Oleh: Redi Mulyadi (Pemerhati Media Sosial)
JUJUR saja, saya sempat tertegun dan merenung cukup lama saat menyaksikan Roy Suryo yang katanya pakar telematika membawa beberapa tokoh wayang kulit dan memainkannya saat menjadi narasumber dalam program Rakyat Bersuara yang tayang di iNews. Wayang itu digunakan untuk mengibaratkan “seorang tokoh” dalam kasus dugaan ijazah palsu Presiden ke-7 Joko Widodo (Jokowi) , dengan mimik wajah (dalang) yang “sinis penuh kebencian” dan intonasi bicara yang tidak mencerminkan sosok seorang dalang sesungguhnya yang berpegang pada pakem.
Dalam benak ini berpikir, apa jadinya tokoh perwayangan yang memiliki karakter sifat baik, kemudian didalangi oleh seorang dalang yang memiliki tujuan tujuan yang sequat/ tidak baik. Bicara soal dunia perwayangan khususnya lakon dalang Roy Suryo, dimana dia mengambil tokoh wayang bernama Petruk, justru bersifat negative. Padahal, sosok Petruk itu bersifat positif. Petruk adalah salah satu tokoh Punakawan dalam pewayangan Jawa. Ia dikenal sebagai sosok yang jenaka, cerdas, dan sabar, serta memiliki ciri fisik yang khas dengan tubuh panjang dan hidung mancung. Petruk juga sering disebut sebagai “Kanthong Bolong” yang mengajarkan tentang pentingnya pemikiran yang panjang, kesabaran, dan kedermawanan. Ia juga melambangkan representasi rakyat kecil yang jujur dan penuh semangat.
Roy Suryo memainkan wayang tersebut tidak sesuai pakem kepewayangan/perdalangan, karena didalamnya lebih mengedepankan unsur kebencian hingga fitnah pada seseorang (Presiden ke 7 Joko Widodo seorang pemimpin besar di negeri Indonesia ), memanfaatkan wayang sebagai “dagelan politik” sehingga terkesan “melecehkeun” profesi dalang yang sesungguhnya. Roy Suryo tidak sepantasnya menjadi “dalang” dalam memainkan peran tokoh tokoh pewayangan yang sakral untuk kepentingan politik maupun pribadi, dengan penuh kebencian. Roy Suryo telah melumuri dunia pewayangan dengan personalitas dengan value yang destruktif, yang menurut penulis bisa mencederai keluhuran budaya kita, khususnya dunia perwayangan. Sementara para pelaku seni budaya khususnya dalang sedang menggarap untuk tetap survive dan kemudian eksis dalam panggung panggung budaya di tingkat local, regional dan nasional. Roy Suryo secara tidak langsung telah “mengotori” dunia perwayangan dan perdalangan.
Ironis dan lucu juga melihat ulah Roy Suryo ini. Sebab, ketika dia menjadi Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) menyaksikan acara wayang dengan Ki Manteb Sudarsono, di Sitinggil Keraton Surakarta, Jawa Tengah pada hari Senin malam (13/1/2014).”Saya berharap kesenian tradisional, khususnya wayang tetap menjadi perekat kesatuan, dan media pencerdasan kehidupan bangsa khususnya pemuda. Untuk itu, jangan sampai kebudayaan dan kesenian kita malah dipolitisir dan dijadikan ajang kepentingan politik, yang bisa menodai keluhuran nilai budaya itu sendiri.” ungkapnya pada saat itu.
Kini terbalik, Roy Suryo justru memainkan dan memanfaatkan dunia pewayangan untuk kepentingan “politik” dengan penuh kebencian terhadap Joko Widodo, karena mungkin (dugaan) selama 10 tahun Jokowi menjabat Presiden Ke-7, tidak memberi “kue” jabatan sebagai pejabat negara (menteri atau apa lah) kepada dirinya. Roy Suryo paham betul soal dunia pewayangan dan pakem perdalangan, tetapi karena jiwanya sudah diselimuti perasaan “kebencian” yang mendalam terhadap Sang Semar (penulis mengidentikkan dengan sosok Joko Widodo, bukan Petruk sebagaimana digambarkan Roy Suryo), sehingga berani melabrak tetekon atau pakem.
Semar adalah tokoh penting dalam pewayangan Jawa, khususnya dalam kisah Punakawan, yang merupakan pengasuh dan penasihat para kesatria Pandawa dalam kisah Mahabharata, serta membantu mereka dalam menghadapi berbagai masalah. Ki Semar digambarkan sebagai sosok yang bijaksana, rendah hati, dan memiliki kemampuan spiritual yang tinggi. Semar juga merupakan simbol pemimpin ideal, yang digambarkan dengan perpaduan antara kebijaksanaan orang tua dan kejernihan berpikir anak-anak. Semar bukan hanya sebagai karakter cerita, tetapi juga sebagai simbol nilai-nilai luhur dan kebijaksanaan. Dalam beberapa versi, Semar diceritakan sebagai dewa yang turun ke bumi untuk mengayomi manusia. Dalang yang memiliki kemampuan spiritual tinggi, ketika melihat sosok Jokowi identik dengan karakter Ki Semar.
Apakah para dalang sejati “berdiam diri” saat melihat dalang abal-abal Roy Suryo memainkan tokoh tokoh pewayangan seperti itu, yang sekaligus terkesan melecehkan profesi dalang yang berbudi luhur ? Penulis yakin, kalau mereka (para dalang sejati) tidak sedang berdiam diri, tetapi mereka “bertapa” berdo’a kepada Sanghyang Widi pemilik alam semesta, menyerahkan kepadanya untuk memberikan “hukuman” (bisa juga berupa hukum karma) yang tinggal menunggu waktunya.
MAKNA FILSAFAT WAYANG
Bagi masyarakat Jawa, wayang tidak saja merupakan kesenian yang dapat menghibur hati para penontonnya, akan tetapi juga mampu menjadi pengisi hati. Dunia pewayangan dianggap sebagai lambang dari keberadaan manusia di alam ini. Karena lakon-lakon yang dipagelarkan dalam sebuah pertunjukan wayang, sering begitu dekat dengan alam kenyataan.
Peranan seni dalam pewayangan merupakan unsur dominan. Akan tetapi bilamana dikaji secara mendalam dapat ditelusuri nilai-nilai edukatif yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Unsur-unsur pendidikan tampil dalam bentuk pasemon atau perlambang. Oleh karena itu sampai dimana seseorang dapat melihat nilai- nilai tersebut tergantung dari kemampuan menghayati dan mencema bentuk-bentuk simbol atau lambang dalam pewayangan, bagaimana makna filsafati dan posisi makna filsafati wayang yang nampak mulai ada perubahan. Untuk itu semua dibutuhkan sebuah metode, yang nantinya akan memberikan hasil final.
Pada tulisan ini, penulis menitikberatkan pada studi kepustakaan, dengan mengumpulkan data-data baik, itu primer maupun sekunder, kemudian dianalisis dengan menggunakan metode induktif dan deduktif, yang nantinya akan menghasilkan suatu kesimpulan. Pertumbuhan dan perkembangan cerita wayang dari zaman prasejarah sampai sekarang ini, berjalan melalui jalur lisan dan tulisan. Melalui jalur lisan wayang disebarkan oleh para dalang dan orang-orang tua yang sudah tahu banyak tentang ceritanya.
Adapun melalui jalur tulisan lewat aneka serat pakem, sedangkan yang mewarisi wayang dari zaman ke zaman (prasejarah-sekarang ini), tidak lain ialah keraton lewat tangan-tangan pejabat yang mewariskan wayang, dan Filsafat Jawa merupakan sumber inspirasi bagi filsafat wayang.
Pertunjukan wayang bagi masyarakat Jawa khususnya, bukan lagi sebagai hiburan, akan tetapi sebagai gambaran keanekaan hidup manusia, tentang beratnya tanggung jawab yang terdapat dalam dalam pengambilan keputusan, tetapi tidak memutuskan sesuatu. Cerita wayang dan karakter tokoh-tokoh mencerminkan sebagian dari situasi konkret kenyataan hidup masyarakat Jawa.
Wayang adalah refleksi dari budaya Jawa, dalam arti pencerminan dari kenyataan kehidupan, nilai dan tujuan kehidupan, moralitas, harapan, dan cita-cita kehidupan orang Jawa, sehingga walaupun ada beberapa orang yang berpendapat bahwa menonton wayang itu menghabiskan waktu serta membosankan, tetapi masih banyak penggemarnya baik kaum tua maupun kaum muda. Hal ini terbukti setiap ada pertunjukan wayang, selalu penuh penontonnya, baik muda maupun tua.
Wayang mampu menginterpretasi dirinya ke alam nyata. Jajaran lakon dan pelaku-pelaku wayang merupakan contoh lakon dan tingkah laku manusia yang ada di dalam masyarakat, dan juga wayang sebagai kesenian mampu beradaptasi dengan masyarakat pemdukungnya. Sehingga dalam konteks yang lebih luas wayang akan mampu menjadi media komunikasi dan pendidikan yang efektif bagi masyarakat Jawa khususnya, bagi masyarakat Indonesia umumnya.
Filsafat dan wayang – keduanya tidak dapat dipisahkan. Berbicara tentang wayang berarti kita berfilsafat. Wayang adalah filsafat budaya Indonesia. Karena wayang mengambil ajaran-ajarannya dari sumber sistem-sistem kepercayaan, wayang pun menawarkan berbagai macam filsafat hidup yang bersumber pada sistem-sistem kepercayaan tersebut, yang dari padanya dapat kita tarik suatu benang merah filsafat wayang.
NILAI FILOSOFI, ETIKA DAN ESTETIKA
Nilai yang terkandung dalam Pewayangan yakni “nilai budaya” merupakan konsep mengenai apa yang hidup dalam pikiran masyarakat Indonesia, mengenai apa yang mereka anggap bernilai, berharga dan penting dalam hidup.
Filosofi yang terkandung dalam wayang tak ada habisnya, dunia perwayangan kaya sekali dengan lambang atau pasemon (petuah), bahkan hampir seluruh eksistensi wayang itu sendiri adalah pasemon.
Etika sebagai ilmu yang mengajarkan manusia “bagaimana seharusnya hidup”, atau Plato memandangnya sebagai ilmu yang mengajar manusia “bagaimana manusia bijaksana hidup”, Hal ini sesuai dengan konsep etika menurut wayang yakni mendidik manusia ke arah tingkah laku yang sempurna, yang dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.
Keindahan atau estetika merupakan bagian dari sebuah filsafat, sebuah ilmu yang berintikan logika, estetika, metafisika, dan epistemologi. Batasan keindahan sulit dirumuskan. Karena keindahan itu abstrak, identik dengan kebenaran. Maka batas keindahan pada sesuatu yang indah, dan bukannya pada “keindahan sendiri”
Wayang termasuk karya seni dan budaya Indonesia yang adi luhung. Di samping bernilai filosofi yang dalam, wayang juga sebagai wahana atau alat pendidikan moral dan budi pekerti atau yang dikenal dengan etika. Dunia perwayangan memberi peluang bagi masyarakat Indonesia untuk melakukan suatu pengkajian filosofi dan mistis sekaligus (lahir dan batin). Di sisi lain, cerita wayang merupakan suatu jenis cerita didaktik yang di dalamnya memuat ajaran budi pekerti yang menyiratkan tentang perihal moral. Bahkan bidang moral merupakan anasir utama dalam pesan-pesan yang disampaikan cerita wayang.(****








Komentar