oleh

Santri Dari Masa Ke Masa

Oleh: Abah Yusuf Bachtiar (Sesepuh Kabuyutan Gegerkalong Bandung dan Tokoh Budaya Sunda)

PANGERAN SANTRI, juga dikenal sebagai Kusumadinata I atau Raden Solih, adalah seorang tokoh penting dalam sejarah Sumedang Larang. Beliau merupakan penguasa Sumedang Larang yang pertama kali menganut agama Islam dan berperan besar dalam penyebaran agama Islam di wilayah tersebut.

Pangeran Santri lahir sekitar tahun 1505 Masehi dengan nama Raden Solih. Ayahnya bernama Pangeran Pamelekaran, seorang ulama dan tokoh penyebaran Islam yang juga kerabat Keraton Kesultanan Cirebon. Ibunya bernama Matangsari.

Pangeran Santri menikah dengan Ratu Pucuk Umum, penguasa Sumedang Larang ketujuh, yang kemudian menjadi istrinya. Pernikahan ini tidak hanya mengakhiri masa Kerajaan Hindu di Sumedang Larang, tetapi juga menandai dimulainya penyebaran agama Islam di wilayah tersebut.

Pangeran Santri dikenal sebagai sosok yang sangat alim dan memiliki pemahaman mendalam tentang ajaran Islam. Beliau menjadi murid Sunan Gunung Jati , Kanjeng Syarif Hidayatullah bin Abdullah bin Syarifah Mudaim (Rarasantang) binti Prabu Siliwangi, Prabu Jaya Dewata- Syayyid Janaluddin Husen al Kubra/Syayyud Husein Al Akbar/ Syekh Jumadil Kubra-, dan berperan penting dalam membawa pengaruh Islam di Sumedang Larang. Setelah menikah dengan Ratu Pucuk Umum, Pangeran Santri dinobatkan sebagai Raja Sumedang Larang dengan gelar Pangeran Kusumadinata I pada tahun 1530 Masehi.

Pangeran Santri dan Ratu Pucuk Umum memiliki beberapa anak, termasuk Prabu Geusan Ulun yang kemudian menjadi Raja Sumedang Larang berikutnya. Pangeran Santri wafat pada tahun 1579 Masehi dan dimakamkan di Gunung Ciung Pasarean Gede, Sumedang.

Prabu Geusan Ulun, yang bernama asli Rd. Angkawijaya/Rd. Anggawijaya, adalah seorang raja terkenal dari Kerajaan Sumedang Larang. Ia memerintah dari tahun 1578 hingga 1608 dan membawa Sumedang Larang ke puncak kejayaannya, dengan wilayah kekuasaan meliputi Kuningan, Bandung, Garut, Tasikmalaya, dan Sukabumi.

Profil Prabu Geusan Ulun:

  • Nama Lengkap : Pangeran Kusumadinata II atau Prabu Geusan Ulun
  • Nama Lahir : Angkawijaya
  • Tanggal Lahir: 19 Juli 1558
  • Masa Pemerintahan: 1578-1608
  • Ayah: Pangeran Santri (Kusumadinata I)
  • Ibu: Ratu Pucuk Umun

Peninggalan dan Warisan:

Mahkota Binokasih, simbol legitimasi dan kedaulatan kerajaanMuseum Prabu Geusan Ulun di Sumedang, Jawa Barat, sebagai tempat penyimpanan benda-benda pusaka dan sejarah kerajaan Makamnya di Dayeuh Luhur menjadi situs ziarah penting dan simbol warisan budaya  dan spiritualitas masyarakat Sumedang.

Rd. Aria Suria Atmadja pun berguru pada Imam Nawawi. Pangeran Aria Suria Atmadja, juga dikenal sebagai Pangeran Mekah atau Rd. Sadeli, lahir pada 11 Januari 1851 di Sumedang. Beliau adalah Bupati Sumedang ke-19 yang menjabat dari tahun 1883 hingga 1919. Pangeran Aria Suria Atmadja dikenal sebagai pemimpin yang adil, bijaksana, saleh, dan taat kepada Allah. Ia memiliki disiplin pribadi yang tinggi dan wibawa besar yang memancar dari empat sumber utama, yaitu kedudukannya sebagai bupati, ketakwaan dalam beragama, kepemimpinan yang tinggi, dan kedisiplinan yang kuat.

Pangeran Aria Suria Atmadja memiliki banyak jasa bagi masyarakat Sumedang, di antaranya:

  • Bidang Pertanian: Membangun sistem irigasi di sawah-sawah, penanaman sayuran, penghijauan di tanah gundul, dan membangun lumbung desa.
  • Bidang Peternakan: Mengembangkan peternakan di Sumedang.
  • Bidang Pendidikan: Menghibahkan tanah untuk sekolah pertanian di Tanjungsari dan menerapkan wajib belajar di Sumedang.
  • Bidang Keagamaan: Memberikan perhatian besar pada bidang keagamaan, termasuk membantu pembangunan masjid dan pesantren.
  • Bidang Kebudayaan: Mengembangkan kesenian Tari Tayub dan Degung, serta menciptakan lagu “Sonteng”.

Pangeran Aria Suria Atmadja wafat pada tanggal 1 Juni 1921 di Mekah ketika  menunaikan ibadah haji dan dimakamkan di pemakaman Ma’ala. Ia dikenal sebagai Pangeran Mekah karena wafat di Tanah Suci Mekah.

Berikut adalah nama-nama Bupati Bandung dari yang pertama hingga ketujuh:

  1. Pangeran ,Rd. Wira Angun Angun (1641-1709) – Bupati Bandung pertama
  2. Tidak ada informasi yang jelas tentang nama Bupati Bandung kedua
  3. Raden Tumenggung Anggadireja II (Bupati Bandung ke-IV)
  4. Raden Adipati Wiranatakusumah I (Bupati Bandung ke-V)
  5. Raden Tumenggung Wiranatakusumah II atau Dalem Kaum (1794-1829) – Bupati Bandung keenam.
  6. Dalem Karang Anyar Bandung sebenarnya  R. Aria Wiranatakoesoemah III, bukan Rd. Kumahdinata. Beliau  menjabat sebagai Bupati Bandung ketujuh dengan gelar Dalem Karang Anyar karena dimakamkan di daerah tersebut. Masa pemerintahannya berlangsung dari tahun 1829 hingga 1846 .

Namun, perlu dicatat bahwa informasi tentang Bupati Bandung pertama hingga ketujuh tidak lengkap dan tidak semua nama dapat diverifikasi. Beberapa sumber menyebutkan bahwa Wira Angun Angun adalah Bupati Bandung pertama yang memerintah pada tahun 1641-1709.

Kabupaten-kabupaten yang ada di Nusantara (Jawa Bagian Barat: Jabar-DKI-Banten). Banyaknya mereka berasal dari didikan para ‘Ulama dan juga sebagai ‘Ulama Penguasa. Mereka bergelar ningrat yang berbeda dengan gelar priyai.Para santri telah memiliki, seorang santri yang jadi raja, sultan, pangeran santri, yang menurunkan para bupati.

Betapa banyak Santri yg Gugur disaat zaman perlawanan terhadap Penjajahan. Ratusan ribu boleh jadi jutaan yang gugur.Imam Nawawi al-Bantani wafat pada tanggal 25 Syawal 1314 H atau 1897 Masehi. Berikut beberapa muridnya yang terkenal:

Murid dari Indonesia (Nusantara):

  • KH. Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama
  • KH. Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah
  • KH. Kholil al-Bangkalani, Madura
  • KH. Tubagus Ahmad Bakri as-Sampuri
  • KH. Tubagus Muhammad Asnawi al-Bantani, Caringin, Labuan, Pandeglang
  • KH. Arsyad Thawil al-Bantani, penyebar Islam di Sulawesi Utara dan pejuang Geger Cilegon 1888
  • KH. Wasyid, pejuang Geger Cilegon 1888
  • KH. Abdurrahman, pejuang Geger Cilegon 1888
  •  KH. Haris, pejuang Geger Cilegon 1888

Murid dari luar Indonesia:

  • Syaikh Abu al-Faidh Abdus Sattar bin Abdul Wahhab ad-Dahlawi, Delhi, India
  • Sayyid Ali bin Ali al-Habsy, pengajar di Masjidil Haram
  •  Syaikh Abdul Qadir bin Mustafa al-Fathani, Pattani, Thailand
  • Syaikh Muhammad Zainuddin bin Badawi as-Sumbawi, Sumbawa, Nusa Tenggara Barat

Makkah saat itu menjadi pusat para santri, yang melahirkan ‘ulama dan kiyai pejuang ketika santri santri pulang kembali ke negara asal. Imam Nawawi al Bantani , dimakamkan di Ma’la dekat Makam Syayyidah Khadijah al Qubra, istri Rasulullah SAW.

Para santri telah memiliki, seorang santri yg jadi raja, sultan, bahkan Presiden RI ke 4  , pangeran santri, yang menurunkan para bupati.

Di era republik, NKRI, santri yang menjadi Presiden, baru KH. Abdurahman Wahid bin Hasyim Wahid bin Hasyim Asyari (Gusdur), peletak dasar pluralusme , toleransi, dan demokratisasi. Dimana pengaruhnya hingga internasional. Sayangnya , beliau, memerintah tidak kurang 2 tahun dan wafat tahun 2005. Berkut santri  KH. Ma’ruf Amin, Wapres 2019-2024, sebagai Wakil Presiden Joko Widodo.

Para santri yang berkiprah pada pemajuan intekektual, Prof. Dr. Nurcholis Majid ( Cak Nur), Budayawan MH Ainun Najib ( Cak Nun). Masihkah para santri berperan dalam kancah tata kelola kenegaraan. Betapa banyak SDM dari santri.

Berdasarkan data terbaru dari Kementerian Agama (Kemenag) melalui sistem EMIS, jumlah pondok pesantren (pesantren) di Indonesia mencapai sekitar 42.300 lembaga. Namun, perlu diingat bahwa angka ini mungkin tidak mencerminkan jumlah sebenarnya karena beberapa pesantren mungkin belum terdaftar atau tidak memasukkan datanya ke dalam sistem EMIS.

Berikut rincian lebih lanjut tentang jumlah pesantren di Indonesia :

  • Jumlah Pondok Pesantren: 42.300
  • Pondok Pesantren dengan Kitab Kuning: 25.570
  • Pondok Pesantren dengan Kitab Kuning dan Pendidikan Formal: 16.529
  • Jumlah Santri: Lebih dari 3 juta santri dan diperkirakan antara 8-16 juta jika seluruh pesantren terdata dengan baik
  • Jumlah Ustadz: Sekitar 276.321 ustadz dan diperkirakan lebih banyak jika seluruh pesantren terdata

Data ini menunjukkan bahwa Jawa Barat memiliki jumlah pesantren terbanyak, yaitu 12.961 lembaga, diikuti Jawa Timur dan Jawa Tengah. Sementara itu, beberapa provinsi di Indonesia timur seperti Papua Barat dan Maluku memiliki jumlah pesantren yang relatif sedikit.

Mencermati kiprah para santri dalam membangun negara bangsa, luar biasa. Peluang dan tantangan bagi para santri ke depan. para santri harus mampu melihat keluar, dengan kemajuan saintek.

Ada pertanyaan, dari hasil penelutian tahun 2001, saat itu yang diteliti adalah 100 orang putra kiyai, secara acak, paradigma dan peran kiyai dalam mewariskan generasi. Dari 100 putra kiyai, 98 % nya tidak berkeinginan jadi kiyai, mereka ingin berkiprah di saintek, ekonomi dan politik.

Itu yang bisa disuguhkan sebagai catatan lepas untuk para Santri. Majulah Santri di NKRI

Cag!@Abah Yusuf-Doct/Kabuyutan

1 Jumadil Awal 1447 H

23 Oktober 2025

Komentar