Oleh: Redi Mulyadi
BENARKAH ada pungli alias pungutan liar (meminta secara paksa) di Jembatan Cirahong yang merupakan jembatan penghubung Ciamis-Tasikmalaya, Jawa Barat, yang kini viral di media sosial ? Viralnya pungli di Jembatan Cirahong itu setelah beredarnya video yang diunggah akun X @FZA_007 berdurasi 39 detik, dan disebar ulang sejumlah akun di Instagram dan Tiktok. Dalam video, ada narasi “Kocak!! Lewat Jembatan Cirahong, harus bayar”. Alhasil, timbul beragam komentar pro-kontra dari netizen. Bahkan Gubernur Jawa Barat Bapa Aing Kang Dedi Mulyadi (KDM) pun berkomentar lewat unggahan di akun media sosialnya dan meminta agar tidak ada pungli di jembatan legendaris tersebut.
Penulis justru tertarik dengan komentar Bapa Aing KDM lewat unggahan di akun media sosialnya ketimbang komentar nitizen, karena apa yang diungkapkan pemangku jabatan terlebih Bapa Aing, tentunya punya dampak sosial yang sangat besar.Terutama kepada para “relawan” penjaga Jembatan Cirahong yang seolah olah melakukan pungli.
Gubernur Jawa Barat, Kang Dedi Mulyadi (KDM), angkat bicara terkait viralnya dugaan pungutan liar (pungli) di Jembatan Cirahong , dan menegaskan, tidak ada alasan bagi siapapun untuk menarik uang dari masyarakat yang melintas di jembatan tersebut. “Jembatan Cirahong merupakan jembatan legendaris aset milik PT Kereta Api Indonesia yang telah berusia lebih dari satu abad dan dapat digunakan secara gratis oleh masyarakat. Pemprov Jabar sudah memperbaiki lantai jembatan tersebut. Untuk itu, tidak ada alasan bagi siapapun untuk memungut uang saat warga menggunakan jembatan tersebut. Dan apabila masih melakukan pungutan, maka kami akan melakukan Tindakan, karena saudara telah melakukan pungutan liar dan nantinya kena tindak pidana,”ungkapnya.
Karena selama ini, (sejak dulu sampai sekarang), para “relawan” penjaga Jembatan Cirahong tidak pernah melakukan pungli. Bahkan tidak pernah meminta ”jasa” apapun kepada para pengendara yang melewati jembatan tersebut.Dengan kata lain ”tidak ada pungli”. Jadi, unggahan video di akun X @FZA_007 itu dan komentar Bapa Aing KDM terlalu berlebihan.
Penulis yang sejak dulu hingga sekarang, seringkali menggunakan Jembatan Cirahong baik dari Manonjaya menuju Ciamis dan sebaliknya, penulis tidak pernah melihat para “relawan” penjaga Jembatan Cirahong meminta imbalan berupa uang. Justru para pengendara sepeda motor (beberapa tahun lalu masih pula ada yang lewat kendaraan roda empat/mobil), secara sukarela memberikan uang recehan (Rp.500 – Rp.1.000) kepada para “relawan” penjaga Jembatan Cirahong, bahkan banyak pengendara yang tidak memberi. Apakah ini bisa dikatakan pungli ?
Kalau menurut hemat penulis, kehadiran para “relawan” penjaga Jembatan Cirahong justru sangat membantu warga pengendara yang melewati jembatan tersebut.Para “relawan” penjaga Jembatan Cirahong yang merupakan warga masyarakat dan kepemudaan sekitar jembatan tersebut yang sangat peduli dengan kenyamanan, ketertiban, keamanan bagi pengendara roda dua yang melintas. Apalagi para pengendara yang melewati Jembatan Ciharong pada pagi hari atau musim hujan—dimana kayu bantalan jembatan yang basah dan licin—seringkali pengendara tergelincir. Kemudian melewati jembatan pada sore hari atau malam hari, suasana di jembatan sangat sepi, sehingga dikhawatirkan dijadikan ”sarang” penjahat, begal dan lainnya.
Beberapa tahun lalu, penulis hampir tergelincir saat mengendarai sepeda motor karena kondisi bantalan kayu yang licin akibat guyuran hujan, juga pengendara sepeda motor lain yang berada di depan penulis. Seorang penjaga Jembatan Cirahong dengan segera (berlari kecil) membantu penulis yang baru beberapa meter dari ujung jembatan. Ketika penulis masuk dan keluar jembatan yang panjangnya sekitar 202 meter itu, tidak dimintai uang, hanya sebagai ”orang Timur” penulis mengeluarkan uang recehan (waktu itu cuma Rp.100—seratus rupiah). Sedangkan pengendara lain tidak memberikan. Jadi, tidak ada yang namanya pungutan.
Bahkan, penulis sempat wawancara pengendara sepeda motor (juga pengendara mobil waktu itu masih bisa dilalui kendaraan roda empat), mengaku sangat terbantu dan merasa aman dengan adanya para “relawan” penjaga Jembatan Cirahong.Sebab, banyak warga yang setiap hari bekerja di Ciamis maupun Tasikmalaya harus melewati Jembatan Cirahong. Kalau harus berputar ke Kota Tasikmalaya itu lumayan cukup jauh. Karenanya banyak warga memanfaatkan Jembatan Cirahong. Tak sedikit, warga yang pulang kerja pada malam hari dan harus melewati Jembatan Cirahong yang situasinya sepi dan kadang berkabut jalannya. Dengan adanya para “relawan” penjaga Jembatan Cirahong, para pengendara pun merasa aman karena ada orang, sehingga merasa sangat terbantu ketika melewati jembatan yang berada di atas Sungai Citanduy ini.
Sebagaimana diketahui, bahwa jalur Jembatan Cirahong yang dibangun pada zaman Belanda pada tahun 1893 ini hanya bisa dilalui kendaraan satu arah saja, dan buka-tutupnya dibantu penjaga. Apabila dipaksakan dua arah, ditakutkan bersenggolan di tengah, sehingga menimbulkan kecelakaan terlebih ketika musim hujan dimana bantalan kayu jembatan biasanya licin. Selain licin dan tidak begitu lebar, tentu saja dikhawatirkan terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan, karena tergesa-gesa ingin cepat melintas di Jembatan Cirahong ini
Kepedulian sebagai warga masyarakat yang setiap hari dan kepemudaan yang aktif di Jembatan Cirahong, justru seharusnya diapresiasi. Kemudian masalah ”pungutan” , sekali lagi menurut hemat penulis, ”bukan pungutan liar” seperti unggahan video yang viral tersebut , karena mereka para “relawan” penjaga Jembatan Cirahong, tidak pernah meminta kepada pengguna kendaraan yang ingin melintas ,mereka berperan untuk menertibkan keluar-masuk kendaraan yang lewat jembatan tersebut. Pengendara yang memberikan uang seiklasnya atau sukarela, bukanlah bentuk pungutan liar sebagaimana disampaikan Gubernur Bapa Aing KDM.
Kalaupun Bapa Aing KDM pernah menyaksikan langsung praktik tersebut saat berkunjung ke lokasi pada tahun 2022, yang kala itu masih menjabat sebagai anggota DPR RI. Ia mendatangi Jembatan Cirahong bersama Kepala Dinas Pariwisata saat itu, Budi Kurnia, dalam sebuah kunjungan lapangan di wilayah Ciamis-Tasikmalaya. Ketika ditanya KDM, petugas “relawan” penjaga Jembatan Cirahong, menjawab ”sukarela” seperti di video dokumen. Bahkan pada saat itu, Bapa Aing KDM tidak menegur “relawan” penjaga Jembatan Cirahong yang menerima uang recehan dari para pengendara yang melewati jembatan tersebut. Jadi, aman-aman saja koq….!!!
SEKELUMIT JEMBATAN CIRAHONG
Jembatan Cirahong yang dibangun pada zaman Belanda pada tahun 1893 ini menawarkan sensasi yang cukup menaikan adrenalin. Pasalnya, jembatan yang berada di bawah rel kereta (bagian bawah) ini hanya bisa dilintasi oleh satu kendaraan saja, jadi yang akan melintas diharuskan untuk bergantian.
Uniknya, jembatan ini tidak ditopang oleh aspal, melainkan dengan menggunakan kayu yang ditumpuk. Hal ini memerlukan kehati-hatian ketika akan melintas di jembatan ini dan pastinya akan memacu adrenalin kalian.Jembatan yang membentang di atas Sungai Citanduy, Tasikmalaya ini merupakan jembatan ganda alias memiliki dua fungsi, pertama sebagai jalur kereta api dan kedua adalah sebagai jalan bagi kendaraan roda dua maupun empat.
Dengan mengusung konstruksi baja padat dan rapat sepanjang 202 meter, Jembatan Cirahong menjadi infrastruktur penting yang memisahkan Kabupaten Tasikmalaya dan Ciamis. Sesuai dengan fungsinya, bagian atas Jembatan Cirahong memiliki rel kereta api aktif, sedangkan di bawah terdapat jalan satu arah untuk dilalui warga dengan kendaraan umum, pribadi atau berjalan kaki.(*****









Komentar