Oleh : KRH Aryo Gus Ripno Waluyo, SE, SP.d, S.H, C.NSP, C.CL, C.MP ( Budayawan, Penulis, Spiritualis, Advokat, Ketua DPD PERADI Perjuangan Jatim)
Di Indonesia, kesurupan dipahami sebagai kondisi seseorang kerasukan hantu atau roh jahat. Fenomena ini dipercaya di berbagai negara lain yang juga memiliki kultur kepercayaan terhadap hal-hal berbau mistis. Kondisi bisa terjadi baik karena tidak disengaja maupun yang disengaja.
Uniknya, tak hanya di Indonesia, hampir di seluruh belahan dunia bisa ditemui masyarakat yang memercayai adanya kesurupan. Bahkan, kesurupan bisa menular hingga menimbulkan kesurupan massal.
ada beberapa faktor yang diyakini punya andil dalam memicu gangguan kejiwaan sehingga menyebabkan terjadinya kesurupan, yakni tekanan sosial, tekanan mental, dan atau peristiwa traumatis di masa lalu.
Saat seseorang sedang mengalami kesurupan, untuk langkah pertamanya yang harus dilakukan ialah membawanya ke tempat lain menjauh lokasi kejadian. “Dijauhkan dulu dari lokasi untuk mengurangi sugesti mistis dari lokasi yang ia datangi, supaya suasana lebih tenang juga,” Kesurupan disebut juga dengan kerasukan. Ternyata, walaupun sering dikaitkan dengan masuknya roh atau makhluk halus, kesurupan bisa dijelaskan secara ilmiah.
“Jadi iya, kesurupan itu menular, karena orang-orang disekitarnya bakal sadar bahwa dia juga butuh perhatian, jadi dia ikut-ikutan kesurupan,” kesurupan bisa saja sembuh selamanya dan tidak mengalami lagi, atau bisa saja mengalami kesurupan lagi. Intinya adalah menghindari hal-hal yang membuat dirinya tertekan dan menjauhi hal-hal yang bisa memicu stres.
Fenomena kesurupan yang sering terjadi di masyarakat menunjukkan, berbagai perilaku yang ditimbulkan saat kesurupan, seperti tiba-tiba tidak sadarkan diri dan berperilaku seperti orang lain, dan bahkan sampai berteriak dan mengamuk, dan berbagai bentuk pola perilaku yang ditimbulkan berbeda-beda. Orang yang kesurupan sungguhan akan mengalami rasa yang sangat aneh di tubuh sementara mata akan seakan tertarik ke dalam tubuh dan mengalami iritasi.
Kesurupan atau fenomena yang sering disebut sebagai “trance” atau “possession” dalam konteks medis adalah kondisi di mana seseorang mengalami perubahan dalam kesadaran, perilaku, atau pengendalian diri yang tampaknya di luar kendali mereka.
Kehilangan kesadaran lingkungan. Kehilangan identitas pribadi. Kesulitan membedakan kenyataan dari fantasi pada saat kesurupan. Mengalami perubahan nada suara. Kesurupan adalah reaksi kejiwaan yang disebut sebagai reaksi disosiasi. Reaksi tersebut mengakibatkan hilangnya kemampuan untuk menyadari realitas sekitarnya. Pada kasus-kasus berat, kesurupan yang berulang-ulang bisa menyebabkan gila (pungo), akibat terjadinya perubahan kimiawi otak.
Kesurupan dalam hal ini merupakan manifestasi dari kepribadian yang sedang rapuh atau sedang dalam tekanan sehingga individu menekan hal yang mengancam ke dalam area bawah sadarnya. Seketika itu area kesadarannya pun berkurang.
kesurupan adalah kondisi yang ditandai dengan perubahan perilaku manusia yang seolah dimasuki roh lain. Dahulu kala, praktek semacam ini banyak dilakukan oleh dukun untuk mendapatkan pengetahuan soal hal spesifik.
Sedangkan kerasukan setan berarti seseorang dalam pengendalian/penguasaan secara mutlak oleh setan yang meliputi kehendak dan kekuatan manusia. Setan merupakan sifat yang menggambarkan keadaan makhluk yang jahat, membangkang, tidak taat, suka maksiat, suka melawan aturan, dan durhaka baik itu makhluk dari kalangan jin, maupun manusia. Ia akan selalu menggiring manusia untuk bemaksiat kepada Allah dan menemani mereka di neraka.
setan berarti setiap makhluk yang mempunyai karakter buruk. Dia menyebabkan manusia jauh dari kebenaran dan ketaatan kepada Allah dan rasul-Nya. Manusia pun menjadi jahat, durhaka dan kufur sehingga jatuh dalam kesesatan. Inilah setan yang disebut ada dalam sifat jin dan manusia.
“Cara melawan setan adalah dengan taat kepada Allah. Kau mau bersujud dan sholat itu otomatis memposisikan setan sebagai musuh. Sebab setan melarang sholat dan melarang sujud,” Golongan manusia yang diyakuti Setan adalah orang yang takut pada Allah SWT. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam Fi Zhilalil-Qur’an karya Sayyid Quthb saat menjelaskan firman Allah SWT dalam surah Ali Imran ayat 175.
“Wahai manusia, makanlah sebagian (makanan) di bumi yang halal lagi baik dan janganlah mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya ia bagimu merupakan musuh yang nyata.” (QS. al-Baqarah/2: 168). “Sesungguhnya setan itu musuh bagimu.











Komentar