oleh

Pusaka Mageti

Oleh: Pandan Wangi

Pusaka Mageti
Mpu era Mageti I dipegang Ki Guno Sasmito Utomo, keturunan ke-13 dari Supodriyo (Ki Supo). Ki Guno merupakan pembuat keris yang menjadi senjata semasa perjuangan Pangeran Diponegoro melawan penjajah di abad ke-15. Sedangkan Ki Supo pernah membuat dua keris atas permintaan Raden Said (Sunan Kalijaga).

Sebagaimana tradisi mpu, trah (keturunan) diturunkan melalui garis keturunan anak kandung. Pasca Ki Guno, trah mpu era Mageti turun ke Imam Mustofa sebagai mpu Mageti II. Dari Imam Mustofa, trah mpu turun ke anaknya, Imam Panani (Imam Syuhadak) sebagai mpu Mageti III. Hingga akhirnya trah turun ke salah satu anak kandung Imam Panani, Paku Rodji, sebagai mpu Mageti IV. Sebelum Paku Rodji meninggal, anak ketiganya, Teguh Budi Santoso, sudah ditunjuk sebagai penerus mpu.

Salah satu mpu pembuat pusaka asal Kabupaten Magetan, Jawa Timur, Paku Rodji, 59 tahun, tutup usia. Paku Rodji merupakan keturunan ke-16 dari empu di zaman Majapahit akhir, Supodriyo. “Bapak meninggal dunia pada Sabtu, 4 Juni 2011 pagi sekitar pukul 08.30 WIB saat sedang ngikir (mengasah) keris di belakang rumah,” tutur anak ketiga Paku Rodji, Teguh Budi Santoso.

Paku Rodji tinggal di Dusun Brangkal, Desa Kedungpanji, Kecamatan Lembeyan, Kabupaten Magetan. Almarhum meninggalkan seorang isteri, Binti Khususiyah, dan empat orang putera. Semasa hidupnya, almarhum dikenal sederhana, bijak, dan bersahaja. Jenazah almarhum dimakamkan di kompleks pemakaman keluarga di belakang masjid kuno Tegalrejo, Desa Semen, Kecamatan Nguntoronadi, yang berjarak sekitar satu kilometer dari rumahnya.

Paku Rodji diyakini sebagai keturunan mpu zaman Majapahit akhir. “Berdasarkan catatan keluarga, bapak memang masih keturunan ke-16 dari Mpu Supodriyo yang hidup semasa zaman Majapahit akhir,” tambah anak sulung Paku Rodji, Muhamad Andi Hartanto. Mpu zaman Majapahit diyakini turun temurun hingga melahirkan keturunan yang tinggal di Magetan. Dalam dunia perkerisan, mpu yang tinggal di Magetan disebut dengan istilah mpu era Mageti. “Bapak merupakan mpu Mageti keempat,” tandas Andi yang cukup lama belajar sejarah perkerisan.

Mpu era Mageti I sebelumnya dipegang Ki Guno Sasmito Utomo, keturunan ke-13 dari Supodriyo (Ki Supo). Ki Guno merupakan pembuat keris yang menjadi senjata semasa perjuangan Pangeran Diponegoro melawan penjajah di abad ke-15. Sedangkan Ki Supo pernah membuat dua keris atas permintaan Raden Said (Sunan Kalijaga). Sebagaimana tradisi mpu, trah (keturunan) diturunkan melalui garis keturunan anak kandung. Pasca Ki Guno, trah mpu era Mageti turun ke Imam Mustofa sebagai mpu Mageti II. Dari Imam Mustofa, trah mpu turun ke anaknya, Imam Panani (Imam Syuhadak) sebagai mpu Mageti III. Hingga akhirnya trah mpu Mageti turun ke salah satu anak kandung Imam Panani, Paku Rodji, sebagai mpu Mageti IV. Sebelum Paku Rodji meninggal, anak ketiganya, Teguh, sudah ditunjuk sebagai penerus mpu.

Pusaka karya Paku Rodji yang jadi mpu sejak 1974 itu sudah dikenal luas di dunia perkerisan. Selain keris, Paku Rodji juga membuat pusaka lain seperti tombak, patrem (keris kecil), seking (badik), dan cincin. “Keris itu jadikan pikukuh (pegangan) sebagai perantara kita mendekatkan diri kepada Allah. Jangan malah sirik. Kekuatan itu datangnya dari Allah,” begitu pesan terakhir Paku Rodji beberapa waktu lalu sebelum meninggal.

Selama membuat pusaka, selain menggunakan bahan logam dari pemesan, mpu Mageti mendapatkan bahan logam besi dari alam yang diperoleh secara gaib. Seorang mpu harus sangat menjaga kebersihan hati, perilaku, dan pakem pembuatan pusaka ala mpu Jawa

“Keris itu jadikan pikukuh (pegangan) sebagai perantara kita mendekatkan diri kepada Allah. Jangan malah sirik. Kekuatan itu datangnya dari Allah,”

~Mpu Mageti IV Paku Rodji

Inilah ajaran dari pusaka Mageti. Atau sering juga di sebut dengan “SESANTI”

Rumpil margane

(Sulit gelarannya)

Akeh pangorbanane

(Banyak pengorbanannya)

Gede cobaan ne

(Besar cubaannya)

Adoh lebut jero tinebo

(Ada yg kasar dan lembut ujiannya)

Namun bila ikhlas dan tawakal

Sampurna wusanane

(Sempurna di akhir)

Untuk mencapai sampurna busana diri bukanlah mudah, untuk menyatakan diri beriman maka kita harus di uji dan di coba, untuk bertauhid kita harus di tempa. Untuk mencapai kesempurnaan diri harus ada lakon dan pitukon, harus ada lelaku (perbuatan) dan pengorbanan.

Itulah sebabnya dalam fasalfah Mageti semua ujian bila di terima dengan ikhlas dan lapang dada, akan menjadi hari rayanya, akan menjadi hari kemenangan.

Aidil Fitri adalah bentuk dari hari raya seseorang selepas berjuang berpuasa 1bulan penuh. Aidil Adha adalah bentuk hari raya dari pengorbanan harta benda.

Peganglah bara itu jgn sampai terlepas, kalau terlepas akan sangat sulit jalan kembali mendapatkannya.(****

Komentar