oleh

#1. SERI CERPEN API DAN PERADABAN: “ Paul, Antropolog, Anak Sungai Kapuas, dan Api Yang Tidak Pernah Pensiun”

Penulis: Agus Pakpahan

1. Negeri yang Api-nya Panjang Umur

Paul sedang duduk di warung kopi di tepi Sungai Kapuas, Sintang, Kalimantan Barat, ketika seorang pelanggan membaca berita tentang kebakaran hutan dan lahan.

“Karhutla kembali terjadi,” katanya.

Paul mengangkat kepala.

“Kembali?”

“Iya. Kebakaran hutan dan lahan.”

Paul meletakkan cangkirnya.

“Kalau begitu, api itu sudah pulang kampung.”

Orang-orang di warung tertawa.

Paul tidak.

Ia orang Amerika yang telah memilih menjadi warga negara Indonesia. Ia mencintai Indonesia, termasuk sungainya, hutannya, masyarakatnya, dan segala kemungkinan besar yang dimiliki negeri ini. Ia tinggal di Sintang, di antara kehidupan yang dibentuk oleh Sungai Kapuas dan anak-anak sungainya.

Paul adalah seorang antropolog. Ia mempelajari fenomena sosial dengan memanfaatkan sudut pandang mekanika kuantum, atau setidaknya menjadikan mekanika kuantum sebagai metafora untuk memahami kenyataan sosial yang tidak selalu berjalan lurus, pasti, dan sederhana. Baginya, masyarakat bukan sekadar kumpulan individu, melainkan jaringan hubungan yang saling memengaruhi, berubah karena pengamatan, keputusan, kepentingan, dan kemungkinan-kemungkinan yang terus terbuka.

Ia pernah kuliah di North Dakota University. Di sana, ia menjadi pengagum Aldrich Bloomquist, ketua asosiasi petani bit yang mendirikan koperasi petani bit dan berhasil membeli American Crystal Sugar Company senilai USD 86 juta pada 1973. Paul kemudian bekerja di koperasi tersebut selama lima belas tahun.

Pengalaman itu mengajarinya bahwa petani tidak harus selalu menjadi pihak yang menerima harga dan aturan dari orang lain. Mereka dapat membangun organisasi, menggabungkan kekuatan, menguasai rantai produksi, dan menentukan masa depan ekonominya sendiri.

Sejak tinggal di Indonesia, Paul membaca kembali perkembangan negeri ini setelah 1998, ketika krisis ekonomi mengguncang Indonesia dan membuat sebagian kedaulatannya melemah. Ia terus memikirkan pertanyaan yang lebih besar: mengapa setelah sekitar delapan puluh tahun merdeka, Indonesia dan negara-negara tropika belum juga berhasil menjadi negara maju?

Kebakaran hutan dan lahan yang berulang setiap tahun mengingatkannya pada Dust Bowl yang menghancurkan sebagian wilayah Amerika Serikat pada 1930-an. Di Indonesia, karhutla sudah hampir setengah abad terus berulang dalam bentuk yang sangat mengkhawatirkan. Namun, bagi Paul, pengalaman itu tetap menjadi peringatan.

Ia juga teringat pada kisah seratus kota mati di Suriah, gambaran nyata tentang kehancuran ekologis dan sosial yang dapat terjadi ketika lingkungan kehilangan daya dukungnya. Paul bertanya-tanya: apakah Dust Bowl atau seratus kota mati itu dapat menjadi gambaran malapetaka Nusantara?

Pertanyaan-pertanyaan itulah yang membuatnya memilih menjadi warga negara Indonesia. Ia tidak ingin terus-menerus meminta visa untuk tinggal, bekerja, dan mengabdi di negeri yang telah menjadi rumahnya. Karena itu, ia mengganti kewarganegaraannya dan menjadi warga negara Indonesia.

Bagi Paul, keputusan itu bukan sekadar urusan administrasi.

Ia telah memilih hidup dan mati untuk Indonesia.

Sejak tinggal di sana, Paul belajar bahwa sungai tidak pernah benar-benar hidup sendirian. Air dari tempat lain akan datang, membawa sesuatu, lalu meneruskannya ke tempat lain pula.

Ia juga mulai memahami bahwa kebakaran hutan tidak sesederhana api yang menyala di satu bidang tanah.

Namun, ada satu hal yang sulit dipahaminya.

Mengapa sebuah masalah bisa berulang selama puluhan tahun, tetapi setiap kali datang, manusia memperlakukannya seperti tamu yang tidak dikenal?

“Sejak kapan kebakaran seperti ini berlangsung?” tanyanya.

“Sudah lama,” jawab Mang Udin, pemilik warung. “Sejak zaman dahulu juga orang membuka lahan dengan api.”

Paul mengangguk.

“Kalau begitu, kita harus membedakan api yang digunakan manusia dengan kebakaran yang tidak lagi dapat dikendalikan.”

Mang Udin menatapnya.

“Wah, baru menjadi orang Indonesia sudah bicara seperti profesor.”

Paul tersenyum.

“Tidak, Mang. Saya hanya sedang berusaha memahami mengapa api bisa lebih konsisten daripada kebijakan.”

Tawa kembali pecah di warung.

Kali ini Paul ikut tertawa.

2. Api yang Tidak Pernah Kehilangan Pekerjaan

Malam harinya, Paul membaca kembali berita-berita lama tentang karhutla Indonesia.

Ia menemukan jejak persoalan yang telah muncul sejak dekade 1980-an. Tahun demi tahun, kebakaran kembali menjadi perhatian. Ada musim kemarau, perubahan penggunaan lahan, pembukaan kawasan hutan, kebakaran gambut, asap, kerugian ekonomi, gangguan kesehatan, dan perdebatan tentang siapa yang harus bertanggung jawab.

Nama pejabat berubah.

Nama lembaga berubah.

Program berubah.

Slogan berubah.

Tetapi persoalannya terus kembali.

Paul lalu mengambil selembar kertas dan menulis:

Lowongan pekerjaan untuk api Indonesia.

Jabatan: Pembakar hutan dan lahan.

Masa kerja: Sejak puluhan tahun lalu.

Kualifikasi: Tidak perlu ijazah, tidak perlu surat lamaran, tidak perlu mengikuti seleksi terbuka.

Keunggulan: Tetap bekerja ketika manusia sibuk menyusun rencana.

Kekurangan: Tidak mengenal batas wilayah, tidak menghormati jadwal rapat, dan tidak membaca surat edaran.

Paul membaca tulisannya sendiri.

“Kalau api ini manusia,” gumamnya, “mungkin sudah mendapat penghargaan masa kerja.”

Ia tertawa sendirian.

Lalu ia berhenti.

Sebab di balik kelucuannya ada pertanyaan yang tidak lucu sama sekali: apakah masalah ini terus berulang karena manusia belum cukup mengetahui penyebabnya, atau karena pengetahuan yang sudah tersedia belum benar-benar mengubah cara manusia mengelola lahan?

Paul tahu bahwa kedua kemungkinan itu tidak boleh dicampuradukkan begitu saja. Ada persoalan data, kapasitas, koordinasi, insentif, penegakan hukum, dan keputusan yang harus diperiksa berdasarkan bukti.

Namun, ia juga tahu bahwa mengulang penjelasan yang sama tanpa memperbaiki tindakan bukanlah kemajuan.

Itu hanya pengulangan yang memakai pakaian baru.

3. Ketika Semua Orang Sudah Tahu

Keesokan harinya, Paul bertemu seorang kenalan yang bekerja dalam bidang pengelolaan lahan.

“Apakah kita sudah mengetahui bahwa lahan gambut yang dikeringkan dapat menjadi lebih rentan terhadap kebakaran?” tanya Paul.

“Tentu.”

“Apakah kita sudah mengetahui bahwa pengelolaan air penting?”

“Tentu.”

“Apakah kita sudah mengetahui bahwa kebakaran dapat menimbulkan dampak jauh di luar lokasi sumber api?”

“Sudah lama.”

Paul mengangguk pelan.

“Kalau begitu, saya punya pertanyaan.”

“Apa?”

“Apakah semua pengetahuan itu sudah menjadi bagian dari keputusan produksi, anggaran, pengawasan, dan tanggung jawab pengelolaan?”

Kenalannya tidak segera menjawab.

Paul melanjutkan, “Saya tidak mengatakan bahwa semua orang sengaja mengabaikan pengetahuan. Mungkin ada keterbatasan, mungkin ada koordinasi yang buruk, mungkin ada keputusan yang salah. Tetapi kita perlu mengetahui di mana pengetahuan berhenti bekerja.”

“Berhenti bekerja?”

“Ya. Pengetahuan bisa hidup di laporan, tetapi tidak hidup dalam keputusan.”

Paul memandang hamparan air Sungai Kapuas.

“Kalau seorang dokter mengetahui penyakit pasiennya, tetapi pengetahuan itu tidak mengubah pengobatan, apakah kita cukup puas karena diagnosisnya sudah benar?”

Kenalannya tersenyum tipis.

“Tidak.”

“Kalau begitu, mengapa kita terkadang merasa cukup hanya dengan mengetahui penyebab masalah?”

Percakapan itu berakhir tanpa kesimpulan yang mudah.

Paul tidak menganggap dirinya paling tahu. Ia justru percaya bahwa pertanyaan yang baik seharusnya membuka jalan bagi pemeriksaan yang lebih jujur.

4. Sungai Tidak Mengenal Kotak-Kotak

Sore hari, Paul berjalan menyusuri tepian sungai.

Ia memperhatikan perahu yang bergerak membawa orang dan barang. Air terus mengalir, tidak pernah bertanya apakah ia sedang melewati batas desa, kabupaten, atau wilayah kerja sebuah perusahaan.

Paul teringat bahwa asap juga tidak mengenal batas administrasi.

Kebakaran yang bermula di suatu tempat dapat memengaruhi kesehatan masyarakat di tempat lain. Perubahan tata air di satu bagian lanskap dapat memengaruhi kondisi ekologis bagian lain. Keputusan yang tampak menguntungkan satu pengelola dapat menghasilkan biaya yang harus ditanggung banyak orang.

Ia lalu membayangkan sebuah rapat.

Perwakilan kehutanan duduk di satu meja.

Perwakilan perkebunan duduk di meja lain.

Urusan air berada di meja berikutnya.

Urusan kesehatan masyarakat dibahas di ruangan berbeda.

Urusan ekonomi dibicarakan dalam forum tersendiri.

Semua orang mempunyai data, tugas, anggaran, dan laporan masing-masing.

Sementara itu, asap berjalan ke mana-mana.

Paul menggeleng.

“Barangkali manusia terlalu pandai membuat kotak,” katanya kepada dirinya sendiri, “sampai lupa bahwa alam tidak selalu tinggal di dalamnya.”

Ia segera menambahkan dalam pikirannya bahwa pembagian kewenangan tetap diperlukan. Tidak mungkin semua urusan dikerjakan oleh satu lembaga. Yang diperlukan adalah pembagian tugas yang jelas, disertai koordinasi yang mengikuti hubungan ekologis sebenarnya.

Bagi Paul, inilah salah satu pelajaran dari Sungai Kapuas.

Sesuatu dapat mempunyai banyak bagian, tetapi bagian-bagian itu tetap saling memengaruhi.

5. Siapa yang Membawa Korek Api?

Pada malam berikutnya, Mang Udin mengajukan pertanyaan yang sedang ramai dibicarakan orang.

“Paul, menurutmu, siapa yang menyebabkan kebakaran hutan?”

Paul mengaduk kopinya.

“Pertanyaan itu penting, Mang. Tetapi jawabannya harus berdasarkan bukti.”

“Bukankah cukup mencari siapa yang menyalakan api?”

“Itu bagian dari penyelidikan. Kita juga perlu mengetahui bagaimana api menyebar, bagaimana kondisi lahannya, bagaimana tata airnya, siapa yang mengelola kawasan, apa kewajiban masing-masing pihak, dan apakah kewajiban itu dilaksanakan.”

Mang Udin mengernyit.

“Jadi, bukan hanya mencari orang yang membawa korek?”

“Betul. Tetapi jangan salah paham. Kalau seseorang terbukti melakukan pembakaran yang melanggar hukum atau membahayakan orang lain, ia tetap harus bertanggung jawab. Begitu pula pihak lain yang terbukti melanggar kewajibannya.”

Paul berhenti sejenak.

“Yang tidak boleh kita lakukan adalah menentukan kesalahan hanya berdasarkan siapa yang paling mudah diperiksa, siapa yang paling kecil, atau siapa yang paling lemah.”

Mang Udin mengangguk.

“Berarti hukum harus melihat bukti, bukan ukuran orangnya.”

“Tepat.”

Paul tersenyum.

“Kalau tidak, nanti korek api milik orang kecil disita, sementara korek api besar mendapat undangan makan malam.”

Mang Udin tertawa keras.

“Paul, kalau kamu terus bicara begitu, suatu hari kamu bisa diundang rapat nasional.”

Paul ikut tertawa.

“Semoga rapatnya tidak diadakan di tengah hutan yang sedang terbakar.”

6. Api Bukan Musuh yang Sederhana

Beberapa hari kemudian, Paul berbincang dengan seorang warga yang memiliki pengalaman menggunakan api dalam pengelolaan lahan.

Warga itu menjelaskan bahwa praktik masyarakat tidak selalu sama. Ada yang mengenal aturan adat, memperhatikan musim, mempertimbangkan arah angin, dan mengatur batas pembakaran. Ada pula kondisi ketika penggunaan api menjadi sangat berbahaya.

Paul mendengarkan dengan saksama.

Ia memahami bahwa sejarah manusia memang panjang bersama api. Api membantu manusia memasak, mengolah bahan, dan mengelola lingkungan. Namun, api yang digunakan dalam kondisi tertentu tidak dapat disamakan dengan kebakaran pada gambut yang mengering atau lanskap yang telah kehilangan daya tahan ekologisnya.

“Jadi, kita tidak bisa mengatakan bahwa semua penggunaan api selalu sama,” kata Paul.

“Benar,” jawab warga itu.

“Tetapi kita juga tidak bisa mengatakan bahwa suatu praktik pasti aman hanya karena sudah dilakukan sejak lama.”

Warga tersebut mengangguk.

Paul kemudian menyimpulkan, “Kita harus memahami konteksnya, memeriksa risikonya, menghormati pengetahuan masyarakat, dan tetap menjaga batas keselamatan serta ketentuan hukum.”

Ia merasa bahwa pendekatan seperti ini lebih masuk akal daripada mencari satu jawaban yang dipaksakan untuk semua tempat.

Sebab Indonesia terlalu luas, kondisi ekologisnya terlalu beragam, dan kehidupan masyarakatnya terlalu kompleks untuk diselesaikan dengan satu kalimat.

7. Sebuah Pertanyaan untuk Indonesia

Pada suatu malam, Paul kembali duduk di warung Mang Udin.

Ia membuka buku catatannya dan menulis empat pertanyaan.

Pertama, apa yang sebenarnya tidak kita ketahui, dan apa yang sebenarnya sudah kita ketahui tetapi belum kita tindak lanjuti?

Kedua, apakah kita mengelola hutan, gambut, dan perkebunan sebagai bagian dari sistem kehidupan, atau hanya sebagai kumpulan komoditas dan bidang tanah?

Ketiga, bagaimana pengetahuan ilmiah, pengalaman masyarakat, dan data lapangan dapat benar-benar memengaruhi keputusan?

Keempat, apakah pengelolaan sumber daya alam kita diarahkan hanya untuk memperoleh keuntungan, atau juga untuk menjaga keselamatan, keadilan, dan kemakmuran rakyat dalam jangka panjang?

Mang Udin membaca tulisan itu.

“Pertanyaanmu semakin berat, Paul.”

Paul menutup buku.

“Saya mencintai Indonesia, Mang. Karena itu, saya ingin Indonesia bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan ini dengan tindakan, bukan hanya dengan pidato.”

Ia memandang sungai yang mengalir di hadapannya.

“Saya sudah memilih menjadi warga negara Indonesia. Saya tidak bisa hanya mencintai pemandangan, makanan, dan keramahan orang-orangnya. Saya juga harus berani memikirkan persoalan yang membuat masa depan negeri ini lebih sulit.”

Mang Udin terdiam beberapa saat.

Lalu ia bertanya, “Kalau begitu, apa yang harus kita lakukan besok?”

Paul tersenyum.

“Besok, kita mulai dari pekerjaan yang memang menjadi tanggung jawab kita. Memeriksa kondisi lingkungan, memperbaiki informasi, membangun koordinasi, mendukung pencegahan, dan memastikan bahwa orang yang bertanggung jawab benar-benar menjalankan kewajibannya.”

“Tidak perlu menunggu rapat nasional?”

“Kalau rapat diperlukan, kita adakan. Tetapi jangan menjadikan rapat sebagai alasan untuk menunda pekerjaan.”

Mang Udin mengangkat cangkirnya.

“Untuk Indonesia?”

Paul mengangkat cangkirnya juga.

“Untuk Indonesia. Dan untuk Sungai Kapuas, yang mengajarkan bahwa kehidupan tidak pernah berdiri sendirian.”

Epilog: Api yang Belum Pensiun

Malam itu, Paul pulang ke rumahnya di Sintang.

Ia tahu bahwa satu cerpen tidak akan memadamkan satu hektar pun kebakaran. Sebuah pertanyaan tidak dapat menggantikan petugas terlatih, peralatan, pengelolaan tata air, penegakan hukum, atau anggaran pencegahan.

Namun, ia juga percaya bahwa tindakan yang tepat membutuhkan cara berpikir yang tepat.

Karhutla bukan semata-mata persoalan api. Ia juga persoalan bagaimana manusia mengelola pengetahuan, menentukan tanggung jawab, merancang organisasi, dan menilai keberhasilan pembangunan.

Paul melihat ke arah Sungai Kapuas.

Air terus bergerak menuju tempat-tempat yang belum dilihatnya.

Ia membayangkan api yang telah bekerja selama puluhan tahun, tanpa pernah kehilangan pekerjaannya. Lalu ia membayangkan Indonesia yang suatu hari mampu membuat pekerjaan api itu semakin sulit: bukan karena manusia berhasil menghapus api dari muka bumi, melainkan karena mereka berhasil mengurangi kondisi yang membuat kebakaran berubah menjadi bencana.

Paul tersenyum.

“Api boleh saja tidak mengenal usia pensiun,” katanya pelan. “Tetapi kita tidak boleh membiarkannya terus menjadi pegawai paling produktif di republik ini.”

Di kejauhan, Sungai Kapuas tetap mengalir.

Dan Paul, antropolog Amerika yang memilih menjadi orang Indonesia, kembali memikirkan negeri yang telah menjadi rumahnya.

Ia teringat pada Dust Bowl, pada seratus kota mati di Suriah, dan pada pertanyaan yang terus menghantuinya: apakah kehancuran ekologis semacam itu akan menjadi malapetaka Nusantara?

Paul mengepalkan tangannya.

Ia tidak ingin Indonesia hanya menjadi tempat yang dicintainya. Ia ingin Indonesia menjadi negeri yang dibelanya dengan pengetahuan, kerja, dan keberanian.

Sebab mencintai Indonesia bukan berarti menganggapnya tanpa masalah. Mencintai Indonesia berarti ikut bekerja agar masalah yang sama tidak terus diwariskan kepada generasi berikutnya.

CATATAN PENULIS: Cerpen ini merupakan karya fiksi dan satire sosial. Tokoh Paul, dialog, dan peristiwa di dalamnya adalah hasil imajinasi, bukan dokumentasi kejadian nyata. Sintang dan Sungai Kapuas digunakan sebagai latar geografis untuk menghidupkan cerita, bukan untuk menyatakan bahwa peristiwa fiktif tersebut benar-benar terjadi di sana.

Bersambung ke #2: Paul, Rapat Nasional, dan Api yang Menunggu di Luar.

Komentar