
Oleh : Ali Assegaf
Reff Tafsir Surat Jumat Rahbar
…. يَتْلُوْا عَلَيْهِمْ اٰيٰتِهٖ وَيُزَكِّيْهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتٰبَ وَالْحِكْمَةَ وَاِنْ كَانُوْا مِنْ قَبْلُ لَفِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍۙ
…. yang membacakan pada mereka ayat-ayat Nya, dan mensucikan mereka, dan mengajarkan ada mereka Alkitab dan hikmah. Dan sesungguhnya mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata.
Sang Nabi datang untuk pertama : membacakan ayat-ayat – kedua : melakukan pensucian – ketiga : mengajarkan Alkitab – keempat : mengajarkan hikmah
Pada ayat yang lain (doa Nabi Ibrahim as)
هُوَ الَّذِيْ بَعَثَ فِى الْاُمِّيّٖنَ رَسُوْلًا مِّنْهُمْ يَتْلُوْا عَلَيْهِمْ اٰيٰتِهٖ وَيُزَكِّيْهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتٰبَ وَالْحِكْمَةَ وَاِنْ كَانُوْا مِنْ قَبْلُ لَفِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍۙ
Dia yang mengutus pada masyarakat yang ummi, rasul di tengah mereka yang membacakan ayat-ayat Nya pada mereka, dan mensucikan mereka, dan mengajarkan pada mereka Alkitab dan al-hikmah. Sesungguhnya Engkau Maha perkasa dan Maha bijaksana
Perbedaan ayat pertama penegasan dari Allah SWT dan kedua permohonan Nabi Ibrahim As. dalam urutan dalam pensucian mereka didahulukan dari mengajarkan pada mereka Alkitab
A. Membacakan ayat-ayat
Ini awal bi’stah (penugasan) yang juga disebut awal da’wah, mengawali dengan membacakan ayat-ayat ilahi. diawal dalam thema hamzah wazn – seluruh alam menjadi buku besar, sang Nabi ketika membacakan Ayat-ayat Ilahi ( ayat ini menggunakan kosakata tilawah) yaitu kata yang lembut, kaya akan makna dan tinggi kandungan, luhur dan kreatif. dari seluruh sektor – hal ini yang kemudian hingga saat ini didapati dalam ayat-ayat al-qur’an. Kata
يتلوا عليهم أيته
Berarti membacakan ayat-ayat al-qur’an yang mengungkap tabir alqur’an pada manusia.Tanpa pembacaan begini pendengar tak akan memahami tentang dakwah dan ajaran agama. Ini juga tugas tugas penerus nabi.
…. يَتْلُوْا عَلَيْهِمْ اٰيٰتِهٖ وَيُزَكِّيْهِمْ
…. yang membacakan pada mereka ayat-ayat Nya, dan mensucikan mereka,
Sang Nabi bukan saja menjelaskan ( yatlu alaihim ) makna ayat-ayat yang dibacakan, sehingga mereka mengerti – tetapi juga mengetahui cara menumbuhkan potensi masyarakat dalam tiap-tiap individu.
Abu Dzar Al Ghifari yang datang ke Mekkah – sebagai kafilah liar, tanpa pendidikan, tanpa pengetahuan, tanpa bertuhan, tanpa beragama, tanpa ibadah – namun dalam dirinya terdapat denyut kemanusiaan – nabi dengan tatapan ilahi yang tajam, membangun dan mengembangkan Abu Dzar. Ini makna utama yuzakkihim ( menumbuhkan mereka kearah sebenarnya)
Tugas penerus nabi para wali Nya – bukan hanya memberi bimbingan ke masyarakat dengan menerangkan ayat, tetapi juga mengerti arah pembangunan masyarakat dan membimbing kearah potential diciptakan nya. Iran pra revolusi – era dimana korupsi merajalela, kerusakan moral dan penyimpangan sexual, suap menyuap, gratifikasi sudah menjadi hal biasa dimasyarakat. Imam Khomeini Qds – mampu melihat dibalik potential bangsa ini.
Rahbar menggambarkan situasinya dalam pengawasan, ancaman dan bahkan keputus asaan muncul dari orang-orang yang tak mampu melihat dibalik kekuatan sosial masyarakat ini.
Era dimana orang sedia meninggalkan sholat karena khawatir diejek oleh lingkungannya. Dalam situasi dimana dekadensi moral – kebanyakan tak melihat apa disaksikan Imam Khomeini Qds. – ini makna bukan saja menjadi penjelas ayat-ayat, tetapi juga menumbuhkan masyarakat kearah yang sebenarnya.
Saat revolusi berlangsung, banyak dari kalangan ibu-ibu yang bahkan mengenakan sendiri kain kafan anaknya yang syahid dijalan pembangunan potensi (yuzakkihim) ini. Imam merobek semua keputusasaan sosial dimasyarakat, menjadi jalan suci pertumbuhan masyarakat.
Bagaimana dengan kita ?
Tugas utama pewaris nabi, bukan sebagai penyampai agama, piawai berpidato, tetapi juga pandai menjelaskan ayat-ayat al-qur’an ini ditengah masyarakat. Dan membimbing masyarakat dengan piawai, melihat potensi di tengah masyarakat itu sehingga optimal menjadi tatanan masyarakat ilahi, sebagaimana dua tugas sang nabi yang sudah terbukti dilakukan oleh Imam Khomeini Qds.
Bahkan kesempatan kita besar, lebih besar dari sebelum revolusi di Iran. Situasi masyarakat kita tak seburuk situasi di Iran sebelum revolusi. Maka sudah selayaknya – kita mengambil ketauladan sang nabi yang telah di perankan para imam ahl Bait as serta dekat dengan zaman kita dengan revolusi.
…. يَتْلُوْا عَلَيْهِمْ اٰيٰتِهٖ وَيُزَكِّيْهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتٰبَ وَالْحِكْمَةَ وَاِنْ كَانُوْا مِنْ قَبْلُ لَفِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍۙ
…. yang membacakan pada mereka ayat-ayat Nya, dan mensucikan mereka, dan mengenalkan pada mereka Alkitab dan hikmah. Dan sesungguhnya mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata.
Dan di ayat yang lain, posisi yuzakkihim (menumbuhkan potensi) di tempatkan setelah
وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ
Qs. Al-Baqarah : 129
Tak ada perbedaan prinsip dalam hal ini, apakah menumbuhkan potensi setelah dipahamkan ayat-ayat Nya, atau diperkenalkan Alkitab dan al-hikmah ibarat tanaman yang disiram. Masyarakat mulai mendapatkan bimbingan dari sang nabi – siraman ruhani – sehingga membuat pertumbuhan mereka tidak keluar dari misi ciptaan Nya. Sehingga masyarakat tidak menjadi kuat karena saling menindas sesama. Itu sebab Revolusi Islam yang dibawa oleh muhammad saww berbeda dengan Revolusi Industri atau lainnya.
Pendamping kata kitab dan hikmah juga bukan berarti Alkitab tanpa hikmah, melainkan ada point dalam Alkitab yang tidak dapat dilihat oleh mata biasa, tetapi terlihat oleh mata yang terjaga dan sadar.
Seperti kata jangan kamu katakan orang yang gugur syahid dijalan Allah itu mati ? Ketika alquran menyebutnya hidup – itulah makna hikmah dan banyak lagi kandungan hikmah ini dalam alquran.(****







Komentar