oleh

TONGKAT PARA NABI DAN FILOSOFI KAYU BANA (Antara Sejarah, Simbol, dan Tradisi)

Oleh: Gus Qusyairi Zaini (Majlis Zikir Tauhid Padepokan Sadar Bumi Alif Kabupaten Sumenep)

SEJAK dahulu, tongkat bukan sekadar alat bantu berjalan atau perlengkapan seorang penggembala. Dalam sejarah kenabian, tongkat memiliki makna yang jauh lebih dalam.Atas izin Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā, beberapa nabi dikaruniai tongkat yang menjadi sarana terjadinya berbagai mukjizat besar. Melalui tongkat tersebut, Allah memperlihatkan kekuasaan-Nya, menguatkan risalah para nabi, serta menjadi bukti kebenaran dakwah yang mereka bawa.

Beberapa tongkat para Nabi dan mukjizatnya, seperti:

1.Tongkat Nabi Musa AS

    Tongkat Nabi Musa AS merupakan salah satu tongkat yang paling masyhur dalam sejarah para nabi. Pada awalnya, tongkat tersebut digunakan untuk menggembala ternak, menopang tubuh saat berjalan, serta membantu berbagai aktivitas sehari-hari.Namun, atas kehendak Allah, tongkat itu menjadi sarana munculnya berbagai mukjizat agung.

    Diantara mukjizat tongkat Nabi Musa AS adalah:

    – Berubah menjadi ular besar. Atas perintah Allah, tongkat tersebut berubah menjadi ular besar yang nyata dan menelan seluruh ular hasil sihir para penyihir Firaun.

    – Memancarkan dua belas mata air. Ketika Bani Israil kehausan di padang pasir, Nabi Musa AS memukulkan tongkatnya ke sebuah batu, lalu memancarlah dua belas mata air sebagai sumber kehidupan bagi kaumnya.

    – Membelah Laut Merah. Dengan izin Allah, tongkat itu menjadi sarana terbelahnya lautan sehingga Nabi Musa AS dan para pengikutnya dapat menyeberang dengan selamat dari kejaran Firaun dan bala tentaranya.

    2. Tongkat Nabi Harun AS

    Nabi Harun AS, saudara sekaligus pendamping Nabi Musa AS dalam berdakwah, juga memiliki tongkat yang menjadi tanda kekuasaan Allah.

    Diriwayatkan bahwa tongkat Nabi Harun AS pernah ditancapkan di suatu tempat. Atas kehendak Allah, dalam waktu singkat tongkat tersebut bertunas, berdaun, berbunga, bahkan menghasilkan buah badam (almond).

    Peristiwa ini menjadi bukti yang menegaskan kedudukan beliau sekaligus mengakhiri perselisihan diantara kaumnya mengenai kepemimpinan.

    3. Tongkat Nabi Sulaiman AS

    Tongkat Nabi Sulaiman AS memiliki kisah yang unik dan sarat pelajaran.

    Sebagaimana disebutkan dalam Surah Saba’ ayat 14, Nabi Sulaiman AS wafat dalam keadaan berdiri sambil bersandar pada tongkatnya ketika mengawasi para jin yang sedang bekerja.

    Selama beberapa waktu, tidak seorang pun mengetahui bahwa beliau telah wafat. Baru setelah rayap memakan tongkat tersebut hingga rapuh dan patah, jasad Nabi Sulaiman AS terjatuh.

    Peristiwa ini menjadi bukti bahwa bangsa jin tidak mengetahui perkara gaib kecuali apa yang Allah kehendaki untuk mereka ketahui.

    4. Tongkat Rasulullah Muhammad SAW

    Rasulullah SAW juga memiliki beberapa tongkat yang digunakan saat bepergian, berkhutbah, maupun dalam aktivitas sehari-hari. Diantaranya adalah:

    (1) Al-Mamsyuq, yaitu tongkat yang terbuat dari kayu pohon Syawhat dan sering digunakan sebagai sandaran maupun penunjang perjalanan.

    (2) An-Namir, yaitu tongkat berukuran lebih kecil yang sering dibawa oleh Rasulullah SAW.

    Bagi Rasulullah SAW, tongkat tidak hanya berfungsi sebagai alat bantu, tetapi juga menjadi simbol kesederhanaan, kewibawaan, dan kepemimpinan.

    Di Nusantara, khususnya dalam tradisi Melayu dan Minangkabau, dikenal sejenis kayu langka yang disebut KAYU BANA. Kayu ini tumbuh menjulang lurus tanpa cabang maupun daun pada batang utamanya sehingga memiliki bentuk yang khas dan mudah dikenali.

    Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, Kayu Bana tumbuh di kawasan hutan pegunungan Sumatra pada ketinggian sekitar 1.500–2.000 meter di atas permukaan laut. Habitatnya yang berada di lereng-lereng curam dan kawasan hutan belantara menjadikannya relatif sulit ditemukan.

    Secara fisik, Kayu Bana memiliki batang yang keras dengan ruas-ruas menyerupai batang kelapa. Masyarakat meyakini bahwa setiap ruas melambangkan satu tahun pertumbuhan sehingga usia pohon dapat diperkirakan dari jumlah ruas yang dimilikinya.

    Panjang batang yang ditemukan umumnya berkisar antara 100 hingga 300 sentimeter dengan diameter sekitar 1 hingga 2,5 sentimeter.

    Karena kelangkaannya, Kayu Bana sering dijadikan tongkat, disimpan sebagai benda pusaka keluarga, atau dibawa oleh para perantau sebagai simbol perlindungan dan pengingat kampung halaman.

    Dalam tradisi lisan masyarakat, terdapat berbagai kisah mengenai keistimewaan Kayu Bana.

    Sebagian masyarakat meyakini bahwa kayu ini memiliki manfaat sebagai sarana ikhtiar untuk memperoleh perlindungan dari gangguan manusia, hewan buas, maupun gangguan yang bersifat gaib.

    Ada pula cerita turun-temurun yang mengaitkan Kayu Bana dengan tongkat Nabi Musa AS. Menurut kisah tersebut, tongkat Nabi Musa AS pernah terbelah menjadi dua bagian. Salah satu bagiannya diyakini berubah menjadi AKAR BAHAR, sedangkan bagian lainnya menjadi KAYU BANA.

    Karena itulah, sebagian masyarakat Nusantara menyebutnya sebagai “Kayu Musa” atau Syajaratul Haq (شجرة الحق) yang berarti Pohon Kebenaran. Dalam bahasa Minangkabau, istilah tersebut kemudian dikenal dengan sebutan Kayu Bana, karena kata bana berarti “benar” atau “kebenaran”.

    Konon, ketika masih tumbuh di hutan liar, tidak ada binatang melata, seperti ular dan sejenisnya, yang berani melewati bayangan pohon Kayu Bana. Menurut cerita yang berkembang, apabila binatang melata melewati bayangan pohon tersebut, binatang itu akan mati seketika.

    Terdapat pula kisah yang menyebutkan bahwa harimau sering menggigit batang Kayu Bana. Sebagian masyarakat meyakini bahwa harimau tidak menghendaki kayu tersebut tumbuh. Ada pula yang menuturkan bahwa harimau menggigit batang Kayu Bana untuk mengasah taringnya. Karena itu, pada beberapa batang Kayu Bana sering ditemukan bekas kehitaman yang diyakini sebagai bekas gigitan harimau.

    Perlu dipahami bahwa kisah-kisah tersebut merupakan bagian dari tradisi dan kepercayaan masyarakat yang diwariskan secara turun-temurun. Kisah tersebut bukan bagian dari riwayat yang memiliki landasan pasti dalam Al-Qur’an maupun hadis sahih.

    Terlepas dari berbagai kisah yang menyertainya, Kayu Bana memiliki nilai filosofis yang menarik.

    Batangnya yang tumbuh lurus tanpa cabang melambangkan istiqamah dalam memegang prinsip dan tujuan hidup. Kekuatan batangnya menggambarkan keteguhan hati dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan. Sementara ruas-ruas yang tersusun rapi melambangkan proses panjang, kesabaran, dan ketekunan dalam menapaki perjalanan hidup setahap demi setahap.

    Karena makna simboliknya tersebut, Kayu Bana sering digunakan oleh tokoh agama, pemuka adat, pendekar silat, dan para sesepuh masyarakat sebagai simbol ketegasan, kebijaksanaan, serta komitmen terhadap nilai-nilai kebenaran.

    Dalam berbagai tradisi lokal, Kayu Bana dimanfaatkan dengan beberapa cara, antara lain:

    1. Dipotong menjadi bagian kecil untuk dijadikan kalung bagi bayi atau anak-anak agar terhindar dari gangguan makhluk halus/ghoib.
    2. Diletakkan di atas pintu masuk rumah sebagai sarana penolak santet, teluh, dan lain sebagainya.
    3. Dipasang melintang pada bagian atas pintu sebagai simbol penjagaan dan perlindungan.
    4. Diletakkan di atas pintu toko, warung, atau tempat usaha sebagai wasilah penglaris dagangan.
    5. Dijadikan tongkat jalan maupun tongkat komando, serta dibawa saat bepergian sebagai bentuk ikhtiar perlindungan dan keselamatan.

    Sebagian masyarakat juga memiliki pantangan untuk tidak menggunakan Kayu Bana sebagai alat untuk memukul manusia maupun hewan karena dianggap tidak sesuai dengan tujuan dan kehormatan kayu tersebut. Bahkan, menurut kepercayaan yang berkembang, penggunaan Kayu Bana untuk memukul manusia atau hewan dapat menimbulkan akibat yang fatal. Dan konon juga, kalau anak kecil ditakut-takuti dengan Kayu Bana, maka anak kecil tersebut akan menjadi penakut sepanjang hidupnya.

    Dari uraian saya diatas, kita bisa tahu tentang sejarah tongkat para nabi yang mengajarkan bahwa benda yang tampak sederhana dapat menjadi sarana lahirnya mukjizat dan pelajaran besar apabila Allah menghendakinya.

    Adapun Kayu Bana merupakan bagian dari khazanah budaya Nusantara yang sarat dengan nilai simbolik, filosofi kehidupan, dan tradisi yang diwariskan secara turun-temurun.

    Segala manfaat yang diyakini masyarakat dari Kayu Bana pada hakikatnya hanyalah bentuk ikhtiar. Adapun perlindungan, pertolongan, dan keberkahan yang sesungguhnya tetap berasal dari Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā semata.

    Dialah satu-satunya Zat yang memberi manfaat dan menolak mudarat bagi seluruh makhluk-Nya.

    ______

    Tongkat yang saya pegang di foto ini adalah tongkat dari Kayu Bana. Tongkat ini adalah koleksi pribadi saya dan tidak diperjual-belikan. Soalnya kalau saya promosi untuk dijual atau dimaharkan, ntar akan ada yang komen, “Dasar, jualan tongkat berkedok Agama..!” 😂 Jadi mohon di kolom komentar jangan ada yang nanya, “Mau dijual atau dimaharkan berapa tongkatnya, Bro?” Juga jangan ada yang bermintal gratisan dengan berkata: “Kirim ke alamat saya untuk kenang²an, Bro…!!”. Lah, tongkat saya ini dibeli dengan uang bukan dengan daun. Paham kan maksud saya..?!

    Komentar