oleh

Berpulang Ke Asal Kemanakah Kita Bakal Pulang???

Oleh: Bagus Cahaya “BUDAK EDAN” Pamungkas. ASAL kita dari orang tua, Yang berasal dari lahiriyah, Caranya :

Muliakanlah asal muasal kita, yaitu kedua Orang Tua, jangan sekali-kali engkau membentaknya, menyakitinya lebih-lebih engkau mendiaminya, Doa kan secara lahiriyah dan bathiniyah, dengan cara Ciumlah tanganNya sebagai rasa hormatmu, hakikatnya adalah mengharap ampunannya, Sering-seringlah engkau bersilatuhrahmi kepada kedua Orang tua mu dan lain-lainnya, ini baru haqnya lahiriyyah, untuk mengembalikan titipan yang ada pada dirimu, Pulangkan lahirmu pada asalnya yaitu Kedua Orang tuamu

Yang berasal dari ruhaniyyah, kembalikan yang dari bathiniyyah dan ini adalah haqnya Seorang Mursyid, Bagaimana cara mengembalikannya :

Robithoh, Perbanyak Dzikir, Khotaman dan Manaqib, Itu semua adalah untuk memulangkan diri bathin ini ketempat asalnya

Kemanakah kita mampir minum dan makan didunia ini?? Ilustrasinya begini:

Sebelum makan baca bismilah, Sedang makan hadirkan qolbu (Dzikir khofi), Sesudah makan baca Alhamdulillah, Nah…persoalan yang kita anggap sepele, sebetulnya mengandung manfaat atau keutamaan yang besar kenapa?

Sebab secara tidak langsung ruhani kita, mengembalikan haqnya bangsa yang kita makan yaitu :

Haqnya Tumbuhan, Haqnya hewani, Kesemuanya akan dikembalikan oleh ruhani kita, begitu juga lahiriyyah mengembalikan haqnya dengan mengeluarkan kentut dan kotoran semuanya kembali pada awalnyayaitu duni

Kemanakah Aku hendak pulang setelah aku pergi bertandang kedunia ini?

Aku ini adalah Aku dunia dan Aku Akherat… Aku bangsa Jasad dan Aku Bangsa Ruhani, Setelah bangsa jasad (dzohir) bertandang dan bertemu dengan awalnya yaitu dunia ini, lewat perantara atau jasa kedua Orang Tua kita… Tinggal bangsa Ruhani yang belum bertandang ke Awalnyayaitu alam ruhani

Kita sudah diperkenalkan dengan bangsa Ruhani oleh Seorang Mursyid… tinggal kita melangkah dan mengetuk pintu alam ruhani itu, dengan cara dzikir yang sesuai petunjuknya ( sesuai alamatnya ), Mulai sekarang yuch kita belajar bertandang kenegeri ruhani itu

Na’am saroo’ thoifu man ahwaa’ fa-arroqonii, wal-hubbu ya’taridhul-ladzaati bil-alami.

Artinya : “Memang terlintas dirinya dalam mimpi hingga kuterjaga. Tak hentinya cinta merindangi kenikmatan dengan derita”.

Komentar

News Feed