oleh

Gunung Padang dan Naskah Sunda

Penulis: Dr. Elis Suryani Nani Sumarlina, M.S. (Dosen Departemen Sejarah dan Filologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran)

EKSISTENSI sebuah tinggalan budaya masa lampau, berguna untuk mengungkap ‘tonggak’ suatu kehidupan masyarakat tertentu, seperti halnya Situs Megalitikum Gunung Padang. Berada di Desa Karya Mukti Kecamatan Campaka Kabupaten Cianjur, yang sangat menakjubkan, karena memiliki daya tarik dan keunikan tersendiri.  Bentuknya bukit berundak. Tingginya konon mencapai kurang lebih 136 meter, dikelilingi tumpukan batu dengan berbagai ukuran. Termasuk batu-batu yang dianggap menyerupai gamelan/waditra musik tradisional Sunda. Menurut tradisi lisan,  suara gamelan itu masih sering terdengar di malam Jumat. 

Keunikan lain, sebagian batu yang berserakan di sana, bergambar kujang, telapak kaki harimau, dan bentuk lainnya. Di puncak gunung tampak tugu batu yang berdiri tegak lurus, dikelilingi batu-batu lainnya.  Di bagian bawahnya terdapat sumber air, yang menjadikan salah satu ciri tempat-tempat suci atau Kabuyutan di tanah Sunda.

            Situs Gunung Padang termasuk sistem tata ruang kosmologis Sunda yang saling memengaruhi dengan tenaga-tenaga yang bersumber pada tempat yang ada di sekitarnya. Baik secara arkeologis, geologis, geomorfologis, filologis, antropologis, yang tidak terlepas dari budaya zaman batu. Mengapa? Karena banyak  peninggalan sejarah di daerah Sunda, berupa artefak batu-batuan seperti: Batu Undakan di Kuningan, Garut, Banten, Batu-batu Prasasti seperti  di Ciaruteun Bogor, Kebon Kopi Sukabumi, Geger Hanjuang Tasikmalaya, Kawali di Ciamis, dan daerah lainnya.

           Gunung Padang ditengarai terbagi lima undak/teras atau lima tingkatan,  sebagian besar sudut batu-batunya juga  bersudut lima. Posisi Gunung Padang   berada  di tengah, serta dikelilingi oleh lima gunung, yakni di sebelah barat Gunung Karuhun, sebelah selatan Gunung Empéd, sebelah tenggara  Gunung Malati, sebelah timur Gunung Pasir Malang, sebelah utara/barat laut Gunung Batu.  

             Sementara itu, orientasi Gunung Padang menghadap ke sebelah tenggara barat laut, yang juga meliputi lima buah gunung, yakni: Gunung Batu, Gunung Pasir Pogor, Gunung Kendeng, Gunung Gedé, dan Gunung Pangrango. Gunung Padang  berorientasi kepada Gunung Gedé, karena Gunung Gedé dianggap ‘kiblat’ atau pancer ’pusat’ para leluhur/gegedén ‘pejabat’ pada masa  lampau. Gunung Padang secara geografis segaris lurus mengarah dan tembus ke Gunung  Gedé.

Gunung Padang terhubung dengan tradisi tulis dan tradisi lisan, sebagaimana terungkap dalam naskah Sunda, yalni: Puru Sangkara, Carita Ratu Pakuan, Sanghyang Hayu, Siksakandang Karesian, Waruga Guru, maupun Amanat Galunggung, Situs Gunung Padang ditengarai sebagai kabuyutan. Gunung Padang dikenal sebagai Batu Nangtung, yang berkelindan erat dengan Naskah Purusangkara, Carita Ratu Pakuan, Sanghyang Raga Dewata, Bujangga Manik, Sanghyang Hayu, dan Sri Ajnyana, juga cerita lisan (folklor) yang berkembang di sekitar Gunung Padang.

             Pengertian Gunung Padang/‘Padang’, sebagai tanah yang luas, tempat berkumpul, hati yang luas, bersih, suci, terang dan bercahaya, seperti caang padang narawangan, galuhna cahyaning ratu. Dilihat dari struktur bangunannya, Gunung Padang merupakan bukit yang tinggi, disusun dengan tumpukan batu kasar. Ditengarai, di puncak Gunung Padang terdapat batu menhir yang berdiri tegak tegak/berdiri (batu satangtung), yang dikelilingi oleh batu-batu lainnya yang sama-sama berdiri. Hal itu menandakan bahwa Gunung Padang merupakan tempat suci untuk beribadah atau tempat berkumpul para Tetua Adat. Ini juga selaras dengan air sungai yang berada di bawah gunung tersebut, yang disebut cai/cikahuripan ‘air kehidupan’ yang dulu digunakan untuk bersuci.

             Sistem tata ruang kosmologis  Gunung Padang, termasuk bentang keruangan Kabuyutan masa lalu di sekitar Cianjur. Termasuk dalam konteks budaya materialistik,  yaitu dalam tatanan budaya idealistik. Dengan demikian, Gunung Padang merupakan bagian dari satu tatanan kosmologi Sunda yang tidak hanya berdekatan dalam hal keruangannya (space), tetapi juga memiliki kedekatan dalam bentuk (form) dan waktu (time) yang teridentifikasi dalam Naskah Puru Sangkara, Naskah Carita Ratu Pakuan, Sanhyang Raga Dewata, Bujangga Manik, Sewaka Darma, Sri Ajnyana, dan Historiogragfi Budaya.

             Bentuk Kabuyutan di seluruh wilayah Tatar Sunda, mengacu pada bentuk budaya tradisi megalitik, seperti Kabuyutan Gunung Lingga, Kabuyutan Galunggung, dan Gunung Gede atau Tampomas. Itu sebabnya, kosmologi Sunda tercermin dalam tradisi naskah dan folklor, menjadi acuan manakala para Karuhun Sunda membangun keraton, hunian masyarakat, pusat upacara keagamaan, dan bangunan suci lain yang lebih kecil dalam kawasan tersebut, sebagaimana terkuak dalam naskah Sang Hyang Hayu (SHH).

Tata ruang jagat (kosmos) menurut SHH, terbagi menjadi tiga susunan, yaitu: (1) susunan dunia bawah, saptapatala ‘tujuh neraka’, (2) buhloka bumi tempat kita bernaung atau madyapada; dan (3) susunan dunia atas, saptabuana atau buanapitu ‘tujuh sorga’. Tempat di antara saptapatala dengan saptabuana disebut madyapada, yakni pratiwi (Darsa,  1998). Konsep tata ruang masyarakat Sunda secara kosmologis bersifat triumvirate ‘tiga serangkai, tritunggal’. Dalam tatanan ini, berupaya mencari makna dunia menurut eksistensinya, yakni menyangkut keleluasaannya yang mengandung segala macam dunia dengan seluruh bagian dan aspeknya, sehingga tidak ada sesuatu pun yang dikecualikan. Masyarakat Sunda memiliki pandangan tentang kesejajaran antara makrokosmos dan mikrokosmos, antara jagat raya dan dunia manusia.

             Proses penciptaan alam sesuai naskah, meliputi buwana (jagat raya), pretiwi (bumi), sarira (diri sendiri), dan para dewa pengatur jagat. Kropak 422 menyebutkan bahwa alam semesta terbagi dalam tiga dunia, yaitu sakala (dunia nyata), niskala (dunia gaib), danjatiniskala (kemahagaiban sejati). Hal ini pun sejalan dengan apa yang digambarkan naskah Sanghyang Raga Dewata. Naskah ini menjelaskan  keesaan Tuhan, dengan istilah Sanghyang Tunggal ‘Tuhan Yang Maha Esa/Tuhan Yang Maha Tunggal.

             Kesakralan Gunung Padang, diungkap melalui Sanghyang Siksakandang Karesian, yang memaparkan  kahyangan penghuni para dewa lokapala (pelindung dunia), disesuaikan dengan kedudukan mata angin dengan warna masing-masing yang disebut Sanghiyang Wuku Lima di Bumi, yaitu Isora bertempat di kahyangan timur (Purwa), putih warnanya. Daksina ‘selatan’, tempat tinggal Hyang Brahma, merah warnanya. Pasima‘barat’ tempat tinggal Hyang Mahadewa, kuning warnanya. Utara yaitu ‘utara’ tempat tinggal Hyang Wisnu, hitam warnanya. Madya ‘tengah’, tempat Hyang Siwa, aneka macam warnanya.

             Carita Pantun Eyang Resi Handeula Wangi memuat kosmologi Sunda  ke dalam tiga bagian (triumvirate), yaitu Buana Nyungcung ‘dunia roh’, Buana Panca Tengah‘dunia manusia’, dan Buana Larang. Mandala hanya dikenal di Buana Nyungcung. Maka dari itu, jika dikaitkan dengan tatanan Gunung Padang yang terdiri atas lima undak/lima tingkatan, mungkin lebih cocok jika dihubungkan dengan pembagian tatanan ruang sebagaimana terungkap dalam Sanghyang Siksa Kandang Karesian,  yang terdiri atas lima arah angin (Sanghiyang Wuku  Lima  di  Bumi). @@@

Komentar