هللا ُ أَك َْبَُ، هللا ُ أَك َْبَُ، هللا ُ أَك َْبَُ، هللا ُ أَك َْبَُ، هللا ُ أَك َْبَُ، هللا ُ أَك َْبَُ، هللا ُ أَك َْبَُ، هللا ُ أَكْ، هللا ُ أَك َْبَُ، و َلِلّٰه ّ ا ْلَْمْدُ. ا ْلَْمْد ُ لِلّٰه ّ الَّذّي َ
ّْيَْ، وَجَعَل َ الْقُر َْبَن جَعَل َ ا ْلَْضْحَى عّيْدًا لّلْمُؤْمّنْيَا. َّبّْ وَحُب ّٰ الدُّن ّْيّْ الْقُلُوْب ّ مّن َ الشُّح ّٰ وَالْك ًْلً لّتَطْه شّعَارًا لّلْمُتَّق ّْيَْ، وَسَبّيّ
ْ َلَ إّلهه َ إ ََلَ ُتُْصَى. أَشْهَد ُ أَن ُعَد ُّ و َِّتّْ َلَ ت َلَ وَنَشْكُرُه ُ عَلَى نّعَمّه ّ ال َعَا َنَْمَدُه ُ سُبْحَانَه ُ وَتَُلَّ هللا ُ وَحْدَهَُلَ شَرّيْك َ لَهُ، وَأَشْهَد
َّنَ ُمَُمَّدٍ، وَعَلَى هُم َّ صَل ّٰ وَسَلّٰم ْ و ََبَرّك ْ عَلَى سَيّٰدٰهََنَ ُمَُمَّدًا عَبْدُه ُ وَرَسُوْلُهُ. اَلل أَن َّ سَيّٰدَّلَْ ِبّّحْسَان ٍ إ آلّه ّ وَصَحْبّه ّ وَمَن ْ تَبّعَهُم ّ
َيَا عّبَاد َ هللا َعْدُ، ف َوْم ّ الدّٰيْنّ. أَمَّا ب ي ّّْيَْ، وَطَرّيْق ُ النَّجَاة َّقْوَى زَاد ُ الْمُؤْمّن َقْوَى هللاّ، فَإّن َّ الت َفْسّي َ الْمُقَصّٰرَة َ بّت ، أُوْصّيْكُم ْ وَنِفّ
ََلَ دّمَاؤُهَا وَله َ ْلُُوْمُهَا و َنَال َ هللا َلَ ِفّْ كّتَابّه ّ الْكَر ّْيّْ: لَن ْ ي َعَا ْيَا وَا ْلْخّرَةّ. قَال َ هللا ُ ت الدُّن ْهى مّنْكُمَّقْو َنَالُه ُ الت كّن ْ ي.هللا ُ أَك َْبَُ، ُ
هللا ُ أَك َْبَُ، هللا ُ أَك َْبَُ، و َلِلّٰه ّ ا ْلَْمْد.
Ma’asyiral muslimin, jemaah Iduladha yang dimuliakan Allah,Kita hidup di zaman yang perlahan mendorong manusia menjadi semakin individualis.
Media sosial membuat orang sibuk menampilkan pencapaian pribadi. Budaya konsumtif membuat
orang terus ingin menambah untuk dirinya sendiri. Bahkan ungkapan self-love dan focus on
yourself, yang sebenarnya baik bila dipahami dengan tepat, kadang berubah menjadi alasan untuk
tidak peduli pada sekitar.
Kita punya banyak kontak, tetapi sedikit yang benar-benar hadir. Kita punya grup keluarga,
grup kerja, grup alumni, grup masyarakat, tetapi saat seseorang jatuh, ia sering tetap merasa
menanggung hidupnya sendiri. Kita mudah mengirim emoji peduli, tetapi berat mengulurkan
bantuan nyata. Kita cepat melihat penderitaan orang lain sebagai konten, tetapi lambat
menjadikannya panggilan iman.
Padahal Allah Swt mencela sikap orang yang tidak menggerakkan kepedulian kepada kaum
miskin. Allah Swt berfirman:ّ
ُ َبّلدّٰين أَرَأَيْت َ الَّذّي يُكَذّٰب.ََه لّك َ الَّذّي يَدُع ُّ الْيَتّيمفَذ.ّْيّه طَعَام ّ الْمّسْكََلَ َيَُض ُّ عَلَى و.
“Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak
yatim. Dan tidak menganjurkan untuk memberi makan orang miskin.” (Q.S. Al-Ma’un
Di titik inilah ironi hidup modern tampak jelas. Kita menjadi masyarakat yang mahir
berfoto di depan makanan mewah, tetapi tidak peka terhadap tetangga yang kelaparan. Kita sigap
membeli barang baru, tetapi lamban membantu orang kecil di sekitar kita. Kita fasih bicara tentang
hak-hak kita, tetapi sering diam saat ditanya tentang kewajiban kita kepada keluarga, tetangga, dan
masyarakat.
Inilah wajah individualisme yang Islam tegur melalui syiar kurban: manusia makin pandai
merawat dirinya, tetapi makin tumpul merasakan luka saudaranya. Ini bukan keresahan agama
semata. World Economic Forum dalam Global Risks Report 2024 menempatkan “polarisasi
sosial” sebagai salah satu risiko besar dunia. Ini tanda bahwa manusia modern sedang menghadapi
retaknya hubungan antarmanusia. Rasa saling percaya menipis. Kepedulian melemah. Orang
makin mudah hidup dalam lingkarannya sendiri, kepentingannya sendiri, dan kenyamanannya
sendiri. Di tengah keadaan seperti inilah syariat kurban datang sebagai teguran yang kuat. Allah
Swt berfirman:ََّ
ْهَا وَأَطْعّمُوا الْقَانّع َ وَالْمُعْت فَكُلُوا مّن.
“Makanlah sebagiannya dan berilah makan orang yang merasa cukup dengan apa yang
ada padanya (tidak meminta-minta) dan orang yang meminta-minta.” (Q.S. Al-Hajj [22]:
36).
Kemudian di ayat berikutnya Allah Swt menegaskan:ْ
هى مّنْكُمَّقْو َنَالُه ُ الت َ ْلُُوْمُهَا و ََلَ دّمَاؤُهَا وَلهكّن ْ ي َنَال َ هللا لَن ْ ي.
“Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah,
tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaanmu.” (Q.S. Al-Hajj [22]: 37).
Dua ayat ini menunjukkan bahwa kurban tidak boleh dipahami berhenti pada urusan
daging. Memang dagingnya dimakan dan dibagikan, tetapi pesan terdalamnya adalah pendidikan
tentang kepedulian dan takwa. Kurban mengajarkan bahwa rezeki bukan untuk dinikmati sendiri,
kebahagiaan bukan untuk disimpan sendiri, dan hidup seorang mukmin tidak boleh menjadi hidup
yang individualis.ُ
هللا ُ أَك َْبَُ، هللا ُ أَك َْبَُ، هللا ُ أَك َْبَُ، و َلِلّٰه ّ ا ْلَْمْد
,
Jemaah Iduladha yang berbahagia,
Al-Qur’an pernah menceritakan sekelompok pemilik kebun. Mereka punya hasil panen.
Mereka tahu ada orang miskin yang biasa berharap bagian dari kebun itu. Tetapi ketika musim
panen datang, hati mereka justru menyempit. Mereka tidak berpikir, “Siapa yang bisa kita bantu?”
Mereka malah berpikir, “Bagaimana caranya agar orang miskin tidak datang?” Allah
menggambarkan niat mereka:
َوْم َ عَلَيْكُم ْ مّٰسْك ّْيْن َّهَا الْي ْ َلَّ يَدْخُلَن اَن.
“Pada hari ini jangan sampai ada orang miskin yang masuk ke dalam kebunmu.” (Q.S. Al-
Qalam [68]: 24).
Lalu apa yang terjadi? Sebelum mereka menikmati panen itu, Allah hancurkan kebun
mereka. Mereka datang pagi-pagi dengan rencana kikir, tetapi yang mereka temukan bukan buah
yang siap dipanen, melainkan kebun yang telah rusak. Baru saat itu mereka sadar. Baru saat nikmat
hilang, mereka mengerti bahwa menutup pintu bagi orang miskin adalah kezaliman.
Kisah ini seperti memberikan tamparan keras bagi kita. Kadang Allah memberi kebun
dalam bentuk lain: gaji, jabatan, usaha, rumah, kendaraan, makanan yang cukup, keluarga yang
sehat, hidup yang lapang. Tetapi manusia sering lupa bahwa setiap nikmat membawa ujian.
Ujiannya bukan hanya apakah kita bersyukur dengan lisan, tetapi apakah nikmat itu membuat
tangan kita terbuka atau justru membuat hati kita terkunci.ُ
هللا ُ أَك َْبَُ، هللا ُ أَك َْبَُ، هللا ُ أَك َْبَُ، و َلِلّٰه ّ ا ْلَْمْد
,
Jemaah Iduladha yang berbahagia,
Sebaliknya, Allah juga mengabadikan wajah iman yang berbeda. Dalam riwayat Bukhari
dan Muslim, seorang tamu datang kepada Rasulullah saw. Di rumah Nabi tidak ada makanan. Lalu
seorang laki-laki Anshar membawa tamu itu ke rumahnya. Ternyata makanan mereka pun hanya
sedikit, cukup untuk anak-anak. Tetapi anak-anak ditidurkan, lampu dipadamkan, dan tuan rumah
berpura-pura ikut makan agar tamunya tidak sungkan. Allah Swt memuji mereka karena mampu
mendahulukan orang lain di atas kebutuhan dirinya sendiri:
َ ِبّّم ْ خَصَاصَةن ْفُسّهّم ْ وَلَوْ كَان ُؤْثّرُوْن َ عَلهى أَن وَي.
“Mereka mengutamakan (Muhajirin) daripada dirinya sendiri meskipun mempunyai
keperluan yang mendesak.” (Q.S. Al-Hasyr [59]: 9).
Lihat bedanya, jemaah sekalian. Pemilik kebun dalam Surah Al-Qalam punya hasil panen
melimpah, tetapi takut orang miskin ikut merasakan. Keluarga Anshar hanya punya sedikit
makanan, tetapi rela menahan lapar demi memuliakan tamu. Di sinilah kita melihat dua wajah
manusia: satu wajah yang dikuasai ego, satu lagi wajah yang diterangi iman. Kurban mengajak
kita memilih wajah yang kedua. Wajah orang yang tidak takut berkurang karena berbagi, tidak
merasa rugi ketika orang lain ikut bahagia, dan paham bahwa nikmat dari Allah tidak boleh
berhenti di piring kita sendiri, di rumah kita sendiri, dan di keluarga kita sendiri. Hidup seorang
mukmin harus menjadi hidup yang tidak individualis: terbuka kepada sesama, peka kepada orang
lemah, dan ringan berbagi dengan sekitar.
Rasulullah saw bahkan pernah memberi nasihat yang sangat sederhana kepada Abu Dzarr.
Beliau bersabda,َ
َعَاهَد ْ ج ّْيَْانَك إّذَا طَبَخْت َ مَرَقَة ً فَأَكْثّر ْ مَاءَهَا، وَت.
“Apabila engkau memasak kuah (makanan berkuah), maka perbanyaklah airnya dan
perhatikanlah (berbagilah dengan) tetanggamu.” (H.R. Muslim.)
Nasihat ini sederhana, tetapi maknanya dalam. Nabi tidak berkata, “Kalau engkau punya
makanan banyak, barulah berbagi.” Nabi mengajarkan: bahkan ketika yang kita punya hanya kuah,
perbanyak sedikit airnya, lalu berbagi ke tetangga. Jangan makan sendirian. Jangan menikmati
nikmat sendirian. Jangan biarkan aroma masakan sampai ke rumah sebelah, tetapi kepedulian kita
tidak sampai ke sana. Karena Rasulullah saw sudah mengingatkan:ّ
َّلَ جَنْبّه إنلَيْس َ الْمُؤْمّن ُ الَّذّي ْ يَشْبَع ُ وَجَارُه ُ جَائّع.
“Bukanlah seorang mukmin yang kenyang sementara tetangganya lapar di sampingnya.”
(H.R. Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad).
Ini peringatan yang tidak boleh kita abaikan. Nabi saw tidak ingin kita rajin hadir dalam
ibadah, tetapi absen ketika orang lain membutuhkan uluran tangan. Hari ini jangan pulang hanya
membawa cerita tentang berapa ekor hewan yang disembelih. Pulanglah dengan pertanyaan yang
lebih jujur: bagian mana dari diri kita yang ikut berubah? Apakah kikir kita mulai patah? Apakah
hati kita mulai lembut? Apakah mata kita mulai peka melihat orang miskin, anak yatim, tetangga
susah, buruh kecil, dan saudara yang diam-diam menahan beban?ُ
هللا ُ أَك َْبَُ، هللا ُ أَك َْبَُ، هللا ُ أَك َْبَُ، و َلِلّٰه ّ ا ْلَْمْد
,
Jemaah Iduladha yang dimuliakan Allah,
Maka mari jauhi hidup yang terlalu individualis. Jauhi hati yang hanya sibuk menjaga
kepentingan sendiri. Jauhi kebiasaan menutup mata dari orang miskin. Jauhi cara hidup yang selalu
bertanya, “Apa untungnya bagi saya?” Mulailah bertanya, “Siapa yang bisa saya bantu? Siapa
yang bisa saya ringankan? Siapa yang bisa ikut merasakan nikmat yang Allah titipkan kepada
saya?”
Kurban bukan hanya menyembelih sapi atau kambing. Kurban adalah menyembelih kikir
untuk menjadi pribadi yang tidak individualis serta mau berbagi dan peduli dengan sekitar.
Semoga Allah menerima kurban kita. Semoga Allah melembutkan hati kita. Semoga Allah
menjauhkan kita dari hidup yang terlalu individualis. Semoga Iduladha ini membuat kita lebih
ringan berbagi dengan sekitar, lebih cepat peduli, lebih peka kepada orang lemah, dan lebih
bermanfaat bagi sesama. Aminْلَْ
ْلَّْيَت ّ وَالذّٰكْر ّ ا َِنّْ وَإ َّّيَّكُم ْ ِبَّا فّيْه ّ مّن َ ا َفَع ْ ِفّ الْقُرْآن ّ الْعَظّيْمّ، وَن ُ ِلّْ وَلَكُم َبَرَك َ هللاِّْل ََغْفّر ُ هللا هذَا، وَأَسْتِْلّْ ه َو ُوْل ُ ق كّيْمّ. أَق ْ
َغْفّرُو ّْيَْ وَالْمُسْلّمَاتّ، فَاسْت وَلَكُم ْ وَلّسَائّر ّ الْمُسْلّم ُهُ، إّنَّه ُ هُو َ الْغَفُوْر ُ الرَّحّيْم.
Khotbah Keduaْلَْ
هللا ُ أَك َْبَُ، هللا ُ أَك َْبَُ، هللا ُ أَك َْبَُ، هللا ُ أَك َْبَُ، هللا ُ أَك َْبَُ، هللا ُ أَك َْبَُ، هللا ُ أَك َْبَُ، و َلِلّٰه ّ اكَث ّْيًْا َحَْدًا ،َّْْي مْدُ. ا َْلَْمْد ُ لِلّٰه ّ رَب ّٰ الْعَالَم ْ
َرْضَى. أَش ُّنَا وَي َيُّب ُّ رَب َكًا فّيْهّ كَمَاطَيّٰبًا مُبَارََنَ ُمَُمَّدًا عَبْدُه ُ وَرَسُوْلُهُ. ُ َلَ شَرّيْك َ لَهُ، وَأَشْهَد ُ أَن َّ سَيّٰد َّلَّ هللا ُ وَحْدَه ْ َلَ إّلهه َ إ هَد ُ أَن َ
َعْدُ، ف ّْيَْ. أَمَّا ب َّنَ ُمَُمَّدٍ، وَعَلَى آلّه ّ وَأَصْحَابّه ّ أ َْجَْع هُم َّ صَل ّٰ وَسَلّٰم ْ و ََبَرّك ْ عَلَى سَيّٰدٰهاَلل ّيَا عُقَاتّهّ، َّقُوا هللا َ حَق َّ ت بَاد َ هللاّ، اّت ُ
ََّنَّ ِبًَّلَئّكَتّه ّ الْمُسَبّٰحَة ّ بّق َفْسّهّ، وَث ْ ِبَّمْر ٍ عَظّيْمٍ، بَدَأ َ فّيْه ّ بّن َكُموَاعْلَمُوْا أَن َّ هللا َ أَمَرََعَا َلَ: إّن َّ هللا َ وَم ًَلَئّكَتَه ُ يُصَلُّوْن َقَال َ ت دْسّهّ، ف ََّي
عَلَى النَّبّّٰ، ََّنَ ُمَُمَّدٍ، وَعَل هُم َّ صَل ّٰ عَلَى سَيّٰدٰهُّهَا الَّذّيْن َ آمَنُوا صَلُّوْا عَلَيْه ّ وَسَلّٰمُوا تَسْلّيْمًا. اَلل أَيَّنَ ُمَُمَّدٍ، كَمَا ى آل ّ سَيّٰد
ْرَاهّيْمَ. و ََبَرّك ْ عَلَى َّنَ إّب ْرَاهّيْمَ، وَعَلَى آل ّ سَيّٰد َّنَ إّب صَلَّيْت َ عَلَى سَيّٰدََكْتَبَر َّنَ ُمَُمَّدٍ، كَمَا َّنَ ُمَُمَّدٍ، وَعَلَى آل ّ سَيّٰد سَيّٰد ُ
هٰهن. اَللَمَّيْد نَ َحَّيْد ّْيَْ، إّنَّك ِفّ الْعَالَم ْرَاهّيْمَ، َّنَ إّب ْرَاهّيْمَ، وَعَلَى آل ّ سَيّٰد َّنَ إّب عَلَى سَيّٰدّْيَْ وَالْمُسْلّمَاتّ، م َّ اغْفّر ْ لّلْمُسْلّم ّ
وَالْمُؤْمّن ََنَا، وَدُع ُر َْبَن َنَا، وَق َقَبَّل ْ مّنَّا ص ًَلَت هُم َّ تٰهْهُم ْ وَا ْلَْمْوَاتّ. اَلل ْيَْ وَالْمُؤْمّنَاتّ، ا َْلَْحْيَاء ّ مّن ْهُم َّ اجْعَلٰهاء ََنَ، وَصَالّح َ أَعْمَالّنَا. اَلل َ
ْبًا مَغْفُوْرًا، وَسَعْي َنَا ذَن ْب ُو َْلً، وَذَن َْبََنً مَقْب ُر َنَا ق ُر َْبَن قَّٰنَا مّن َ الشُّح ُلُوْب هُم َّ طَهّٰر ْ قٰهًَلً صَا ْلًّا م ََبُْوْرًا. اَلل نَا سَعْيًا مَشْكُوْرًا، وَعَمَلَنَا عَم ْ
َح ُ وَأَخُوَفْر ََلَ ِمَّّن ْ ي ، ونَّ َلَ َتَْعَلْنَا ِمَّّن ْ يَشْبَع ُ وَجَارُه ُ جَائّع هُمٰهْلََْنَنّيَّةّ. اَلل َّبّْ وَا وَالْك َََل، ونه ُ حَزّيْن ُّ ِفّ الضّٰيْق ِمَّّن ْ يَسْتَّيْح ُ وَإّخْوَانُهْ
ْلَْْيَْ لّلنَّاسّ، وَيُطْعّمُو ُّوْن َ ا َيُّب َ ّْيَْ، الَّذّيْن هُم َّ اجْعَلْنَا مّن ْ عّبَادّك َ الْمُتَّقٰهوَالْمَشَقَّةّ. اَللََر َْحَُوْن ُوْن َ الْمُحْتَاجَ، وَي ْن ن َ الطَّعَامَ، وَيُعّي َ
َف َت الضَّعّيْفَ، وَيَقْوَى ََنَ عّيْد َ ر ََحَْة ٍ وَمَغْفّرَة ٍ وَت هُم َّ اجْعَل ْ عّيْدٰهّْيَْ. اَلل ْلّْْيَْان َ وَالْفُقَرَاء َ وَالْمَسَاك قَّدُوْن َ اَبًا َنَا سَب ُر َْبَن هُم َّ اجْعَل ْ قٰه. اَلل
ُلُوْبّنَا، ّْيّْ ق َلْي َبًا لّت َنَا، وَسَب ْن َي َبًا لّلر ََّحَْة ّ ب لّلْقُرْب ّ مّنْكَ، وَسَبهُم َّ أَصْلّح ْ أَحْوَالَنَا،ٰهُفُوْسّنَا. اَلل ْلََْنَنّيَّة ّ مّن ْ ن َبًا لّزَوَال ّ الشُّح ّٰ وَا وَسَب
َّتَّ وَالْمّحَنّ، مَا ظَهَرَ ّْيَْ مّن َ الْف ََنَ وَب ًّلَد َ الْمُسْلّم هُم َّ احْفَظ ْ ب ًّلَدٰهّْيَْ. اَلل وَأَحْوَال َ الْمُسْلّمْفُسَنَا، َّنَا ظَلَمْنَا أَن ْهَا وَمَا بَطَنَ. رَب مّن
َر َْحَْنَا، لَنَكُوْنَن َّ مّن َ ا ْلَْاسّرّيْنَ. َغْفّر ْ لَنَا وَت َلَْ ت ْ وَإّنََِفّ ا ْلْخّرَة ّ حَسَنَةً، وَقّنَا عَذَاب َ النَّارّ. عّبَاد ْيَا حَسَنَةً، و ِفّ الدُّن َّنَا آتّنَا رَبّ
ْهَى عَن ّ الْفَحْشَاء ّ وَالْمُنْكَر َن ْتَاء ّ ذّي الْقُر َْبَ، وَي ُ َبّلْعَدْل ّ وَا ْلّْحْسَان ّ وَإّي َ َيَْمُر هللاّ، إّن َّ هللا ََّغْيّ، يَعّظُكُم ْ لَعَل وَالْبكُم ْ تَذَكَّرُوْنَ. ََُْب
ْكُمْ، وَاشْكُرُوْه ُ عَلَى نّعَمّه ّ يَزّدْكُمْ، وَلَذّكْر ُ هللا ّ أَك َْبَُ. هللا ُ أَكفَاذْكُرُوا هللا َ الْعَظّيْم َ يَذْكُر ُ، هللا ُ أَك َْبَُ، هللا ُ أَك َْبَُ، و َلِلّٰه ّ ا ْلَْمْد.
Kurban sebagai Teguran terhadap Hidup yang Terlalu Individualis














Komentar