oleh

Pesantren Islam Dalam Nuansa Tionghoa

EYANG SUTINAH duduk santai di kursi kayu favoritnya, sedangkan Indah sibuk memeriksa tabletnya, Bawono baca buku catatan, dan Linda sibuk ngatur kamera ponselnya.

Eyang Sutinah, berbinar: “”Nah, akhirnya kalian penasaran sama Lasem? Bukan cuma batiknya, lho?”

Linda, tersenyum: “Yaaaa, ku dengar ada pesantren estetik banget. Arsitekturnya campuran Jawa, Islam, Tionghoa. Bener, Eyang?”

Indah, mengangguk: “Bukan sekadar estetik. Pesantren Kauman Lasem itu masterpiece akulturasi hidup.”

Indah: “Lihat, gerbangnya gaya Tionghoa, penuh lukisan bunga dan burung. Dalamnya ada masjid, pondok, dan ruang belajar. Pintunya beraksara Tionghwa.”

“Ini bukan tempelan, ini filosofi. Hopo tumon! Hanya di Lasem.”

Linda: “Jadi ornamen Tionghoa itu memang sengaja?”

Indah: “Iya. Naga berdampingan dengan kaligrafi Arab. Merah dan hijau dominan.”

Bawono : “Iya, Gus Zaim membeli gedung tadi dari sahabatnya, seorang Tionghwa, dan menjadikannya pusat pendidikan agama islam atau pesantren, tanpa menghilangkan ciri-ciri Tionghwanya.

Eyang Sutinah: “Betul, persahabatan mereka itu melahirkan nuansa arsitektur itu: Pesantren islam tapi bernuansa Tionghwa.

Bawono: “Ini salah satu bukti Lasem sebagai Little China, Tiongkok Kecil. Pesantren ini punya kitab kuning sekaligus menyimpan literatur sejarah Tionghoa di perpustakaannya.”

Eyang Sutinah, terharu: “Disana, para santri belajar fiqih, tapi juga mengelola kolam ikan dan kebun. Gus Zaim bilang: ‘Akulturasi itu seperti akar pohon, saling menopang, bukan saling menindas.’”

Linda: “Setuju, ini bukan tempat foto selfi saja, ini sekolah toleransi, sekolah ‘Harmony in Diversity’ yang perlu dikunjungi setiap wisatawan yang ke Lasem.”

Indah: “Sebagai arsitek, aku akui ini contoh urban heritage conservation yang progresif: ‘menghidupkan, bukan membekukan sejarah.’”

Bawono: “Iya, dan melanjutkan tradisi kebersamaan ‘kiai–saudagar Tionghoa’ pesisir Jawa. Warisan yang harus terus diberitakan dan diceritakan.”

Eyang Sutinah, berdiri: “Indah, coba kamu dokumentasikan arsitekturnya.
Dan Bawono, kamu gali kisah santri dan warga di sekitarnya, dan Linda, sebarkan pesan damai ini. Jangan hanya dijadikan ini catatan kaki sejarah tanpa makna.”

Linda: “Pesan kuatnya: Tradisi itu fondasi untuk merangkul perbedaan!”

Indah & Bawono, serempak: “Betul.”

Eyang Sutinah, tersenyum: “Sekarang, siapa mau ke Lasem tanggal 10 – 12 Februari bulan depan? Ayo antar Eyang ke Lasem!”

“Ingat, jangan hanya TAU sejarah, tapi juga harus MAU ke sana. Buktikan dengan mata telinga sendiri, dan cicipi kuliner asli Lasem dengan lidah sendiri.”

“Ayo daftar sekarang juga!!!!!!!!!”

Catatan:
Pesantren Kauman Lasem adalah “Jembatan Peradaban”. Ia membuktikan bahwa Islam Nusantara mampu menyerap kebaikan dari budaya lain tanpa kehilangan jati dirinya. Ini adalah model Vocational Tour yang sempurna bagi Rotary dan P3I untuk mempelajari kerukunan bangsa.

HARMONY IN DIVERSITY!
GUYUP RUKUN, GUYUP MENANG!

Komentar