Penulis: Dr. Elis Suryani Nani Sumarlina, M.S. (Dosen Departemen Sejarah dan Filologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran)
MIRIS memang, apabila kita telusuri dan cermati persoalan perempuan dalam kehidupan bermasyarakat di era generasi Z saat ini. Permasalahan terkait kaum hawa ini seakan tidak pernah berhenti mengemuka. Beragam kejadian kekerasan yang menimpa perempuan dari masa ke masa terus bergulir, baik itu kekerasan dalam rumah tangga maupun kekerasan seksual yang kerap terjadi.
Kini, di era gen Z, di mana kecanggihan teknologi dan ilmu pengetahuan semakin maju, kekerasan seksual pun kian mendera. Bukan hanya dilakukan oleh orang-orang yang notabene tidak berpendidikan atau kalangan yang tidak diperhitungkan, tapi justru terjadi di kalangan yang seharusnya menjunjung tinggi martabat serta tugas yang diembannya. Kekerasan seksual dilakukan oleh orang-orang ‘terpandang’ yang sangat dihormati di kalangan masyarakat. Mengapa hal ini terjadi? Apa penyebab, dan bagaimana menanggulanginya?
Di era generasi Z saat ini, bias-bias ketidakadilan gender masih terus menggema dan terus terjadi dalam kehidupan masyarakat. Andai kita perhatikan, seiring perkembangan zaman, suka atau tidak suka, telah terjadi pergeseran norma, sehubungan dengan persepsi, sikap, dan tingkah laku perempuan di masa lalu dan perempuan di masa kini. Hal ini dikaitkan dengan anggapan yang melekat dalam diri ‘perempuan’, yang selain cantik, anggun, lemah lembut dan emosional, perempuan itu tetap ‘tidak berdaya’. Namun sebaliknya, perempuan pun mampu menjadi ancaman bagi para pria. Jatuhnya seorang laki-laki, selain karena harta dan tahta, juga karena wanita.
Pada zaman dahulu, salah satu ketidakberdayaan perempuan dihubungkan dengan perannya dalam menjalankan fungsinya sebagai istri dan ibu. Dalam kehidupan rumah tangga, seorang istri sesuai dengan kodrat dan tugasnya adalah melahirkan, mengurus, dan membesarkan anak, meskipun pada pelaksanaannya sebagian perempuan tidak lagi secara taat asas menjalankan perannya secara benar.
Di masa lampau, pewarisan nilai-nilai tradisional yang terungkap dalam manuskrip, mengisyaratkan bahwa tugas pokok seorang istri adalah mengabdikan diri kepada suami serta mengurus, membesarkan, dan mendidik anak. Dalam menjalankan fungsinya, sebagai seorang istri dan seorang ibu, perempuan berperan penting dalam menunjang dan membantu suami. Mereka umumnya bertugas menyelesaikan beragam urusan keluarga dan rumah tangga. Di era generasi Z sekarang, masih adakah perempuan yang seperti ini?
Dulu, status, peran, dan fungsi perempuan sebagai ‘istri’, kehidupannya dicurahkan bagi kepentingan suami dan anak. Hal itu tergambar dalam beragam teks manuskrip Sunda, khususnya manuskrip atau naskah-naskah pesantren yang banyak mendapat pengaruh Islam, di antaranya Wawacan Piwulang Istri, Wawacan Wulang Krama, Wawacan Barjah, Nyi Jaojah, dan Nasihat Nabi Muhammad Kepada Putrinya, dll. Berdasar data dan fakta sebagaimana terkuak lewat manuskrip dan prasasti Sunda, beberapa tokoh perempuan Sunda yang secara umum dalam budaya Sunda kedudukannya ‘dimulyakan’, seperti Sunan Ambu, Nyi Pohaci, Dewi Sri, Nyi Dawit, Nyi Lokatmala, Dewi Rengganis, Dewi Pramanik, Dewi Asri, Nyi Jaojah, Siti Patimah, Dyah Pitaloka atau Citraresmi, dan lainnya.
Mencermati perempuan-perempuan hebat di masa lalu seperti Ratu Sima, Ken Dedes, Batari Hiyang Janapati atau Dewi Citrawati, yakni seorang Ratu yang berkuasa sebagai Batari di Kabataraan Galunggung Tasikmalaya. Seorang panglima perang yang gagah berani, dan guru agama yang disegani, sehingga dijuluki ‘Sang Sadujati’, serta tokoh lainnya yang terungkap dalam manuskrip Sunda. Tidak mengherankan apabila di era gen Zkini, muncul sosok dan tokoh perempuan hebat, yang menduduki kedudukan dan posisi yang tidak kalah pentingnya dari laki-laki, baik sebagai menteri, direktris, professor, manajer, gubernur, bupati maupun jabatan lainnya. Dengan demikian, tidak mengherankan juga apabila di era kemerdekaan kita mengenal tokoh dan pahlawan perempuan seperti Rd. Ajeng Kartini, Cut Nyak Dien, Cristina Martha T, maupun Rd. Dewi Sartika, sebagai perempuan hebat pada masanya, yang berjuang bagi sesamanya maupun bagi bangsa dan negara. Perempuan-perempuan hebat itu dapat dianggap sebagai ‘srikandi-srikandi’ penerus ‘tokoh’ perempuan sebagaimana terungkap dalam manuskrip dan prasasti.
Andai kita ‘engeuh’ terhadap tinggalan budaya masa silam, banyak kearifan lokal yang dapat kita gali dan kita petik terkait eksistensi perempuan. Masa lalu bisa dijadikan cermin dan pelajaran berharga yang tiada ternilai, termasuk tulisan ini dalam memperingati Hari Kartini. Setidaknya untuk mengenalkan tokoh wanita Sunda yang menjadi cerminan para ‘Srikandi Indonesia’ yang mampu berjuang dan berprestasi di berbagai bidang, serta mengharumkan nama Indonesia.
Masyarakat berubah seiring perubahan zaman. Di era Gen Z kini, peran dan kedudukan kaum perempuan dalam beberapa hal telah sejajar dengan kaum pria. Saat ini banyak kaum wanita yang memegang kendali dan menduduki jabatan yang setaraf dengan kaum pria. Dengan demikian, peran dan kedudukan perempuan pun sudah sangat berbeda. Tetapi mungkin pula ada sebagian yang masih tetap sama, tergantung bagaimana kita menyikapinya. Setinggi apapun kedudukan seorang ‘perempuan’, dia tetap seorang istri, ibu, dan ‘wanita’ yang bertanggung jawab terhadap pekerjaan rumah dan keluarganya, karena itulah “kodrat” seorang perempuan sepanjang zaman, termasuk di era Gen Z saat ini. (****














Komentar