
Oleh : Ali Assegaf
لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِّنْ أَنفُسِهِمْ
TELAH dikaruniakan nikmatnya atas kaum mukminin ketika dibangkitkan ditengah mereka utusan dari diri mereka. Sang Nabi sebagai pemimpin yang taat pada Allah adalah karunia bagi Ummat – ini prinsip ajaran alquran yang selaras dengan madzhab Ahl Bait as dimana ummat yang beriman secara mandiri yang mendapatkan nikmat.
Pemimpin yang taat pada Allah adalah karunia bagi ummat yang beriman. Ali as juga nikmat ini, zaman ini Imam Khomeini Qds dan Imam Khamenei Hafidzahulla wujud nikmat ini – bagi siapa ? bagi yang beriman kepadanya.
Berbeda dengan faham saudara kita Ahl Sunnah – banyaknya ummat adalah parameter nikmat bagi pemukanya. Itu sebabnya – pemuka mereka di klaim sebagai pemimpin dan berfungsi penguasa atas mereka. Bahkan pemimpin/penguasa begini akan menjadikan yang menguasainya (ummat) sebagai tameng – kekuasaan menjadi ukuran maqam dan kedudukannya.
Bagaimana dengan kita hari ini, bukankah pemuka kita itu orang-orang shaleh yang wajib diukur adil seperti imam sholat berjamaah ?
Mengapa kita menghubungkan diri dengan orang yang sibuk mengukur jumlah pengikut dalam majlis dan kelompoknya – bukankah pemimpin itu yang kita ditarik sebagai magnet karena sedikitnya kebergantungan sesama manusia ?
Mungkin pemuka di komunitas Muwali Ahl Bait As banyak, magnet mereka bukan tidak berfungsi menarik – tetapi sholat kita bukan penegak sholat – yang masih memasukan dunia dibathin sholat kita – sehingga tidak membuat hati kita punya daya gerak menuju keadilan pemuka sholeh di tengah kita .
Slogan : wahai imam kami bukan seperti orang kufah yang sedia meninggalkan pemimpinnya sendirian. Bagi setiap muwali – punya nikmat yang bangkit dari diri mereka sendiri.





Komentar