Rasulullah SAW untuk menjelaskan Al Quran tersebut.
Kedua nikmat di atas, memiliki kemutlakan dan kekekalan, dari kehidupan dunia hingga akhirat kelak. Rasulullah saw menegaskan , bahwa Ahlulbaytnya, keluarganya yang disucikan, adalah merupakan penjelas (bayan) dari apa yang ada dalam Al Quran, jadi manusia sucilah yang memiliki otoritas menjelaskan kitab suci, Allah yang mahasuci, memberikan jaminan pada keluarga nabi, sebagaimana Allah firmankan dalam al Quran, srt Al Ahzab, srt 33: Ayat ke 33…” ..Sungguh Allah telah menghilangkan kotoran, berupa dusta dan nista, wahai Ahlulbayt, dan Alah telah mesucikan Ahlulbayt sesuci-sucinya..”, jadi Allah lah yang mensucikan Ahlulbayt nabi dan Allah yang mahasuci, sebagai penjaminnya.
Empatbelas manusia suci yang telah Allah tetapkan, jaminan kesuciannya: Nabiyullah Muhammad saw , Syayyidah Fathimah Az Zahra as , dan 12 Imam ma’shum, Imam Pertama adalah Amirul mukminin, Ali ibn Abu Thalib as, dan Imam ysng terakhir adalah Imam Muhammad al Mahdi af, yang ke 12, yang mengalami keghaiban sejak 939 M, sekira Abad ke 10 , 1200 th lebih hingga sekarang. 14 Manusia suci sebagai petunjuk, dan sebagai penjelas, bahkan merupakan pelaksana tugas untuk menyaksikan dan membimbing manusia dimuka bumi, agar tidak tetsesat “dijalan yang benar”.
Pada saat Idul Ghadir, Hari Rayagung, 18 Dzulhijjah 11 H, Rasul bersabda :” Barang siapa yang mengakui Aku adalah Pemimpin, maka ‘Ali ibn Abu Thalib adalah pemimpin bagi kalian”; ” Wilayah ‘Ali adalah merupakan benteng keselamatan, barangsiapa berwilayah pada ‘Ali ibn Abu Thalib, akan terhindar dari azab dunia dan akhirat”; ” Al Quran bersama ‘Ali dan ‘Ali bersama Al Quran”…banyak lagi sabda Rasulullah saw tentang keutamaan Imam ‘Ali as, sebagai Wasyi, Penerus dari Rasulullah saw. Kitab Fadhail Imam Ali ibn Abu Thalib, Qom, 1332 H.
Setelah nikmat diwahyukannya Al Quran dan Kenabian Muhammad saw sebagai nabi dan rasul terakhir, penutup, maka nikmat berwilayah pada Imam ‘Ali ibn Abu Tahslib serta para Imam lainnya, termasuk yang tidak boleh dudustakan. Ketiga nikmat tersebut yang memiliki kekekalan hingga hari ahirat.
Nikmat duniawi yang telah Allah anugrahkan menjadi keberkahan , sebagai jalan untuk mendapatkan nikmat yang memiliki derajat kekal dan abadi- “khalidina fiha abadan..”.
Seorang penguasa, seorang pengusaha, seorang yang sugih, bila mereka tidak mesyukuri tiga nikmat yang telah Allah berikan, maka segalanya akan menjadi sia-sia. Berbahagialah mereka yang menyambungkan, menyandarkan amalnya terhadap Allah , Rasulullah , dan Ahlulbaytnya….Cag!@ Abah Yusuf//Doct//Kabuyutan.
Kabuyutan Dayeuh Luhur Gegerkalong
24 Rayagung 1447 H/10 Juni 2026 M








Komentar