Oleh: Prof. Ir. H. Agus Pakpahan, M.S., Ph.D.____Pengembang Teori Koperasi Kuantum
Serial Tropikanisasi-Kooperatisasi,Edisi 27 September 2026
Abstrak
Esai ini adalah catatan perjalanan reflektif—sebuah narasi personal tentang 20 jam perjalanan darat Pontianak–Ketapang pergi-pulang bersama dua pendiri Koperasi Kredit Keling Kumang (CUKK): Pak Munaldus Nerang dan Pak Stefanus Masiun. Perjalanan ini ditempuh masing-masing pada 24 dan 26 September 2026, di tengah selimut asap yang menyelimuti Kalimantan Barat akibat kebakaran lahan dan hutan. Esai ini bukan sekadar catatan perjalanan, melainkan medan pertemuan—pertemuan antara penulis dan para pendiri CUKK, pertemuan antara teori dan praktik, pertemuan antara masa lalu dan masa depan. Penulis juga merefleksikan busur waktu 47 tahun—dari tahun 1979, ketika ia pertama kali menginjakkan kaki di Kalimantan Barat– Pontianak, Meliau, Sanggau, Sekadau dan Sintang, sebagai surveyor sosial-ekonomi proyek karet rakyat IPB–hingga tahun 2026, ketika ia kembali ke Kalimantan Barat untuk menyampaikan pemikiran tentang Koperasi Kuantum—sesuatu yang tidak pernah ia duga. Perjalanan ini juga menjadi metafora hidup dari perjuangan membangun peradaban dari pedalaman.
Kata kunci: CUKK, Munaldus Nerang, Stefanus Masiun, perjalanan darat, asap, Koperasi Kuantum, refleksi 1979–2026.
I. Pembuka: Undangan dari Pedalaman
Ada undangan yang tidak bisa ditolak. Bukan karena kewajiban, bukan karena kepentingan, melainkan karena panggilan. Panggilan dari seseorang yang telah mengabdikan hidupnya untuk sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri. Panggilan dari Dr. Stefanus Masiun—pendiri Koperasi Kredit Keling Kumang (CUKK), yang kini menjabat sebagai Ketua CUKK, dan juga Rektor Institut Teknologi Keling Kumang (ITKK).
Pada 22 September 2026, saya berangkat ke Pontianak untuk memenuhi undangan menghadiri Rapat Pimpinan CUKK di Ketapang, Kalimantan Barat, pada 24-25 September 2026. Saya pada 24 September diminta untuk menyampaikan isi buku Koperasi Kuantum—sebuah buku yang lahir dari pengalaman empiris CUKK selama 32 tahun.
Saya menerima undangan itu dengan penuh rasa syukur. Bukan hanya karena saya percaya pada misi CUKK, tetapi karena saya ingin belajar langsung dari para pendirinya, dari para pimpinannya. Saya ingin mendengar cerita mereka, merasakan denyut perjuangan mereka, dan memahami mengapa CUKK bisa tumbuh begitu besar—dari Rp 291.000 menjadi Rp 3 triliun dalam 33 tahun.
Namun, ada satu kendala: kabut asap. Sejak beberapa minggu sebelumnya, kabut asap akibat kebakaran lahan dan hutan menyelimuti Kalimantan Barat dan juga seluruh Kalimantan. Indeks kualitas udara di beberapa daerah mencapai angka yang berbahaya. Penerbangan dari Pontianak ke Ketapang sering terganggu. Termasuk pada 23 September 2026 penerbangan dari Pontianak ke Ketapang dibatalkan.
Akhirnya, kami memutuskan untuk berangkat melalui jalan darat.
II. Berangkat: 23 September 2026, Menembus Selimut Asap
2.1 Menunggu Penerbangan yang Tak Kunjung Tiba
Pagi itu, 23 September 2026, kami sudah siap berangkat ke Ketapang dengan pesawat pagi sekitar pukul 08.00. Kami tiba di bandara dengan cukup waktu—berharap penerbangan akan berjalan lancar meskipun kabut asap mulai terlihat pekat di horizon.
Ternyata, tunggu punya tunggu, penerbangan dari Pontianak ke Ketapang dibatalkan. Kabut asap terlalu tebal. Jarak pandang tidak memadai untuk pendaratan yang aman.
Kami terdiam. Rapat pimpinan CUKK sudah dijadwalkan. Saya sudah menyiapkan materi presentasi. Pak Munaldus dan Pak Masiun sudah menunggu. Tidak ada pilihan lain—kami harus mencari jalan keluar.
“Kita berangkat jalan darat saja,” kata Pak Munaldus dengan tenang. “Saya sudah sering melakukannya.”
Kami memutuskan untuk berangkat pukul 15.00 sore segera setelah pengumuman pembatalan kami peroleh—setelah memastikan bahwa jalan darat masih bisa dilalui.
2.2 Perjalanan Malam: Gelap, Sepi, tapi Indah
Sore itu, kami berangkat dari Pontianak. Mobil yang kami tumpangi adalah Toyota Fortuner—mobil yang lumayan tinggi, cukup untuk menghindari lubang atau melangkahi batu-batu di jalan yang rusak. Mobil itu menjadi sahabat perjalanan dengan supir Bang Roy, anak muda yang akan menentukan perjalanan kami semua dalam menembus gelapnya malam.
Menurut perkiraan, perjalanan darat Pontianak–Ketapang memakan waktu sekitar 10–12 jam, tergantung kondisi jalan. Kami harus melewati jalan yang gelap, sepi, dan menantang.
Sebagian perjalanan melewati jalan perkebunan—jalan tanah berbatu yang membelah hamparan kebun kelapa sawit. Kami melihat lampu-lampu di pekarangan dan di dalam rumah dalam kelompok-kelompok kecil rumah-rumah karyawan perkebunan kelapa sawit. Mereka dalam keterpencilan yang menampakkan pola kehidupan yang terisolasi. Namun begitulah kehidupan yang harus mereka hadapi. Tentu saja tidak ada lampu jalan. Tidak ada kehidupan dalam keramaian—kecuali pohon-pohon sawit yang berdiri seperti bayangan raksasa di kegelapan.
Namun, di tengah kegelapan itu, ada keindahan yang sulit dijelaskan. Langit malam yang biasanya bertabur bintang kini tertutup asap—tetapi asap itu sendiri menciptakan cahaya yang aneh, seperti kabut tipis yang memantulkan cahaya lampu mobil. Kadang-kadang, kami melihat api kecil yang masih menyala di kejauhan—sisa-sisa kebakaran lahan yang belum padam.
Saya merasa muda kembali. Duduk di dalam mobil, bersama dua orang pendiri CUKK–adik-kakak dalam satu keluarga, menembus gelapnya malam dan tebalnya asap—saya merasa seperti petualang yang sedang menjelajahi dunia yang belum dikenal. Saya merasa seperti bagian dari sesuatu yang lebih besar—sesuatu yang tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata.
2.3 Tiba di Ketapang: Pukul 2 Pagi
Setelah sekitar 11 jam perjalanan, kami tiba di Ketapang pukul 02.00 pagi. Tubuh kami lelah, tetapi semangat kami tetap menyala.
Kami langsung menuju hotel untuk beristirahat—karena pagi harinya, kami akan menghadiri Rapat Pimpinan CUKK.
2.4 Rapat Pimpinan: Berbagi Pengalaman dan Visi
Pagi harinya, jam 10:30 saya menyampaikan isi buku Koperasi Kuantum di hadapan para pengurus, pengawas, dan pimpinan CUKK yang datang dari berbagai daerah. Hadir sekitar 200 orang. Saya diberi waktu 1 jam 30 menit. Rapat CUKK selalu on-time karena telah dipersiapkan dengan baik. Rapat itu berlangsung hingga jam 5 sore—penuh dengan diskusi, tanya jawab, dan berbagi pengalaman.
Di atas panggung, sebuah banner besar terpampang dengan latar belakang pegunungan dan sosok-sosok yang saling membantu mendaki—sebuah metafora visual yang sangat kuat. Banner itu bertuliskan:
“RAPAT PIMPINAN JPK-KK 2026”
“ONE TEAM STRONGER TOGETHER”
“Kepemimpinan Visioner, Sinergi yang Lebih Dampak Berkelanjutan”
“Ketapang, 24-25 September 2026”
▪️ JPK-KK adalah singkatan dari Jaringan Persemakmuran Koperasi Keling Kumang.
* “One Team Stronger Together”—satu tim, lebih kuat bersama. Ini bukan sekadar slogan. Ini adalah inti dari Koperasi Kuantum—bahwa kekuatan sejati tidak datang dari individu yang terpisah, melainkan dari keterjeratan yang mengikat mereka menjadi satu.
▪️ “Kepemimpinan Visioner”—kepemimpinan yang mampu melihat jauh ke depan, yang tidak terjebak dalam kepentingan jangka pendek, yang mampu menginspirasi orang lain untuk bermimpi dan berjuang bersama.
▪️ “Sinergi yang Lebih Dampak Berkelanjutan”—bukan sekadar sinergi, tetapi sinergi yang menghasilkan dampak yang berkelanjutan. Inilah yang membedakan Koperasi Kuantum dari koperasi konvensional—ia tidak hanya mencari keuntungan, tetapi keberlanjutan yang memberi manfaat bagi generasi mendatang.
▪️ Sosok-sosok yang saling membantu mendaki dalam banner itu bukan sekadar gambar. Ia adalah cerminan dari realitas CUKK—para pendiri, pengurus, dan anggota yang saling membantu, saling menguatkan, saling mengangkat, dalam perjalanan panjang menuju puncak.
Saya menjelaskan bahwa ide kata Kuantum adalah datang dari data yang diberikan oleh CUKK kepada kita semua. Pertumbuhan aset dari Rp 291.000 pada saat awal pendirian menjadi Rp 2.3 triliun pada 2025 dan sekarang akan menjadi Rp 3 triliun adalah realitas yang dibentuk oleh CUKK. “Angka tersebut merupakan lompatan kuantum yang Bapak/Ibu ciptakan. Saya hanya melanjutkan dari realitas lapangan ke dalam bentuk kodifikasi berupa buku”, saya menjelaskan mengapa saya menggunakan kata Kuantum.
Saya menguraikan inti isi buku:
lima pilar Koperasi Kuantum—Medan Kesadaran, Keterjeratan Kuantum, Superposisi, Efek Pengamat, dan Keutuhan. Saya menjelaskan enam nilai dasar—Kekeluargaan, Kepercayaan, Usaha Bersama, Demokrasi Ekonomi, Loyalitas, dan Integritas. Saya menjelaskan tiga belas parameter—dari Lambda hingga Omega.
Para peserta mendengarkan dengan penuh perhatian. Mereka mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang tajam dan kritis. Mereka berbagi pengalaman mereka sendiri—tentang keberhasilan dan kegagalan, tentang suka dan duka.
Saya merasa terhormat bisa berada di antara mereka. Mereka adalah orang-orang yang telah mengabdikan hidupnya untuk koperasi. Mereka adalah pahlawan-pahlawan yang tidak banyak dikenal—tetapi yang telah mengubah hidup ribuan orang. Mereka perlu menjadi teladan.
2.5 Makan Bersama: Kegembiraan yang Menembus Asap
Setelah rapat pimpinan selesai, besok harinya kami melakukan studi tour, salah satunya mengunjungi CU Pancur Solidaritas (CUPS). CUPS memiliki anggota hampir 56000 orang anggota dengan nilai aset hampir mencapai Rp 624 miliar, dengan usianya 24 tahun. Di sini kami disuguhi kehangatan persaudaraan dan kami mendengar CUKK dan CUPS akan membangun kerjasama sinergis di antara keduanya. Kami menikmati kuliner kecil khas Ketapang.
Setelah berkunjung ke CUPS kami semua—para pengurus, pengawas, manajemen, dan pendiri CUKK—berkumpul untuk makan bersama di sebuah rumah makan sederhana di Ketapang. Suasana saat itu hangat dan penuh kegembiraan.
Foto yang saya posting pada bagian akhir esai ini menangkap esensi dari kebersamaan itu. Puluhan orang duduk mengelilingi meja-meja kayu panjang, mengenakan seragam biru tua dengan logo CUKK dan tulisan “One Team Stronger Together” di punggung mereka. Mereka tertawa, berbicara, dan menikmati hidangan bersama. Ada yang sedang menyantap makanan, ada yang sedang bercerita, ada yang sedang mendengarkan dengan penuh perhatian. Wajah-wajah mereka berseri-seri—bukan hanya karena makanan yang lezat, tetapi karena kebersamaan yang menghangatkan.
Yang membuat momen ini sangat istimewa adalah konteksnya. Kami baru saja menempuh perjalanan 10 jam lebih—melalui jalan yang gelap, sepi, dan berbahaya, di tengah selimut asap yang menyesakkan. Kami baru saja melewati penerbangan yang dibatalkan, jalan perkebunan yang rusak, dan malam yang panjang. Namun, di meja makan itu, semua kelelahan seakan hilang. Yang tersisa hanyalah kegembiraan, rasa syukur, dan kebersamaan.
Kegembiraan itu bukan tanpa alasan. Dalam waktu dekat—Oktober 2026—aset CUKK akan menembus Rp 3 triliun. Sebuah pencapaian yang luar biasa, mengingat 33 tahun yang lalu, CUKK hanya bermodal Rp 291.000 dari 12 orang. Namun, yang membuat mereka bergembira bukanlah angka itu semata. Yang membuat mereka bergembira adalah makna di balik angka itu: ribuan keluarga yang keluar dari jerat rentenir, anak-anak yang bisa bersekolah, usaha-usaha kecil yang tumbuh, dan peradaban yang sedang dibangun dari pedalaman. Semua itu hasil perjuangan keras dan melelahkan. Bukan pemberian dari pemerintah apalagi donasi dari para pihak luar yang sering disebut konglomerat. Bukan pula pinjaman dari perbankan. Saya pikir, inilah makna realitas lapangan dari ayat 1 Pasal 33 UUD ‘45.
Di meja makan itu, saya melihat wajah-wajah yang lelah namun bahagia. Saya melihat tangan-tangan yang kasar namun penuh kehangatan. Saya melihat mata-mata yang letih namun bersinar. Mereka adalah orang-orang hebat—yang telah melakukan sesuatu yang luar biasa. Mereka telah membangun sebuah koperasi yang tidak hanya bertahan, tetapi tumbuh dan menyejahterakan, yang mampu membuat lompatan kuantum.
Momen makan bersama itu adalah puncak dari perjalanan ini. Ia mengingatkan saya bahwa koperasi bukanlah tentang bangunan, tentang modal, atau tentang laporan keuangan. Koperasi adalah tentang manusia—tentang kebersamaan, tentang kegembiraan, tentang syukur. Koperasi adalah tentang satu tim yang lebih kuat bersama. Bangunan, kendaraan dan aset fisik lainnya adalah hasil dari nilai koperasi di atas.

III. Pulang: 26 September 2026, Menembus Asap yang Masih Pekat
3.1 Berangkat dari Ketapang: Pukul 06.45 Pagi
Dua hari kemudian, 26 September 2026, kami berangkat dari Ketapang menuju Pontianak. Kali ini, kami berangkat pukul 06.45 pagi—lebih pagi dari perjalanan pergi. Tujuannya jelas: saya harus mengejar penerbangan kembali ke Jakarta sekitar pukul 21.00 malam dari Bandara Supadio, Pontianak.
Perjalanan pulang ini ditempuh pada pagi hingga sore hari—berbeda dengan perjalanan pergi yang menembus malam. Kami berharap bisa melihat pemandangan yang lebih jelas, meskipun kabut asap masih menyelimuti.
Langit Ketapang saat itu berwarna oranye kecokelatan—sebuah pemandangan yang tidak biasa secara estetis, tetapi mengerikan secara ekologis. Matahari tampak seperti bola api yang tergantung rendah, tertutup lapisan asap yang tebal.
3.2 Sepanjang Jalan: Refleksi yang Mendalam
Perjalanan pulang ini menjadi waktu refleksi bagi saya. Saya merenungkan apa yang telah saya pelajari selama dua hari bersama para pendiri dan manajer serta pimpinan CUKK.
Saya merenungkan tentang kepemimpinan. Pak Munaldus dan Pak Masiun bukanlah pemimpin yang suka berbicara di depan umum. Mereka bukanlah pemimpin yang suka pamer kekuasaan. Mereka adalah pemimpin yang rendah hati, yang mendengarkan, yang melayani. Mereka adalah servant leaders dalam arti yang sebenarnya.
Saya merenungkan tentang keteladanan. Pak Munaldus dan Pak Masiun tidak hanya “memberi ceramah” tentang nilai-nilai. Mereka menghidupkan nilai-nilai itu dalam perilaku sehari-hari. Mereka duduk di antara anggota, bukan di depan. Mereka mematuhi aturan yang sama dengan anggota lain. Mereka tidak mengambil keuntungan pribadi.
Saya merenungkan tentang kesabaran. CUKK memerlukan sepuluh tahun pertama yang penuh dengan pencarian, keraguan, dan kegagalan kecil. Pak Munaldus dan Pak Masiun tidak terburu-buru. Mereka membangun fondasi—nilai, kepercayaan, kebersamaan—sebelum mengejar hasil.
Saya merenungkan tentang nilai. CUKK tidak tersesat karena ia memiliki nilai-nilai yang menjadi rujukan dalam setiap keputusan. Handep, hidop barentin, kekeluargaan, integritas—semua ini adalah kompas yang memandu setiap langkah.
3.3 Tiba di Pontianak: Mengejar Penerbangan ke Jakarta
Sore itu, sekitar pukul 18.00, kami tiba di Pontianak. Perjalanan pulang ini memakan waktu sekitar 11 jam—sedikit lebih lama dari perkiraan karena kondisi jalan dan situasi jalan yang lebih ramai.
Saya langsung masuk ke Bandara Supadio untuk mengejar penerbangan ke Jakarta sekitar pukul 21.00 malam. Masih banyak waktu. Saya berpisah dengan Pak Munaldus dan Pak Masiun di bandara dengan rasa haru. Saya merasa telah mendapatkan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sekadar data atau informasi. Saya telah mendapatkan kebijaksanaan—kebijaksanaan yang hanya bisa datang dari pengalaman puluhan tahun.
Total, kami menghabiskan lebih dari 20 jam dalam satu mobil—20 jam yang penuh dengan percakapan, refleksi, dan pembelajaran.
IV. Refleksi 1979–2026: Busur Waktu yang Tak Terduga
4.1 1979: Pertama Kali Menginjakkan Kaki di Kalimantan Barat
Saat saya duduk di dalam mobil, menembus gelapnya malam dan tebalnya asap, pikiran saya melayang jauh ke belakang—ke tahun 1979, ketika saya pertama kali menginjakkan kaki di Kalimantan Barat.
Waktu itu, saya adalah surveyor sosial-ekonomi dalam sebuah proyek penelitian karet rakyat yang dilaksanakan oleh Institut Pertanian Bogor (IPB). Saya masih muda—penuh semangat, penuh rasa ingin tahu. Saya ditugaskan untuk menyusuri Sungai Kapuas—sungai terpanjang di Indonesia—dan mengunjungi desa-desa yang tersebar di sepanjang alirannya. Perkebunan karet rakyat ketika itu cukup dominan.
Saya mengingat dengan jelas pilihan yang harus saya ambil saat itu. Ada dua jalur yang bisa saya tempuh:
▪️ Jalur pertama: Menyusuri Sanggau, Sekadau, dan Sintang—menelusuri jantung Kalimantan Barat, menyusuri sungai-sungai kecil yang bermuara ke Kapuas.
▪️ Jalur kedua: Menyusuri Sanggau, lalu lanjut ke Ketapang—menuju wilayah selatan Kalimantan Barat, ke daerah yang lebih terpencil dan lebih jarang dikunjungi.
Saya memilih jalur pertama: Sanggau, Sekadau, dan Sintang. Saya tidak tahu mengapa saya memilih jalur itu—mungkin karena intuisi, mungkin karena rasa ingin tahu, mungkin karena takdir.
4.2 47 Tahun Kemudian: Ketapang yang Tak Pernah Terduga
Empat puluh tujuh tahun kemudian—pada tahun 2026—saya menjalani perjalanan ke Ketapang. Sesuatu yang tidak pernah saya duga.
Saya tidak pernah membayangkan bahwa suatu hari saya akan kembali ke Kalimantan Barat—bukan sebagai surveyor muda yang mengumpulkan data karet, tetapi sebagai pengembang teori Koperasi Kuantum yang diundang untuk menyampaikan gagasan baru kepada para pendiri dan pimpinan CUKK.
Saya tidak pernah membayangkan bahwa saya akan duduk di dalam mobil bersama Pak Munaldus Nerang dan Pak Stefanus Masiun—dua orang yang telah mengabdikan hidupnya untuk membangun koperasi dari pedalaman—dan berbicara tentang Medan Kesadaran, Keterjeratan Kuantum, dan Superposisi—konsep-konsep yang lahir dari fisika kuantum, tetapi diterapkan sebagai metafora pada koperasi.
Saya tidak pernah membayangkan bahwa saya akan menembus selimut asap yang menyesakkan—bukan untuk mengumpulkan data, tetapi untuk berbagi harapan.
4.3 Dari Karet Rakyat ke Koperasi Kuantum: Sebuah Busur yang Bermakna
Perjalanan ini—dari 1979 ke 2026, dari karet rakyat ke Koperasi Kuantum—adalah busur waktu yang bermakna. Ia menghubungkan masa lalu dan masa depan, data dan makna, penelitian dan pengabdian.
▪️ Pada tahun 1979, saya belajar tentang karet rakyat—tentang bagaimana petani kecil berjuang untuk bertahan hidup, tentang bagaimana mereka terjerat dalam sistem yang tidak adil, tentang bagaimana mereka bermimpi akan masa depan yang lebih baik.
▪️ Pada tahun 2026, saya belajar tentang Koperasi Kuantum—tentang bagaimana petani kecil itu—atau anak cucu mereka—telah membangun sebuah koperasi yang mengubah hidup mereka. Tentang bagaimana mereka keluar dari jerat rentenir, tentang bagaimana mereka menyekolahkan anak-anak mereka, tentang bagaimana mereka membangun peradaban dari pedalaman.
Busur ini mengingatkan saya bahwa perjalanan hidup ini tidak pernah linier. Ia penuh dengan belokan, kejutan, dan keajaiban. Apa yang kita pilih hari ini—seperti memilih jalur Sanggau-Sekadau-Sintang pada tahun 1979—mungkin akan membawa kita ke tempat yang tidak pernah kita duga pada tahun 2026.
4.4 Koperasi Kuantum: Sesuatu yang Baru dari Pengalaman Empiris CUKK
Yang paling membahagiakan dari perjalanan ini adalah menyampaikan sesuatu yang baru: Koperasi Kuantum—sebuah konstruksi teoretis yang lahir dari pengalaman empiris CUKK.
Koperasi Kuantum bukanlah teori yang saya ciptakan di ruang kerja yang sunyi. Ia lahir dari pengalaman nyata—dari perjalanan panjang CUKK selama 32 tahun, dari keringat para pendirinya, dari air mata para anggotanya, dari kegembiraan yang terpancar di meja makan bersama.
Buku Koperasi Kuantum adalah persembahan—persembahan saya kepada para pejuang koperasi Indonesia yang telah berkorban demi kehadiran dan kemajuan koperasi sebagai institusi dekolonisasi perekonomian Indonesia.
Dan ketika saya menyampaikannya di hadapan para pendiri dan pimpinan CUKK—di Ketapang, tempat yang tidak pernah saya duga akan saya kunjungi—saya merasa bahwa busur waktu 47 tahun itu telah menemukan maknanya. Saya merasa bahwa perjalanan hidup saya telah mencapai puncaknya—bukan dalam arti berakhir, tetapi dalam arti menemukan tujuannya.
V. Pelajaran dari Perjalanan: 20 Jam yang Mengubah Cara Pandang
5.1 Perjalanan sebagai Metafora
Perjalanan darat Pontianak–Ketapang pergi-pulang ini menjadi metafora hidup dari perjuangan membangun koperasi:
▪️ Jalan yang panjang dan berliku menggambarkan perjalanan membangun koperasi yang tidak pernah mudah. Ia menuntut kesabaran, ketekunan, dan ketahanan.
▪️ Selimut asap yang menyesakkan menggambarkan tantangan eksternal yang harus dihadapi—krisis ekonomi, konflik sosial, bencana alam. Tantangan ini tidak bisa dihindari; mereka harus dihadapi dengan kebersamaan.
▪️ Mobil Fortuner yang sederhana namun tangguh menggambarkan karakter CUKK—tidak mewah, tetapi mampu menembus jalan yang sulit.
▪️ Percakapan di dalam mobil menggambarkan pentingnya dialog, kebersamaan, dan saling belajar. Dalam perjalanan ini, kami tidak hanya “menempuh jarak,” tetapi “membangun hubungan.”
▪️ Banner “One Team Stronger Together” di atas panggung rapat pimpinan menggambarkan inti dari Koperasi Kuantum—bahwa kekuatan sejati datang dari keterjeratan, dari kebersamaan, dari saling mengangkat.
▪️ Makan bersama yang penuh kegembiraan menggambarkan buah dari perjuangan—bahwa di balik semua kerja keras, ada kebahagiaan yang lahir dari kebersamaan. Bahwa aset Rp 3 triliun bukanlah tujuan akhir, melainkan simbol dari sesuatu yang lebih dalam: manusia yang lebih sejahtera, komunitas yang lebih kuat, dan peradaban yang lebih bermartabat.
▪️ Busur waktu 1979–2026 menggambarkan bahwa perjalanan hidup ini penuh dengan kejutan—bahwa pilihan yang kita ambil hari ini mungkin akan membawa kita ke tempat yang tidak pernah kita duga, dan bahwa tidak ada pengalaman yang sia-sia—semua akan menemukan maknanya pada waktunya.
5.2 Pelajaran tentang Kepemimpinan
Dari perjalanan ini, saya belajar tentang kepemimpinan:
▪️ Pemimpin sejati adalah pelayan. Pak Munaldus dan Pak Masiun tidak memimpin dengan perintah, tetapi dengan pelayanan. Mereka melayani anggota, bukan dilayani.
▪️ Pemimpin sejati adalah pendengar. Pak Munaldus dan Pak Masiun tidak hanya berbicara; mereka mendengarkan. Mereka mendengarkan keluhan, harapan, dan impian anggota.
▪️ Pemimpin sejati adalah teladan. Pak Munaldus dan Pak Masiun tidak hanya mengajarkan nilai; mereka menghidupkan nilai. Mereka menjadi contoh dalam kejujuran, kerendahan hati, dan kepedulian.
5.3 Pelajaran tentang Keteladanan
Dari perjalanan ini, saya belajar tentang keteladanan:
▪️ Keteladanan lebih kuat daripada kata-kata. Anggota CUKK tidak mengikuti Pak Munaldus dan Pak Masiun karena mereka “berkata” sesuatu, tetapi karena mereka “melakukan” sesuatu.
▪️ Keteladanan menciptakan budaya. Ketika pemimpin menjadi teladan, anggota akan meniru. Budaya kejujuran, kerendahan hati, dan kepedulian akan tumbuh dari bawah.
▪️ Keteladanan memerlukan konsistensi. Pak Munaldus dan Pak Masiun telah menjaga keteladanan mereka selama puluhan tahun. Mereka tidak pernah “libur” dari menjadi teladan.
5.4 Pelajaran tentang Kesabaran
Dari perjalanan ini, saya belajar tentang kesabaran:
▪️ Membangun koperasi memerlukan waktu. CUKK memerlukan sepuluh tahun pertama yang penuh dengan pencarian. Tidak ada jalan pintas.
▪️ Kesabaran adalah investasi. Kesabaran Pak Munaldus dan Pak Masiun dalam membangun fondasi—nilai, kepercayaan, kebersamaan—membuahkan hasil yang luar biasa.
▪️ Kesabaran memerlukan iman. Pak Munaldus dan Pak Masiun percaya bahwa kerja keras mereka akan berbuah. Mereka tidak menyerah ketika hasilnya belum terlihat.
5.5 Pelajaran tentang Nilai
Dari perjalanan ini, saya belajar tentang nilai:
▪️ Nilai adalah kompas. CUKK tidak tersesat karena ia memiliki nilai-nilai yang menjadi rujukan. Handep, hidop barentin, kekeluargaan, integritas—semua ini adalah kompas yang memandu setiap keputusan.
▪️ Nilai adalah kekuatan. Nilai-nilai lokal—yang sering dianggap “tidak ilmiah” atau “tidak efisien”—justru menjadi kekuatan CUKK. Mereka adalah energi sosial yang menggerakkan koperasi.
▪️ Nilai adalah warisan. Nilai-nilai CUKK tidak hanya untuk generasi sekarang; mereka adalah warisan untuk generasi mendatang. Mereka harus dijaga, dirawat, dan diwariskan.
VI. Penutup: Perjalanan yang Tak Terlupakan
Perjalanan 20 jam dalam satu mobil bersama Pak Munaldus dan Pak Masiun adalah perjalanan yang tak terlupakan. Bukan karena pemandangannya indah—karena asapnya menyesakkan. Bukan karena mobilnya mewah—karena mobilnya sederhana. Tetapi karena percakapannya bermakna, karena kebersamaannya menghangatkan, dan karena pelajarannya mendalam.
Dari perjalanan ini, saya belajar bahwa membangun koperasi bukanlah pekerjaan satu dua tahun. Ia memerlukan puluhan tahun—dan bahkan itu pun belum cukup. Saya belajar bahwa kepercayaan adalah fondasi—tanpa kepercayaan, tidak ada kerja sama; tanpa kerja sama, tidak ada koperasi. Saya belajar bahwa nilai-nilai lokal adalah kekuatan—bukan kelemahan.
Dan saya belajar bahwa perjalanan itu sendiri adalah bagian dari tujuan. Bukan hanya “tiba di tempat tujuan” yang penting, tetapi “bagaimana kita menempuh perjalanan” itu. Apakah kita menempuh perjalanan dengan kebersamaan? Apakah kita menempuh perjalanan dengan saling belajar? Apakah kita menempuh perjalanan dengan penuh makna?
Perjalanan 1979–2026 mengajarkan saya bahwa hidup ini penuh dengan kejutan. Apa yang kita pilih hari ini—seperti memilih jalur Sanggau-Sekadau-Sintang pada tahun 1979—mungkin akan membawa kita ke tempat yang tidak pernah kita duga. Dan tidak ada pengalaman yang sia-sia—semua akan menemukan maknanya pada waktunya.
CUKK telah menempuh perjalanan yang panjang. Dari ruang 4×4 meter di Tapang Sambas, dari 12 orang dengan modal Rp 291.000, dari sebuah dusun terpencil di Kalimantan Barat. Perjalanan itu belum berakhir. Masih banyak jalan yang harus ditempuh. Masih banyak tantangan yang harus dihadapi.
Tetapi, sebagaimana ditunjukkan oleh Pak Munaldus dan Pak Masiun, perjalanan itu layak ditempuh. Bukan karena hasilnya—meskipun hasilnya luar biasa. Tetapi karena perjalanan itu sendiri—karena kebersamaan, karena pembelajaran, karena makna.
Dan ketika aset CUKK benar-benar menembus Rp 3 triliun pada Oktober 2026, kita akan mengenang kembali momen-momen seperti ini—momen makan bersama yang penuh kegembiraan, momen perjalanan yang penuh makna, momen kebersamaan yang menghangatkan. Karena pada akhirnya, CUKK bukanlah tentang angka. CUKK adalah tentang manusia—tentang satu tim yang lebih kuat bersama.
Cooperative minds are quantum minds. Dan pikiran kuantum adalah pikiran yang mampu melihat bahwa perjalanan itu sendiri adalah tujuan—bahwa setiap langkah adalah bagian dari peradaban yang sedang kita bangun.
Terima kasih, Pak Munaldus. Terima kasih, Pak Masiun. Terima kasih, CUKK.(***
DAFTAR PUSTAKA
- Pakpahan, A. (2026). Koperasi Kuantum: Membangun Peradaban dari Pedalaman—Studi Kasus Koperasi Kredit Keling Kumang 1993–2025. Jatinangor: Universitas Koperasi Indonesia.
- Tabloid Lintas Pena. (2026, September 23). Sejarah Berdirinya CU Keling Kumang: Dari Seminar Budaya Dayak hingga Lompatan Kuantum Rp 3 Triliun.
Zohar, D. (2022). Zero Distance: Management








Komentar