Penulis: Agus Pakpahan
1. Mengundang Pak Kuwu
Pagi berikutnya, Ojak mendatangi Kantor Desa Mandalaherang.
Pak Kuwu sedang duduk di ruangannya, membaca berkas.
“Ojak? Ada apa pagi-pagi begini?”
“Maaf mengganggu, Pak Kuwu. Saya ingin mengundang Bapak ke pertemuan di balai kampung.”
Pak Kuwu meletakkan berkasnya.
“Pertemuan apa?”
“Tiga ilmuwan muda dari kota akan datang ke Tarigu. Mereka tertarik membantu mengembangkan gagasan Sekolah Bekatul.”
Pak Kuwu mengangkat alis.
“Sekolah Bekatul? Apa itu?”
Ojak menjelaskan dengan sabar. Ia menceritakan pengalamannya di Kongres Gizi Nasional, pertemuannya dengan Rani, Bima, dan Sinta, serta gagasannya untuk mendirikan tempat belajar bersama antara masyarakat dan ilmuwan.
Pak Kuwu mendengarkan dengan seksama.
“Jadi, kamu ingin mengajari warga mengolah bekatul?”
“Bukan hanya mengolah, Pak. Kita ingin belajar tentang gizi, keamanan pangan, ekonomi, dan koperasi. Kita ingin mengubah cara pandang terhadap sesuatu yang selama ini dianggap tidak berharga.”
Pak Kuwu terdiam sejenak.
“Apakah ini ada hubungannya dengan stunting?”
Ojak mengangguk.
“Betul, Pak. Saya membaca bahwa penelitian di berbagai negara menunjukkan bahwa bekatul bermanfaat untuk pertumbuhan anak. Saya belum tahu detailnya, tetapi para ilmuwan itu akan menjelaskannya.”
Pak Kuwu menegakkan badan.
“Stunting adalah masalah serius di desa kita. Saya sudah melihat data dari posyandu. Ada anak-anak yang pertumbuhannya terhambat.”
“Karena itu saya ingin Bapak hadir, Pak. Saya ingin Bapak memberikan sambutan. Kalau gagasan ini baik untuk desa, kita perlu dukungan dari pemerintah desa.”
Pak Kuwu mengangguk perlahan.
“Saya akan datang. Saya juga akan membawa aparat desa. Tapi saya ingin bertanya satu hal.”
“Silakan, Pak.”
“Apakah ini sudah diuji secara ilmiah? Jangan sampai kita membuat kebijakan berdasarkan rumor.”
Ojak mengangguk.
“Betul, Pak. Itu sebabnya kami mengundang para ilmuwan. Mereka akan menjelaskan hasil penelitian secara terbuka. Kita juga akan berdiskusi dengan metode yang ketat.”
Pak Kuwu tersenyum.
“Bagus. Saya suka cara berpikirmu, Ojak. Kamu tidak hanya bersemangat, tetapi juga berhati-hati.”
Ojak tersenyum malu.
“Saya belajar dari kesalahan, Pak.”
Pak Kuwu berdiri.
“Baiklah. Saya akan datang. Dan saya akan menyiapkan sambutan.”
2. Tiga Ilmuwan Muda Datang ke Tarigu
Dua minggu kemudian, sebuah kendaraan berhenti di dekat balai kampung Tarigu.
Rani, Bima, dan Sinta turun membawa tas, beberapa buku, dan peralatan sederhana untuk kegiatan awal. Mereka tidak datang dengan rombongan besar. Tidak ada kamera televisi, spanduk megah, atau pejabat yang berpidato.
Namun, di sudut balai kampung, seorang pria muda sudah berdiri sejak pagi dengan kamera dan buku catatan.
Ujang.
Ia datang lebih awal untuk memastikan tidak melewatkan momen penting.
Mang Udin yang sedang menyapu warung segera mendekat.
“Ini betul rumah Ojak Orang Tarigu?”
“Betul, Pak,” jawab mang Udin.
“Bapak dari mana?”
“Kami datang dari kota. Kami bertemu Pak Ojak di Kongres Gizi Nasional.”
Mang Udin mengangguk serius.
“Oh, jadi kalian ilmuwan muda yang mau sekolah bersama bekatul?”
Bima tersenyum.
“Kurang lebih begitu, Pak.”
Mang Udin memandang mereka dari ujung kepala sampai kaki.
“Bagus. Saya Mang Udin, pemilik warung sekaligus calon pemasok konsumsi.”
Sinta tertawa.
“Sudah ada kerja sama ekonomi sebelum sekolahnya dibuka, ya?”
“Harus, Neng. Ilmu pengetahuan boleh maju, tetapi orang yang belajar tetap perlu makan.”
Ojak datang tergesa-gesa.
“Maaf, saya terlambat. Tadi saya mencari papan tulis.”
Rani melihat sebuah papan kayu yang dibawa Ojak.
“Ini papan tulisnya?”
“Betul. Belum ada kapur, tetapi semangatnya sudah tersedia.”
Bima tertawa.
“Semangat tidak bisa menggantikan kapur, Pak.”
“Benar. Karena itu saya juga membawa kapur.”
Ujang mendekat.
“Pak Ojak, boleh saya memotret persiapan ini?”
“Silakan, Ujang. Tapi jangan potret saya sedang cemas. Nanti pembaca mengira sekolah ini sudah gagal sebelum dimulai.”
Ujang tersenyum dan mengangkat kameranya.
Mereka kemudian berkumpul di balai kampung. Beberapa warga datang karena penasaran. Ada ibu rumah tangga, petani, pemuda, penggilingan padi, dan tentu saja Mang Udin.
Di barisan depan, Pak Kuwu duduk bersama aparat desa. Ada Sekretaris Desa, Kepala Urusan Pembangunan, dan beberapa staf lainnya.
Ojak menyambut mereka.
“Terima kasih sudah datang, Pak Kuwu.”
Pak Kuwu tersenyum.
“Saya tidak akan melewatkan kesempatan mendengar langsung dari para ilmuwan.”
Rani membuka pertemuan.
“Kami datang bukan untuk menyatakan bahwa bekatul pasti menjadi pangan terbaik. Kami datang untuk membantu menguji potensi dan keterbatasannya.”
Bima menambahkan, “Kami perlu membedakan apa yang sudah diketahui, apa yang masih berupa dugaan, dan apa yang harus diteliti lebih lanjut.”
Sinta melanjutkan, “Kalau suatu produk bisa dibuat, kita juga harus melihat apakah harganya terjangkau, apakah ada pembelinya, dan apakah usaha itu memberi manfaat yang adil bagi masyarakat.”
Ojak memandang warga yang duduk di hadapannya.
“Inilah alasan saya mengajak mereka. Kita tidak akan belajar dengan cara saling merasa paling tahu. Ilmuwan membawa metode penelitian. Masyarakat membawa pengalaman, pengetahuan lokal, dan persoalan nyata yang mereka hadapi. Kita membutuhkan keduanya.”
Seorang bapak mengangkat tangan.
“Kalau ilmuwannya pintar, berarti keputusan tetap di tangan ilmuwan, bukan?”
Rani menggeleng.
“Tidak selalu. Untuk persoalan teknis dan ilmiah, kami harus bekerja dengan metode yang dapat dipertanggungjawabkan. Tetapi masyarakat berhak menentukan kebutuhan yang ingin mereka selesaikan dan berpartisipasi dalam keputusan yang memengaruhi kehidupan mereka.”
Ojak tersenyum.
“Bagus. Berarti sekolah ini bukan tempat masyarakat hanya duduk diam mendengarkan.”
Mang Udin menyela.
“Kalau begitu, saya boleh mengusulkan mata pelajaran menagih utang?”
Sinta menjawab, “Boleh, Pak. Tetapi harus ada praktik lapangan.”
Mang Udin langsung mengeluarkan buku catatannya.
“Kalau begitu, saya punya banyak bahan penelitian!”
Balai kampung tertawa.
Ujang terus memotret dan mencatat. Ia tidak ingin kehilangan satu pun detail.
Hari itu mereka sepakat: Sekolah Bekatul akan dimulai dari kegiatan kecil, terbuka, dan terukur. Tidak ada janji bahwa produk mereka pasti laku. Tidak ada klaim bahwa bekatul dapat menyembuhkan penyakit. Tidak ada keputusan membangun pabrik sebelum ada bukti bahwa usaha tersebut layak.
Ojak menulis di papan:
Belajar Bersama — Menguji dengan Bukti — Memperbaiki dengan Jujur.
3. Sambutan Pak Kuwu
Sebelum pelajaran pertama dimulai, Ojak mempersilakan Pak Kuwu memberikan sambutan.
Pak Kuwu berdiri dan berjalan ke depan. Ia memegang mikrofon dengan tenang.
“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.”
“Bapak-Ibu, warga Desa Mandalaherang yang saya hormati. Para ilmuwan muda yang saya hormati. Dan Ojak Orang Tarigu, yang telah mengingatkan kita semua bahwa sesuatu yang dianggap tidak berharga bisa menjadi sumber manfaat.”
Warga tersenyum.
“Saya datang ke sini bukan untuk berpidato panjang. Saya datang untuk mendengar. Tetapi izinkan saya menyampaikan beberapa hal.”
Ia menarik napas.
“Stunting adalah masalah serius di desa kita. Saya sudah melihat data dari posyandu. Ada anak-anak yang pertumbuhannya terhambat. Ada ibu-ibu yang khawatir tentang masa depan anak mereka. Ini bukan masalah yang bisa kita abaikan.”
Ruangan menjadi sunyi.
“Selama ini, kita berpikir bahwa solusi stunting harus datang dari luar. Dari program pemerintah pusat, dari bantuan internasional, dari obat-obatan yang mahal. Tetapi mungkin, jawabannya ada di sekitar kita.”
Ia mengangkat segenggam bekatul yang disiapkan Ojak di meja.
“Bekatul. Selama ini kita anggap pakan ayam. Tetapi Ojak mengingatkan kita bahwa sesuatu yang dianggap tidak berharga bisa menyimpan potensi yang belum kita pahami.”
Pak Kuwu menatap warga.
“Sebagai Kepala Desa, saya menyatakan dukungan desa untuk Sekolah Bekatul. Kita akan mempelajari apakah bekatul benar-benar bermanfaat. Kita akan mengujinya dengan metode yang benar. Kita tidak akan membuat klaim yang tidak didukung bukti.”
Warga bertepuk tangan.
“Tetapi saya juga ingin mengingatkan: dukungan desa bukan jaminan keberhasilan. Kita harus bekerja keras. Kita harus belajar dari kegagalan. Kita harus terus menguji dan memperbaiki.”
Ia menatap Ojak.
“Ojak sudah mengajarkan kita bahwa keberanian bukan berarti tidak memiliki keraguan. Keberanian berarti tetap melangkah meskipun ada keraguan. Saya berharap kita semua memiliki keberanian yang sama.”
Pak Kuwu menutup sambutannya.
“Terima kasih. Mari kita belajar bersama.”
Warga kembali bertepuk tangan.
Ojak merasa haru. Ia tidak menyangka bahwa gagasannya—yang dulu dianggap aneh—kini mendapat dukungan dari pemerintah desa.
4. Landasan Sekolah Bekatul
Setelah sambutan Pak Kuwu, Ojak berdiri di depan warga.
Ia tidak langsung memulai pelajaran. Ia ingin menjelaskan mengapa Sekolah Bekatul perlu didirikan. Bukan dengan istilah yang rumit, tetapi dengan bahasa yang bisa dipahami semua orang.
“Bapak-Ibu, sebelum kita mulai belajar, saya ingin menjelaskan empat hal. Ini bukan teori tinggi. Ini hanya pertanyaan yang saya rasa perlu kita jawab bersama.”
Ia menulis di papan tulis.
1. Apa yang sungguh-sungguh ada?
2. Dari mana kita bisa tahu?
3. Apa yang kita anggap penting?
4. Apa yang bisa kita lakukan?
“Ini adalah landasan kita. Mari kita bahas satu per satu.”
Pertama: Apa yang sungguh-sungguh ada?
Ojak mengangkat segenggam bekatul.
“Bekatul ini nyata. Ia ada. Setiap hari, penggilingan padi kita menghasilkan bekatul. Berton-ton. Tetapi kita tidak melihatnya. Kita menganggapnya sampah. Kita menganggapnya pakan ayam.”
Ia menatap warga.
“Padahal, yang nyata bukan hanya yang kita anggap penting. Yang nyata juga termasuk yang kita abaikan. Anak-anak yang kurang gizi itu nyata. Ibu-ibu yang khawatir itu nyata. Petani yang bekerja keras tetapi tidak mendapat harga adil itu nyata.”
Ia menulis di papan tulis.
Yang nyata: bekatul, anak-anak, petani, masalah, dan potensi.
“Sekolah ini perlu karena ada kenyataan yang menuntut kita bertindak. Bukan karena kita ingin. Tetapi karena ada sesuatu yang nyata yang belum kita tangani.”
Kedua: Dari mana kita bisa tahu?
Ojak melanjutkan.
“Kita tidak bisa hanya percaya pada kata orang. Kita tidak bisa hanya mengandalkan dugaan. Kita perlu tahu dari mana kita bisa tahu.”
Ia menunjuk Rani, Bima, dan Sinta.
“Para ilmuwan ini mengajarkan kita bahwa pengetahuan harus diuji. Kita harus menyusun dugaan, lalu mengujinya. Kita harus membandingkan apa yang kita harapkan dengan apa yang benar-benar terjadi.”
Ia menulis di papan tulis.
Dari mana kita tahu: dari bukti, dari pengujian, dari kesediaan untuk salah.
“Jadi, Sekolah Bekatul bukan tempat untuk menanam keyakinan. Ia tempat untuk menguji keyakinan. Kita boleh berharap bekatul bermanfaat. Tetapi kita harus siap jika bukti mengatakan sebaliknya.”
Ketiga: Apa yang kita anggap penting?
Ojak menatap warga.
“Setiap orang punya hal yang dianggap penting. Ada yang menganggap uang paling penting. Ada yang menganggap harga diri paling penting. Ada yang menganggap keluarga paling penting.”
Ia berhenti sejenak.
“Bagi saya, yang paling penting adalah anak-anak kita. Masa depan mereka. Kesehatan mereka. Kalau anak-anak kita sehat, kita bisa menghadapi apa pun.”
Ia menulis di papan tulis.
Yang penting: kesehatan anak, masa depan keluarga, kehidupan yang lebih baik.
“Sekolah ini perlu karena kita punya sesuatu yang kita anggap penting. Dan kita ingin melindungi apa yang penting itu.”
Keempat: Apa yang bisa kita lakukan?
Ojak tersenyum.
“Pertanyaan terakhir ini yang paling praktis. Kita sudah tahu apa yang nyata. Kita sudah tahu dari mana kita bisa tahu. Kita sudah tahu apa yang penting. Sekarang: apa yang bisa kita lakukan?”
Ia menulis di papan tulis.
Yang bisa kita lakukan: belajar, menguji, bekerja sama, memperbaiki.
“Kita bisa belajar mengolah bekatul. Kita bisa menguji apakah produk kita aman dan bergizi. Kita bisa bekerja sama dalam koperasi. Kita bisa memperbaiki jika ada yang salah.”
Ia menatap warga.
“Sekolah Bekatul bukan tempat untuk langsung menghasilkan produk. Ia tempat untuk belajar bagaimana menghasilkan produk yang benar. Ia tempat untuk belajar bagaimana bekerja bersama. Ia tempat untuk belajar bagaimana memperbaiki diri.”
Ojak menutup penjelasannya.
“Bapak-Ibu, inilah landasan kita. Empat pertanyaan sederhana. Tetapi kalau kita jawab dengan jujur, kita akan punya arah yang jelas.”
Ia menulis di papan tulis dengan huruf besar.
SEKOLAH BEKATUL:
Karena ada yang nyata.
Karena kita perlu tahu.
Karena ada yang penting.
Karena kita bisa bertindak.
Warga terdiam. Mereka merenungkan kata-kata itu.
Pak Kuwu mengangguk perlahan.
“Ini landasan yang kuat, Ojak. Saya setuju.”
Mang Udin mengangkat tangan.
“Saya juga setuju. Tapi saya masih punya satu pertanyaan.”
“Apa, Mang?”
“Apakah landasan ini juga berlaku untuk warung saya?”
Ojak tertawa.
“Tentu, Mang. Warung Mang Udin juga punya yang nyata—kopi dan pelanggan. Punya cara untuk tahu—mencoba resep baru. Punya yang penting—keuntungan dan kejujuran. Dan punya yang bisa dilakukan—menambah kursi.”
Mang Udin mengangguk puas.
“Kalau begitu, saya akan menulis landasan ini di dinding warung.”
5. Sekolah Resmi Dibuka
Seminggu kemudian, Sekolah Bekatul resmi dibuka di balai kampung.
Murid pertamanya terdiri atas tujuh ibu rumah tangga, lima bapak-bapak, dua pemuda, dan seekor ayam yang entah bagaimana bisa masuk ke dalam ruangan.
Ojak berdiri di depan kelas bersama Rani, Bima, dan Sinta.
Di sudut ruangan, Ujang sudah siap dengan kamera dan buku catatannya.
Di barisan belakang, Pak Kuwu dan aparat desa hadir sebagai pengamat.
“Selamat datang di Sekolah Bekatul. Di sini kita tidak belajar untuk menjadi paling pintar. Kita belajar supaya tidak terlalu cepat menganggap sesuatu tidak berguna.”
Seorang bapak mengangkat tangan.
“Pak Ojak, apakah setelah lulus kita mendapat ijazah?”
“Dapat.”
“Ijazah apa?”
“Ijazah bahwa Anda pernah belajar. Bukan ijazah bahwa semua perkataan Anda pasti benar.”
Kelas tertawa.
Rani menjelaskan bahwa pelajaran pertama akan membahas karakteristik bekatul dan cara menjaga mutu bahan baku. Bima akan membantu membahas gizi dan batas-batas klaim kesehatan. Sinta akan mengajak peserta menghitung biaya dan memahami pasar.
Ojak sendiri bertugas menghubungkan seluruh pelajaran dengan kebutuhan masyarakat.
Ia menulis lima bidang utama di papan tulis:
Pengetahuan — Pangan — Kesehatan — Ekonomi — Koperasi.
“Kalau hanya bisa mengolah bekatul tetapi tidak tahu keamanan pangannya, kita bisa menghadapi masalah. Kalau bisa membuat produk tetapi tidak bisa menghitung biaya, kita bisa rugi. Kalau bisa memperoleh keuntungan tetapi tidak bisa bekerja sama, usaha kita bisa bubar.”
Mang Udin yang duduk di belakang berbisik kepada tetangganya.
“Kalau begitu, sekolah ini juga cocok untuk pedagang kopi.”
Ojak mendengar bisikan itu.
“Betul, Mang. Apalagi pedagang yang suka memberi utang kepada pelanggan, tetapi lupa mencatatnya.”
Mang Udin langsung memeriksa buku catatannya.
Sebelum memulai pelajaran, Ojak memandang wajah para peserta satu per satu. Ia melihat harapan, rasa ingin tahu, dan juga keraguan yang dulu ia rasakan sendiri.
“Bapak-Ibu,” katanya, “saya tidak menjanjikan sekolah ini akan membuat kita kaya. Saya juga tidak menjanjikan semua percobaan kita akan berhasil. Yang bisa saya janjikan adalah kita akan belajar dengan jujur, mencatat kegagalan, dan tidak menyembunyikan kesalahan.”
Seorang ibu bertanya, “Kalau gagal berkali-kali, Pak?”
Ojak tersenyum tipis.
“Kalau gagal berkali-kali, kita berhenti sebentar untuk memeriksa cara kita. Tetapi jangan langsung menyimpulkan bahwa kita tidak mampu. Saya sendiri pernah gagal membuat beberapa produk bekatul. Ada yang terlalu pahit, ada yang cepat tengik, dan ada yang hanya disukai oleh orang yang membuatnya.”
Kelas tertawa kecil.
“Jadi, sekolah ini bukan tempat untuk berpura-pura selalu benar. Ini tempat untuk belajar memperbaiki diri.”
Ujang menulis di bukunya:
“Sekolah Bekatul resmi dibuka. Ojak: ‘Ini tempat untuk belajar memperbaiki diri.’”
6. Pelajaran Pertama: Apa Itu Bekatul?
Ojak mengangkat segenggam bekatul.
“Bapak-Ibu, bekatul merupakan hasil samping penggilingan padi. Komposisinya bergantung pada varietas padi dan proses penggilingan. Bekatul dapat mengandung serat, protein, vitamin, mineral, dan senyawa bioaktif. Karena itu, bekatul layak diteliti dan dikembangkan sebagai salah satu bahan pangan.”
Rani menambahkan penjelasan tentang perbedaan lapisan kulit padi, dedak, dan bekatul.
Bima kemudian menjelaskan bahwa bekatul dapat menyumbang serat, protein, vitamin, mineral, dan senyawa bioaktif, dengan kandungan yang bervariasi.
Seorang ibu bertanya, “Kalau begitu, bekatul bisa menyembuhkan semua penyakit?”
Ojak langsung menggeleng.
“Tidak, Bu. Jangan sampai kita baru belajar satu pelajaran, tetapi sudah merasa lulus fakultas kedokteran.”
Kelas tertawa.
“Bekatul bukan obat ajaib. Potensi gizinya harus dipahami secara ilmiah.”
Ojak lalu membandingkan bekatul dengan telur ayam.
“Dalam 100 gram bahan kering, bekatul umumnya mengandung sekitar 13–16 gram protein dan 10–15 gram serat pangan. Telur dalam 100 gram mengandung sekitar 12–13 gram protein, tetapi hampir tidak mengandung serat.”
Seorang bapak mengangkat alis.
“Jadi bekatul lebih bergizi daripada telur?”
“Pertanyaannya tidak boleh sesederhana itu,” jawab Ojak. “Bekatul dan telur memiliki keunggulan yang berbeda.”
Bima mengangguk.
“Perbandingan gizi bukan perlombaan mencari pemenang. Yang penting adalah memahami fungsi setiap bahan pangan.”
Kemudian Ojak menceritakan sejarah penelitian penyakit beri-beri.
“Pada akhir abad ke-19, Christiaan Eijkman melakukan penelitian terhadap ayam. Ia mengamati bahwa ayam yang diberi makanan berupa beras putih yang telah digiling secara intensif mengalami gejala gangguan saraf. Pengamatan itu membantu membuka jalan bagi penelitian tentang hubungan antara penggilingan beras, pola makan, dan penyakit beri-beri.”
Rani menambahkan bahwa pengamatan tersebut merupakan bagian dari proses penelitian yang lebih panjang.
“Pada 1929, Eijkman bersama Frederick Gowland Hopkins menerima Hadiah Nobel Fisiologi atau Kedokteran atas kontribusi mereka dalam penelitian yang berkaitan dengan vitamin.”
Ojak berhenti sejenak.
“Jadi, kita tidak boleh mengatakan bahwa Nobel itu diberikan khusus untuk penemuan vitamin B1 dari bekatul. Sejarah pengetahuan ini lebih panjang dan melibatkan banyak penelitian.”
Seorang pemuda bertanya, “Lalu apa hubungannya dengan bekatul, Pak?”
Ojak mengangkat kembali segenggam bekatul.
“Hubungannya adalah pelajaran tentang cara berpikir. Penggilingan beras dapat menghilangkan sebagian lapisan luar biji yang mengandung zat gizi penting, termasuk tiamin. Bekatul dan lapisan luar beras mengingatkan kita bahwa sesuatu yang dianggap hasil samping mungkin menyimpan nilai yang belum kita pahami sepenuhnya.”
Ia menatap ayam yang masih berkeliaran di dekat pintu.
“Bayangkan, Bapak-Ibu. Ayam-ayam itu tidak pernah kuliah. Mereka tidak pernah menulis jurnal. Mereka tidak pernah mengikuti kongres. Tetapi keadaan mereka memberikan bukti empiris yang mendorong manusia untuk bertanya dan meneliti.”
Seorang bapak menyela, “Jadi, ayam juga berjasa dalam sejarah ilmu pengetahuan?”
“Betul,” jawab Ojak. “Ayam tidak memberikan teori kepada Eijkman. Ayam memberikan kenyataan yang harus dijelaskan oleh ilmu pengetahuan.”
Seluruh kelas tertawa.
Mang Udin menunjuk ayam di dekat pintu.
“Kalau begitu, ayam itu pantas jadi guru tamu.”
Ojak mengangguk.
“Boleh. Tetapi jangan diberi jabatan kepala sekolah. Nanti setiap ujian dijawab dengan berkokok.”
Rani tersenyum kepada Ojak.
“Pak, mungkin ini juga pelajaran bagi kita sebagai ilmuwan. Jangan terlalu sibuk dengan teori sampai lupa memperhatikan kenyataan di lapangan.”
Ojak mengangguk.
“Dan jangan pula masyarakat menganggap semua teori tidak berguna hanya karena lahir di laboratorium. Kita perlu saling mengoreksi.”
Untuk pertama kalinya, Sekolah Bekatul terasa seperti pertemuan dua dunia yang selama ini jarang berbicara dengan bahasa yang sama.
Di sudut ruangan, Ujang menulis dengan cepat.
7. Pelajaran Kedua: Dari Bekatul Menjadi Pangan
Pelajaran berikutnya dipimpin oleh Rani bersama seorang ibu yang berpengalaman membuat kue.
“Bekatul bisa dikembangkan menjadi bahan campuran untuk berbagai produk pangan,” jelas Rani. “Tetapi tidak semua bekatul otomatis layak dimakan manusia. Kita harus memperhatikan bahan baku, kebersihan, mutu, proses pengolahan, dan penyimpanannya.”
Seorang peserta bertanya, “Kalau bekatulnya difermentasi, berarti pasti aman?”
“Belum tentu,” jawab Rani. “Fermentasi bukan jimat. Bahan yang sudah rusak tidak otomatis menjadi aman hanya karena difermentasi.”
Ibu pembuat kue menunjukkan beberapa produk percobaan.
Ojak tersenyum.
“Nah, inilah pentingnya sekolah. Kita tidak cukup berkata, ‘Bekatul itu bergizi.’ Kita harus belajar bagaimana mengolahnya, bagaimana menjaga keamanannya, bagaimana membuat rasanya disukai, dan bagaimana memastikan orang bersedia membelinya.”
Mang Udin mengangkat tangan.
“Kalau bekatul dibuat menjadi kopi, saya siap menjadi penguji.”
“Boleh, Mang,” kata Ojak. “Tetapi jangan sampai kopi Mang Udin dicampur bekatul tanpa memberi tahu pembeli.”
Mang Udin tersinggung pura-pura.
“Lho, saya ini pedagang jujur!”
Ojak menjawab, “Bagus. Kejujuran itu bahan tambahan yang tidak boleh dihilangkan dari resep apa pun.”
Saat mencicipi salah satu biskuit percobaan, Ojak menahan wajahnya agar tidak berubah. Rasanya terlalu pahit dan teksturnya keras.
“Bagaimana?” tanya Rani.
Ojak terdiam sejenak.
“Kalau saya menjawab enak, apakah penelitian kita langsung selesai?”
Rani tertawa.
“Tidak, Pak.”
“Kalau begitu, saya jawab jujur. Biskuit ini belum berhasil.”
Ibu pembuat kue menunduk.
“Maaf, Pak Ojak.”
“Tidak perlu minta maaf. Justru ini bahan pelajaran. Kita perlu mencari tahu apakah masalahnya pada kadar bekatul, proses pemanasan, jenis tepung, atau penyimpanan. Kalau kita pura-pura enak, kita tidak akan tahu apa yang harus diperbaiki.”
Rani menulis di papan:
Gagal — Catat — Analisis — Perbaiki — Uji Lagi.
“Ini bukan urutan yang memalukan,” katanya. “Ini cara kerja.”
8. Pelajaran Ketiga: Gizi Bukan Sekadar Slogan
Pada pertemuan berikutnya, Bima menjelaskan dasar-dasar gizi dan kesehatan.
“Bekatul dapat menjadi salah satu bahan pangan yang berpotensi menambah keragaman konsumsi. Namun, gizi yang baik tidak bergantung pada satu bahan saja. Kita membutuhkan pola makan yang beragam, cukup, aman, dan sesuai kebutuhan.”
Ojak menambahkan, “Begitu pula dengan stunting. Kita tidak bisa mengatakan bahwa bekatul sendirian akan menyelesaikan stunting. Masalah ini berkaitan dengan banyak hal.”
Seorang peserta mengangguk.
“Jadi, kalau kami mengembangkan pangan bekatul, kami harus berhati-hati dalam mempromosikannya?”
“Tepat sekali,” jawab Bima. “Jangan menjual janji yang belum bisa kita pertanggungjawabkan.”
Mang Udin mengangkat cangkir kopinya.
“Kalau begitu, saya akan mengubah tulisan di warung.”
“Menjadi apa, Mang?” tanya Ojak.
Dahulu tulisannya berbunyi: Kopi Terbaik di Tarigu.
Sekarang Mang Udin menggantinya menjadi: Kopi yang Terus Kami Perbaiki.
Ojak mengangguk puas.
“Bagus, Mang. Itu baru promosi yang rendah hati.”
Mang Udin berbisik, “Tetapi harganya tetap naik.”
“Wah,” kata Ojak, “ternyata ilmu pengetahuan belum tentu membuat pedagang lebih murah hati!”
Di akhir pelajaran, seorang ibu bertanya kepada Ojak, “Pak, kalau nanti masyarakat tetap tidak percaya pada produk kita, bagaimana?”
“Kita tidak bisa memaksa orang percaya,” jawabnya. “Kita hanya bisa menyediakan informasi yang jujur, produk yang aman, dan bukti yang dapat diperiksa.”
Bima mengangguk.
“Dan kalau bukti penelitian tidak mendukung suatu klaim, kita juga harus bersedia mengubah klaim tersebut.”
Ojak tersenyum.
“Itulah sebabnya saya mengundang kalian. Saya butuh teman yang berani mengatakan bahwa saya salah, bukan hanya teman yang mengatakan bahwa saya hebat.”
Mang Udin menyela, “Kalau begitu, Pak Ojak membutuhkan banyak teman.”
“Kenapa, Mang?”
“Karena orang yang berani mengatakan Pak Ojak salah pasti akan sering bekerja lembur!”
Balai kampung kembali tertawa.
9. Pelajaran Keempat: Menghitung Ekonomi Bekatul
Pada pelajaran ekonomi, Sinta mengajak peserta menghitung biaya dan manfaat pengembangan pangan bekatul.
“Bapak-Ibu, usaha pangan bekatul harus dihitung dengan cermat. Jangan hanya menghitung harga jual dikurangi harga bahan baku.”
Ia menuliskan komponen biaya di papan:
· Bahan baku dan bahan tambahan.
· Tenaga kerja.
· Pengolahan dan energi.
· Kemasan dan label.
· Transportasi dan pemasaran.
· Penyusutan peralatan.
· Produk yang rusak atau tidak terjual.
· Biaya pengujian mutu dan keamanan.
“Omzet bukan laba,” tegas Sinta.
Mang Udin langsung mengangkat tangan.
“Kalau omzet bukan laba, berarti selama ini saya hanya kaya dalam buku catatan?”
Sinta menjawab, “Tergantung, Mang. Buku catatan Mang Udin mencatat pendapatan atau juga utang pelanggan?”
Mang Udin buru-buru menutup buku.
“Pelajaran berikutnya saja!”
Tawa memenuhi ruangan.
Ojak lalu menjelaskan bahwa bekatul yang semula murah atau dianggap tidak bernilai belum tentu langsung menghasilkan keuntungan besar.
“Jangan sampai kita sibuk memproduksi karena merasa produknya bagus, tetapi lupa bertanya apakah orang membutuhkan dan bersedia membelinya.”
Seorang pemuda bertanya, “Berarti sebelum membangun pabrik bekatul, kita harus menguji pasar?”
“Betul,” jawab Sinta. “Mulailah dengan percobaan yang terukur.”
Mang Udin mengangguk.
“Ini nasihat bagus. Saya pernah membeli seratus gelas karena yakin warung akan ramai. Ternyata yang datang hanya tiga orang.”
“Lalu bagaimana, Mang?” tanya Ojak.
“Dua orang memesan kopi. Satu orang meminjam uang.”
Ojak menepuk bahu Mang Udin.
“Itulah sebabnya dalam usaha, kita harus menghitung permintaan pasar, bukan hanya menghitung optimisme sendiri.”
10. Pelajaran Kelima: Bekatul, Lingkungan, dan Koperasi
Diah, seorang pegiat lingkungan yang kemudian bergabung dalam kegiatan sekolah, menjelaskan bahwa pengembangan bekatul sebagai pangan perlu ditempatkan dalam sistem pemanfaatan hasil pertanian yang lebih baik.
Ojak mengangguk.
“Tidak ada gunanya mengaku menyelamatkan lingkungan kalau biaya lingkungan kita sembunyikan.”
Setelah itu, pembicaraan beralih ke koperasi.
Ojak berdiri di depan papan tulis dan menuliskan:
Petani — Penggilingan Padi — Pengolah — Koperasi — Konsumen.
“Bayangkan jika petani, penggilingan padi, pengolah pangan, dan konsumen dapat bekerja sama. Koperasi dapat membantu mengatur pasokan, mengumpulkan bahan baku yang memenuhi standar, memfasilitasi pengolahan, membangun merek, dan memasarkan produk.”
Seorang ibu bertanya, “Kalau semua berkoperasi, apakah pasti berhasil?”
“Tidak,” jawab Ojak. “Koperasi bukan jaminan otomatis untuk sukses. Koperasi memerlukan tata kelola yang baik, pembukuan yang tertib, pembagian tanggung jawab yang jelas, modal yang cukup, serta pengawasan anggota.”
Mang Udin mengangkat tangan.
“Kalau ayam saya ikut koperasi, boleh?”
Ojak memandang ayam yang sejak tadi masih mondar-mandir.
“Boleh menjadi maskot, Mang. Tetapi jangan menjadi anggota. Ayam itu belum bisa membaca anggaran dasar.”
Mang Udin mengangguk serius.
“Kalau begitu, ayam saya saya tugaskan sebagai pengawas.”
“Jangan, Mang. Kalau pengawasnya terus mematuk laporan keuangan, nanti tidak ada yang tersisa untuk diperiksa.”
Tawa kembali pecah.
Namun, ketika pembagian tugas koperasi dibicarakan, beberapa peserta mulai saling menyalahkan.
Ojak merasakan dadanya menegang. Ia ingin segera menenangkan semua orang, tetapi ia tahu konflik itu tidak boleh ditutup dengan lelucon.
“Bapak-Ibu,” katanya, “kalau hari ini kita berbeda pendapat, itu bukan berarti sekolah ini gagal. Justru kita sedang melihat masalah yang harus diselesaikan sebelum usaha dimulai.”
Seorang bapak menyahut, “Tetapi kalau tidak sepakat, bagaimana?”
“Kita catat semua keberatan. Kita buat aturan yang bisa diperiksa. Dan kalau ada yang belum percaya, jangan dipaksa menjadi anggota. Kepercayaan harus tumbuh dari keterbukaan, bukan dari tekanan.”
Sinta membantu peserta menyusun gambaran awal pembagian tugas dan pencatatan keuangan.
Ojak memandang ketiganya dengan rasa syukur.
Dulu ia membayangkan bahwa ilmuwan datang ke desa untuk memberikan jawaban. Sekarang ia mulai mengerti bahwa kerja sama yang baik bukan soal siapa yang paling pintar, melainkan bagaimana berbagai keahlian membantu masyarakat mengambil keputusan yang lebih baik.
Ujang yang menyaksikan diskusi itu menulis dalam bukunya:
“Sekolah Bekatul bukan tempat mencari jawaban mudah. Ini tempat belajar menghadapi pertanyaan sulit bersama-sama.”
11. Ujian Akhir Sekolah Bekatul
Setelah beberapa pertemuan, Ojak mengumumkan ujian akhir.
Para peserta tampak tegang. Bahkan ayam yang menjadi maskot sekolah ikut berkokok.
Pertanyaan pertama berbunyi:
Apakah bekatul pasti aman dikonsumsi manusia?
Semua peserta menjawab, “Tidak. Harus memenuhi persyaratan mutu dan keamanan pangan.”
Pertanyaan kedua:
Apakah bekatul dapat menyembuhkan semua penyakit?
“Tidak!”
Pertanyaan ketiga:
Apakah omzet sama dengan laba?
“Tidak!”
Pertanyaan keempat:
Apakah koperasi pasti berhasil hanya karena dimiliki bersama?
“Tidak!”
Ojak tersenyum.
“Bagus. Kalian sudah mulai belajar.”
Seorang peserta bertanya, “Pak Ojak, mengapa jawaban ujian kita banyak yang ‘tidak’?”
Ojak tertawa.
“Karena sekolah ini mengajari kita menahan diri. Dalam usaha dan ilmu pengetahuan, kemampuan mengatakan ‘belum tahu’ sering kali lebih berharga daripada keberanian mengaku tahu segalanya.”
Ia kemudian memberikan pertanyaan terakhir:
Apa pelajaran paling penting dari Sekolah Bekatul?
Ruangan menjadi sunyi.
Seorang ibu menjawab, “Kita tidak boleh membuang sesuatu sebelum memahami potensinya.”
Seorang pemuda menyambung, “Kita harus menguji gagasan dengan bukti, bukan hanya percaya pada slogan.”
Sinta berkata, “Kita harus menghitung biaya dan manfaat secara jujur.”
Diah menambahkan, “Kita harus memperhatikan lingkungan.”
Bima menutup, “Dan kita harus menjaga keamanan pangan serta tidak membuat klaim kesehatan berlebihan.”
Rani tersenyum.
“Penelitian juga harus terbuka terhadap hasil yang tidak sesuai harapan.”
Ojak mengangguk puas.
“Bagus. Kalian sudah menangkap inti pelajaran.”
Ia menunjuk papan tulis.
“Bekatul hanyalah pintu masuk. Yang sedang kita bangun sebenarnya adalah kemampuan masyarakat untuk belajar, menguji, bekerja sama, dan menciptakan nilai dari sumber daya yang selama ini kurang diperhatikan.”
Seorang ibu kemudian bertanya, “Pak Ojak, apakah Bapak sendiri sudah merasa berhasil?”
Pertanyaan itu membuat ruangan kembali sunyi.
Ojak memandang papan tulis, lalu kantong bekatul yang mulai kosong.
“Belum,” jawabnya jujur. “Saya masih sering ragu. Saya masih takut salah mengambil keputusan.”
Para peserta mendengarkan tanpa tertawa.
“Tetapi saya belajar bahwa keberhasilan bukan berarti tidak memiliki keraguan. Keberhasilan mungkin berarti tetap mau memeriksa keraguan itu, meminta bantuan, dan melanjutkan langkah dengan lebih hati-hati.”
Ia menatap Rani, Bima, dan Sinta.
“Kalau saya tidak bertemu kalian di Kongres Gizi, mungkin gagasan ini masih tersimpan di kepala saya.”
Rani menjawab, “Kami juga belajar, Pak. Penelitian tidak boleh berhenti pada pertanyaan yang menarik di ruang kongres.”
Ojak tersenyum.
“Kalau begitu, sekolah ini bukan hanya sekolah bagi warga Tarigu. Sekolah ini juga tempat kami semua belajar.”
12. Wisuda yang Tidak Biasa
Hari wisuda tiba.
Tidak ada panggung mewah. Tidak ada karpet merah. Tidak ada pejabat yang berpidato selama dua jam.
Hanya ada meja panjang, beberapa produk percobaan, papan tulis, dan seekor ayam yang entah mengapa kembali hadir.
Namun, Pak Kuwu dan aparat desa hadir. Mereka duduk di barisan depan, menyaksikan dengan bangga.
Ojak menyerahkan sertifikat kepada setiap peserta.
Di bagian bawah sertifikat tertulis:
Lulusan Sekolah Bekatul: Berani Belajar, Bersedia Menguji, Jujur Menghitung, dan Siap Bekerja Sama.
Mang Udin menerima sertifikat terakhir.
“Pak Ojak, setelah lulus, apakah saya boleh membuka cabang Sekolah Bekatul di warung?”
“Boleh, Mang. Tetapi kurikulumnya jangan hanya kopi dan gorengan.”
“Kalau begitu, saya tambahkan pelajaran pembukuan.”
“Bagus.”
“Dan satu pelajaran lagi: cara menagih utang pelanggan.”
Ojak menghela napas.
“Kalau pelajaran itu berhasil, Mang Udin bisa menjadi profesor sebelum saya.”
Semua tertawa.
Sebelum acara ditutup, Pak Kuwu diminta memberikan pesan.
Pak Kuwu berdiri.
“Saya hanya ingin mengatakan satu hal. Desa Mandalaherang akan mendukung pengembangan bekatul sebagai bahan pangan. Kita akan mempelajari hasilnya dengan serius. Dan kalau terbukti bermanfaat, kita akan menjadikannya bagian dari kebijakan desa untuk mengatasi stunting.”
Warga bertepuk tangan.
Ojak kemudian berdiri dan memberikan pesan terakhir.
“Saudara-saudara, jangan menganggap bekatul sebagai jawaban untuk semua persoalan pangan. Itu bukan tujuan sekolah ini. Tujuan kita adalah belajar melihat potensi, menguji dengan ilmu pengetahuan, menjaga keamanan, menghitung manfaat ekonomi, dan membangun kerja sama yang adil.”
Ia berhenti sejenak.
“Karena itu, jangan meremehkan sesuatu hanya karena ia berasal dari pinggiran, dari desa, dari hasil samping pertanian. Tetapi jangan pula menganggapnya hebat hanya karena kita ingin mempercayainya. Pelajari, uji, perbaiki, dan buktikan.”
Ayam di dekat pintu berkokok keras.
Mang Udin berdiri.
“Pak Ojak, ayam itu mau menyampaikan pidato penutup!”
Ojak tersenyum.
“Silakan. Tetapi kalau pidatonya terlalu panjang, kita potong menjadi dua jilid.”
Tawa memenuhi balai kampung.
Ujang memotret seluruh acara.
13. Laporan Ujang
Dua minggu setelah wisuda, sebuah artikel muncul di halaman depan OBSERVER BEKATUL.
Judulnya sederhana:
“Sekolah Bekatul: Ketika Ilmu Pengetahuan Belajar dari Desa”
Ditulis oleh: Ujang
Artikel itu tidak menyensasionalkan apa pun. Tidak ada klaim bahwa bekatul adalah makanan super. Tidak ada janji bahwa Sekolah Bekatul akan menyelesaikan semua masalah pangan.
Yang ada adalah cerita tentang seorang warga kampung yang bertanya di kongres nasional, tiga ilmuwan muda yang mau mendengarkan, dan sebuah balai kampung yang berubah menjadi ruang belajar bersama.
Ujang juga menulis tentang landasan Sekolah Bekatul.
“Ojak menjelaskan empat pertanyaan sederhana yang menjadi landasan Sekolah Bekatul. Pertama, apa yang sungguh-sungguh ada? Bekatul itu nyata. Anak-anak yang kurang gizi itu nyata. Petani yang bekerja keras itu nyata. Kedua, dari mana kita bisa tahu? Dari bukti, dari pengujian, dari kesediaan untuk salah. Ketiga, apa yang kita anggap penting? Kesehatan anak, masa depan keluarga, kehidupan yang lebih baik. Keempat, apa yang bisa kita lakukan? Belajar, menguji, bekerja sama, memperbaiki.
Empat pertanyaan ini bukan teori tinggi. Ini pertanyaan yang bisa dijawab oleh siapa saja yang mau berpikir jujur. Dan itulah kekuatan Sekolah Bekatul: ia tidak dimulai dari teori, tetapi dari kenyataan.”
Ujang juga menulis tentang Pak Kuwu.
“Yang menarik, Kepala Desa Mandalaherang, Pak Kuwu, hadir dalam pembukaan Sekolah Bekatul. Ia tidak hanya hadir sebagai simbol. Ia mendengarkan, mencatat, dan menyatakan dukungan desa. ‘Stunting adalah masalah serius,’ katanya. ‘Kita akan mempelajari apakah bekatul benar-benar bermanfaat. Kita tidak akan membuat klaim yang tidak didukung bukti.’”
Ojak membaca artikel itu di Warung Mang Udin.
Ia tersenyum tipis.
“Bagaimana, Jak?” tanya Mang Udin.
“Ujang menulis dengan jujur. Tidak melebih-lebihkan.”
“Baguslah. Kalau dia melebih-lebihkan, nanti saya harus minta koreksi. Warung saya belum siap menerima tamu terlalu banyak.”
Ojak tertawa.
“Tenang, Mang. Kalau tamunya banyak, kita bisa belajar mengatur kursi.”
“Dan menaikkan harga?”
“Itu pelajaran ekonomi lanjutan, Mang.”
Mang Udin mengangguk serius.
“Kalau begitu, saya siap mendaftar.”
14. Penutup: Ayam yang Tidak Pernah Absen
Setelah sekolah itu berdiri, warga Tarigu mulai melihat bekatul dengan cara yang berbeda. Bukan sebagai bahan yang otomatis ajaib, bukan pula sebagai sampah yang harus dibuang, melainkan sebagai sumber daya yang patut dipelajari dan diuji potensinya.
Rani, Bima, dan Sinta berpamitan untuk kembali ke kota. Mereka berjanji melanjutkan komunikasi dan membantu menghubungkan sekolah dengan kegiatan penelitian yang relevan.
Ujang juga berpamitan.
“Pak Ojak, terima kasih sudah mengizinkan saya meliput.”
“Terima kasih juga sudah menulis dengan jujur, Ujang.”
“Apakah Bapak keberatan kalau saya kembali lagi?”
Ojak tersenyum.
“Justru saya berharap kamu kembali. Bukan untuk meliput keberhasilan, tetapi untuk meliput perjalanan. Termasuk kalau ada kegagalan.”
Ujang mengangguk.
“Itulah tugas saya, Pak. OBSERVER BEKATUL akan terus mengamati.”
Ojak mengantar mereka sampai ke kendaraan.
“Terima kasih sudah datang ke Tarigu,” katanya.
Rani menjawab, “Terima kasih juga sudah mengundang kami. Kami datang karena pertanyaan Bapak. Kami pulang membawa lebih banyak pertanyaan.”
Ojak tertawa.
“Berarti kongres berikutnya akan lebih ramai.”
Bima menyahut, “Asalkan pertanyaannya sudah dirumuskan dengan baik, Pak.”
Sinta menambahkan, “Dan anggaran perjalanannya dihitung.”
Mang Udin yang berdiri di belakang mereka langsung berseru, “Kalau begitu, perjalanan berikutnya lewat warung saya saja. Saya menyediakan kopi, kalkulator, dan utang dengan pencatatan resmi!”
Semua tertawa.
Ujang memotret mereka dari kejauhan. Ia tahu, ini bukan akhir. Ini hanya awal dari cerita yang lebih panjang.
Setelah kendaraan pergi, Ojak berjalan pulang bersama Mang Udin.
“Jak, satu pertanyaan terakhir,” kata Mang Udin.
“Apa, Mang?”
“Kalau ayam-ayam itu bisa membantu sejarah ilmu pengetahuan, apakah ayam saya bisa membantu menyusun kurikulum Sekolah Bekatul tahun depan?”
Ojak menjawab dengan tenang.
“Bisa, Mang. Asalkan ayamnya mau belajar.”
Mang Udin tertawa.
“Kalau begitu, saya akan mendaftarkannya.”
Ojak menggeleng sambil tersenyum.
“Silakan. Tetapi satu hal yang harus kita ingat: militan itu bukan berarti keras kepala. Militan berarti tekun memperjuangkan sesuatu, tetapi tetap bersedia mengoreksi diri ketika menemukan kesalahan.”
Ayam itu berkokok sekali lagi, seolah menyetujui pernyataan tersebut.
Entah mengerti atau tidak, yang jelas ia menjadi peserta paling rajin hadir di Sekolah Bekatul.
Dan untuk pertama kalinya dalam sejarah Tarigu, seekor ayam hampir memperoleh sertifikat kelulusan—hanya karena ia tidak pernah absen.
Ojak berhenti di depan rumahnya. Ia memandang balai kampung yang mulai sepi.
“Besok kita mulai lagi,” gumamnya.
Ia belum tahu apakah sekolah itu akan bertahan, apakah koperasi akan berjalan, atau apakah produk bekatul mereka akan diterima pasar. Keraguan itu masih ada. Namun kini keraguan tersebut tidak lagi terasa seperti beban yang harus disembunyikan. Ia menjadi pengingat agar Ojak tidak terburu-buru menganggap dirinya benar.
Dari dalam rumah, ibunya memanggil.
“Jak, bekatulnya mau disimpan di mana?”
Ojak tersenyum.
“Di tempat yang kering, Bu. Dan gagasannya di tempat yang terbuka.”
Ibunya tertawa kecil.
Ojak masuk ke rumah dengan langkah yang lebih ringan. Ia belum menjadi orang yang berhasil. Ia masih seorang warga Tarigu yang sering salah menghitung, mudah cemas, dan kadang terlalu keras mempertahankan pendapat. Tetapi ia telah menemukan tujuan yang lebih besar daripada sekadar membuktikan bahwa dirinya benar: membantu masyarakat belajar melihat kemungkinan tanpa kehilangan kehati-hatian.
Di meja kerjanya, sebuah artikel dari OBSERVER BEKATUL tergeletak. Judulnya sederhana, tetapi baginya, itu adalah cermin dari perjalanan yang baru dimulai.
Dan di suatu tempat di kota, Ujang sedang menulis catatan untuk laporan berikutnya. Ia belum tahu apa yang akan terjadi di Tarigu. Tetapi ia berjanji akan terus mengamati, mencatat, dan menulis dengan jujur.
Karena begitulah cara OBSERVER BEKATUL bekerja: melihat yang kecil, mendengar yang sunyi, dan menceritakan yang sering terlupakan.
Bersambung ke #6 Seri Cerpen Bekatul.
CATATAN PENULIS
Cerpen #5b ini merupakan bagian kedua dari kisah Sekolah Bekatul. Ia melanjutkan landasan yang telah dibangun di #5a—empat pertanyaan sederhana tentang ontologi, epistemologi, aksiologi, dan praktik—menjadi tindakan nyata: mengundang Pak Kuwu, menyambut tiga ilmuwan muda, membuka sekolah, dan melaksanakan pelajaran-pelajaran pertama.
Kehadiran Pak Kuwu dan aparat Desa Mandalaherang menambahkan dimensi penting: bahwa perubahan yang berkelanjutan memerlukan dukungan kebijakan publik. Sekolah Bekatul tidak bisa hanya menjadi gerakan warga yang terpisah dari desa. Ia harus menjadi bagian dari kebijakan desa, terutama dalam kaitannya dengan upaya mengatasi stunting.
Kehadiran Ujang sebagai wartawan OBSERVER BEKATUL menambahkan dimensi lain: pentingnya dokumentasi, penyebaran informasi yang jujur, dan peran media dalam membangun kesadaran publik.(***








Komentar