oleh

“Bagaikan Malaikat Tak Bersayap”, Kang Dedi Mulyadi Tengok Santriwati Korban Pencabulan Guru Ngaji, Blusukan ke Pelosok di Garut Selatan

Dedi Mulyadi
Garut, LINTAS PENA. Walaupun harus menempuh perjalanan cukup jauh sekitar 8 jam dari Purwakarta, kondisi jalan berliku dan rusak parah,serta tiba di lokasi pada malam hari, Kang Dedi Mulyadi mantan Bupati Purwakarta yang kini anggota DPR RI ini akhirnya bisa menemui sejumlah santri yang menjadi korban kebiadaban Herri Wirawan oknum guru ngaji di Pondok Tahfidz dan Madani Boarding School Cibiru Bandung.

            “Perjalanan saya ke pedalaman Garut Selatan ini untuk mengunjungi rumah santriwati korban tindak asusila yang dilakukan oknum guru ngaji di Bandung, yang belakangan ini viral di dunia maya. Ya memang, tidak mudah untuk mencapai rumah mereka di pedalaman Garut Selatan, sehingga Tim KDM harus menempuh perjalanan jarak jauh dengan jalan yang tidak begitu bagus. Bahkan dari kota di Garut selatan saja menuju kampung mereka memakan waktu tujuh jam.”ungkapnya.

            Tidak sampai di situ, untuk menuju salah seorang rumah korban tidak bisa diakses menggunakan mobil. Alhasil ia pun diantar aparat desa menggunakan motor menuju lokasi.”Untuk bisa sampai ke sana hanya bisa pakai motor karena kondisi jalan tidak begitu bagus,” ucapnya Minggu (12/12/2021).

            Dengan didampingi kepala  desa setempat, Dedi Mulyadi pun akhirnya bertemu dengan korban dan orang tuanya, yang berrada di daerah Kab.Garut bagian selatan. Terlihat korban sudah semakin membaik dan mulai menata kembali kehidupannya yang normal.Meski demikian masih ada beberapa korban yang hingga kini masih merasa ketakutan dan trauma dengan apa yang dialaminya. Sehingga masih perlu waktu dan bimbingan untuk kembali normal. “Alhamdulillah, rata-rata mereka sudah mulai membaik, bahkan ada korban yang sudah ingin sekolah atau masantren lagi. Ini kondisi yang bagus,” ujarnya.

            Setelah mendengar keinginan korban untuk bisa melanjutkan pendidikan, Kang Dedi Mulyadi yang “Bagaikan Malaikat Tak Bersayap” itu menyatakan siap  menjadi orangtua asuh bagi para santriwati korban pencabulan guru ngaji di Pondok Tahfidz Al Ikhlas dan Madani Boarding School di Bandung itu.” Insha Allah, saya akan membiaya semua kebutuhan sekolah mereka.  Bahkan ada beberapa santriwati yang ingin ikut ke Purwakarta untuk sekolah dan masantren (pesantren). Akhirnya saya ajak mereka ke sana karena saya juga punya pesantren. Para orangtuanya sudah mengizinkan,” kata Dedi.

            Berdasarkan informasi yang didapat langsung dari pengakuan korban, Kang Dedi Mulyadi mengungkapkan, bahwa korban pencabulan Herry Wirawan jumlahnya bisa lebih dari belasan orang. Para korban pencabulan guru ngaji bejat   itu sebagian besar berasal dari Garut selatan, dan sisanya dari daerah lain. “Sebenarnya korbannya bisa lebih dari belasan orang. Namun ada beberapa orangtua yang masih tidak percaya. Korban mayoritas dari Garut selatan karena memang pelakunya berasal dari Garut selatan. Pelaku sengaja mencari korban dari kampung pedalaman di Garut karena dianggap lugu.

            Sebagaimana banyak diberikan media dan viral di dunia maya sebelumhnya,belasan santriwati menjadi korban pencabulan guru di Pondok Tagfidz dan Madani Boarding School bernama Herry Wirawan. Sebagian korban sudah melahirkan dan ada yang masih hamil. Peristiwa itu sudah terjadi sejak 4 tahun lalu, dan baru terungkap bulan Mei 2021, serta belakangan viral. Bahkan ada anak hasil pencabulan pelaku yang sudah berusia 4 tahun. Pelaku dijerat pasal berlapis dan bisa diancam dengan hukuman hingga 20 tahun penjara.
            Dalam channel youtube #KANGDEDIMULYADI.CHANNEL, wakil rakyat yang merakyat ini, berharap pengadilan bisa memberikan hukuman sebanding dengan apa yang dialami korban. Sehingga hukuman tersebut bisa membuat jera para pelaku kejahatan seksual lainnya.

            Selain itu, Dedi Mulyadi mengaku kagum kepada kepala desa yang berjuang dan gigih membela warganya yang menjadi korban amoral guru ngaji biadab. “Saya sangat kagum pada Pak Kades yang masih muda ini. Sebab, dia sangat gigih membela warganya yang menjadi korban kebejadan oknum guru ngaji. Sejak bulan Mei 2021 lalu dia bolak-balik ke Polda Jawa Barat dengan jarak tempuh perjalanan selama 6-7 jam.

Kondisi badannya sampai drop, sehingga dia pernah terpapar virus dan terpaksa menjalani isolasi selama satu bulan saat itu. Kini dia sudah sehat kembali dan berada di tengah-tengah warganya. Selain gigih mengurus korban dan keluarga korban oknum guru ngaji, kades ini juga aktif mengubah karakter masyarakat di wilayahnya. Tadinya masyarakat wilayahnya adalah penebang kayu hutan, kini berubah menjadi penanam pohon karet. Dia sangat anti terhadap perusakan alam. Pesannya kepada saya, mohon bantuan agar Leuweung Sewu diamankan dari penjarahan hutan dan penambangan emas liar yang sampai hari ini masih berlangsung. Semoga Pak Kapolda Jawa Barat dan Pak Kapolres Garut segera menindaklanjuti keluhan Pak Kades yang heroik ini.”pungkas Wakil Ketua Komisi IV DPR RI ini. (REDI MULYADI)***

Komentar