Penulis: Agus Pakpahan
Undangan yang Salah Alamat
Suatu pagi, sepucuk surat datang ke rumah Ojak di Tarigu, sebuah kampung di Desa Mandalaherang.
Bukan surat tagihan listrik. Bukan pula surat dari bank yang menawarkan pinjaman dengan bunga yang katanya bersahabat.
Surat itu berlogo resmi.
Ojak membukanya perlahan, seolah-olah di dalamnya tersimpan keputusan penting tentang masa depan bangsa.
Ternyata benar.
KONGRES GIZI NASIONAL
Membangun Generasi Sehat Indonesia
Hotel Berbintang Lima, Jakarta.
Kepada:
Bapak Ojak, Dukun Bekatul
Desa Mandalaherang
Ojak membaca nama dan alamatnya dua kali.
“Lho, kok tahu saya dukun?”
Ia membalik surat itu. Di bagian bawah tertulis bahwa undangan dikirim atas rekomendasi Puskesmas Kecamatan.
Ojak mengangguk-angguk.
“Alhamdulillah. Rupanya ada juga lembaga yang membaca tulisan orang kampung.”
Ia memandang kandang ayam di samping rumah.
“Kalian dengar? Bapak diundang ke Jakarta.”
Ayam-ayam berkotek.
“Jangan senang dulu. Kalian tidak ikut. Panitia hanya mengundang ahli gizi.”
Ayam jantan berkokok.
Ojak mengangguk serius.
“Benar juga. Kalau kalian ikut, jangan-jangan panitia malah menempatkan kalian di sesi konsumsi.”
Ia memasukkan surat ke dalam tas.
Untuk pertama kalinya, bekatul akan dibawa ke tempat yang karpetnya mungkin lebih mahal daripada harga beras satu kampung.
Ojak merasa perlu mempersiapkan diri.
Bukan untuk mengubah dirinya menjadi orang kota.
Melainkan untuk memastikan bahwa bekatul tidak perlu memakai jas agar pantas dibicarakan.
Persiapan Seorang Peneliti Militan
Ojak menyetrika kemeja lamanya.
Warnanya sudah pudar, tetapi masih bersih. Ia juga menyemir sepatu yang telah menemaninya ke pasar, sawah, dan berbagai pertemuan warga.
Mang Udin datang ketika Ojak sedang memasukkan barang ke dalam koper kecil.
“Jak, mau ke mana?”
“Jakarta.”
“Jualan?”
“Bukan.”
“Jadi apa?”
“Peserta Kongres Gizi Nasional.”
Mang Udin memandang Ojak dari kepala sampai kaki.
“Kamu?”
Ojak berhenti melipat kemeja.
“Memangnya undangan harus dikirim berdasarkan penampilan?”
“Bukan begitu. Saya cuma membayangkan kamu duduk di antara profesor, doktor, dan pejabat.”
“Memangnya kursi mereka berbeda dengan kursi saya?”
Mang Udin tertawa.
“Lalu, apa yang kamu bawa?”
Ojak membuka koper.
“Buku catatan, beberapa tulisan, dan bekatul.”
“Bekatul?”
“Iya.”
“Untuk apa?”
“Supaya mereka tahu barang yang dibicarakan itu ada wujudnya.”
Mang Udin menggeleng.
“Jak, di Jakarta nanti orang bicara pakai PowerPoint.”
“Bagus.”
“Kamu cuma bawa bekatul.”
“Lebih bagus lagi. PowerPoint bisa mati kalau listrik padam. Bekatul masih bisa dilihat.”
Mang Udin terdiam sebentar.
Kemudian ia tertawa.
“Kamu ini memang dukun.”
“Dukun apa?”
“Dukun yang suka menyembuhkan orang dari lupa.”
Ojak tersenyum.
“Kalau begitu, mudah-mudahan di Jakarta banyak pasien.”
Hotel yang Lebih Mewah daripada Pokok Persoalannya
Hotel tempat kongres diselenggarakan menjulang tinggi. Lobinya luas, lampunya berkilauan, dan karpetnya begitu tebal sehingga langkah kaki Ojak nyaris tidak terdengar.
Ia berhenti di depan meja penerima tamu.
“Pak, kongres gizi di mana?”
“Lantai tiga, Bapak.”
Ojak memandang ke atas.
“Kalau gizi masyarakat sudah sampai lantai tiga, mudah-mudahan masyarakatnya juga ikut naik.”
Petugas tersenyum sopan. Ia tidak yakin apakah itu lelucon atau pertanyaan.
Di dekat pintu ruang kongres terpampang tulisan besar:
SELAMAT DATANG PARA AHLI GIZI
Ojak membacanya perlahan.
“Bagus,” gumamnya. “Mudah-mudahan hari ini kita tidak hanya menjadi ahli tentang gizi, tetapi juga ahli membuat gizi sampai ke meja makan.”
Ia memasuki ruangan.
Ratusan peserta sudah duduk. Ada profesor, doktor, peneliti, pejabat, perwakilan industri, dan orang-orang yang namanya ditulis lengkap dengan gelar akademik.
Ojak memeriksa tanda pengenalnya.
OJAK ORANG TARIGU — PENELITI MANDIRI
Ia sebenarnya mengusulkan tambahan kata militan bekatul, tetapi panitia mengatakan ruang pada kartu identitas terbatas.
Ojak mengalah.
“Tidak apa-apa,” katanya. “Di kartu memang tidak muat. Mudah-mudahan di kepala masih ada tempat.”
Ia duduk di barisan belakang.
Dari sana, ia dapat melihat podium, layar presentasi, dan deretan botol air mineral.
Ia memperhatikan semuanya.
Lalu membuka buku catatan.
Penelitian harus dimulai dari pengamatan, pikirnya. Bahkan sebelum pembicara pertama menyampaikan satu kalimat.
Profesor dan Sejarah yang Terlalu Lama Disimpan
Pembicara pertama adalah seorang profesor ternama.
Ia menjelaskan kebutuhan vitamin, keseimbangan zat gizi, metabolisme, dan pentingnya intervensi berbasis bukti.
Presentasinya rapi. Grafiknya indah. Referensinya panjang.
Ojak mendengarkan dengan sungguh-sungguh.
Ketika sesi tanya jawab dibuka, ia mengangkat tangan.
“Silakan, Bapak di belakang.”
Ojak berdiri.
“Terima kasih, Prof. Saya ingin bertanya. Tadi Profesor menjelaskan banyak hal tentang vitamin, tetapi saya belum mendengar bekatul disebut.”
Profesor itu tersenyum.
“Bekatul? Itu bahan yang umum digunakan sebagai pakan ternak.”
Ojak mengangguk, seolah-olah baru mendengar sebuah temuan ilmiah.
“Betul, Prof. Memang banyak digunakan untuk pakan ternak. Tetapi bukankah bekatul juga mengandung komponen gizi yang patut diteliti untuk pangan manusia?”
“Ya, tentu. Tetapi penggunaannya harus memperhatikan mutu, keamanan, dan pengolahan.”
“Setuju, Prof.”
Ojak mengeluarkan selembar kertas.
“Kalau boleh, saya juga ingin mengingatkan sejarah Christiaan Eijkman. Penelitiannya tentang beri-beri dan faktor antineuritik berkaitan dengan dedak beras, yang kemudian menjadi bagian penting dalam sejarah penemuan vitamin B1.”
Profesor itu mengangguk.
“Itu sejarah yang sangat penting.”
“Betul, Prof. Saya hanya heran. Kita bisa mengingat sejarah penemuan vitamin, tetapi bahan pangan yang berhubungan dengan sejarah itu terkadang justru hilang dari percakapan kita.”
Profesor itu hendak menjawab, tetapi Ojak sudah melanjutkan.
“Barangkali sejarahnya sudah masuk buku, sedangkan bekatulnya belum masuk agenda.”
Beberapa peserta tertawa kecil.
Profesor itu ikut tersenyum.
“Pertanyaan yang menarik.”
Ojak duduk kembali.
Ia menulis dalam buku catatannya:
Ilmu pengetahuan bisa menyimpan sejarah dengan baik. Tantangannya adalah memastikan agar pengetahuan itu terus hidup dalam penelitian dan praktik.
Ia membaca kalimat itu sekali lagi.
“Wah,” gumamnya. “Kalau saya tulis di papan pengumuman kampung, mungkin orang mengira saya sudah jadi profesor.”
Doktor dan Peta Stunting
Pembicara kedua adalah seorang doktor yang memaparkan persoalan stunting.
Ada peta prevalensi, grafik pertumbuhan anak, tabel intervensi, serta daftar indikator yang harus dicapai.
Presentasinya serius.
Ojak tidak meragukan pentingnya persoalan itu. Ia tahu bahwa anak yang kekurangan gizi tidak bisa menunggu sampai seminar berikutnya selesai.
Namun, ia kembali mengangkat tangan.
“Maaf, Doktor. Saya ingin bertanya tentang pangan lokal.”
“Silakan.”
“Dalam penjelasan tadi, kita membahas asupan gizi, pola makan, sanitasi, dan pelayanan kesehatan. Apakah penelitian tentang pemanfaatan bekatul sebagai bahan pangan juga menjadi bagian dari agenda kita?”
Doktor itu menjawab hati-hati.
“Bisa menjadi salah satu bagian, tentu saja. Namun, stunting merupakan persoalan multidimensi. Kita tidak bisa mengandalkan satu bahan pangan untuk menyelesaikannya.”
Ojak mengangguk.
“Benar, Dok. Saya juga tidak bermaksud menjadikan bekatul sebagai obat segala penyakit.”
Beberapa orang tersenyum.
“Kalau bekatul bisa menyelesaikan semua masalah, saya tidak perlu datang ke Jakarta. Cukup saya taburkan di halaman rumah, lalu tunggu Indonesia menjadi sehat.”
Tawa terdengar dari beberapa sudut ruangan.
Ojak melanjutkan.
“Yang saya tanyakan sederhana. Mengapa bahan lokal yang berpotensi mendukung perbaikan mutu pangan belum selalu mendapat tempat yang sepadan dalam penelitian, pengembangan produk, dan program edukasi masyarakat?”
Doktor itu terdiam sejenak.
“Pertanyaan tersebut perlu ditindaklanjuti dengan kajian yang lebih terarah.”
“Bagus, Dok.”
Ojak duduk.
Ia menulis:
Persoalan gizi memang kompleks. Tetapi kompleksitas jangan sampai menjadi alasan untuk tidak memeriksa hal-hal sederhana yang ada di sekitar kita.
Ia berhenti menulis.
Kemudian menambahkan:
Kalau semua menunggu kajian, siapa yang bertugas memulai kajian?
Pejabat dan Prioritas Anggaran
Pembicara ketiga adalah seorang pejabat.
Ia menjelaskan program pemerintah, sasaran penerima manfaat, indikator keberhasilan, dan besarnya anggaran yang disiapkan.
Slide demi slide berganti.
Ojak melihat kata strategis, terintegrasi, berkelanjutan, dan berbasis bukti muncul berulang kali.
Ia menyukai kata-kata itu.
Hanya saja, ia ingin tahu kapan kata-kata tersebut akan berkenalan dengan dapur warga.
Ketika kesempatan bertanya dibuka, ia berdiri.
“Pak, saya ingin bertanya. Apakah program gizi nasional memiliki ruang bagi pengembangan bahan pangan lokal, termasuk bekatul, melalui penelitian, standardisasi, dan uji coba produk?”
Pejabat itu menjawab dengan tenang.
“Program pemerintah harus mengikuti prioritas, mempertimbangkan kesiapan teknologi, keamanan pangan, efektivitas, serta ketersediaan anggaran.”
Ojak mengangguk.
“Betul, Pak. Saya menghormati semua pertimbangan itu.”
Ia mengangkat kantong kecil berisi bekatul.
“Namun, bolehkah saya bertanya satu hal lagi?”
“Silakan.”
“Bagaimana sebuah bahan bisa dinilai siap atau tidak siap jika penelitian dan pengembangannya belum cukup dilakukan?”
Ruangan menjadi lebih sunyi.
Pejabat itu membenarkan posisi mikrofonnya.
“Itu memerlukan proses. Harus ada usulan, kajian, dan koordinasi lintas sektor.”
“Baik, Pak.”
Ojak duduk.
Ia tidak menuduh siapa pun mengabaikan bekatul dengan sengaja. Ia hanya melihat sebuah kebiasaan yang terasa akrab: setiap orang menunggu bukti, sementara belum tentu ada cukup orang yang diberi tugas dan anggaran untuk menghasilkan bukti itu.
Dalam buku catatannya, ia menulis:
Anggaran membutuhkan prioritas. Prioritas membutuhkan bukti. Bukti membutuhkan penelitian. Penelitian membutuhkan anggaran.
Ia menatap kalimat tersebut cukup lama.
“Ini bukan lingkaran setan,” katanya pelan. “Ini lingkaran rapat koordinasi.”
Kali ini, bahkan Mang Udin yang tidak berada di Jakarta pun seolah-olah ikut tertawa dalam pikirannya.
Ojak di Podium: Sebutir Bekatul dan Seribu Slide
Menjelang akhir kongres, moderator membuka sesi refleksi peserta.
Ojak kembali mengangkat tangan.
“Bapak Ojak, silakan naik ke podium.”
Ojak berjalan ke depan. Ia membawa buku catatan dan kantong kecil berisi bekatul.
Di hadapannya duduk orang-orang yang telah bertahun-tahun mempelajari gizi, menyusun kebijakan, dan mengembangkan program.
Ia meletakkan kantong itu di atas podium.
“Bapak-Ibu, saya Ojak Orang Tarigu, dari Desa Mandalaherang.”
Ia berhenti sejenak.
“Saya bukan profesor. Bukan doktor. Bukan pejabat. Saya juga belum pernah membuat grafik yang garisnya naik ke kanan atas.”
Peserta tertawa.
“Tetapi saya punya pertanyaan.”
Ia mengangkat kantong bekatul.
“Bagaimana kalau sebagian jawaban atas persoalan pangan kita justru bersembunyi di tempat yang selama ini tidak kita anggap penting?”
Ruangan menjadi tenang.
“Bahan ini bukan jawaban untuk semua masalah gizi. Saya tahu itu. Bekatul perlu diteliti, diolah dengan benar, dijaga mutunya, dan diuji keamanannya sebelum dipasarkan sebagai pangan manusia.”
Ia menatap para peserta.
“Tetapi bukankah justru itu pekerjaan kita?”
Tidak ada yang menyela.
“Bapak-Ibu memiliki laboratorium. Memiliki mahasiswa. Memiliki jaringan penelitian. Memiliki akses kepada pembuat kebijakan. Saya hanya memiliki halaman rumah, beberapa ayam, dan bekatul.”
Ia tersenyum.
“Kalau kita bekerja bersama, mungkin bekatul saya bisa memperoleh kesempatan untuk menjalani penelitian yang layak. Dan kalau ternyata hasilnya tidak sesuai harapan, kita juga mendapat pengetahuan baru.”
Seorang peserta mengangguk.
Ojak melanjutkan.
“Saya tidak meminta bekatul langsung masuk semua program gizi nasional. Saya hanya meminta agar pintu penelitian jangan tertutup sebelum kita memeriksa apa yang ada di baliknya.”
Ia mengeluarkan selembar kertas.
“Karena ada satu hal yang saya khawatirkan. Kita sering mengatakan bahwa pangan lokal harus diberdayakan. Tetapi jangan-jangan yang paling berdaya selama ini justru kata pemberdayaan itu sendiri.”
Tawa terdengar, disusul tepuk tangan.
Ojak mengangguk.
“Terima kasih. Saya senang kalau Bapak-Ibu tertawa. Tetapi saya akan lebih senang lagi kalau setelah kongres ini ada yang bersedia meneliti bekatul.”
Ia mengangkat kantong kecil itu sekali lagi.
“Kalau hari ini kita hanya membawa pulang foto bersama, bekatul tetap menjadi bekatul. Yang berubah hanya latar belakang foto kita.”
Kali ini, tepuk tangan terdengar lebih panjang.
Ojak turun dari podium.
Ia tidak tahu apakah akan ada penelitian baru. Ia juga tidak tahu apakah bekatulnya akan masuk agenda rapat berikutnya.
Tetapi setidaknya, selama beberapa menit, bahan yang biasa terletak di pinggir penggilingan padi telah mendapat tempat di tengah ruangan.
Narasi Gizi dan Jarak yang Tak Terlihat
Setelah sesi utama, seorang peneliti muda menghampiri Ojak.
“Pak, saya tertarik dengan pertanyaan Bapak.”
“Pertanyaan yang mana?”
“Yang tentang pangan lokal dan penelitian.”
Ojak tersenyum.
“Bagus. Berarti pertanyaan saya belum ikut pulang.”
Peneliti muda itu tertawa.
“Saya kira persoalannya bukan semata-mata orang tidak tahu bekatul. Banyak orang tahu bekatul. Tetapi belum tentu tahu cara mengolahnya menjadi pangan yang aman, enak, stabil mutunya, dan layak dijual.”
Ojak mengangguk.
“Benar. Pengetahuan tidak cukup kalau tidak bisa dipraktikkan.”
“Dan tidak semua keluarga memiliki waktu, uang, atau fasilitas untuk mengolah bahan pangan sendiri.”
“Betul.”
“Jadi edukasi gizi harus terhubung dengan akses pangan, harga, kebiasaan makan, dan sistem distribusi.”
Ojak memandang peneliti muda itu dengan senang.
“Nah, sekarang kita mulai bicara tentang dapur.”
Ia membuka buku catatannya.
“Bapak tahu apa yang sering hilang dari percakapan tentang gizi?”
“Apa, Pak?”
“Jarak.”
“Jarak?”
“Iya. Jarak antara laboratorium dan dapur. Antara hasil penelitian dan pasar. Antara kebijakan dan keluarga yang harus membeli makanan setiap hari.”
Ojak menutup bukunya.
“Kalau jaraknya terlalu jauh, pengetahuan bisa sangat benar, tetapi manfaatnya terlambat sampai.”
Peneliti muda itu terdiam.
Ojak lalu menambahkan:
“Dan jangan lupa satu lagi.”
“Apa itu?”
“Jarak antara kata prioritas dan orang yang bertugas mengerjakannya.”
Mereka tertawa.
Bagi Ojak, itulah bagian paling menarik dari kongres. Bukan ketika semua orang sepakat, melainkan ketika sebuah pertanyaan mulai menemukan teman untuk dipikirkan bersama.
Ayam yang Tidak Pernah Mengikuti Kongres
Pada jamuan makan malam, Ojak teringat ayam-ayamnya di Tarigu.
Ia membayangkan mereka sedang mematuk pakan di halaman rumah.
Bekatul memang lazim dimanfaatkan dalam pakan ternak. Namun, pemanfaatannya untuk manusia memerlukan penanganan dan pengolahan yang sesuai. Ojak tahu perbedaan itu.
Ia juga tahu bahwa ayam tidak pernah bertanya tentang anggaran penelitian.
Ayam cukup mematuk apa yang diberikan kepadanya.
Tetapi justru di situlah Ojak menemukan bahan renungan.
“Manusia punya laboratorium,” gumamnya. “Ayam punya paruh.”
Seorang peserta yang duduk di sebelahnya bertanya, “Maksudnya apa, Pak?”
“Tidak ada. Saya sedang membandingkan dua makhluk yang sama-sama membutuhkan makan.”
“Lalu?”
“Manusia bisa menyusun strategi ketahanan pangan. Ayam tidak.”
“Benar.”
“Tetapi manusia juga bisa menyusun strategi yang tidak pernah sampai ke tempat makan.”
Peserta itu tertawa.
Ojak melanjutkan dengan wajah serius.
“Jadi, untuk urusan tertentu, kita memang perlu belajar dari ayam.”
“Belajar apa?”
“Bahwa pada akhirnya, makanan harus benar-benar dimakan. Tidak cukup hanya dibicarakan.”
Peserta itu hampir tersedak air mineral.
Ojak segera menepuk punggungnya.
“Pelan-pelan, Pak. Ini hotel bintang lima. Jangan sampai masuk laporan evaluasi sebagai korban program gizi.”
Resolusi Kongres: Dari Kertas ke Dapur
Pada hari terakhir, panitia membacakan rumusan rekomendasi kongres.
Ada banyak hal penting di dalamnya: penguatan edukasi, perbaikan akses pangan bergizi, penelitian, koordinasi lintas sektor, dan peningkatan kualitas program.
Ojak mendengarkan dengan penuh perhatian.
Ia senang karena beberapa gagasan yang dibicarakan terasa dekat dengan pertanyaannya.
Namun, ia tetap membawa satu kekhawatiran.
Ia meminta waktu sebentar kepada moderator untuk menyampaikan usulan tambahan.
“Bapak-Ibu, saya tidak meminta satu resolusi khusus yang hanya menyebut bekatul. Saya ingin mengusulkan agar bahan pangan lokal yang berpotensi, tetapi kurang mendapat perhatian, diberi jalan untuk diuji secara ilmiah.”
Ia membacakan catatannya.
Catatan Usulan Peneliti Militan Bekatul
Teliti sebelum menghakimi. Jangan menganggap bahan pangan tidak bernilai hanya karena lama dipandang sebagai sisa.
Uji sebelum mempromosikan. Kandungan gizi, keamanan, mutu, dan cara pengolahan harus dibuktikan.
Kembangkan sebelum mengampanyekan. Produk pangan harus praktis, terjangkau, dapat diterima konsumen, dan layak diproduksi.
Hubungkan penelitian dengan masyarakat. Libatkan petani, penggilingan padi, pelaku usaha kecil, perguruan tinggi, dan komunitas lokal.
Dekatkan pengetahuan dengan dapur. Edukasi gizi harus bisa dipahami dan diterapkan oleh keluarga dalam kondisi nyata.
Ukur hasil, bukan hanya kegiatan. Seminar, modul, dan kampanye penting, tetapi perubahan akses pangan dan praktik makan juga perlu dinilai.
Berikan ruang kepada bahan pangan lokal. Bukan karena semuanya pasti unggul, melainkan karena potensinya layak diperiksa secara adil.
Ruangan hening.
Seorang peserta bertepuk tangan. Peserta lain mengikuti.
Ojak membungkuk kecil.
“Terima kasih. Tetapi saya ingin mengingatkan satu hal.”
Tepuk tangan berhenti.
“Resolusi ini bagus. Namun, kalau tidak ada penanggung jawab, jadwal, dan sumber daya, kertas ini akan menjadi bahan arsip yang sangat bergizi bagi lemari.”
Tawa meledak.
“Dan jangan lupa,” tambahnya, “lemari tidak bisa stunting karena kekurangan gizi. Yang bisa kekurangan gizi adalah anak-anak di luar sana.”
Kali ini, tawa mereda dengan sendirinya.
Ojak tidak perlu menambahkan apa-apa.
Ada kalimat yang memang lebih baik dibiarkan bekerja di dalam pikiran orang.
Pulang ke Tarigu
Ojak kembali ke Mandalaherang dengan membawa koper, buku catatan, dan kantong bekatul yang isinya tinggal sedikit.
Mang Udin sudah menunggu.
“Bagaimana, Jak? Kongresnya sukses?”
“Lumayan.”
“Kamu jadi terkenal?”
“Belum.”
“Masuk televisi?”
“Tidak.”
“Dapat uang penelitian?”
“Belum.”
Mang Udin mengerutkan kening.
“Lalu apa yang kamu dapat?”
Ojak duduk di bangku bambu.
“Saya mendapat beberapa teman berpikir.”
Mang Udin menggaruk kepala.
“Teman berpikir bisa dimakan?”
“Tidak.”
“Bisa dijual?”
“Belum tentu.”
“Lalu buat apa?”
Ojak tertawa.
“Supaya suatu hari ada orang yang mau meneliti sesuatu yang selama ini kita lewatkan.”
Mang Udin mengangguk perlahan.
“Jadi, kamu pulang membawa harapan?”
“Dan pertanyaan.”
“Pertanyaan bisa dijual?”
“Tidak juga.”
“Wah, kalau begitu, kamu pulang membawa barang yang paling susah menghasilkan uang.”
Ojak tertawa sampai bahunya berguncang.
“Benar, Mang. Tetapi kalau pertanyaan itu menghasilkan penelitian, lalu penelitian menghasilkan produk yang bermanfaat, siapa tahu suatu hari bisa menghasilkan uang juga.”
Mang Udin menunjuk kandang ayam.
“Kalau begitu, ayam-ayam itu sudah lebih dahulu menghasilkan sesuatu.”
Ojak memandang kandang.
“Betul. Mereka tidak pernah ikut kongres, tetapi setiap hari ada hasilnya.”
Mang Udin tertawa.
Ojak membuka buku catatannya dan menulis:
CATATAN PENELITIAN #4
Kongres penting untuk mempertemukan pengetahuan.
Pangan lokal perlu diteliti secara serius.
Potensi tidak sama dengan bukti manfaat.
Bukti tidak otomatis menjadi produk.
Produk tidak otomatis terjangkau masyarakat.
Edukasi harus bertemu dengan kenyataan dapur.
Kebijakan membutuhkan pelaksana dan sumber daya.
Resolusi harus memiliki tindak lanjut.
Pengetahuan perlu menempuh jarak dari laboratorium ke meja makan.
Jangan sampai kita lebih pandai menyusun agenda daripada menyelesaikan persoalan.
Ojak membaca kembali daftar itu.
Ia lalu menambahkan satu kalimat di bagian bawah:
Bekatul tidak membutuhkan pujian. Bekatul membutuhkan penelitian yang jujur.
Penutup: Dukun Bekatul dan Masa Depan yang Belum Selesai
Malam itu Ojak duduk di depan rumah.
Langit Tarigu gelap, tetapi beberapa bintang tampak berkelip.
Di tangannya ada segenggam bekatul.
Ia memandangnya lama.
“Eijkman pernah meneliti bahan yang berhubungan dengan bekatul,” katanya pelan. “Para ilmuwan sesudahnya terus mengembangkan pengetahuan tentang gizi. Sekarang giliran kita memastikan bahwa pengetahuan itu tidak berhenti sebagai cerita sejarah.”
Seekor ayam mendekat.
Ojak menaburkan sedikit pakan ke tanah.
Ayam itu mematuk.
“Enak?”
Ayam itu tidak menjawab.
“Bagus. Kamu memang tidak pernah memberi penilaian tertulis.”
Ayam itu kembali mematuk.
Ojak tersenyum.
Ia tahu bahwa masa depan gizi tidak bisa dibangun hanya dengan bekatul. Diperlukan pangan yang beragam, pelayanan kesehatan, sanitasi, pendapatan yang memadai, pendidikan, penelitian, dan kebijakan yang bekerja.
Namun, ia juga tahu bahwa sebuah sistem pengetahuan yang baik seharusnya tidak meremehkan sesuatu hanya karena ia datang dari kampung, tidak dibungkus kemasan mahal, atau belum menjadi tren.
Ojak berdiri.
“Besok kita mulai lagi.”
Ayam-ayam berkotek.
“Bukan kongres lagi,” katanya. “Kita mulai dari kampung. Kita cari tahu bagaimana bekatul bisa diolah dengan baik. Kita belajar soal keamanan dan mutunya. Kita ajak orang yang mengerti. Kalau hasilnya bagus, kita kembangkan. Kalau ada kekurangan, kita perbaiki.”
Ia menepuk-nepuk kantong bekatulnya.
“Begitulah penelitian. Bukan memaksa dunia percaya kepada kita, melainkan mengajak dunia memeriksa apa yang kita temukan.”
Ojak masuk ke rumah.
Sebelum menutup pintu, ia menoleh sekali lagi ke arah kandang.
“Dan satu hal lagi.”
Ayam jantan berkokok.
“Kalau nanti ada kongres berikutnya, kamu jangan ikut.”
Ayam itu kembali berkokok.
Ojak menghela napas.
“Baiklah. Kalau kamu ikut juga, tolong jangan minta kursi di barisan depan. Nanti panitia mengira kamu ahli gizi senior.”
Malam itu, Tarigu kembali sunyi.
Di Jakarta, mungkin masih ada rapat yang membahas tindak lanjut kongres. Mungkin pula beberapa rekomendasi sedang disusun menjadi dokumen resmi.
Ojak tidak tahu.
Ia hanya tahu bahwa esok pagi ia harus bangun, mengumpulkan bahan, dan mulai bekerja lagi.
Sebab bagi Ojak, perjuangan bukanlah membuat bekatul menjadi terkenal.
Perjuangan adalah membuat pengetahuan tentang pangan menjadi berguna bagi manusia.
Dan kalau suatu hari bekatul benar-benar mendapat tempat di meja makan masyarakat, Ojak tidak ingin orang mengingatnya sebagai bahan yang pernah dibawa seorang dukun ke hotel berbintang lima.
Ia ingin orang mengingatnya sebagai contoh kecil tentang sesuatu yang lebih besar:
Bahwa kadang-kadang, untuk menemukan jalan ke masa depan, kita perlu memeriksa kembali hal-hal yang terlalu lama kita tinggalkan di belakang.
Bersambung ke #5 Seri Cerpen Bekatul
Catatan penulis: Cerita ini merupakan satire tentang jarak antara pengetahuan, kebijakan, industri pangan, dan kehidupan sehari-hari masyarakat. Bekatul memiliki potensi sebagai bahan pangan, tetapi pemanfaatannya bagi manusia memerlukan pengolahan yang tepat, pengujian keamanan, dan pembuktian manfaat. Kritik utamanya bukan bahwa para ahli tidak mengetahui gizi, melainkan bahwa pengetahuan yang baik harus menemukan jalan menuju praktik yang bermanfaat, terjangkau, dan dapat dipertanggungjawabkan.








Komentar