Oleh: Agus Pakpahan (Ekonom Kelembagaan/ Rektor Universitas Koperasi Indonesia)
Serial Tropikanisasi-Kooperatisasi Edisi 10 Agustus 2026
I. Ada Dua Cara Membaca Dunia
Ada dua cara membaca realitas. Yang pertama adalah membaca dari kejauhan—dengan kacamata yang sudah ditentukan, dengan ukuran yang sudah dibuat, dengan asumsi yang tidak pernah dipertanyakan. Cara membaca ini, seperti yang dilakukan oleh fisika Newtonian dan ekonomi neoklasik yang lahir darinya, melihat dunia sebagai mesin yang harus diukur, diprediksi, dan dikendalikan.
Cara kedua adalah membaca dari kedalaman—dengan merendam diri dalam realitas, dengan membiarkan diri disentuh oleh apa yang tidak terukur, dengan mengakui bahwa pengamat dan yang diamati adalah satu kesatuan yang saling membentuk. Cara membaca ini, yang diilhami oleh fisika kuantum sebagai metafora filosofis, melihat dunia sebagai sistem hidup—sebuah jaringan yang terus berevolusi, penuh kemungkinan, dan saling terhubung.
Dalam perjalanan delapan puluh tahun kemerdekaan, kita—bangsa-bangsa tropika—telah dibaca dengan cara yang pertama. Kita dibaca sebagai wilayah kekurangan. Kita dibaca sebagai kekosongan yang harus diisi. Kita dibaca sebagai “belum” menjadi seperti mereka. Dan bacaan itu, seperti yang diajarkan oleh fisika kuantum, menjadi kenyataan karena kita mempercayainya. Inilah yang disebut sebagai observer effect—cara pandang pengamat membentuk realitas yang diamati.
II. Penjarahan yang Lebih Dalam dari Sekadar Sumber Daya: Ketika Sistem Nilai dan Sosial Dirusak
Ketika kita berbicara tentang kolonialisme dan imperialisme, kita sering kali hanya membayangkan pengangkutan sumber daya alam—rempah-rempah, kayu, karet, minyak, dan hasil bumi lainnya—dari tanah jajahan ke negara penjajah. Ini adalah gambaran yang benar, tetapi tidak lengkap. Karena penjarahan yang dilakukan oleh imperialisme-kapitalisme jauh lebih dalam dari sekadar pengambilan material.
Sistem nilai dan sistem sosial juga diangkut, atau lebih tepatnya dihancurkan, demi kepentingan penjajah.
Tanam Paksa (Cultuurstelsel) yang diterapkan oleh Van den Bosch pada tahun 1830 adalah contoh paling gamblang dari kekerasan ini. Dua puluh persen lahan petani harus ditanami tanaman ekspor—kopi, tebu, nila, dan yang paling terkenal, rempah-rempah. Hasilnya diangkut ke Eropa. Petani tidak dibayar—mereka bekerja sebagai bagian dari pajak, sebagai kewajiban, sebagai kerja paksa yang dibungkus dengan bahasa “tanam paksa”. Mereka yang menolak dihukum. Mereka yang tidak mencapai target disiksa. Ini adalah penjarahan sumber daya yang terorganisasi dan sistematis.
Namun Tanam Paksa adalah lebih dari sekadar penjarahan fisik. Ia adalah kejahatan terhadap struktur sosial. Gotong royong—yang selama berabad-abad menjadi fondasi kehidupan masyarakat Nusantara—diubah menjadi kerja paksa yang dipaksa dan diukur. Hubungan timbal balik antara manusia dan alam, yang selama ini dijaga oleh kearifan lokal, diubah menjadi eksploitasi yang tidak mengenal batas. Nilai-nilai kebersamaan yang diwariskan turun-temurun dihancurkan demi efisiensi produksi untuk pasar Eropa.
Inilah yang oleh filsuf Boaventura de Sousa Santos disebut sebagai epistemicide—pembunuhan pengetahuan lokal. Pengetahuan tentang cara mengelola tanah, cara menjaga hutan, cara berbagi hasil, cara menyelesaikan konflik, cara hidup bersama dalam harmoni—semua itu dianggap tidak ilmiah, tidak modern, tidak berguna. Yang dianggap berharga hanyalah pengetahuan yang melayani produksi, yang meningkatkan ekspor, yang memperkaya Belanda.
Namun sistem nilai juga menjadi target utama. Kepercayaan, yang dulu menjadi modal sosial yang mengikat komunitas, dihancurkan untuk menciptakan hubungan yang hierarkis antara tuan dan budak, antara penjajah dan yang dijajah, antara yang berkuasa dan yang tunduk. Solidaritas dipecah belah melalui politik adu domba—membedakan etnis, mengadu suku, menciptakan permusuhan di antara yang seharusnya bersaudara. Kekeluargaan, yang dulu menjadi fondasi ekonomi gotong royong, digantikan oleh individualisme yang membuat setiap orang berjuang sendiri-sendiri di tengah sistem yang tidak adil.
Kekerasan ini berlanjut setelah kemerdekaan, dalam bentuk yang lebih halus. Kapitalisme dan imperialisme berganti wajah tetapi tidak mengganti tujuannya. Investasi asing datang dengan janji pembangunan, tetapi sering kali membawa serta pola hubungan yang sama: ketergantungan, eksploitasi, dan dominasi atas sumber daya dan tenaga kerja. Sistem nilai dan sosial yang telah berabad-abad dibangun oleh masyarakat tropika terus dihancurkan oleh “modernisasi”—sebuah kata yang terlalu sering berarti “menjadi seperti mereka”.
III. Observer Effect Penjajah: Bagaimana Tropika Dibaca dan Diciptakan sebagai Wilayah Kekurangan
Kekerasan kolonial tidak berhenti pada penjarahan sumber daya dan penghancuran sistem sosial. Ia juga menciptakan sebuah cara pandang—sebuah observer effect yang terus berlangsung hingga hari ini.
Mata penjajah melihat tropika sebagai wilayah yang kurang. Kurang beradab, kurang modern, kurang produktif, kurang segalanya. Dan karena mata itu melihat kekurangan, ia menciptakan kekurangan. Ia membawa “peradaban”—membawa sekolah, rumah sakit, infrastruktur—tapi hanya untuk melayani kepentingan kolonial. Ia mendidik tetapi hanya untuk menjadi pegawai rendahan. Ia membangun jalan tetapi hanya untuk mengangkut hasil bumi. Ia memperkenalkan uang tetapi hanya untuk menggantikan sistem barter yang lebih adil.
Seperti yang diingatkan oleh Amartya Sen: kemiskinan bukanlah sekadar masalah pendapatan rendah. Kemiskinan adalah perampasan kapabilitas—kemampuan untuk menjadi dan melakukan apa yang kita hargai. Dan kapabilitas ini dirampas tidak hanya oleh ekonomi, tetapi oleh cara pandang yang memaksa kita untuk melihat diri kita sebagai “kurang”, yang membuat kita percaya bahwa kita tidak mampu menentukan nasib sendiri, yang menjadikan kita objek dari bacaan orang lain.
Observer effect penjajah menjadikan tropika sebagai objek. Kami adalah objek yang diteliti, diukur, diatur, dan dikendalikan. Kami adalah objek yang pasif, yang menerima, yang menunggu. Dan selama kami menerima bacaan itu, kami tetap menjadi objek—objek dari sejarah yang ditulis oleh orang lain, dari pembangunan yang dirancang oleh orang lain, dari masa depan yang ditentukan oleh orang lain.
IV. Perubahan Observer Effect: CUKK Membaca Dirinya Sendiri
CUKK—Koperasi Kredit Keling Kumang—adalah contoh paling nyata dari perubahan observer effect. Ia tidak memulai dengan menerima bacaan penjajah bahwa dirinya “kurang”. Ia memulai dari sebuah pertanyaan yang berbeda: “Apa yang kita miliki yang tidak mereka lihat?”
Jawabannya adalah kepercayaan. Kepercayaan di antara 12 orang yang berkumpul di ruang 4×4 meter di Tapang Sambas pada tahun 1993. Itu bukan modal besar. Itu bukan teknologi canggih. Itu bukan dukungan dari pemerintah atau lembaga donor. Itu adalah sesuatu yang lebih berharga dari semua itu: kepercayaan bahwa mereka bisa, bahwa gotong royong bisa menjadi sistem ekonomi, bahwa nilai-nilai lokal bisa menjadi fondasi kekuatan modern.
Ketika CUKK mengubah cara pandangnya terhadap dirinya sendiri—dari “kami kekurangan” menjadi “kami memiliki Q” (energi sosial)—ia secara aktif membebaskan diri dari observer effects pihak lain. Ia tidak lagi membaca dirinya melalui mata kapitalisme yang hanya melihat M (uang). Ia mulai membaca dirinya melalui mata kearifan lokal yang melihat Q (kepercayaan, solidaritas, gotong royong). Dan dalam perubahan bacaan itu, realitasnya berubah.
Ini bukan sekadar perubahan sikap. Ini adalah perubahan ontologis: cara kita melihat realitas menciptakan realitas itu sendiri. CUKK tidak memulai dengan melihat dirinya sebagai “kekurangan” yang harus diisi. Ia memulai dengan melihat dirinya sebagai “kelimpahan” yang harus diaktifkan. Ia memulai dengan Q—energi sosial—bukan dengan M—energi material. Dan Q itu, ketika dioperasionalkan, menghasilkan M yang luar biasa.
Seorang pengamat yang baru saja berkunjung ke CUKK, setelah melihat data pertumbuhannya, menulis: “Jika modal sosial dan kapasitas kelembagaan terbentuk, akan terjadi lompatan kuantum yang tidak bisa dijelaskan oleh ekonomi neoklasik.” Itu adalah pengakuan dari seseorang yang mulai melihat dengan mata yang berbeda—mata yang mampu melihat Q di balik M.
V. Koperasi sebagai Ruang Kebebasan Kolektif: Membebaskan Diri dari Bacaan Palsu
Perubahan observer effect tidak cukup hanya dalam pikiran. Ia harus diwujudkan dalam institusi. Dan institusi yang dipilih oleh CUKK adalah koperasi sebagai ruang demokrasi ekonomi—sebuah institusi yang lahir dari gerakan rakyat, bukan dari negara, bukan dari modal asing, bukan dari instruksi pemerintah.
Koperasi CUKK adalah ruang di mana individu dan kolektif hadir dalam harmoni yang dinamis. Anggota CUKK adalah pemilik dan nasabah sekaligus, pengawas dan peserta sekaligus, individu dan bagian dari kolektif sekaligus. Ini adalah lompatan kuantum dalam cara kita memahami kelembagaan: tidak ada pilihan antara individu dan kolektif, antara kebebasan pribadi dan solidaritas sosial, antara efisiensi ekonomi dan keadilan sosial. Semuanya dapat hadir secara simultan, saling menguatkan, dalam ruang yang demokratis dan inklusif.
Di sinilah letak kekuatan CUKK. Ia bukan commune yang dipaksakan dari atas—seperti yang pernah dilakukan oleh sistem-sistem yang otoriter. Ia bukan gulag yang menindas kebebasan individu demi kepentingan kolektif semu. Ia adalah ruang kebebasan kolektif yang lahir dari kesadaran sukarela, dari nilai-nilai bersama yang dihayati, dari partisipasi yang bermakna.
Dalam bahasa Amartya Sen, koperasi adalah ruang di mana kapabilitas manusia—kemampuan untuk menjadi dan melakukan apa yang kita hargai—dapat berkembang secara kolektif. Ia adalah institusi yang memperluas kebebasan, bukan membatasinya. Ia adalah institusi yang memberdayakan, bukan menindas. Ia adalah institusi yang memungkinkan kita untuk menjadi subjek dari sejarah kita sendiri—bukan objek dari bacaan orang lain.
VI. Tropika Memiliki Segalanya: Imajinasi yang Dihidupkan Kembali
Bayangkan tanah tropika. Di sini, hujan turun dengan derasnya dan matahari bersinar dengan terangnya. Di sini, tanahnya subur dan lautnya kaya. Di sini, budaya gotong royong telah hidup sejak sebelum kata “koperasi” dikenal. Di sini, nilai-nilai kebersamaan bukanlah konsep asing—mereka adalah kehidupan sehari-hari.
Yang selama ini disebut sebagai “kutukan tropika” sebenarnya adalah sebuah imajinasi yang mati. Imajinasi bahwa tropika miskin. Imajinasi bahwa tropika tidak punya apa-apa. Imajinasi bahwa tropika harus menunggu bantuan dari tempat lain. Imajinasi itu, karena terus diulang dan dipercaya, telah menjadi kenyataan.
Tetapi CUKK membangkitkan imajinasi lain. Ia menunjukkan bahwa tropika memiliki segala sesuatu yang diperlukan untuk melompat: kepercayaan yang dapat diandalkan, solidaritas yang dapat dimobilisasi, nilai-nilai yang dapat dioperasionalkan menjadi partisipasi nyata. Ia menunjukkan bahwa modal terbesar tidak pernah tercatat di neraca—tetapi ia nyata dalam dampaknya.
Tropika memiliki segalanya. Yang selama ini kurang bukanlah uang atau teknologi, tetapi cara pandang yang mampu melihat kelimpahan itu. CUKK adalah bukti bahwa ketika cara pandang itu ditemukan—ketika Q dioperasionalkan menjadi partisipasi, ketika partisipasi menemukan wadahnya dalam koperasi demokratis—maka lompatan kuantum terjadi.
VII. Dari Q ke θ: Energi Sosial yang Menjadi Lompatan Kuantum
Dalam fisika kuantum, sebuah sistem yang tereksitasi—yang memiliki energi berlebih—akan memancarkan foton dan melompat ke tingkat energi yang lebih tinggi. Energi yang terakumulasi mencapai massa kritis, lalu terjadi lompatan diskrit, tanpa melalui ruang di antaranya.
Di CUKK, Q—energi sosial yang berupa kepercayaan, solidaritas, dan nilai-nilai bersama—terakumulasi selama bertahun-tahun. Ia dipupuk melalui pendidikan anggota, melalui ritual kolektif, melalui transparansi radikal, melalui konsistensi nilai. Ketika Q mencapai massa kritis, muncullah lompatan kuantum (θ)—sebuah percepatan pertumbuhan yang tidak dapat dijelaskan oleh logika linear.
θ di CUKK melonjak dari 0,058 pada tahun 1993 menjadi 9,55 pada tahun 2025. Artinya, pada tahun 1993, untuk setiap anggota yang mencapai kondisi sejahtera, ada 17 anggota yang masih dalam kondisi kemiskinan. Pada tahun 2025, untuk setiap 10 anggota yang mencapai kondisi sejahtera, hanya ada 1 yang masih dalam kondisi kemiskinan. Kemiskinan, yang tadinya merupakan keadaan yang paling mungkin, kini menjadi anomali. Kesejahteraan, yang tadinya hanya impian, kini menjadi kenyataan bagi mayoritas.
Inilah lompatan kuantum yang tidak dapat dibaca oleh kapitalisme—karena ia hanya melihat M, sementara lompatan ini adalah hasil dari Q yang dikonversi melalui kapasitas kelembagaan (α).
VIII. Pembebasan dari Observer Effects Pihak Lain: Menjadi Subjek, Bukan Objek
Ketika CUKK membaca dirinya sendiri sebagai kelimpahan, ia membebaskan dirinya dari observer effects pihak lain. Ia tidak lagi menjadi objek yang dibaca oleh mata kapitalisme; ia menjadi subjek yang membaca dirinya sendiri. Inilah kebebasan sejati—bukan kebebasan untuk memiliki lebih banyak uang, tetapi kebebasan untuk menentukan cara pandang sendiri, kebebasan untuk membangun institusi sendiri, kebebasan untuk mendefinisikan apa yang berharga.
Para pendiri CUKK, seperti Romo Paulus dan Bapak Yohanes, tidak pernah meminta izin untuk percaya. Mereka tidak menunggu pengakuan dari bank sentral atau persetujuan dari kementerian. Mereka memulai dari kepercayaan mereka sendiri—kepercayaan bahwa gotong royong bisa menjadi modal, bahwa solidaritas bisa menjadi kekuatan, bahwa nilai-nilai lokal bisa menjadi fondasi ekonomi modern.
Mereka mengubah observer effect. Mereka tidak lagi membaca diri mereka sebagai “petani kecil yang tidak punya apa-apa”. Mereka membaca diri mereka sebagai “pemilik atas masa depan bersama”. Dan dalam perubahan bacaan itu, dunia berubah.
Ini adalah pembebasan yang lebih dalam daripada kemerdekaan politik. Ini adalah kemerdekaan atas cara pandang—kemerdekaan untuk melihat kekayaan di tempat yang selama ini tidak pernah dilihat orang lain. Ini adalah dekolonisasi pikiran, yang dalam banyak hal lebih penting daripada dekolonisasi wilayah.
IX. Penutup: Tanah yang Tidak Pernah Kekurangan
Delapan puluh tahun kemerdekaan telah cukup untuk membuktikan bahwa jalan lama—jalan yang dibaca oleh mata kapitalisme, yang melihat tropika sebagai kekurangan—tidak membawa kita ke mana-mana. Sudah saatnya kita mengambil jalan baru—jalan kuantum yang sesuai dengan watak tropika. Jalan di mana nilai lebih berharga dari uang, di mana kepercayaan adalah mata uang tertinggi, dan di mana kebersamaan menjadi energi penggerak utama.
Tanah tropika tidak pernah kekurangan. Yang kekurangan adalah cara pandang kita. Ketika kita mengubah cara pandang itu—ketika kita berhenti membaca diri kita melalui mata penjajah, melalui mata kapitalisme, melalui mata yang hanya melihat M—kita akan menemukan bahwa Q yang melimpah selama ini ada di sekitar kita, menunggu untuk dioperasionalkan.
CUKK telah menunjukkan jalannya. Dari ruang 4×4 meter di Tapang Sambas. Dari 12 orang dengan modal Rp 291.000. Dari nilai handep dan hidop barentin yang dihidupkan kembali. Ia menunjukkan bahwa lompatan kuantum adalah mungkin—bahwa dari pedalaman Kalimantan, sebuah peradaban kecil bisa lahir dan tumbuh.
Kini giliran kita. 80.000 titik menanti. 80.000 kesempatan untuk membebaskan diri dari bacaan palsu, untuk menjadi subjek dari sejarah kita sendiri, untuk membuktikan bahwa tanah tropika tidak pernah kekurangan.
Dari Tapang Sambas untuk Indonesia. Dari Indonesia untuk dunia.











Komentar