oleh

Beberapa Wasiat  Nabi Muhammad SAW

Oleh : Ali Assegaf

  أوصيكم بالاخلاص في السر والعلانية

Aku (Rasul) wasiatkan agar berlaku ihlas saat sembunyi dan terbuka

Hal penting wasiat ini adalah wasiat yang sang nabi terapkan dalam dirinya sendiri, sehingga perbuatan keikhlasan sang nabi tampak disetiap zaman, dan melegenda serta dapat menjadi tauladan.

Keikhlasan sang nabi ini yang menakutkan. Sikap ikhlasnya pada Allah – memposisikan sang nabi merdeka – jika beliau mendakwahkan mendapat reaksi buruk atas sifat buruk kaumnya, malam harinya Rasul menangis menyalahkan dirinya dalam doa-doa solatnya. Saat beliau menyaksikan ada seorang yang mati – dan belum sampai dakwahnya – Rasulullah bersedih. Sehingga sifat keikhlasan sang nabi ini membebani dirinya.

Wasiat pada Ummatnya

Setiap orang hidup sejak bayi, disertakan pada mereka orang tua yang dengan ikhlas melindungi kita, hingga menjadi dewasa. Demikian juga sang Nabi telah memberlakukan sifat kasih sayang pada setiap ummatnya – dengan sifat yang muncul dari sifat keikhlasan nya yaitu

 رَءُوفٌ رَّحِيمٌ

yang dianalogikan seperti seorang ibu yang sedia terjaga dan mencegah ancaman (nyamuk) yang menggigit – tanpa menyebabkan si anak terbangun (terganggu) kenyamanannya. Atau rahim yang berarti mendekap hangat anaknya.

Itulah sifat Rasulullah pada Ummat yang diamanatkan me-resonansi-kan praktek ini.

Bangsa Penerima Wasiat Nabi

Dengan sikap yang diajarkan dengan kedauladanan ini – kehidupan menjadi indah, perkara dimasyarakat akan dapat penyelesaian, keilmuan akan berkembang dan kemungkaran tidak dapat tumbuh dilahan subur keihlasan sosial ini. di bulan kelahiran manusia penerima wasiat Tuhan yang diteruskan pada ummatnya, akan menjadi motivasi setiap orang yang ingin memastikan penerimaan amanah sang nabi ini dengan berupaya melakukannya.

Fondasi Sosial Ikhlas

Sabda Rasul :

لا يؤمن أحدكم حتى يحب لأخيه ما يحب لنفسه

Tidak beriman dari kalian hingga mencintai saudaranya dengan apa  dicintainya.

Ini ikhlas yang harus ada dalam do’a-do’a kita, ini juga alat bukti bagi setiap diri mengikut jalan Rasulullah, ini juga memastikan kita pemegang amanat wasiat sang nabi. Sejauh upaya itu ada dalam diri kita – insya Alloh pesan wasiat nabi pada kita, di bulan berkah kelahirannya – kita dihubungkan bersama beliau saw.

والعدل في الرضا والغضب

( Hendaklah) berlaku adil saat rela dan marah.

Ketetapan atas perkara – yang tersembunyi – dalam  penilaian atau terbuka dengan sikap dikehidupan sosial – disebabkan kesukaan atau senang – mendorong sikap berlebihan terhadap perkara itu. Tak lagi dilihat kurang yang cacat, tidak lagi kritis yang disampaikan, tertutup pertimbangan dan yang rasional menjadi doktrin  tidak lagi berlaku adil.

Begitu juga marah neraca penilaian itu mendorong berlebih dengan stigma buruk – atas hal baik. Keduanya rela dan marah – muncul dari sumber nafsu.

Ketika sang nabi menerima amanat ini, bukan berarti menghilangkan kerelaan dan kemarahan – melainkan standart kerelaan dan kemarahan tidak diserahkan pada nafsu – melainkan pada Allah SWT. Sebagai pelaksana amanat ini – Allah informasikan kepada kita dalam ayat

 وَمَا يَنطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ

dan dia (muhammad) tidak tutur kata dari hawa nafsunya.

Untaian kalimat yang runut logika, penuh kandungan – disampaikan dalam intonasi yang baik – menjadi magnet pendengarnya – terkadang mendapat kecurigaan orang – apa motif dibalik tujuan itu ?

Al-qur’an menegaskan

 إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ

 Sesungguhnya dia (Muhammad  SAW bernatiq ) dengan wahyu yang diwahyukan padanya

Nabi menyalahi nafsunya, mengucapkan dengan natiq ( kalimat sistematis dan logis) ini tercermin dalam amanat adil setiap perkara – sehingga sejarah – mencatat  reaksi Nabi bukan berbasis nafsu, sehingga menjadi pelajaran atau uswah bagi ummatnya sepanjang zaman

Wasiat bagi Ummatnya

Kini ummat punya pemutus keraguan dalam menjalankan amanat keadilan ini. Ketika dirinya tak mampu membedakan kerelaan dan marah itu dari nafsu – maka dengan bercermin dimana letak kecintaan pada muhammad sebagaimana ayat

 قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ

Katakan jika kalian ( Ummat) mencintai Allah – maka ikutilah aku ( muhammad) niscaya kalian mencintai Allah – yang mengampuni dosa-dosa kalian

Logisnya ummat ini mudah melakukan keadilan dan tak melibatkan nafsu dalam penilaian dalam dirinya. Ketika keadilan itu berkaitan dengan tata sosial – ditempatkan dalam Syarat Solat Ber-Organisasi alias solat berjamaah yang syaratnya keadilan ini. Artinya setiap kita harus bisa menjadi orang yang adil – yang setiap jiwa wajib melakukan instrospeksi dirinya, sehingga satu sama lain memiliki penilaian adil dan layak jadi imam sholat. Ini prasyarat turunnya wahyu pada masyarakat yang muhammad parameter keadilan sosialnya.

Kata dengan bimbingan wahyu –  juga terisyarat dalam alqur’an turun pada lebah

وَأَوْحَىٰ رَبُّكَ إِلَى النَّحْلِ

Dan ketika Tuhanmu mewahyukan pada lebah…

Maka wahyu itu juga datang pada Ummat ini – yang menegaskan Allah swt pemimpin masyarakat berkeadilan ini. ( baca : sendiri yang terlihat )

 والقصد في الغنى والفقر

Berlaku proposional terhadap yang kaya dan yang miskin

wasiat ini tampak sebagai buah cara pandang material  sebagai perlakuan dzalim, saking jelasnya hal ini cukup dengan sabda beliau saww

رسول الله (ص):

من أكرم الغني لغناه، وأهان الفقير لفقره، سمي في السماوات عدو الله وعدو الأنبياء، لا يستجاب له دعوة، ولا يقضى له حاجة.

الكافي

Rosulullah SAW:

Siapa menghormati orang kaya karena kekayaannya dan merendahkan orang fakir karena kefakirannya, niscaya di langit dinamai musuh Allah dan musuh para nabi, tidak satupun doanya diijabahi dan tidak satupun hajatnya diselesaikan.

Salah satu sifat mulia nabi, tercermin dengan perhatian dan keberpihakan beliau pada fakir miskin.

Wasiat bagi ummatnya

Ketika sholat ber-Organisasi dengan persyaratan keadilan, perlu diketahui disini fatwa Rahbar sbb ( buka link http://shiaonlinelibrary.com

منتخب الاحكام – السيد علي الخامنئي – الصفحة ٩٩ )

Bahwa salah satu yang membatalkan sholat adalah menangis karena sebab dunia ( البكاء لأمور الدنيا )

Para pejabat yang sudah tak menduduki jabatannya, sering kali merasa berat hati atas jabatannya, itu karena dunia mengikat bathinnya begitu kuat. Tak semata dengan jabatan, terkadang perkara lain yang mengikat dunia dibathinnya. Jika sampai ikatan itu – menyebabkan tangisan dalam sholat – maka sholatnya tidak sah alias batal. Itu sebabnya penegakan sholat menggunakan kosakata muqowim (menegakan) – adalah situasi jiwa untuk bebas dari ikatan dunia – dan dengannya mendirikan sholat ber-Organisasi (sholat berjamaah)

Jika kita teliti lebih dalam bahwa surat fajr yang terkenal dengan surat al husein as. ditengah surat tersebut – menjelaskan kecaman terhadap orang yang mengukur kemuliaan dan kehinaan dari sisi Allah dengan ukuran material dunia.

 فَأَمَّا الْإِنسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ

Qs fajr : 15 dan lanjutannya

Pelaksana wasiat nabi yang nabi sendiri telah mencontohkan – menghantarkan kita pada sebuah tatanan masyarakat proporsional terhadap dunia. Muqawama solat adalah prasyarat sholat ber-Organisasi ( sholat berjamaah) ini. Dengan kesadaran kajian fiqh sholat, para muwali ahl Bait dibawa pada situasi persiapan masyarakat harapan, masyarakat penantian yang kelayakan berkata عجل الله فرجه

 وان اعفو عمن ظلمني، وأعطي من حرمني، وأصل من قطعني

Dan memaafkan mereka yang berlaku dzalim padaku, memberi orang yang mengharamkanku, menyambung hubungan mereka yang memutus denganku

Praktek kemarahan seorang biasanya karena diberlakukan dzalim atas dirinya – Sang Nabi melihat sebab kedzaliman yang dimaafkan itu bersumber dari kebodohan atau kejahilan pelakunya, sehingga muncul rasa iba – dan memaafkan. berbeda sikap nabi pada abu Sufyan, abu Lahab – dikarenakan kedzaliman mereka bertujuan memadamkan islam, reaksi Rasulullah tidak sama dengan kejahilan orang yang bersifat pribadi kepadanya. Ini yang diawal telah disebutkan sifat mulia sang Nabi yaitu rahim. Sejarah mencatat bagaimana sang Nabi dilempari batu di thaif – malaikat penjaga gunungpun mendatangi beliau – agar memanfaatkan mukjizatnya.

Beliau mengangkat tangan sambil berdoa

 اللهم اغفر لقومي إنهم لا يعلمون

Ya Allah ampunilah kaumku sesungguhnya mereka tidak mengetahui

Sang Nabi tidak suka mengumbar atau mengobral mukjizat sehingga orang takut terhadapnya. Bahkan ketika orang menjauhi karena serangan informasi bahwa Sang Nabi membahayakan, penyihir, atau memecah belah apa yang sudah terbangun dimasyarakat – beliau memberi dan mendatangi mereka. Inilah wasiat Tuhan yang telah menjadi sifatnya : memberi orang yang mengharamkan ku

Kita pernah membaca sejarah, bagaimana nabi setiap kali lewat ada orang yang suka meludah (menunjukkan penghinaan) di depan nabi. Suatu saat, kebiasaan itu terhenti – dan pelakunya tak didapati, Sang Nabi mencari tahu dan mengunjunginya yang sedang sakit –

Wasiat yang menjadi cermin Achlak mulia ini – melekat dalam diri Nabi sehingga ketika beliau mewasiatkan itu juga pada kita – karena Rasulullah saww menghendaki kita memiliki hubungan dengan beliau dengan jalur keseriusan kita pada wasiat ini. Tak terhitung praktek nabi yang menyambung hubungan kembali pada mereka yang memutuskan padanya.

Tulisan ini mungkin lebih tepat memposisikan diri penulis bukan penerima wasiat nabi ini, tetapi lebih pas dengan orang yang karena kebodohan diri telah berlaku dzalim pada sang Nabi maka kusebut NamaMu ya Allah masukan aku dalam doa Rasulullah :

Ya Allah ampuni kaumku sesungguhnya mereka tidak tahu  dengan kesediakan kita untuk memaafkan siapapun yang berlaku dzalim pada kita demi wasiat Rasulullah SAW.

Tulisan ini lebih pas menunjuk diri, bahwa dosa telah menyebabkan kita mengharamkan Rasulullah masuk dibathin ini, kitalah orang yang meludah itu dan kini membaca dalam keadaan sakit yang dikunjungi Rasulullah saww. Maka demi wasiat Rasulullah saww ini – kesiapan kami mendatangi orang yang menjauhi.

dan semoga tulisan ini juga bentuk jalan penyambung hati setiap yang putus, terputus atau diputus – demi wasiat Rasulullah SAW. السلام عليك يا رسول الل

وأن يكون صمتي فكرا، ونطقي ذكرا، ونظري عبرا

dan jadikan diamku perenungan, Tutur kataku pengingat, penglihatanku pelajaran

Dalam hadist lain

يا هشام إن لكل شئ دليلا ودليل العقل التفكر، ودليل التفكر الصمت

Wahai hisyam, sesungguhnya segala sesuatu terdapat petunjuk(tanda) dan petunjuk (tanda) orang berakal yaitu berfikir, dan petunjuk(tanda) orang berfikir adalah diam

Wasiat ini hakekatnya menyuruh sang nabi untuk mengoptimalkan keilmuan, berfikir dengan symbol diam. Diam mereka yang merenung akan menjernihkan proses berfikir dalam dirinya, ini yang membuat seorang dapat menyusun ucapan (tutur kata / natiq ) yang menjadi kelanjutan wasiat.

Dan jadikan natiq ( tutur kata, penggunaan kosa kata, susunan logika dalam ucapan) sebagai pengingat. Pada topik lain pernah dituliskan, ucapan sang nabi bahkan ucapan maksum – itu rangkaian yang satu. Bahkan para muwali Ahl Bait as dapat menyebut sumber ucapan imam maksum as dengan ucapan sang nabi – sekalipun tidak terdapat dalam ucapan nabi itu, karena kejelasan natiq ini.

Ayat yang mengatakan

 إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

Kami ( Allah) yang menurunkan az-dzikra dan sesungguhnya kami (Allah) yang menjaganya

Natiq sang nabi yang juga diwasiatkan pada kita, adalah adz-zikra ini sehingga menjadi pembelajaran setiap zaman.

Ketika wasiat itu juga kepada kita, maka para muwali Ahl Bait as – adalah mereka yang memiliki banyak waktu diam yang menghidupkan pemikiran dan tercermin ucapan nya bukan didorong tanpa dipikirkan sehingga yang terdengar dipublik kata yang tersusun dengan nilainya (natiq) – sebagai bentuk penghubung kualitas ucapan maksum as dan melihat kehidupan dengan pembelajaran.

dapat dipotret bangsa atau kaum yang menjalankan 3 wasiat nabi ini – akan menjadi bangsa/kaum yang progresif memajukan keilmuan – dialog-dialog keilmuan akan berkembang, perbedaan pemikiran adalah kekayaan, persatuan mereka menjadi jalan kemungkinan besar mengarah kepastian karena kesamaan arah dan semoga kita dikaruniai kemampuan pelaksanaan wasiat ini.

صلوا على محمد وآل محمد

Komentar