Oleh: Hendri Hendarsah
ASN MTs Negeri 2 Kota Tasikmalaya
Ibarat permainan sepak bola, membaca buku sudah kalah telak dengan yang browsing internet. Hasil studi Central Connecticus State University yang dikutip Taman (2019) menyebutkan bahwa minat baca masyarakat Indonesia hanya sebesar 0,01 persen atau satu berbanding sepuluh ribu. Ironinya angka ini berbanding terbalik dengan jumlah pengguna internet yang mencapai separuh dari total populasi penduduk Indonesia atau sekitar 132,7 Juta.” Dalam buku yang sama Tamam (2019) menjelaskan “Gerakan literasi harus terus digeliatkan. Minimalnya, kita dan keluarga masuk kepada golongan masyarakat literat”.
Sumber yang dikutip Kompas.com. Rata-rata orang Indonesia membaca buku hanya 34 kali seminggu, dengan waktu membaca rata-rata 3059 menit per hari. Hal ini berbeda dengan waktu yang dihabiskan untuk browsing internet dengan menggunakan handphone/komputer dengan durasi yang digunakan hampir separuh hari.
Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), angka melek huruf penduduk Indonesia di atas usia 15 tahun telah mencapai 96,07%. Ini membuktikan bahwa Indonesia mungkin memiliki minat baca yang tinggi. Tapi faktanya justru sebaliknya. Fakta ini juga ditegaskan oleh survei tiga tahunan terakhir minat baca dan tontonan anak Indonesia oleh Badan Pusat Statistik (BPS) diduga, hanya 17,66% anak Indonesia yang berminat membaca. Disisi lain, 91,67% orang tertarik menonton.
Kemajuan bangsa tidak terlepas dari tingkat literasinya. Mengapa? Bagaimanapun, literasi tidak dapat dipisahkan dari praktik kemajuan pendidikan nasional. Finlandia adalah contoh nyata. Finlandia merupakan salah satu negara dengan tingkat pendidikan tertinggi di dunia.
Dengan adanya data di atas, tentunya kita tidak boleh langsung menyalahkan individu. Menurut Trini Hayati, pendiri Yayasan Pengembangan Perpustakaan Indonesia, dikutip Kompas.com, salah satu penyebab anak kurang tertarik membaca adalah sulitnya mengakses buku. Tanpa buku yang layak dibaca, semangat membaca yang tinggi menjadi tidak berarti. “Peminatnya banyak, tapi akses buku sulit. Akibatnya minat baca anak jadi hilang,” Trini mengatakan seperti dikutip Kompas.com, Kamis (11 Mei 2017).
Ia mengatakan, rendahnya minat baca di Indonesia disebabkan minimnya akses terhadap buku. “Tidak semua sekolah memiliki perpustakaan yang layak. Begitu juga dengan perpustakaan daerah.” Sekolah Dasar di Indonesia hanya 45,9% yang memiliki perpustakaan. Akibatnya, SD tidak memiliki perpustakaan, kebanyakan berada di kawasan timur Indonesia, dengan batasan usia dari Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi, Maluku hingga Papua, dan buku-buku dalam kondisi buruk.
Membaca Bukan Hanya Sebuah Gerakan Tapi Harus Pembiasaan
Kemajuan teknologi yang ada seharusnya turut membantu penyebaran buku di setiap pelosok nusantara. Namun kenyataannya, kemajuan teknologi membuat orang sulit membaca buku halaman demi halaman. Semuanya sudah tersedia di internet.
Akibatnya, mereka lebih cenderung melihat ringkasan, ulasan singkat di blog dan media sosial, dan menebak sisanya. Sekarang mari kita mulai memikirkan cara untuk meningkatkan minat membaca dalam jangka waktu yang panjang. Bagaimana? Mulailah dengan mengambil langkah kecil dan secara bertahap membiasakan diri membaca buku.
Membaca bisa menjadi gaya hidup hari ini bagi para penggiat literasi, karena ciri terpenting dari masyarakat terpelajar adalah tingginya minat dan kegemaran membaca. Membaca adalah suatu kegiatan untuk mendapatkan informasi dan belajar dari membaca dengan suatu tujuan. Banyak istilah merupakan kombinasi dari membaca dan wawasan, seperti “membaca membuka jendela ke dunia.” Arti istilah ini adalah membaca memberi kita wawasan yang luas, termasuk informasi dari seluruh dunia yang pada awalnya tidak kita ketahui.
Dengan membaca, kita dapat meningkatkan kualitas dengan lebih baik. Membaca menjadikan masyarakat, khususnya generasi muda seperti pelajar, menjadi orang yang kreatif, inovatif, cerdas, dan penyayang yang bangga dengan budaya membaca mereka.
Banyak sekali bahan bacaan, salah satu contohnya adalah buku. buku adalah bacaan terbaik dan paling efektif untuk wawasan yang baik. Ada banyak informasi di internet, tetapi mungkin ada hal-hal di internet yang tidak pantas dan baik untuk dilihat siswa. Pemerintah telah bekerja untuk menciptakan budaya membaca dalam kehidupan anak-anak di sekolah dan negara.
Upaya telah dilakukan untuk menetapkan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Pasal 4 (5) Sistem Pendidikan Nasional tentang Pokok-pokok Pendidikan Melalui Budaya Baca. Kemudian, berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Olahraga, Iptek No. 23 Tahun 2015 “Pengembangan Kepribadian”, siswa akan memulai kegiatan membaca selama 15 menit tanpa teks sebelum memasuki kelas khusus. Inisiatif lainnya seperti perpustakaan keliling yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah. Upaya tersebut telah terealisasi, namun pelaksanaannya belum efektif. Pojok-pojok baca masih terlihat sepi bagi para pembaca.
Saung-saung literasi terkadang tidak terawatt karena tidak ada aktivitas yang menghidupkan saung-saung tersebut. Deretan buku yang tidak terawat menjadi lapuk bahkan kusam karena terkena air hujan yang bocor dari atas langit-langit saung literasi.
Fakta dilapangan yang penulis lihat, pelajar Indonesia lebih banyak mengoleksi kaset lagu daripada buku yang memuat nilai moral, budaya, minat, dan pengetahuan. Sebagai penguatan, lebih banyak siswa menghabiskan waktu mereka di dekat pusat perbelanjaan daripada di perpustakaan lokal atau sekolah.
Untuk memajukan budaya baca di kalangan pelajar Indonesia, hal ini dapat dicapai dengan melaksanakan kegiatan, bukan hanya Gerakan tapi pembiasaan contohnya membaca satu halaman per hari. Ini berarti bahwa setiap siswa harus membaca setidaknya satu halaman buku setiap hari. Buku untuk dibaca adalah buku yang dibawa pulang dari rumah dengan syarat mengandung nilai-nilai pendidikan, dan tentunya berdampak positif. Kegiatan ini merupakan peningkatan dari kegiatan pemerintah yang hanya membutuhkan waktu membaca selama 15 menit.
Semakin banyak buku, semakin banyak pengetahuan yang dapat diperoleh siswa. Membaca dapat menjauhkan peserta didik dari kebodohan dan memperoleh banyak wawasan. Membaca menjadikan siswa sebagai budaya hidup yang memberikan dampak dalam membentuk karakter siswa yang beriman dan berakhlak mulia. Karena kita sadari bahwa otak kita perlu nutrisi yang bergizi melalui membaca hal-hal yang bermanfaat setelah aktivitas membaca kalam Ilahi.








Komentar