Oleh: Gus Qusyairi Zaini (Majlis Zikir Tauhid Padepokan Sadar Bumi Alif Kabupaten Sumenep)
DI ERA digital ini kita sangat mudah menjadikan medsos untuk menggunjing dan menghina kesalahan-kesalahan orang lain, sampai-sampai kerapkali kita gelap mata dan hampir saja lupa bahwa kita pun adalah manusia biasa yang disaat lain bisa pula khilaf dan berbuat dosa yang sama. Manusia itu bukan Malaikat yang istiqomah dalam taat, manusia itu adalah makhluk ysng didalamnya terkumpul dua elemen, elemen malakutiyah dan elemen syaitaniyah. Maka dari itulah Rasulullah SAW bersabda:
كل الناس خطاؤن و خير الخطائين التوابون
“Setiap manusia rentan berbuat dosa, dan sebaik-baik para pembuat dosa adalah mereka yg bertaubat..”
Rasulullah SAW bersabda:
ﻣَﻦْ ﻋَﻴَّﺮَ ﺃَﺧَﺎﻩُ ﺑِﺬَﻧْﺐٍ ﻟَﻢْ ﻳَﻤُﺖْ ﺣَﺘَّﻰ ﻳَﻌْﻤَﻠَﻪُ
“Barangsiapa menjelek-jelekkan saudaranya karena suatu dosa, maka ia tidak akan mati kecuali ia akan melalukan dosa tersebut.” (HR. Tirmidzi no. 2505)
Terkadang ada saudara kita yang melakukan dosa atau maksiat kepada Allah, kemudian kita jadikan itu sebagai bahan perbincangan atau ghibah. Padahal bisa jadi pelaku dosa tersebut kelak bertaubat dari dosa-dosa yang ia lakukan itu.
Syaikh Al-Mubarakfuri menjelaskan, orang yang suka menjadikan dosa orang lain sebagai bahan gosip, bisa jadi kelak ia akan terjerumus dalam dosa yang sama, hal itu karena ada faktor kagum terhadap dirinya sendiri, sombong dan merasa dirinya lebih suci dari si Pendosa. Seolah dia berkata: “Kamu kok bisa terjerumus dalam maksiat/dosa itu, lihatlah aku! Aku sulit terjerumus dalam dosa seperti yg kamu lakukan itu.” Tentu ini bentuk kesombongan yang nyata dan sangat merendahkan orang lain. Beliau berkata:
ﻳُﺠَﺎﺯَﻯ ﺑِﺴَﻠْﺐِ ﺍﻟﺘَّﻮْﻓِﻴﻖِ ﺣَﺘَّﻰ ﻳَﺮْﺗَﻜِﺐَ ﻣَﺎ ﻋَﻴَّﺮَ ﺃَﺧَﺎﻩُ ﺑِﻪِ ﻭَﺫَﺍﻙَ ﺇِﺫَﺍ ﺻَﺤِﺒَﻪُ ﺇِﻋْﺠَﺎﺑُﻪُ ﺑِﻨَﻔْﺴِﻪِ ﻟِﺴَﻼﻣَﺘِﻪِ ﻣِﻤَّﺎ ﻋَﻴَّﺮَ ﺑِﻪِ ﺃَﺧَﺎﻩُ
“Ia akan dibalas dengan dicabutnya jalan petunjuk sehingga ia kelak akan melakukan maksiat yang ia cela yang dilakukan oleh saudaranya. Hal tersebut karena ia telah sombong/kagum dengan dirinya sendiri, karena ia merasa selamat dari dosa tersebut.” [Tuhfatul Ahwadzi 7/173]
Demikian juga Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa orang yg gemar menjelek-jelekkan saudaranya, senang menggosip saudaranya yang telah melakukan dosa, maka kelak bisa jadi ia akan melakukan dosa tersebut.
ﻭَﻛُﻞُّ ﻣَﻌْﺼِﻴَﺔٍ ﻋُﻴِّﺮَﺕْ ﺑِﻬَﺎ ﺃَﺧَﺎﻙَ ﻓَﻬِﻲَ ﺇِﻟَﻴْﻚَ ﻳَﺤْﺘَﻤِﻞُ ﺃَﻥْ ﻳُﺮِﻳْﺪَ ﺑِﻪِ ﺃَﻧَّﻬَﺎ ﺻَﺎﺋِﺮَﺓٌ ﺇِﻟَﻴْﻚَ ﻭَﻻَ ﺑُﺪَّ ﺃَﻥْ ﺗَﻌْﻤَﻠَﻬَﺎ
“Setiap maksiat yang dijelek-jelekkan pada saudaramu, maka itu akan kembali padamu. Maksudnya, engkau kelak bisa dipastikan melakukan dosa tersebut.” [Madarijus Salikin 1/176]
Beliau melanjutkan penjelasan bahwa dosa mencela saudaranya yang telah melakukan dosa, itu lebih besar daripada dosa itu sendiri. Beliau berkata,
ﺃﻥ ﺗﻌﻴﻴﺮﻙ ﻷﺧﻴﻚ ﺑﺬﻧﺒﻪ ﺃﻋﻈﻢ ﺇﺛﻤﺎ ﻣﻦ ﺫﻧﺒﻪ ﻭﺃﺷﺪ ﻣﻦ ﻣﻌﺼﻴﺘﻪ ﻟﻤﺎ ﻓﻴﻪ ﻣﻦ ﺻﻮﻟﺔ ﺍﻟﻄﺎﻋﺔ ﻭﺗﺰﻛﻴﺔ ﺍﻟﻨﻔﺲ
“Ketika engkau mencela saudaramu yang melakukan dosa, maka celaanmu itu lebih besar dosanya daripada dosa yang dilakukan oleh saudaramu, dan maksiat itu juga lebih dahsyat, karena hal itu telah menghilangkan ketaatan dan merasa diri lebih suci.” [Madarijus Salikin 1/177~178]
Para ulama sudah mengingatkan mengenai hal ini. Seorang ulama bernama Ibrahim An-Nakha’i berkata:
”إني لأرى الشيء أكرهه، فما يمنعني أن أتكلّم فيه إلا مخافة أن أُبتلى بمثله”
“Sungguh, ketika aku melihat sesuatu yang tidak aku sukai, tidak ada yang menahanku untuk berkomentar dan membicarakannya kecuali karena aku khawatir kelak aku yang akan ditimpakan masalah yg aku benci itu di kemudian hari.”
Hasan Al Basri berkata:
كانوا يقولون من رمي أخاه بذنب قد تاب إلى الله منه لم يمت حتى يبتليه الله به
“Para sahabat dan tabi’in memiliki konsep, barang siapa yang mencela saudaranya, karena dosa-dosanya, sedangkan saudaranya itu sudah bertaubat kepada Allāh, maka si pencela tidak akan meninggal dunia kecuali dia akan mengalami dosa yg sama yg pernah dilakukan oleh saudaranya tersebut.” [Imam Abiddunya dalam Kitab As-Shamt]
Semoga kita bisa menjaga lisan dan tulisan kita, karena di era digital, baik lisan maupun tulisan sangat berbahaya jika tidak terkontrol. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
ﺇِﻥَّ ﺍﻟﺮَّﺟُﻞَ ﻟَﻴَﺘَﻜَﻠَّﻢُ ﺑِﺎﻟْﻜَﻠِﻤَﺔِ ﻟَﺎ ﻳَﺮَﻯ ﺑِﻬَﺎ ﺑَﺄْﺳًﺎ ﻳَﻬْﻮِﻱ ﺑِﻬَﺎ ﺳَﺒْﻌِﻴﻦَ ﺧَﺮِﻳﻔًﺎ ﻓِﻲ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ
“Sesungguhnya ada seseorang yang berbicara dengan satu kalimat, ia tidak menganggapnya berbahaya; padahal dengan sebab satu kalimat itu ia bisa terjungkal selama tujuh puluh tahun di dalam api neraka.”
Jika kita bisa menjaga lisan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan menjamin surga kepada kita. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
ﻣَﻦْ ﻳَﻀْﻤَﻦْ ﻟِﻲ ﻣَﺎ ﺑَﻴْﻦَ ﻟَﺤْﻴَﻴْﻪِ ﻭَﻣَﺎ ﺑَﻴْﻦَ ﺭِﺟْﻠَﻴْﻪِ ﺃَﺿْﻤَﻦْ ﻟَﻪُ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔَ
“Barang siapa yang menjamin untukku apa yang ada di antara dua rahangnya dan apa yang ada di antara dua kakinya, niscaya aku menjamin surga baginya.”
Ingat nasehat Syekh Ibnu Athoillah dalam kitab “Al-Hikam” nya:
معصية أورثت ذلاً وافتقاراً خير من طاعة أورثت عزاً واستكباراً
“Kemaksiatan yang berbuah kerendahan diri dan kefakiran (di hadapan Allah) lebih baik daripada amal ibadah yang melahirkan bibit kebanggan dan keangkuhan (sombong).”
@sorotan














Komentar