oleh

Hukum Membakar Dupa “Menyan” Bukhur

Oleh: Abdoel Al Aziz

BAKHOOR atau Bukhoor adalah bahasa Arab,sedangkan di Indonesia lebih dikenal dengan istilah Buhur bahkan ada juga yang menyebut kemenyan Arab.

Buhur merupakan campuran dari beberapa tanaman atau tumbuhan tradisional yang terkenal akan aroma nya, seperti gaharu, cendana, minyak-minyak khusus dan lainnya.

Buhur di bakar di atas tempat bakarnya, yang biasa disebut Mabkhara,Buhur di bakar dengan menggunakan arang.

Di Timur Tengah, penggunaan Buhur / Bakhoor / Bukhoor sudah menjadi tradisi turun-temurun dari waktu ke waktu. Biasanya di gunakan dalam acara-acara tertentu atau dalam saat yang di butuhkan.

Apakah Nabi Muhammad _Shallallahu ‘Alaihi Wasallam_, menyukai bau wewangian (menyan)? Membakar dupa wangi ketika berdzikir, membaca al-Qur’an, berada di majlis ilmu maka wangi-wangian (tathayyub) hukumya sunnah berdasarkan senangnya Nabi Muhammad _Shallallahu ‘Alahi Wasallam_ pada sesuatu yang harum dan Nabi senang dengan wewangian. Beliau sering memakainya dan mendorong para sahabat untuk menggunakanya.

_(Kitab Bulghot ath-Thullab halaman 53-54)._

Sahabat-sahabat kita (dari Imam Syafi’i) berkata: Sesungguhnya disunnahkan membakar dupa di dekat mayyit karena terkadang ada sesuatu yang muncul maka bau kemenyan tersebut bisa mengalahkan atau menghalanginya.

_(Al-Majmu’ Syarh Muhadzdzab juz 5 halaman 160)._

🌿 SUNNAH MEMBAKAR BUHUR / DUPA 🌿

كان بن عمر إذا استجمر استجمر بالوة غير مطراة أو بكأفور يطرحه مع الألوة ثم قال هكذا كان يستجمررسول الله صلى الله عليه وسلم

Apabila Ibnu Umar beristijmar (membakar dupa) maka beliau beristijmar dengan uluwah yang tidak ada campurannya, dan dengan kafur yang di campur dengan uluwah, kemudian beliau berkata:

“Seperti inilah Rasulullah, beristijmar”.

_(HR. Nasa’i No seri hadits: 5152)_

Syeikh panutan wahabi; Albani ikut andil mensohehkan hadits ini. Cek di kitabnya _Shohihu wa dhoifu sunan An-nasai: No seri hadits: 5135._

→ Imam Nawawi mensyarahi hadits ini sebagai berikut:

الاستجمار هنا استعمال الطيب والتبخر به وهو مأخوذ من المجمر وهو البخور وأما الألوة فقال الاصمعي وأبو عبيد وسائر أهل اللغة والغريب هي العود يتبخر به

Yang di maksud dengan istijmar di sini ialah memakai wewangian dan berbukhur “berdupa” dengannya. Lafadz istijmar itu di ambil dari kalimat _Al majmar_ yang bermakna al bukhur “dupa” adapun Uluwah itu menurut Al Ashmu’i dan Abu Ubaid dan seluruh pakar bahasa arab bermakna kayu dupa yang dibuat dupa.

_(Syarh Nawawi ala muslim: 15/10.)_

Di tambah komentar Imam Nawawi pensyarah hadits ulung tentang hadits ini:

ويتاكد استحبابه للرجال يوم الجمعة والعيد وعند حضور مجامع المسلمين ومجالس ألذكر والعلم

Dan sangat kuat kesunnahan memakai wewangian (termasuk istijmar) bagi laki-laki pada hari Jum’at dan hari raya, dan saat menghadiri perkumpulan kaum muslimin dan majlis dzikir juga majlis ilmu.

_(Syarah nawawi ala muslim: 15/10)_.

Dan membakar dupa saat majlis dzikir, atau majlis pengajian itu sudah di contohkan oleh Imam Malik, seperti yang dijelaskan dalam biografi Imam Malik yang ditulis di belakang _Kitab Tanwirul Hawalik Syarah Muwattho’ Malik Imam Suyuti. Juz 3 no 166._

قال مطرف كان مالك إذا أتاه الناسخرجت اليهم الجارية فتقول لهم يقول لكم الشيخ تريدون الحديث أو المسائل؟ فإن قالوا المسائل خرج اليهم وافتاهم وان قالوا الحديث قال لهم اجلسوا ودخل مغتسله فاغتسل وتطيب ولبس ثيابا جددا وتعمم ووضع على رأسه الطويلة وتلقى له المنصة فيخرج اليهم وعليه الخشوع ويوضع عود فلا يزال يتبخر حتى يفرغ من حديث رسول اللهصلى الله عليه وسلم

Mutrif berkata: Apabila orang-orang mendatangi kediaman Imam Malik, maka mereka disambut oleh pelayan wanita beliau yang masih kecil lalu berkata kepada mereka, “Imam Malik bertanya apakah anda semua mau bertanya tentang hadits atau masalah keagamaan?

Jika mereka berkata “masalah keagamaan” maka, Imam Malik kemudian keluar kamar dan berfatwa, jika mereka berkata “hadits” maka beliau mempersilahkan mereka untuk duduk, kemudian beliau masuk kedalam kamar mandi, lalu mandi, dan memakai minyak wangi, kemudian memakai pakaian yang bagus, dan memakai sorban. Dan di atas beliau memakai selendang panjang di atas kepalanya, kemudian di hadapan beliau diletakkan mimbar (dampar) dan setelah itu beliau keluar menemui mereka dengan khusu’ lalu dibakarlah dupa hingga selesai dari menyampaikan hadits Rasulullah _shallallahu’alaihi wasallam_.

Sebenarnya Buhur / Bakhoor / Bukhoor memiliki banyak manfaat, yaitu :

•untuk pewangi rumah /ruangan.

•untuk aroma terapi

•pengobatan

•pada acara-acara khusus seperti pernikahan.

•untuk menciptakan suasana romantis di kamar tidur.

•digunakan untuk meningkatkan energi positif dan menghalau sprits yang tidak baik.

•digunakan di toko-toko komersial dan toko (khusus yang berhubungan dengan pakaian) untuk menarik pelanggan dan untuk meningkatkan pengalaman membeli mereka.

•meningkatkan mood dan memotivasi kreativitas..

BAU KEMENYAN DISUKAI NABI

Sering kali kita jumpai pembakaran kemenyan di tempat-tempat tertentu (misalnya makam para wali). Dan juga sering dijumpai pada acara-acara tertentu (seperti doa sedekah bumi) yang dilakukan secara islami dengan menggunakan bahasa Arab. Bagi sebagian warga bau kemenyan diidentikan dengan pemanggilan roh, dan sebagian yang lain menganggapnya sebagai pengharum ruangan, dan ada pula yang merasa terganggu dengan bau kemenyan. Bagaimanakah sebenarnya hukum menggunkan kemenyan? Baik dalam kehidupan sosial bermasyarakat maupun dalam urusan beribadah?

Mengharumkan ruangan dengan membakar kemenyan, dupa, mustiki, setinggi kayu gaharu yang mampu membawa ketenangan suasana adalah suatu hal yang baik. Karena hal ini itba’ dengan Rasulullah saw. beliau sendiri sangat menyukai wangi-wangian, baik minyak wangi, bunga-bungaan ataupun pembakaran dupa. Hal ini turun temurun diwariskan oleh beliau kepada sahabat dan tabi’in. Hingga sekarang banyak sekali penjual minyak wangi dan juga kayu gaharu, serta dupa-dupaan di sekitar Masjid Nabawi dan Masjidil Haram.<>

Beberapa hadits menerangkan tindakan sahabat yang menunjukkan kegemaran mereka terhadap wangi-wangian hal ini ditunjukkan dengan hadits: اذا جمرتم الميت فأوتروا Artinya: Apabila kamu mengukup mayyit, maka ganjilkanlah (HR. Ibnu Hibban dan Alhakim) Addailami juga menerangkan جمروا كفن الميت Artinya: Ukuplah olehmu kafan maayit Dan Ahmad juga meriwayatkan: اذا اجمرتم الميت فاجمرواه ثلاثا Artinya: Apabila kamu mengukup mayyit, maka ukuplah tiga kali Bahkan beberapa sahabat berwasiat agar kain kafan mereka diukup أوصى أبوسعيد وابن عمر وابن عباس رضي الله عنهم ان تجمر اكفنهم بالعود Artinya: Abu Said, Ibnu Umar dan Ibnu Abbas ra. Berwasiat agar kain-kain kafan mereka diukup dengan kayu gaharu Bahkan Rasulullah saw. pernah bersabda جنبوا مساجدكم صبيانكم وخصومتكم وحدودكم وشراءكم وبيعكم جمروها يوم جمعكم واجعلوا على ابوابها مطاهركم (رواه الطبرانى) Artinya; Jauhkanlah masjid-masjid kamu dari anak-anak kamu, dari pertengkaran kamu, pendarahan kamu dan jual beli kamu. Ukuplah masjid-masjid itu pada hari perhimpunan kamu dan jadikanlah pada pintu-pintunya itu alat-alat bersuci. (HR. Al-Thabrani).

Hadits-hadits di atas sebenarnya menunjukkan betapa wangi-wangian adalah sesuatu yang telah mentradisi di zaman Rasulullah saw dan juga para sahabat. Hanya saja media wangi-wangian itu bergeser bersamaan dengan perkembangan zaman dan teknlogi. Sehingga saat ini kita merasa aneh dengan wangi kemenyan dan dupa. Padahal keduanya merupakan pengharum ruangan andalan pada masanya.

Di satu sisi persinggungan dengan dunia pasar yang semakin bebas menyebabkan selera ‘wangi’ jadi bergeser. Yang harum dan yang wangi kini seolah hanya terdapat dalam parfum, bay fress dan fress room. Sedangkan bau kemenyan dan dupa malah diidentikkan dengan dunia klenik dan perdukunan. (*****

Komentar