Oleh: Gus Qusyairi Zaini (Majlis Zikir Tauhid Padepokan Sadar Bumi Alif Kabupaten Sumenep)
DULU, sekitar tahun 2008, saya pernah membeli sebuah tasbih seharga Rp17 juta. Sebuah angka yang bagi sebagian orang, termasuk istri saya waktu itu, terasa sulit diterima. Baginya, itu hanyalah rangkaian kayu, tak sebanding dengan nilainya. Istri saya saat itu marah dan bergumam: “Masak beli tasbih sampai seharga 17 juta…??!!”
Malam harinya, selepas salat Maghrib berjamaah, saya mendekatinya. Wajahnya masih menyisakan gurat kecewa. Dengan senyum kecil, saya usap lembut kepalanya, lalu berkata pelan:
“Dik… untuk urusan dunia, kita tak ragu mengeluarkan ratusan juta demi kenyamanan. Lalu, apakah terlalu berlebihan jika Mas mengeluarkan sebagian kecilnya untuk sesuatu yang bisa mendekatkan diri kita kepada akhirat..?? Sesuatu yang memotivasi diri Mas untuk selalu menyebut asma-Nya..?!”
Saya berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan suara yang lebih dalam: “Kita ini hidup dari fasilitas yang sepenuhnya gratis dari Gusti Allah. Nafas yang tak pernah kita bayar, jantung yang tak pernah kita sewa, mata yang tak pernah kita beli…Semua bekerja tanpa kita keluarkan sepeser pun. Coba bayangkan, jika semua itu harus kita tebus dengan harta, berapa harga yang sanggup kita bayar..?? Tidak akan cukup seluruh dunia ini untuk menebus satu detik kehidupan.”
Saya menatapnya penuh harap.
“Lalu, salahkah jika Mas membeli sesuatu yang menjadi perantara untuk terus mengingat-Nya…? Sebuah tasbih, yang dengan itu nama-Nya terus bergetar di lisan Mas…?”
Nada saya semakin lembut: “Percayalah, Dik… jika ini benar-benar untuk zikir dan syukur kepada Allah, maka tidak ada yang hilang. Allah pasti mengganti, bahkan dengan cara yang tak pernah kita duga. Bukankah Dia telah berjanji: ‘Jika kalian bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat-Ku atas kalian…’”
Air matanya pun jatuh. Malam itu, ia meminta maaf dengan suara bergetar.
Tiga hari berselang, seorang tamu datang ke rumah. Ia seorang vendor yang beberapa bulan sebelumnya pernah meminta doa agar dimenangkan dalam tender proyek besar senilai Rp.1,7 miliar.
Ternyata, ia benar-benar menang.
Setelah berbincang cukup lama, ia berpamitan. Sebelum pergi, ia menyodorkan sebuah amplop cokelat, terbungkus plastik hitam. Saya menerimanya dengan tenang, meski hati sedikit terkejut.
Setelah tamu itu pulang, saya serahkan amplop itu kepada istri tanpa tahu berapa nominal isi didalamnya.
Beberapa saat kemudian, terdengar teriakan dari dalam kamar, setengah histeris, bercampur tangis yang pecah. Ia berlari menghampiri saya, memeluk erat saya yang berdiri mematung di depan kamar, suaranya bergetar:
“Subhanallah… Mas… benar… janji Allah benar…! Yang kemarin Mas keluarkan 17 juta… hari ini Allah ganti… 150 juta…!”
Tangisnya bukan sekadar haru, itu takjub. Itu iman yang menyaksikan sendiri bagaimana janji Tuhan menjadi nyata.
Saat itu, saya teringat petuah seorang sufi agung, Yahya bin Mu’adz:
“من سر بخدمة الله سرت الأشياء كلها بخدمته، ومن قرت عينه بالله قرت عيون كل واحد بالنظر إليه.”
“Barangsiapa berbahagia dalam melayani Allah, maka seluruh kehidupan akan melayaninya. Dan siapa yang menyejukkan hatinya dengan Allah, maka setiap mata akan menatapnya dengan penuh cinta.”
Maka sesungguhnya, bukan tasbih itu yang mahal. Yang mahal adalah hati yang mau mengingat-Nya.Jangan pernah lupa untuk berzikir, dan jangan pelit untuk mengeluarkan uang demi sesuatu yang bisa mendekatkan diri kita kepada Allah..!!
Sulthanul Awliya, Syekh Abdul Qadir Jailany berpesan:
ما وصلت إلى الله تعالى بقيام ليلٍ ولا صيام نهار، ولكن وصلت إلى الله تعالى بالكَرَمِ والتواضع وسلامة الصدر
“Tidaklah seseorang sampai (dekat) kepada Allah Ta‘ala hanya dengan shalat malam atau puasa di siang hari. Akan tetapi, ia sampai kepada Allah Ta‘ala dengan sifat dermawan, kerendahan hati, dan hati yang bersih (tanpa iri, dengki, dan kebencian).” *****













Komentar