Oleh: Raden Sukma Jati (Joko Susilo).
Beberapa bukti yang menguatkan adalah berupa penemuan naskah lontar Sunda Kuna yang ditemukan disekitar area gunung tersebut oleh Raden Saleh sekitar tahun 1856 dan kemudian diserahkan ke Bataviaasche Genootschap (atau yang kemudian saat ini dikenal sebagai Museum Nasional Jakarta). Naskah lontar Sunda Kuno ini dapat ditemukan dalam Kropak no.410 dengan tulisan: Carita Pakuan naskah Raden Saleh, Pantun Sunda pada daun lontar, yang ditulis oleh Kai Raga.
Sejarah Gunung Cikuray – Tempat Para Petapa Yang Penuh Misteri
Kai Raga merupakan pertapa yang diyakini mendiami gunung Larang Srimanganti, ia juga disebut rajin menulis. Tokoh Kai Raga sendiri pernah coba diteliti oleh C.M. Pleyte, seorang kurator dari museum Belanda pada tahun 1914. Dalam penelitiannya pada tahun 1904 yang langsung datang ke gunung Cikuray, ia meyakini Kai Raga yang menyerahkan naskah-naskahnya kepada Raden Saleh adalah cucu Kai Raga yang merupakan pimpinan kelompok keagamaan, dimana letak pertapaannya adalah di lereng gunung Cikuray. Namun, jejak keberadaan dari cucu Kai Raga ini tidak dapat ditemukan mulai dari tahun 1865, maka Pleyte kemudian beranggapan bahwa ia telah meninggal dan tidak memiliki keturunan.
Saat ini naskah-naskah tulisan tersebut serta peninggalan sejarah lainnya seperti, Tombak, keris, lonceng yang terbuat dari perunggu, Trisula, senjata milik Prabu Siliwangi yaitu Kujang, Tulisan Jawa kuno yang ditulis oleh Prabu Kian Santang diatas daun nipa dan daun lontar serta benda-benda peninggalan lain yang terkait gunung Larang Srimanganti dapat kita temukan di Cagar Budaya Ciburuy, Kecamatan Cigedug, Garut, Jawa Barat.
Cagar Budaya Ciburuy ini adalah peninggalan jaman Prabu Siliwangi dan anaknya Prabu Kian Santang. Dalam kawasan cagar budaya ini masyarakat yang mendiami daerah sekitar Cagar Budaya biasanya mengadakan upacara Seba, yakni upacara syukuran kepada Prabu Siliwangi dan Prabu Kian Santang sebagai tokoh yang dianggap memiliki ilmu serta kemampuan yang tinggi. Upacara ini biasanya diadakan hari rabu minggu ketiga di bulan Muharam.
Selain upacara Seba, upacara pencucian keris juga dilakukan oleh penduduk setiap tanggal 1 Muharam. Sebagai daerah cagar budaya, dimana dipercaya disekitar kawasan ini adalah tempat suci maka terdapat pantangan yang harus dipatuhi, yaitu tidak ada yang boleh memasuki wilayah ini pada hari Jumat dan Sabtu.
Bagi yang berminat, silakan mengunjungi Padepokan “SANTRI HIKMAT” beralamat di Jln. Jendral Sudirman Km. 36,9 Lingkungan Gg.4 Seroja Kelurahan Dendang Kec.Stabat Kabupaten Langkat-Sumetara Utara WA /HP 0 823-6707-5263 . “Insyaallah saya akan membantunya sampai tuntas”tutupnya. *(REDI MULYADI)***













Komentar