
Oleh : Ali Assegaf
Dalam WA Group – muncul pesan : Keterasingan pendukung Imam Hasan yang berkhianat.Keterasingan Syahid Sayid Hasan Nashrullah yang disensor di media massa
Mengingatkan saya menapak sebuah peristiwa panjang yang kini saatnya untuk saya menuliskannya, agar jadi bagian tahapan sejarah bersama beliau syahid Sayed Hasan Nasrullah
Setelah bisa live acara monumental kemenangan tahun 2006 – dimana satelit uplink al-manar tak masuk area ( footage) Indonesia – TVRI bisa menayangkan pidato beliau seingat saya 22 September 2006 yang monumental.
Sulitnya mendapatkan bantuan, dari penterjemah TKI dan kru TV dengan tampang berjenggot yang mendorong penterjemah menerjemahkan live ke TVRI – dari Sumber TV Al Alam saat itu, betul-betul peristiwa menegangkan dari keterbatasan EsDeEm karena penolakan yang didasari ketidak percayaan akan ada live di TVRI saat itu.
Semoga Allah merahmati almarhum Rulli Charis Direktur Operasional yang kemudian di pecat oleh sebab ini. Tak cukup dengan itu – sepeninggal jabatannya, film Ashabul Kahfi ditanyangkan tanpa legalitas yang mendorong somasi dan tuntutan.
Ditengah beban berat ekonomi, kesempatan peluang menuntut TVRI dapat jalan untuk dimaafkan atas restu SHN melalui perantaranya via telp. Kesempatan ini saya minta upah, yaitu kesediaan beliau untuk sedia diwawancarai. Hingga dititik inipun, saya diminta membuat text yang akan diwawancarai.
Sungguh sebuah zaman yang agak aneh, saya kesulitan sekali mendapatkan penterjemah yang membantu bahasa saya ke beliau, hingga akhirnya saya ucapkan sepenuhnya terimakasih kepada alm Ust Jalaluddin Rahmat yang telah membantu text ditranslate ke bahasa Arab.
Setelah text itu mendapatkan jawaban – saya membiarkan film ashabul kahfi ditayangkan dan meminta pak iwan hendrawan yang saat itu harus keluar dr dir operasional transTV karena membela anak buahnya, berujung resign.
Sampai titik ini – saya berangkat dari Iran nuju Lebanon untuk kedua kalinya, dimana yang pertama takut bertemu syahid yang mulia ini, kali ini saya tak punya agenda hingga bertemu sang syahid.
Pertemuan yang betul-betul tak punya persiapan, yang terlihat pakai kaos yang seharusnya tidak saya kenakan menemui beliau – tetapi karena saya ditemui semakin membuat kalut suasana batin.
Seingat saya ada 3 jam lebih saya bersama beliau – bukan karena banyaknya waktu bahasan, tetapi situasi tangisan yang tak henti… Bacaan yang kemudian mata saya berkaca menghalangi bacaan – shooting yang kemudian beliau.. Menunggu dengan sabar, saya berhenti dan mengambil air wudhu…
Kadang melewati lampu yang mati, hingga saya menyampaikan text bahasa Indonesia yang beliau syahid telah memegang translate Arab nya.
Ada hal yang saya ditanya dan baru saat ini dengan tulisan ini saya sampaikan. Pertama – beliau mengkhawatirkan jika kelak timbul masalah dengan tanyangan ini – spontan saya menjawab ya saya khawatir tidak tayang di Indonesia ( karena saya tahu situasi di negeri ini butuh perjuangan lagi memasukkan ke TVRI). Kedua beliau bertanya permintaan apa yang membantu saya – Saya menangis kembali – saya ingin beliau dan ruh serta jaringannya dapat membantu pecintanya di Indonesia sangat banyak – dan saya siap melayani.
Selesai perpisahan yang sulit hilang dalam bayangan saya, dihadapan Sayed Sami K – yang sudah lebih tahu keadaan saya. Saya kembali ke Iran sebelum ke Indonesia, atas bantuan Ust Hafidz Alkaf kaset video itu dapat di gulung demi terjaga sampai Indonesia.
Sesampainya Indonesia, bantuan rekan Bojonegoro Muh Hafi ( Humas Ijabi Jawa Timur) – menyewa tempat di Pasar Minggu, mencari translater – yang masih sangat kesulitan – hingga datang seorang hamba Allah Ust Otong Sulaiman – yang menterjemah video itu dengan sumpah agar tak menceritakan hingga tayang.
Tahap selesai ini, saya mengedit langsung di studio Pak Iwan Hendrawan dan memohon agar direktur operasional yang baru tidak melihat dan hanya percaya ke Pak Iwan.
Atas lobby beliau, yang saya tak lupa jasanya – rencana ada pembahas Ki Said Aqil Siraj dan Prof Amin Rais – hingga keduanya batal. Atas saran pak iwan mengajak dua tokoh yang kini dapat di lihat di Youtube ( key word : Ali Assegaf TVRI) –
Sampai disini saya meminta pak iwan agar memasukkan saya di sesion terakhir – hafi saya minta mengambil abaah – yang memang selain penuh beban dan keterbatasan, juga tanpa make up – dan alhamdulillah pada session akhir saya memang harus masuk.
Alakah beratnya saat itu, tetapi memang itu pesan awal yang saya minta dapat menanggung beban masuknya ke TVRI.
Selesai, tanyangan malam Nisfu Sya’ban di 2007 – saya menyampaikan bahwa telah ada perjanjian kontrak dg fihak TVRI – dan semua langkah ini sudah dibantu syahid Sayed Hasan Nasrullah – lahirnya dan bathinnya serta ruh yang menggelora di hati jika ingat ini saya menangis.
Menyampaikan punya slot di TVRI selama setahun, yang harus dibeayai – dan mengukur keterbatasan ekonomi, tetap tak dapat bantuan yang dibutuhkan berupa uang. Situasi seperti itu – masih ada yang mengatakan serahkan kontrak TVRI pada kami ( yang saya seakan bukan dari bagian ini) – nanti dipikirkan uangnya.
Dengan rasa kecewa luar biasa, dan juga sedih… Dipundak ini ada doa syahid Sayid Hasan Nasrullah yang ketika melihat tanyangan di TVRI informasi nya tersenyum hingga terlihat giginya. Ya Allah ini yang kulihat, ini yang kuharapkan kelak bisa bertemu sang syahid agung zaman ini.
Doa kumail, doa sobah, hadist-hadist Ahl Bait yang pernah keluar di TVRI berhenti karena dua keadaan yang terlihat dan yang tersembunyi
Yang terlihat di putus MUI .Yang tersembunyi karena tak ada beaya untuk melanjutkan dakwah ini sedikit nya yang membantu ,sehingga Allah muliakan terputus bukan karena meninggalkan sebab tak ada fulus… Setelah itu, bulan syawal – uji connecting IP berhasil dan bisa sewa satelit Indosat
Allah mengawal kecintaan pada SHN sehingga dapat memunculkan semua doa dan semua kajian, dan semua hadist di Indosat – sampai di Australia.Mudah-mudahan ini satu tapak bangsa dan komunitas pecinta Ahl Bait yang sadar dan merasa terhormat dengan jalan sejarah 2007
Saya berdoa jadi bagian kecil yang dapat stawab SHN kelak dihari bumi ditinggalkan.(****







Komentar