
Oleh. Abah Yusuf Bachtiar (Sesepuh Kabuyutan Gegerkalong Bandung dan Tokoh Budaya Sunda)
SARITEM satu tempat di kota Bandung , tempat transaksi seksual yg dilokalisir oleh pemerintah kota Bandung. Zaman walikota Dada Rosyada, sempat didirikan Pesantren Darrut Taubah , hingga sekarang. Walaupun berdiri pesantren, namun tempat tersebut, orang mengenalnya tempat kotor. Banyak yang tidak tahu tentang, darimana, siapa sosok perempuan yang membela hak-hak perempuan di era kolonial Belanda. Tempat tersebut adalah markas pergerakan Nyi Saritem melawan penjajah Belanda. Siapakah Nyi. Saritem.?
Nyi Saritem adalah salah satu tokoh penting dalam sejarah perlawanan rakyat Indonesia, terutama dalam perjuangan melawan penjajahan Belanda di Jawa Barat, khususnya di daerah Priangan, pada abad ke-19. Nyi Saritem adalah seorang pejuang yang gigih dan berani, yang memimpin perlawanan rakyat melawan Belanda.
Latar Belakang Nyi Saritem: Nyi Saritem lahir di daerah Sumedang, Jawa Barat, pada tahun 1840-an. Ia adalah seorang wanita yang kuat dan berani, yang memiliki kepedulian besar terhadap nasib rakyatnya yang menderita di bawah penjajahan Belanda. Pada saat itu, Belanda menerapkan sistem tanam paksa, yang memaksa rakyat untuk menanam tanaman ekspor seperti kopi, teh, dan nila, dengan upah yang sangat rendah.
Perlawanan Nyi Saritem: Nyi Saritem memimpin perlawanan rakyat melawan Belanda dengan cara mengorganisir dan memotivasi rakyat untuk melawan penindasan. Ia juga bekerja sama dengan pejuang lainnya, seperti Pangeran Diponegoro, untuk memperkuat perlawanan. Nyi Saritem juga menggunakan kecakapannya dalam bidang pengobatan tradisional untuk membantu rakyat yang terluka dalam pertempuran.
Wafat Nyi Saritem: Nyi Saritem wafat pada tahun 1886, setelah ditangkap dan diasingkan oleh Belanda. Namun, semangat perlawanan yang ia bangkitkan terus berlanjut dan menjadi inspirasi bagi generasi-generasi selanjutnya dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Nyi Saritem adalah contoh nyata dari keberanian dan ketabahan rakyat Indonesia dalam menghadapi penjajahan.
Sekelumit Pejuang Mojang Parahiyangan di Kota Bandung , selain Rd. Dewi Sartika dan Rd. Inggit Garnasih (Ibu Negara, Istri Presiden Pertama RI, Ir. Soekarno).
Cag!@Abah Yusuf-Doct//Kabuyutan
18 Jumadil Awal 1447 H – 11 November 2025 M












Komentar