SEBAGAIMANA kita ketahui, Walisongo yang menyebarkan Islam di Nusantara, berlangsung saat masih berdiri tegak sejumlah kerajaan yang berbasis agama. Seperti halnya Majapahit yang menjadikan Hindu sebagai agama utamanya. Begitu pula sebagian besar agama penduduknya kala itu. Dalam kondisi yang demikian, para wali tak lantas memvonis bahwa Nusantara adalah darul harb (negara kafir yang harus diperangi). Namun, justru menjadikannya saudara sehingga Islam bisa diterima engan baik.
Pada saat Islam mulai diterima luas pun, para wali tak lantas menyodorkan negara berbasis Islam (Darul Islam), sebagai pengganti dari haluan kerajaan yang beragama Hindu tersebut. Tapi, menyodorkan satu konsep bernegara yang disebut dengan Darussalam.
Darussalam secara kebahasaan berarti negara yang sejahtera nan damai. Dari sini, negara tak berorientasi pada penerapan Islam secara formalistik. Namun, lebih kepada menerapkan ajaran Islam secara esensial sehingga bisa mewujudkan suatu negara yang sejahtera rakyatnya, muslim maupun non-muslim. Mereka bisa hidup dengan damai. Percuma, mendakwahkan Islam rahmat bagi semesta alam, jika tak melahirkan kedamaian dan kesusahan bagi umatnya.
Baca juga: Pesantren Pada Masa Kolonial (4): Pesantren Sebagai Basis Pendidikan Nasional Indonesia
Hal ini sebagaimana terekam dalam naskah kuno Melayu koleksi British Library (BL Or 14350, f. 54v) berjudul Hikayat Raja-Raja Pasai. Saat Raja Malikus Shalih memeluk agama Islam dibawah bimbingan Syekh Ismail, tak lantas mengubah kerajaannya menjadi negara Islam. Tapi, menyebutnya sebagai negara Darussalam. Sehingga hal ini, menyebabkan rakyat dengan tulus ikhlas memeluk agama Islam, tanpa adanya paksaan.
“Maka apabila sudah berhimpunlah sekaliannya, maka diajarilah Syekh Ismail mengucap syahadat akan mereka itu sekaliannya. Maka, segala mereka itu pun ridlalah ay mengucap dua kalimat syahadat dengan tulus ikhlas, yakin hatinya. Sebab itulah maka dinamai daerah itu negeri Darussalam karena tiada sekaliannya orang itu dengan digagahi [diperangi]…”
1. Senjotone Kalimosodo
Kemana-mana hanya membawa Kalimosodo isi Kalimat Syahadat yaitu DZIKIR :
لا اله الا الله
Laa ilaaha illallooh,,, beserta isi dari kalimah itu yaitu ISMU DZAT (Dzikir Khofi).
2. Digdoyo Tanpo Aji
Walaupun dimarahi, diusir, dicaci maki bahkan di fitnah tetapi mentalnya teguh, dan tidak pernah sakit hati, justru Walisongo sangat mencintai orang² yang membencinya, karena orang yang membencinya itu masih belum faham dan juga masih belum mendapatkan hidayah.
Wali songo: “Teu medal sila upama kapanah”.
Maksudnya yaitu: Tidak pernah tersinggung dan marah walau disakiti dan dibenci, selalu berjaya walaupun tanpa kesaktian, karena mereka hanya berpegang teguh kepada Alloh SWT, aji pasrah lan tawakal billah.
3. Mabur Tanpo Lar (Terbang tanpa Sayap).
Pergi kedaerah nan jauh walaupun tanpa sebab yang nampak, maksudnya secara dzahir adalah:Setiap pepatah kata-katanya selalu jadi buah bibir masyarakat sampai ketempat jauh, berbekas dihati umat.Secara Batin adalah Ruh Qudsy walisongo sukmane urip lan bisa hadir di setiap tempat.
4. Mletik Tanpo Sutang (Meloncat Tanpa Kaki).
Pergi kedaerah yang sulit dijangkau seperti gunung-gunung juga tanpa sebab yang kelihatan. ITIHAD Manungguling semesta alam , Ana sirra – Ana ingsun, Puser jagat Qutubul Alamin.
5. Ngluruk Tanpo Wadyo Bolo.
Berdakwah dan berkeliling kedaerah lain tanpa membawa pasukan, tetapi dengannya membawa kasih sayang yang tulus penuh KELEMBUTAN, welas lan asih yang akan diterima oleh setiap orang disetiap daerah.
6. Tarung Tanpo tanding.
Selalu mengajak orang lain supaya memerangi nafsunya sendiri, tidak pernah berdebat, bertengkar atau berselisih faham, selalu toleransi dan menghormati semua keyakinan.Tidak ada yang menandingi cara kerja dan hasil kerja daripada mereka ini yang begitu luwes. Bir-Ruh, bil-Lisan, bil-Hal.
7. Menang Tanpo Ngesorake.
Menang Tanpa pernah merendahkan orang lain, mengkritik dan membanding-bandingkan, mencela orang lain bahkan tetap berbaik sangka, selalu melihat orang lain dari sisi kebaikannya.Ketika bayan di depan tidak pernah mencaci maki dengan kasar, tetapi begitu lemah lembut dan santun sehingga jadi rahmat bagi seluruh alam.
8. Mulyo Tanpo Punggowo.
Dimulyakan, disambut, dihargai, diperhatikan, walaupun mereka sebelumnya bukan orang Alim Ulama’, tidak pernah mesantren dan bukan pejabat, bukan sarjana ahli tetapi hanya manusia biasa yang sudah mengenal dirinya dan mengenal Tuhannya(marifat) yang menjadikan dakwah sebagai maksud dan tujuanya untuk menggapai ridha Alloh SWT.
9. Sugih Tanpo Bondo.
Mereka akan merasa kaya dalam hatinya. Keinginan bisa kesampaian terutama keinginan menghidupkan sunnah Nabi, bisa terbang kesana kemari dan keliling dunia melebihi orang terkaya.
Semoga bermanfaat.
SUMBER : Kitab Babad Tanah Jawi dan Perkembangan islam Di Timur Jauh, Al-Maktab-Al daimi.








Komentar