Oleh: Gus Qusyairi Zaini (Majlis Zikir Tauhid Padepokan Sadar Bumi Alif Kabupaten Sumenep)
BERSORBAN itu merupakan style atau gaya busana para Malaikat dan para Nabi, juga para syuhadaa’ di zaman awal Islam. Bersorban bukan sekedar identitas “Haji” bagi pemakainya, juga bukan sekedar penanda bahwa pemakainya adalah seorang yang alim/ulama’. Kerapkali orang beranggapan bahwa sorban/imamah itu hanya boleh dipakai bagi orang yang sudah melaksanakan ibadah haji, dan atau hanya boleh dikenakan oleh para ulama’. Padahal tidaklah demikian. Memakai sorban/imamah itu sunnah Nabi dan merupakan kebiasaan para salafunassholeh. Siapapun boleh memakai sorban di kepalanya dg niat ittiba’ atau mengikuti sunnah Nabi. Kesunnahan memakai sorban itu adalah di lilitkan di kepala, bukan hanya disandangkan di bahu. Dalam literatur Islam, salah satunya dalam kitab كتاب العمامة المكورة – تاريخها وسير معتمريها, memakai imamah/bersorban di jelaskan sebagai berikut:
العمامة زينة للرجل وجمال لمظهره وهيبته ووقاره، أثِر عن علي بن ابي طالب (ر) أنه قال:” جمال الرجل في عمّته وجمال المرأة في خفها”، وفي الأمثال :” أجمل من ذي عمامة” ، وهو من أمثال مكة، قيل في سعيد بن العاص بن أمية المعروف “بذي العمامة”، وكان إذا لبس العمامة في الجاهلية لا تلبس قريش عمامة على لونها، وقيل : إنه كناية عن السيادة، وذلك لأن العرب تقول: سيد معمم، يريدون أن كل جناية يجتنيها الجاني من القبيلة، فهي معصوبة برأسه، وإلى مثل هذا ذهبوا في تسميتهم سعيد بن العاص :”ذا العمامة وذا العصابة”.
لبس رسول الله (ص) العمامة، وكانت له عمامة تسمى السحاب كساها علياً وكان يلبسها ويلبس تحتها القلنسوة، وكان يلبس القلنسوة بغير عمامة، ويلبس العمامة بغير قلنسوة، وكان إذا اعتم أرخى عمامته بين كتفيه، روي مسلم في صحيحه عن عمرو بن حريث قال: “رأيت رسول الله (ص) على المنبر وعليه عمامة سوداء، قد أرخى طرفيها بين كتفيه”، وكان للنبي عمامة تسمى “الحوكتية”.
عُرف النبي بصاحب العمامة، لأن العمامة من صفات العرب، وخاصة أشرافهم ورؤساؤهم، وقد جعل بعض العلماء لبسه العمامة من علامات النبوة التي يعرف بها عند بعثته، وقد نُسب إليه عليه السلام قوله: “العمائم تيجان العرب، فإذا وضعوا العمائم وضع الله عزهم”، “اعتموا تزدادوا حلما”.
ولمكانة العمامة في الإسلام وصفت بأنها لباس الملائكة، ففي خبر يوم بدر :أن الله سبحانه عزز المسلمين بملائكة، عليهم عمائم بيض، وقيل عمائم صفر، وقيل عمائم سود، وقال بعضهم وقد وفق بين هذه الروايات: الملائكة يوم بدر كانوا بعمائم صفر، وبعضهم بعمائم بيض، وبعضهم بعمائم سود وبعضهم بعمائم حمر، وقيل إن الملائكة أرسلت أيضا يوم حنين وعليها عمائم.
أصبح التعميم غي الإسلام سُنة، جاء رجل على عمر بن الخطاب فقال: “يا أبا عبد الرحمن، العمامة سُنة، فقال: نعم، قال رسول الله (ص) لعبد الرحمن بن عوف: اذهب فأسدل عليك ثيابك والبس سلاحك، فقيل ثم أتى النبي (ص) فقبض ما سدل بنفسه، ثم عممه فسدل من بين يديه ومن خلفه وكان الرسول (ص) قد عمم نفراً من أصحابه منهم علي بن أبي طالب، وعبد الرحمن بن عوف، وكان لا يولي والياً حتى يعممه، فقال مالك: “العمة والاحتباء والانتعال من عمل العرب”، وصار الاعتمام في الإسلام مقرونا بالحلم ففي حديث أبي مليح عن أبيه أن الرسول (ص) قال : اعتمّوا تزدادوا حلماَ.
ولأهمية العمامة في الحياة الإسلامية فقد جاءت أحاديث صحيحة وأخرى يشوبها الوضع، فمن الأحاديث المقبولة حديث ركانة قال: سمعت النبي (ص) يقول: “فرق بيننا وبين المشركين العمائم على القلاس”، ويروى أن رسول الله (ص)، دعا علي بن أبي طالب (ر) يوم غدير خم فعممه وأرخى عذبة العمامة من خلفه، ثم قال:” هكذا فاعتموا فإن العمائم سيماء الإسلام، وهي الحاجز بين المسلمين والمشركين”. وهناك أحاديث أخرى لم أجدها في كتب الحديث المعتمدة بل جاءت في الكتب المتأخرة مثل كتاب “الدعامة في أحكام سُنة العمامة” من مثل :”عليكم بالعمائم فإنها سيماء الملائكة وأرخوا لها خلف ظهوركم”، ” وركعتان بعمامة خير من سبعين بلا عمامة” و “إن الله وملائكته يصلون على أصحاب العمائم يوم الجمعة”، ولا شك أن هذه الروايات، سواء أصحّت أم لم تصح، فيها دلالة على أهمية العمامة في الحياة الإسلامية، واهتمام المسلمين بلبسها والتجمّل بها، وخاصة في المناسبات الإسلامية، كالأعياد وصلاة الجماعة وغيرها، ومن صور هذه المكانة الكبيرة للعمامة في نفوس المسلمين منذ عهد مبكر، قول عمر بن الخطاب (ر) حين قدم إليه رجل يشكو إليه عدي بن أرطاة في أرضه، فقال عمر: “قاتله الله، أما والله ما غرّنا إلاّ بعمامته السوداء”.
Artinya:
Sorban merupakan perhiasan bagi laki-laki, sekaligus memperindah penampilan, menambah kewibawaan, dan menunjukkan ketenangan sikapnya.
Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib (ra) bahwa beliau berkata: “Keindahan seorang laki-laki terletak pada sorbannya, dan keindahan seorang perempuan pada alas kakinya.”
Dalam pepatah Arab juga disebutkan: “Lebih indah daripada orang yang bersorban.” Ini termasuk peribahasa masyarakat Mekkah, yang dinisbatkan kepada Sa’id bin al-‘Ash bin Umayyah, yang dikenal dengan julukan “Dzu al-‘Imamah (pemilik sorban)”. Dikisahkan bahwa ketika ia mengenakan sorban pada masa jahiliyah, orang-orang Quraisy tidak memakai sorban dengan warna yang sama dengannya. Ada pula yang mengatakan bahwa ungkapan itu merupakan kiasan tentang kepemimpinan, karena orang Arab menyebut pemimpin sebagai “sayyid mu‘ammam (pemimpin yang bersorban)”. Maksudnya, segala tanggung jawab atau kesalahan yang dilakukan anggota kabilah akan dipikul di atas kepalanya. Dari sinilah mereka menjuluki Sa’id bin al-‘Ash dengan sebutan “Dzu al-‘Imamah” dan “Dzu al-‘Ishabah”.
Rasulullah ﷺ juga mengenakan sorban. Beliau memiliki sorban yang disebut “as-Sahab (awan)”, yang kemudian diberikan kepada Ali (ra). Beliau terkadang memakainya, dan kadang mengenakan peci (qalansuwah) di bawah sorban. Terkadang beliau memakai peci tanpa sorban, dan terkadang memakai sorban tanpa peci. Jika beliau bersorban, ujung sorbannya dijulurkan ke antara kedua bahunya.
Dalam riwayat Muslim dari Amr bin Huraits, ia berkata: “Aku melihat Rasulullah ﷺ di atas mimbar dengan mengenakan sorban hitam, dan kedua ujungnya terjulur di antara kedua bahunya.” Disebutkan pula bahwa Nabi memiliki sorban yang dinamakan “al-Hawkatiah.”
Nabi ﷺ dikenal sebagai pemilik sorban, karena sorban merupakan ciri khas bangsa Arab, khususnya para pembesar dan pemimpin mereka. Bahkan sebagian ulama menjadikan pemakaian sorban sebagai salah satu tanda kenabian yang dikenali saat beliau diutus.
Dinukil pula ucapan beliau: “Sorban adalah mahkota orang Arab; apabila mereka meninggalkannya, Allah akan mencabut kemuliaan mereka.” Dan sabda beliau: “Bersorbanlah, niscaya kalian akan bertambah sifat santun.”
Karena kedudukan sorban dalam Islam, ia juga digambarkan sebagai pakaian para malaikat. Dalam kisah Perang Badar, disebutkan bahwa Allah menolong kaum Muslimin dengan para malaikat yang memakai sorban putih; ada pula yang mengatakan kuning, dan ada yang mengatakan hitam. Sebagian ulama mengompromikan riwayat-riwayat ini dengan menyatakan bahwa para malaikat pada hari Badar ada yang bersorban kuning, ada yang putih, ada yang hitam, bahkan ada yang merah. Disebutkan pula bahwa para malaikat diutus kembali pada Perang Hunain dengan mengenakan sorban.
Memakai sorban kemudian menjadi sunnah dalam Islam. Diriwayatkan bahwa seorang lelaki datang kepada Umar bin al-Khattab (ra) dan berkata: “Wahai Abu ‘Abdurrahman, apakah sorban itu sunnah?” Umar menjawab: “Ya.”
Diceritakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda kepada Abdurrahman bin ‘Auf: “Pergilah, kenakan pakaianmu dan persenjataanmu.” Lalu ia datang kepada Nabi ﷺ, kemudian beliau sendiri merapikan pakaiannya dan memakaikan sorban kepadanya, dengan menjulurkan ujungnya ke depan dan ke belakang.
Rasulullah ﷺ juga pernah memakaikan sorban kepada beberapa sahabat, diantaranya Ali bin Abi Thalib dan Abdurrahman bin ‘Auf. Bahkan beliau tidak mengangkat seorang pemimpin kecuali terlebih dahulu memakaikan sorban kepadanya.
Imam Malik berkata: “Memakai sorban, duduk ihtiba’, dan memakai sandal adalah kebiasaan bangsa Arab.”
Dalam Islam, bersorban juga dikaitkan dengan sifat santun, sebagaimana dalam hadits: “Bersorbanlah, niscaya kalian akan bertambah kesabaran dan kelembutan.”
Karena pentingnya sorban dalam kehidupan Islam, terdapat banyak hadits tentangnya, baik yang shahih maupun yang lemah. Diantara hadits yang diterima adalah riwayat dari Rukanah, bahwa Nabi ﷺ bersabda: “Perbedaan antara kami dan kaum musyrik adalah sorban di atas peci.”
Diriwayatkan pula bahwa Rasulullah ﷺ pada hari Ghadir Khum memanggil Ali bin Abi Thalib (ra), lalu memakaikan sorban kepadanya dan menjulurkan ujungnya ke belakang, kemudian bersabda: “Beginilah kalian bersorban, karena sorban adalah syiar Islam dan pembeda antara kaum Muslimin dan kaum musyrik.”
Ada pula riwayat-riwayat lain yang tidak ditemukan dalam kitab-kitab hadits yang terpercaya, melainkan muncul dalam kitab-kitab belakangan, seperti “ad-Di‘amah fi Ahkam Sunnah al-‘Imamah”, di antaranya: “Pakailah sorban, karena ia adalah tanda para malaikat, dan julurkanlah ke belakang,” atau hadits yg berbunyi: “Dua rakaat dengan sorban lebih baik daripada tujuh puluh rakaat tanpa sorban,” serta hadits “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada orang-orang yang bersorban pada hari Jumat.”
Meskipun riwayat-riwayat ini diperselisihkan keshahihannya, namun tetap menunjukkan betapa pentingnya sorban dalam kehidupan umat Islam, serta perhatian mereka untuk memakainya dan berhias dengannya, terutama dalam momen-momen keagamaan seperti hari raya, shalat berjamaah, dan lainnya.
Salah satu gambaran besarnya kedudukan sorban di hati kaum Muslimin sejak masa awal adalah ucapan Umar bin al-Khattab (ra) ketika didatangi seorang lelaki yang mengadukan ‘Adi bin Arthah terkait tanahnya. Umar berkata: “Semoga Allah membinasakannya! Demi Allah, tidaklah ia menipu kami kecuali dengan sorbannya yang hitam.”
فتشبهوا إن لم تكونوا مثلهم
إن التشبه باالكرام فلاح












Komentar