oleh

Referensi Literasi Budaya Berbasis Manuskrip

Oleh: Dr. Elis Suryani Nani Sumarlina, M.S. (Departemen Sejarah dan Filologi Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Padjadjaran)MANUSKRIP atau naskah di bidang filologi merupakan dokumen budaya tinggalan karuhun orang Sunda masa lampau, yang teksnya berisikan tujuh unsur kearifan lokal budaya, yang jumlahnya sangat melimpah, baik yang ada di museum, perpustakaan, instansi pemerintahan, swasta, pasulukan, bahkan pesantren maupun secara perseorangan di masyarakat. Kearifan lokal nilai-nilai yang terkandung dan terungkap dalam manuskrip, meliputi beragam aspek kehidupan masyarakat. yang masih sangat relevan untuk dikenalkan dan diungkap isinya pada masa kini.

Apa dan bagaimana kearifan lokal budaya masyarakat Sunda masa lampau yang meliputi sistem pemerintahan dan pembagian kekuasaan, pandangan hidup, etika dan komunikasi politik, sastra, seni, kuliner, wastuwidya, motif batik, hukum adat, maupun konsep kepemimpinan yang masih terpendam dalam naskah Sunda Kuno? Apakah ada perbedaan atau sama dengan situasi dan kondisi zaman kiwari? Tulisan ini berusaha memaparkan nilai-nilai kearifan lokal budaya Sunda yang terpendam dalam naskah Sunda Kuno abad ke-16 Masehi, yang mungkin  generasi muda Sunda  belum mengenalnya.

Angan, harapan, dan keinginan yang tersirat maupun tersurat dalam manuskrip masih terjalin adanya benang merah dengan kehidupan masyarakat Sunda saat ini, khususnya tentang konsep kepemimpinan, etika dan komunikasi politik  dapat dimanfaatkan  di era politik masa kini. Konsep kepemimpinan dan etika berpolitik itu sendiri tidak terlepas dari sumber daya manusia yang andal, yakni para pemangku kebijakan, pemerintahan, dan generasi muda sebagai pewaris bangsa yang kelak akan menjadi modal  sumber daya manusia yang lebih baik, lebih maju, dan lebih memiliki norma-norma yang menjungjung tinggi nilai-nilai luhur kearifan lokal budaya nenek moyangnya yang tidak dapat diukur dengan materi.

            Manuskrip sebagai dokumen budaya sangat penting, karena menjadi penyimpan berbagai ungkapan pikiran dan perasaan, sebagai cipta, rasa, dan karsa, melalui aksara, bahasa, sastra, dan budaya daerah yang dapat memperkaya bahasa dan sastra Indonesia. Sebagai dokumen budaya, daerah isi manuskrip mampu menjadi sarana referensi literasi bagi ilmu lain. Isi teks manuskrip memliki keterkaitan dengan ilmu lain secara multidisiplin, sesuai dengan isi manuskrip itu sendiri. Dengan demikian, sebagai pelestari bahasa, manuskrip dan teksnya sebagai objek kajian filologi memerlukan ilmu-ilmu bantu yang erat hubungannya dan ada keterjalinan dengan bahasa, masyarakat, serta budaya yang melahirkan naskah, dan ilmu sastra untuk mengungkapkan nilai-nilai sastra yang terkandung di dalamnya. Selain itu, diperlukan juga ilmu bantu yang dapat memberikan keterangan tentang pengaruh-pengaruh kebudayaan yang terlihat dalam kandungan  teks, antara lain: linguistik, pengetahuan bahasa-bahasa yang tampak pengaruhnya dalam teks, paleografi, ilmu sastra, ilmu agama, sejarah kebudayaan, antropologi, dan folklor.

Sebaliknya, hasil kajian filologi pun dapat dimanfaatkan oleh bidang ilmu lain, Itu sebabnya, filologi dapat membantu dan dibantu oleh ilmu lain, seperti ilmu bahasa, sastra, sejarah, arkeologi, sosilogi, geologi, hukum, religi, ekonomi, farmasi, kesehatan masyarakat, komunikasi, maupun ilmu kedokteran. Untuk mengungkap isi sebuah manuskrip kita harus memiliki keterampilan aksara yang digunakan dalam naskah yang akan kita ungkap, mengetahui bahasa naskah, serta budayanya. Karena bagaimana kita dapat mengetahui isi manuskrip jika kita  tidak memiliki pengetahuan tentang seluk beluk kemanuskripan.

Filologi melalui manuskrip beserta teksnya bisa membantu bidang arkeologi dalam hal membaca ‘aksara’ yang terdapat pada prasasti. Membantu ilmu sejarah yang berkaitan dengan naskah-naskah ‘sejarah dan kesejarahan’ sebagaimana terungkap dalam naskah Carita Parahiyangan, naskah keagamaan yang berkaitan dengan religi. Beragam tanaman obat tradisional yang terdapat dalam naskah pengobatan, mampu membantu ilmu farmasi, dan ilmu kedokteran, serta kedokteran gigi. Upaya pencegahan ‘stunting’ yang ada pada naskah Sunda Sanghyang Titisjati Pralina, berguna bagi ilmu keperawatan, kedokteran, dan kesehatan masyarakat. 

Naskah-naskah tentang sistem pembagian kekuasaan, maupun kepemimpinan raja-raja Sunda bihari ‘masa lalu’, etika berpolitik, pandangan hidup, yang terungkap dalam naskah Sanghyang Siksa Kandang Karesian, Fragmen Carita Parahiyangan, Amanat Galunggung, Sanghyang Raga Dewata, Sanghyang Hayu, maupun Sewaka Darma,  dapat menjadi acuan bagi ilmu komunikasi, sosial politik atau pemerintahan. Naskah yang mengungkap hukum adat, dapat mendukung dan berguna bagi ilmu hukum. Naskah lainnya yang berjudul Kawih Katanian, mengungkap seluk beluk tatanén ‘pertanian’,yang di dalamnya mengungkap beragam padi yang ada di daerah Sunda masa lalu. Juga naskah-naskah yang ada hubungannya dengan masalah teknologi, wastuwidya ’arsitektur’. Masih banyak lagi pengetahuan yang terpendam dalam naskah Sunda Kuno, yang perlu diungkap isinya.

Berbicara tentang konsep kepemimpinan, pandangan hidup, etika berpolitik, dalam naskah Sunda Kuno, tidak terlepas dari kesejarahan naskah Sunda itu sendiri, terutama naskah-naskah Sunda Kuno abad ke-16 Masehi, beraksara Sunda dan berbahasa Sunda, serta berbahan Lontar dan Nipah. Karena dari isi naskah-naskah Sunda itulah kita akan mengetahui bagaimana raja-raja di masanya berpolitik, melalui komunikasi yang  dijalinnya dengan baik, antara raja sebagai pemimpin, dengan masyarakat atau rakyat yang dipimpinnya. Dengan demikian, bahasan tentang komunikasi politik ini pun sangat berkaitan erat dengan masalah kepemimpinan seorang raja Sunda pada zaman bihari ‘zaman dahulu/masa lalu’.

Ulasan yang sudah dikemukakan semoga menjadi pemantik bagi para generasi muda untuk mengenal, mempelajari, menggali, meneliti, mengkaji manuskrip agar diketahui isinya/teksnya, serta mengembangkannya agar tidak musnak ditelan masa.  (****

Komentar