Oleh: Rangga Saptya Mohamad Permana, S.I.Kom., M.I.Kom., Ph.D.[1]
PEMIKIRAN mengenai krisis dalam sains modern menjadi salah satu perdebatan yang menarik dalam filsafat ilmu. Dalam bukunya The Passion of the Western Mind (1991), Richard Tarnas mengemukakan bahwa sains modern sedang berada pada titik awal menuju kehancuran. Oleh karena itu, ia menggunakan istilah crisis untuk menggambarkan kondisi tersebut. Di sisi lain, Thomas Kuhn memiliki pemahaman yang berbeda mengenai krisis. Bagi Kuhn, krisis merupakan sebuah proses menuju kedewasaan dan perubahan paradigma. Namun demikian, penulis lebih cenderung sepakat dengan pandangan Tarnas. Menurut penulis, kata crisis hampir selalu berasosiasi dengan keadaan yang negatif dalam berbagai konteks, sehingga lebih tepat dipahami sebagai tanda adanya persoalan mendasar yang mengancam keberlangsungan suatu sistem.
Pandangan Tarnas mengenai krisis sains modern tidak muncul tanpa alasan. Menurutnya, sains Barat menghadapi masalah serius karena beberapa postulat dasarnya terbukti bermasalah. Postulat-postulat seperti space, matter, causality, dan observation tidak lagi dapat diterima secara utuh sebagaimana sebelumnya. Ketika fondasi-fondasi tersebut mulai dipertanyakan, maka bangunan besar yang berdiri di atasnya pun ikut mengalami guncangan. Kondisi inilah yang kemudian melahirkan krisis dalam sains modern.
Persoalan tersebut menjadi semakin menarik ketika dikaitkan dengan karakteristik utama sains empirikal. Pada dasarnya, filsafat bertugas melalui kontemplasinya untuk menerangkan hal-hal rasional yang ada di sekitar kehidupan manusia, sedangkan sains empirikal digunakan untuk menganalisis knowability atau fenomena-fenomena yang ingin diketahui. Kedua bidang ini seharusnya terus dikembangkan karena keduanya memiliki peran penting dalam upaya manusia memahami realitas. Sains empirikal sendiri merupakan hasil telaah terhadap the external world, sehingga sangat bergantung pada proses pengamatan terhadap dunia di luar diri manusia.
Karakteristik utama sains empirikal adalah observasi dan kausalitas. Melalui observasi, manusia dapat mempersepsi berbagai stimulus yang datang dari dunia luar, yang kemudian melahirkan konsepsi-konsepsi tertentu. Namun, observasi bukan tanpa persoalan. Beberapa filsuf bahkan berpendapat bahwa observasi justru dapat menimbulkan skeptisisme karena keberadaan pengamat dapat memengaruhi objek yang diamatinya. Penulis cukup setuju dengan pandangan tersebut. Dalam praktik wawancara misalnya, seorang narasumber yang menyadari dirinya sedang diamati sering kali menjadi lebih kaku dan lebih terkontrol dibandingkan ketika ia berada dalam situasi sehari-hari. Dengan kata lain, proses observasi dapat mengubah kondisi alamiah objek yang sedang diamati.
Karakteristik kedua adalah kausalitas. Dalam dunia empiris, hubungan sebab-akibat hampir selalu ditemukan. Terlebih lagi dalam sains empirikal, kausalitas menjadi salah satu landasan utama dalam menjelaskan berbagai fenomena. Memang terdapat kemungkinan terjadinya peristiwa-peristiwa yang berada di luar rasio manusia, tetapi kemungkinannya sangat kecil dibandingkan dengan kejadian-kejadian yang berlangsung sesuai hukum alam. Menurut pandangan penulis, kausalitas tetap merupakan prinsip yang berlaku pada hal-hal yang lazim terjadi karena hukum alam telah menggariskan keteraturan tertentu dalam kehidupan. Oleh sebab itu, keberadaan kausalitas dalam sains empirikal tidak dapat diabaikan.
Menariknya, dua karakteristik utama sains empirikal tersebut—observasi dan kausalitas—justru termasuk di antara aspek-aspek yang dipersoalkan dalam krisis sains modern sebagaimana dikemukakan oleh Tarnas. Jika observasi dianggap tidak sepenuhnya netral dan kausalitas tidak lagi dipahami secara sederhana sebagaimana sebelumnya, maka fondasi epistemologis sains modern pun menjadi semakin rapuh. Di sinilah peran filsafat menjadi sangat penting. Filsafat tidak hanya berfungsi menjelaskan realitas secara rasional, tetapi juga mengkritisi asumsi-asumsi dasar yang digunakan oleh sains dalam memahami dunia.
Lebih jauh lagi, krisis sains modern tidak hanya berdampak pada ranah pemikiran, tetapi juga pada kehidupan manusia dan lingkungan. Sains modern dapat diibaratkan sebagai pisau bermata dua. Di satu sisi, ia menghasilkan berbagai teknologi yang membantu kehidupan manusia. Namun di sisi lain, ia juga berkontribusi terhadap berbagai bentuk kerusakan ekologis. Kontaminasi air, udara, dan tanah; kepunahan berbagai spesies tumbuhan dan hewan; pengrusakan hutan; erosi tanah; pengurasan air tanah; akumulasi limbah beracun; meningkatnya efek rumah kaca; kerusakan lapisan ozon; hingga pengurasan sumber daya alam merupakan sejumlah persoalan yang menunjukkan dampak negatif perkembangan sains dan teknologi yang tidak terkendali.
Kondisi tersebut diperparah oleh semakin melemahnya kepercayaan terhadap sains modern, bahkan di kalangan para ilmuwan Barat sendiri. Sulit membayangkan bagaimana sebuah sistem dapat terus bertahan apabila para pengembangnya mulai meragukan fondasi yang mereka bangun. Fenomena ini semakin menguatkan pandangan Tarnas bahwa sains modern sedang bergerak menuju arah yang mengkhawatirkan.
Pada akhirnya, perbedaan pandangan antara Tarnas dan Kuhn mengenai krisis sains menunjukkan bahwa persoalan ini tidak dapat dipahami secara sederhana. Namun demikian, penulis tetap lebih sepakat dengan pandangan Tarnas. Menurut penulis, berbagai persoalan yang muncul saat ini menunjukkan bahwa para ilmuwan modern telah kehilangan sebagian landasan filosofis yang seharusnya membimbing perkembangan ilmu pengetahuan. Akibatnya, sains modern tidak hanya mengalami krisis konseptual, tetapi juga berpotensi menjadi sumber berbagai persoalan yang mengancam kehidupan manusia dan dunia secara keseluruhan. Dalam situasi seperti ini, filsafat dan sains empirikal seharusnya tidak dipertentangkan, melainkan dipadukan agar manusia dapat memahami realitas secara lebih utuh sekaligus mengarahkan perkembangan ilmu pengetahuan ke jalan yang lebih bijaksana.(****
- Rangga Saptya Mohamad Permana adalah dosen tetap di Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran. Penulis biasa berkorespondensi melalui alamat email ranggasaptyamp@gmail.com.














Komentar