Oleh: Abah Yusuf Bachtiar (Sesepuh Kabuyutan Gegerkalong Bandung)
SEORANG praktisi, philosof, manajemen , Stiven Copey, 7 Habeet. Ia menuturkan perilaku, budaya organisasi, dalam memandang para pekerja. Secara potensial para pekerja dibidang apapun, mereka tentu memiliki keiingin untuk menghasilkan yangvterbaik, produktivitas meningkat, dan otomatis penghasilanpun meningkat.
Ia mengisahkan, perumpamaan seorang peternak unggas, Angsa. Setiap hari peternak tersebut, merawat, dan memberi makanan yang terbaik, dengan harapan, bahwa Angsa2 yang dirawatnya akan menghasilkan telor lebih banyak dan berkualitas. Hari demi hari , peternak lakoni dengan rasa syukur dan berterimakasih pada ssng Pencipta, bahwa merawat Angsa dapat berpenghasilan dan mesejahterakan keluarganya. Dengan penuh kesetiaab, kasih sayang, ia curahkan perhatian pada Angsa2 peliharaannya, jangan sampai ada yang sakit. Suatu hari, ia ketika waktu untuk mengambil telor2 dari kandang, ia menemukan ada Telor Angsa Emas. Ia kaget dan penuh rasa syukur, ternyata Tuhan menganugrahi ia atas jerih payahnya, dihadiahi Telor Emas. Tambah semangat , ia bekerja merawat Angsa2nya. Karena ia mendapatkan bonus, berkah dari Sang Mahakuasa. Hari demi hari, ia jalani dengan penuh ketekunan, ia mulai menaruh harapan, boleh jadi esok lusa ada Telor Emas lagi, ternyata betul ia mendapatkan lagi Telor Emas, ia bersyukur dan penuh keyakinan , bahwa dengan merawat Angsa2, Tuhan memberikan hadiah yang luar biasa. Harapan untuk mendapatkan Telor Emas semakin tinggi. Ternyata kasih sayang terhadap, Angsa2 sebagai mahluk Tuhan merupakan amal kebajikan yang takternilai. Harapan, keinginan, dan keyakinan atas perawatan Angsa2 berbuah anugrah yang Tuhan balas. Keesokan harinya, sebagaimana biasa, ia mengambil telor dari kandang. Ia mendapatkan kembali satu Telor Emas. Dengan penuh rasa syukur, bahagia dan gembira, ia telah dapat mengumpulkan 3 Telot Emas dari Angsa yang ia pelihara.
Peternak Angsa, mulai berfikir, boleh jadi ada Angsa yang setiap saat bisa bertelor emas. Mulai ia, pilih dan pilah mana-mana Angsa yang akan bertelor emas. Pemilihan dan pemilahan terhadap Angsa ternyata meleset dugaannya. Rasa penasaran makin tinggi, Angsa yang tubuh dan bulunya berkilau ia pisahkan lagi, karena ia menduga, bahwa Angsa yang berbulu kilau yang akan bertelor emas. Ternyata dugaannya meleset. Semakin hari, makin penasaran. Ia ingin mencoba dari Angsa yang berbulu kilau tersebut, untuk disembelih dan dilihat isi perutnya, ketika dibelek perutnya tak ditemukan benih telor emas diperut. Rasa penasaran, terus menghantuinya, dua ekor, tiga ekor Angsa ia sembelih dan dibeleknya, tetep ia tidak menemukan benih telor emas. Peternak sudah abaikan rasa kasih sayang, setia merawat, yang ada dalam fikirannya adalah mencari dan memburu Angsa yang betelor emas.
Ahirnya keserakahan muncul, setiap angsa dipotong dan dibelek perutnya, dan Telor Angsa tidak dutemukan. Peternak, menyesali atas perbuatannya yang hilaf.
Dalam kepemimpinan, dimulai dari diri, keluarga, warga, bangsa dan negara; pabrik dan industri. Bila pimpinan, memperlakukan, anak isteri, anggota keluarga; warga yang beragam; bangsa yang beragam; negara yang memiliki potensi SDA , SDE ,dan SDM. Pemimpin membangunkan semangat, spirit, dengan memberi teladan; kesetiaan ; kasih sayang; pelayanan; bimbingan; perlindungan.
Maka Generasi Indonesia yang akan mewujudkan Indonesia Emas akan tercapai. Namun bila memper lakukan Rakyat dengan semena-mena, serakah, korup, represif, mengeksploitasi SDA, SDE, dan SDM , dengan ketidak adilan. Alih-alih Genetasi Emas; Indonesia Emas, akibat dari salah kelola, maka kembali ke zaman batu.
Bumi Alam yang telah Tuhan Anugrahkan, untuk kehidupan penduduk bumi telah dihitung dengan Mahacermat dan Mahateliti, bahkan bukan hanya manusia, seluruh mahluk akan merasa aman, damai, harmoni. Namun ada satu manusia serakah, apalagi banyak maka hancurlah tatanan harmoni bumi alam , Qaul Baginda ‘Ali as.
Tuhan menguji peternak, dengan 3 Telor Emas,
Cag!@Abah Yusuf//Doct//Kabuyutan








Komentar