Oleh: Agus Pakpahan (Ekonom Kelembagaan & Pertanian dan Rektor IKOPIN)

Prolog: Gula sebagai Artefak Pergulaan Dunia
Di antara seluruh komoditas pertanian, gula memiliki posisi istimewa dalam sejarah ekonomi dunia. Ia bukan hanya bahan pangan, melainkan artefak pergulaan (early development artifact): komoditas yang memungkinkan dunia modern terbentuk melalui perkebunan, perdagangan jarak jauh, pembentukan negara fiskal, dan ekspansi kapitalisme industri. Dalam esai ini, gula digunakan sebagai lensa analitik untuk membaca 150 tahun evolusi ekonomi dunia, dengan penekanan pada satu fakta penting: harga riil gula hampir tidak berubah secara struktural sejak abad ke-19, meskipun dunia telah mengalami revolusi teknologi, industri, dan keuangan.
I. Harga Gula Dunia: Stagnasi Panjang dalam Harga Riil (Base Year 1900 = 100)
Grafik harga gula dunia yang digunakan dalam pembacaan ini menggunakan harga riil dengan tahun dasar 1900 = 100. Artinya, seluruh pergerakan harga telah dibersihkan dari inflasi, sehingga mencerminkan daya beli riil antar-waktu.
Gambar 1. Tren harga riil gula 1850-2020 (1900 = 100)
Temuan Utama:
- Tidak ada tren kenaikan jangka panjang: Harga gula dunia selama ±150 tahun berfluktuasi di sekitar indeks 100, dengan deviasi sesaat (boom–bust) akibat perang, krisis energi, cuaca ekstrem, atau spekulasi, namun selalu kembali ke lintasan jangka panjangnya—tanpa tren struktural naik.
- Produktivitas tidak dinikmati produsen: Setiap lonjakan produktivitas global justru diterjemahkan menjadi tekanan harga yang lebih rendah, bukan peningkatan pendapatan riil bagi petani dan buruh. Dengan basis tahun 1900 = 100, jelas bahwa kemajuan teknologi dunia tidak pernah “dibayar” oleh pasar gula.
II. Produksi Gula Dunia: Pertumbuhan Eksponensial tanpa Pembebasan Ekonomi
Berbanding terbalik dengan harga riil, volume produksi gula dunia meningkat tajam, terutama sejak pertengahan abad ke-20, dari sekitar 8 juta ton pada 1900 menjadi lebih dari 185 juta ton pada musim 2023/2024.
Komposisi dan Geografi Produksi:
· Gula Tebu: Menyumbang sekitar 80% produksi dunia. Diproduksi di wilayah tropis dan subtropis. Produsen utama: Brasil, India, Thailand, Tiongkok, Pakistan, Meksiko, Australia, dan negara-negara ASEAN termasuk Indonesia.
· Gula Bit: Menyumbang sekitar 20% produksi dunia. Diproduksi di zona iklim sedang. Produsen utama: Uni Eropa (terutama Prancis, Jerman, Polandia), Rusia, Amerika Serikat, Turki, dan Ukraina.
Paradoks Fundamental: Dunia memproduksi gula berlipat-lipat lebih banyak, namun nilai riil per unit tetap stagnan. Negara produsen tetap berada dalam jebakan ketergantungan ekspor primer dan kerentanan fiskal struktural. Pertumbuhan output fisik tidak identik dengan pembangunan ekonomi.
III. Tanah sebagai Sumbu Sejarah: Dari Kolonialisme ke Finansialisasi
Gula adalah komoditas yang melekat pada tanah. Transformasi rezim tanahnya mencerminkan evolusi kapitalisme global:
· Abad ke-19: Konsesi kolonial dan plantation.
· Abad ke-20: Perkebunan negara dan korporasi nasional.
· Abad ke-21: Tanah sebagai underlying asset finansial. Di sinilah Indeks Finansialisasi Tanah (IFT) menjadi krusial—fungsi produksi tanah tersubordinasi oleh logika neraca keuangan, agunan, dan leverage.
IV. Harga Gula dan Hilangnya Land Rent Sosial
Dengan kerangka Implicit Land Rent Rate (ILRR), terlihat bahwa harga gula dunia tidak pernah memasukkan nilai sosial tanah. Seluruh surplus produktivitas diserap oleh negara kolonial (masa lalu) dan korporasi global serta sistem keuangan (masa kini). Petani tebu hidup pada residu ekonomi, setelah bunga, depresiasi, dan rente tanah tersedot keluar. Berlaku hukum besi: tanah bersifat tetap (fix), tetapi modal bersifat cair (fluid). Maka, rente tanah secara moral-ekonomi adalah milik masyarakat.
V. Kontras Model Kelembagaan: Dari Korporasi hingga Koperasi
Respons terhadap tekanan harga riil yang stagnan melahirkan model kelembagaan yang beragam:
· Brazil & Australia (Model Korporasi Terintegrasi): Dominasi perusahaan besar dengan kepemilikan lahan luas, teknologi tinggi, dan efisiensi skala raksasa. Logikanya adalah cost leadership di pasar global.
· Thailand (Model Bagi Hasil/70:30): Sukses membangun sistem berbasis petani. 100% tebu ditanam oleh petani mandiri, bukan perkebunan perusahaan. Industri pemrosesan (pabrik gula) menerima tebu petani dengan sistem bagi hasil: 70% untuk petani pemilik tebu dan 30% untuk pabrik sebagai biaya pengolahan. Sistem ini menyelaraskan kepentingan dan menciptakan distribusi pendapatan yang lebih meritokrasi.
· India (Model Koperasi, khususnya Maharashtra): Lebih radikal lagi. Sebagian besar pemasok tebu adalah petani, dan hampir 100% pabrik gula di Maharashtra dimiliki oleh koperasi petani (co-operative sugar factories). Petani adalah pemilik supply chain, bukan hanya penyuplai bahan baku. Model ini berhasil merebut land rent dan nilai tambah industri bagi komunitas petani.
· Eropa & Amerika Utara (Model Gula Bit dengan Proteksi Tinggi): Produksi gula bit didukung subsidi, tarif, dan kuota yang sangat protektif, mencerminkan model agribisnis yang diintensifkan negara untuk ketahanan pangan (food security) meski secara ekonomi kurang kompetitif dengan gula tebu tropis.
Kasus Indonesia: Sebagai pengantar ke edisi ini, Indonesia mencerminkan paradoks besar: sebagai wilayah dengan iklim ideal tebu dan sejarah panjang pergulaan sejak era kolonial, negeri ini justru menjadi importir gula neto yang signifikan. Produksi dalam negeri stagnan, dihadapkan pada fragmentasi lahan, produktivitas rendah, dan ketergantungan pada pola usaha perkebunan besar negara/swasta serta petani rakyat yang terpinggirkan. Studi Indonesia akan mengkonfirmasi tesis utama: problemnya bukan pada agronomi, melainkan pada arsitektur kelembagaan kepemilikan tanah dan tata niaga.
VI. Gula sebagai Cermin Arsitektur Kapitalisme Dunia
Selama 150 tahun, gula telah melalui empat rezim kapitalisme:
Periode Rezim Karakter Utama
1870–1930 Kolonial-ekstraktif
Rente tanah imperium
1930–1970 Industrialis-nasional
Proteksi & substitusi impor
1970–2000 Agroindustri global Skala & efisiensi
2000–kini Finansialisasi agraria Leverage & spekulasi
Namun satu hal tidak berubah: 📉 harga riil gula (1900=100). Ini membuktikan bahwa transformasi dunia adalah transformasi institusi dan distribusi kekuatan, bukan transformasi nilai riil komoditas primer.
VII. Pelajaran Strategis bagi Dunia Tropis
Dari gula, kita memperoleh pelajaran universal:
- pergulaan dunia dibangun dari komoditas tropis, tetapi dunia maju tumbuh di atas stagnasi nilainya.
- Problem utama bukan produktivitas, melainkan arsitektur kepemilikan tanah dan kelembagaan pengolahan.
- Model Thailand dan India (koperasi) menunjukkan jalan keluar: kooperatisasi dan sosialisasi land rent adalah jalan rasional pembangunan.
- Finansialisasi tanah adalah anti-hilirisasi; ia mengalihkan surplus dari produksi ke sirkulasi finansial.
Epilog: Makna pergulaan yang Terlupakan
Dengan basis harga riil 1900 = 100, gula mengajarkan satu kebenaran keras: Dunia bisa tumbuh 150 tahun tanpa menaikkan kesejahteraan riil produsen primernya. Karena itu, agenda masa depan bukan mengejar harga dunia atau menambah volume produksi semata, melainkan merebut kembali tanah, institusi, dan makna pembangunan melalui desain kelembagaan yang mengembalikan rente tanah dan nilai tambah industri kepada masyarakat produsen—seperti secercah cahaya yang ditunjukkan oleh model bagi hasil Thailand dan koperasi Maharashtra.(*****
Serial Tropikanisasi-Kooperatisasi
Edisi 10 Januari 2026










Komentar