SETIAP kali mendengar Bunga Wijayakusuma yang kerap terlintas adalah sebuah bunga yang misterius dan bunga yang mekar hanya di malam hari. Ya, malam dan misterius inilah yang kemudian membuat bunga yang satu ini menjadi terkenal bahkan sarat dengan mitos.
Berbeda pula dengan cerita tentang Bunga Wijayakusuma yang menjadi simbol bagi masyarakat Cilacap Jawa Tengah. Dari legenda yang diceritakan Raden Andri Anto tentang Bunga Wijayakusuma, menurutnya merupakan bunga gaib yang berasal dari legenda mistis.
” Bunga ini secara fisik memang ada, tetapi banyak orang yang mencari bunga Wijayakusuma yang ‘asli’ dari alam gaib,” ujar spiritualis/paranormal muda asal Pemalang ini kepada LINTAS PENA
Raden Andri Anto mengungkapkan, bahwa legenda ini bercerita tentang adanya seorang perempuan dari sebuah kerajaan yang lari mengasingkan diri ke pantai selatan. Sang putri lari karena tidak ingin dinikahkan. Pengasingan diri yang dilakukannya ini, kemudian membuatnya melakukan tapa dan meminta ketentraman kemudian menyeburkan diri ke laut.
“Menurut cerita, si putri ini mengandung dalam alam gaib dan anak yang dilahirkan cacat dan sosok anak ini digambarkan sebagai bunga wijayakusuma yang sewaktu-waktu berubah menjadi orang cacat,” tutur
Hingga saat ini, ia mempercayai banyaknya orang yang hilang atau tenggelam di pantai selatan karena banyak yang ‘sembarangan’ tidak menghormati penguasa gaibnya. “Sebenarnya ada syarat yang tidak banyak diketahui orang saat mandi di pantai daerah selatan seperti di Pantai Nusawungu. Di sana ada tempat air tawar yang menjadi syarat sebelum mandi di pantai. Banyak orang yang hilang karena tidak melakukan syarat tersebut..”tuturnya.
Kisah Mitos Kesaktian Kembang Wijayakusuma dan Nyi Roro Kidul
Dalam sebuah buku Belajar Spiritual bersama The Thinking General yang mengungkapkan kalau Bunga Wijayakusuma memiliki berkah bagi orang Jawa. Bahkan dalam kisah pewayangan bunga ini disebut sebagai pusaka milik Bathara Kresna, titisan Dewa Wisnu sang pemelihara alam semesta.
Dalam budaya Keraton Yogyakarta dan Surakarta, calon raja diharuskan memetik Bunga Wijayakusuma yang mekar sebelum naik tahta. Raja yang berhasil memetik bunga ini yang sedang mekar menurut mitos diyakini akan membawa kejayaan bagi kerajaan yang dipimpinnya kelak.
Menurut Raden Andri Anto, sda kepercayaan yang tak lekang oleh waktu, bahwa raja Mataram yang baru dinobatkan tidak akan sah diakui dunia kasar dan halus, kalau belum berhasil memetik Bunga Widjojokoesoemo sebagai pusaka keraton. Mengapa harus memetik bunga itu, dan mengapa kini beredar bunga Wijayakusuma yang lain?
“Tradisi memetik bunga itu didasarkan atas kepercayaan, bahwa pohon yang menghasilkan bunga itu jelmaan pusaka keraton Batara Kresna. Batara titisan Wisnu ini kebetulan menjadi Raja Dwarawati. Letaknya di dunia pewayangan sana.Menurut keterangan, cara memetik bunga Wijayakusuma tidak dengan tangan tetapi dengan cara gaib melalui samadi. Sebelumnya para utusan raja melakukan upacara “melabuh” (sedekah laut) di tengah laut dekat pulau Karang Bandung (Majethi). Sebelum dipetik, pohon itu dibalut terlebih dahulu dengan cinde sampai ke atas.
Dengan berpakaian serba putih utusan itu bersamadi di bawahnya, jika memang samadinya terkabul, Kembang Wijayakusuma akan mekar dan mengeluarkan bau harum. Kemudian bunga itu jatuh dengan sendirinya ke dalam kendaga yang sudah dipersiapkan. Selanjutnya kembang tersebut dibawa para utusan ke Kraton untuk dihaturkan ke Sri Susuhunan / Sri Sultan. Penyerahan itu pun dilakukan dengan upacara tertentu.”paparnya
Konon, kembang itu dibuat sebagai rujak dan disantap raja yang hendak dinobatkan, dengan Wijayakusuma Kembang Raja-Raja Tanah Jawa . Peristiwa terjadinya kembang Wijayakusuma pada jaman Prabu Aji Pramosa dari Kediri itu setelah bertahun-tahun menimbulkan kepercayaan bagi raja-raja di Surakarta dan Yogyakarta.
Menurut cerita, setiap ada penobatan raja baik Susuhunan di Surakarta maupun Kesultanan di Yogyakarta mengirim utusan 40 orang ke Nusakambangan untuk memetik Kembang Wijayakusuma.
Sebelum melakukan tugas pemetikan, para utusan itu melakukan ziarah ke makam-makam tokoh leluhur di sekitar Nusakambangan seperti Pasarehan Adipati Banjaransari di Karangsuci, Adipati Wiling di Donan, Adipati Purbasari di Dhaunlumbung, Kyai Singalodra di Kebon Baru dan Panembahan Tlecer di Nusakambangan. Tempat lain yang juga diziarahi yaitu Pasarehan Kyai Ageng Wanakusuma di Gilirangan dan Kyai Khasan Besari di Gumelem (Banjarnegara).
“Selain ziarah atau nyekar, mereka melakukan tahlilan dan sedekah kepada fakir miskin. Malam berikutnya “nepi” (bermalam) di Masjid Sela. Masjid Sela adalah sebuah gua di pulau Nusakambangan yang menyerupai Masjid. Pemetikan kembang Wijayakusuma juga dilakukan pada masa pemerintahan Susuhunan Pakubuwono XI, yaitu saat Sunan Pakubuwono XI baru “jumenengan” (dinobatkan sebagai raja)”pungkas Raden Andri Anto. (*****











Komentar