Oleh : Ely Elyakim, S.Pd. (Guru SDN 2 Gunungpereng Kota Tasikmalaya)
BAGAIMANA jika anak-anak tidak hanya diminta menjawab soal, tetapi diberi sebuah masalah dan ditantang untuk menemukan cara menyelesaikannya? Mereka mengamati, berdiskusi, mengukur, menghitung, membuat rancangan, memilih bahan, membangun model, mengujinya, lalu memperbaiki ketika hasilnya belum sesuai harapan. Dalam proses tersebut, berbagai pengetahuan tidak lagi dipelajari secara terpisah, tetapi digunakan bersama untuk menghasilkan solusi. Inilah salah satu gambaran pembelajaran melalui pendekatan STEM—Science, Technology, Engineering, and Mathematics.
Kesempatan untuk mendalami pendekatan tersebut saya peroleh ketika terpilih mengikuti Course on STEM for Mathematics Learning yang diselenggarakan oleh SEAMEO Regional Centre for QITEP in Mathematics (SEAQiM) pada 16–29 Juli 2026 di Yogyakarta. Program ini diikuti oleh 31 guru terpilih dari tujuh negara Asia Tenggara, yaitu Brunei Darussalam, Kamboja, Indonesia, Lao PDR, Malaysia, Myanmar, dan Thailand. Untuk mengikutinya, peserta harus melalui beberapa tahap seleksi mulai dari seleksi administrasi, wawancara dalam bahasa Inggris, hingga tes yang juga dilaksanakan dalam bahasa Inggris.
STEM Bukan Sekadar Membuat Produk. STEM merupakan pendekatan yang mengintegrasikan Science, Technology, Engineering, dan Mathematics dalam konteks pemecahan masalah. Keempat bidang tersebut saling terhubung, tetapi penerapannya dapat memiliki titik tekan tertentu sesuai tujuan pembelajaran. Dalam pelatihan yang saya ikuti, misalnya, matematika menjadi salah satu fokus melalui STEM for Mathematics Learning. Artinya, konsep matematika dipelajari secara lebih bermakna dengan menghubungkannya dengan sains, teknologi, dan proses rekayasa dalam menyelesaikan masalah. Karena itu, STEM bukan sekadar kegiatan membuat benda atau menghasilkan produk. Anak tidak sekadar membuat. Anak berpikir melalui apa yang dibuatnya.
Dari Pelatihan ke Komunitas Belajar. Sepulang dari pelatihan, pengetahuan dan pengalaman tersebut saya bagikan melalui kegiatan diseminasi dalam komunitas belajar SDN 2 Gunungpereng. Rekan-rekan guru tidak hanya mendapatkan penjelasan mengenai STEM, tetapi juga diajak mengalami prosesnya secara langsung melalui berbagai tantangan. Mereka berdiskusi, merancang, membuat, menguji, dan mengevaluasi solusi yang dihasilkan. Dari kegiatan tersebut kami melihat bahwa STEM tidak selalu membutuhkan robot, komputer, laboratorium, atau peralatan mahal. Bahan-bahan sederhana di sekitar dapat menjadi sumber belajar ketika dipadukan dengan masalah dan tantangan yang dirancang secara tepat. Yang harus canggih bukan selalu alatnya, melainkan proses berpikir yang dibangun melalui pembelajarannya.
Saat STEM Hadir di Kelas V. Langkah berikutnya adalah mengimplementasikan STEM bersama peserta didik kelas V SDN 2 Gunungpereng. Peserta didik bekerja dalam kelompok menghadapi sebuah tantangan dan diminta menghasilkan solusi menggunakan bahan-bahan sederhana. Mereka membuat rancangan, melakukan pengukuran dan perhitungan, menentukan strategi, membangun prototipe, kemudian mengujinya. Tidak semua rancangan langsung berhasil. Ada kelompok yang harus mengubah ukuran, memperbaiki konstruksi, bahkan membongkar sebagian hasil pekerjaannya. Namun, justru di situlah proses belajar terjadi. Ketika sebuah rancangan belum berhasil, anak diajak mencari tahu: Mengapa ini terjadi? Bagian mana yang harus diperbaiki? Apa yang dapat diubah agar hasilnya lebih baik? Mereka kemudian mencoba kembali berdasarkan hasil pengamatan dan pemikiran kelompoknya. Proses merancang–membuat–menguji–mengevaluasi–memperbaiki memberikan pengalaman bahwa kegagalan bukan akhir dari pembelajaran. Kegagalan dapat menjadi informasi untuk menemukan solusi yang lebih baik. Pada saat yang sama, peserta didik belajar bernalar, berkomunikasi, bekerja sama, mempertahankan gagasan dengan alasan, serta berani mencoba alternatif solusi.
Dari Belajar, Berbagi, hingga Berdampak Pengalaman ini memberikan satu refleksi penting bagi saya sebagai guru yaitu pelatihan seharusnya tidak berhenti ketika kegiatan selesai atau sertifikat diterima. Pengetahuan yang diperoleh perlu dibawa kembali ke sekolah, dibagikan kepada rekan sejawat, kemudian diterjemahkan menjadi pengalaman belajar bagi peserta didik. STEM mungkin masih terdengar baru bagi sebagian masyarakat. Namun, penerapannya dapat dimulai dari ruang kelas dan bahan-bahan sederhana. Hal yang terpenting adalah menghadirkan persoalan yang membuat anak menggunakan pengetahuan dari berbagai bidang untuk berpikir dan menemukan solusi.
Melalui pembelajaran seperti ini, kita tidak hanya berharap anak mampu menjawab pertanyaan yang diberikan guru. Kita ingin mereka tumbuh menjadi anak yang ketika menghadapi masalah berani mengatakan: “Mari kita cari tahu. Mari kita coba. Kalau belum berhasil, kita perbaiki dan coba lagi.”. Dari ruang kelas sederhana itulah kemampuan berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, dan keberanian memecahkan masalah dapat mulai tumbuh.(****













Komentar