Penulis: Dr. Dra. Elis Suryani Nani Sumarlina, M.S (Dosen FIB Unpad.)
MUNGKIN kita pernah mendengar ucapan “Saha nu baris ngaraksa, ngariksa, tur ngamumulé basa Sunda, lamun lain ku urang Sundana sorangan? Kini, sedikit demi sedikit, mulai terjawab. Di era Gen Z saat ini, para nonoman Sunda ‘generasi muda Sunda’, tampaknya sudah mulai engeuh ‘peduli’ terhadap eksistensi bahasa khususnya, budaya Sunda pada umumnya. Namun, ada pula generasi muda dan masyarakat awam yang masih meremehkan, bahkan mencemoohkannya. Mengapa?
Mereka yang mencemooh bahasa Sunda, mungkin tidak sadar atau bahkan tidak tahu, fakta yang sebenarnya. sehingga menyebut, bahasa Sunda kampungan, tidak usah dipelajari, tidak usah dipilih dalam SNBP dan sejenisna, untuk apa masuk jurusan Sastra Sunda? bahkan sampai ada yang menghina, bahwa bahasa Sunda hanya digunakan untuk berbicara dengan jurig ‘setan’. Pernyataan itu sungguh sangat keterlaluan dan tidak pantas dilontarkan oleh orang yang mengaku dirinya orang Sunda.
Memang benar, banyak faktor mengapa generasi muda bahkan masyarakat awam mencemooh bahkan menghina generasi muda yang masuk dan lolos ke Jurusan Sastra Sunda, karena mereka memiliki pikiran picik, tidak tahu yang sebenarnya, bahkan karena mereka tidak mengerti. Hal itu dimaklumi, Namun jika hal ini dibiarkan, akan merusak tatanan budaya dan merugikan prodi, Fakultas, dan universitas yang memiliki prodi Sastra Sunda.
Budaya Sunda, di tengah hingar bingarnya budaya asing yang kian merambah dan menyisihkan budaya pituinnya sendiri. Namun sebenarnya, generasi muda yang memiliki integritas tinggi, pintar, dan memahami situasi dan kondisi ke depannya, mereka sangat antusias dan memilih prodi, yang mudah mendapatkan pekerjaan setelah lulus. Hal ini dirasakan oleh Prodi Sastra Sunda Fakultas Ilmu Budaya Unpad dari tahun-tahun sebelumnya, sungguh amat menggembirakan. Peningkatan yang fantastis sejak lima tahun lalu, yang hampir beberapa kali lipat dari peminat calon mahasiswa. Jurusan yang sejak dibukanya program Studi ini minim dengan mahasiswa dan disebut sebagai madesu ‘masa depan suram’, kini sudah berubah drastis. Prodi Sastra Sunda FIB Unpad sejak lima tahun lalu menerima sebanyak 100 orang mahasiswa, hampir 2 kali lipat dari jumlah mahasiswa sebelumnya. Mahasiswa dimaksud merupakan hasil seleksi dari berbagai jalur yang ditetapkan.
Ada perasaan reueus ‘bangga’ menyelimuti hati kami sebagai pengajar berkaitan dengan fenomena yang ada kini. Sebenarnya tidak terlalu heran jika melihat hasil output alumni Sastra Sunda FIB Unpad sejak beberapa tahun terakhir, yang banyak menorehkan prestasi menggembirakan. Setiap wisuda, selalu ada mahasiswa yang mendapatkan IPK tertinggi yang mencapai nilai 3,95 lebih hingga 4,0. Malahan ada beberapa alumni yang menjadi mahasiswa lulusan terbaik se Unpad. Hal ini sungguh ironis memang, kalau melihat kondisi bahasa, sastra, dan budaya Sunda saat ini di masyarakat, yang ‘katanya’ sedang dalam keadaan ‘sekarat’, hirup teu neut paéh teu hos. Keadaan seperti itu sebenarnya tidak terjadi pada prodi sastra Sunda FIB Unpad, yang semakin diminati generasi mudanya.
Andai kita simak korelasi antara kondisi budaya Sunda dengan melonjaknya peminat yang daftar ke Prodi Sastra Sunda FIB Unpad. Kondisi saat ini, sebenarnya tidak ujug-ujug ‘serta merta’ terjadi dengan sendirinya secara spontan. Hal ini tentu saja hasil usaha dan kiprah prodi, fakultas, serta universitas. Dalam hal ini ada kiprah Rektor Unpad, yang senantiasa mendorong dan mengupayakan keberhasilan ‘prodi’ yang ada di bawah ‘naungannya’, agar tetap eksis bahkan lebih maju, serta berkembang untuk menggapai prestasi. Disertai harapan, semoga keberhasilan ini dibarengi dengan peningkatan sarana dan prasarana yang lebih baik dan memadai tentunya.
Output lulusan Prodi Sastra Sunda FIB Unpad mampu bersaing dengan lulusan program studi lainnya. Hal ini dimungkinkan, karena lulusannya bukan hanya belajar ‘bahasa’ Sunda semata, tetapi lebih luas. Mahasiswa belajar Elmu Kasundaan ’Ilmu Kesundaan’. Mahasiswa sejak awal sudah dibekali dengan ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan budaya Sunda secara umum, yang terbagi ke dalam tiga kajian konsentrasi, yakni: Linguistik, filologi, Sastra dan budaya. tDengan demikian, mahasiswa lulusan Sastra Sunda FIB Unpad, selain mampu berkompetisi juga sudah dibekali dengan beragam keterampilan, baik dalam bidang bahasa, sastra, maupun filologi/pernaskahan.
Prodi Sastra Sunda FIB Unpad menyandang Akreditasi Unggul menuju Go Internasional. Maka dari itu, Sastra Sunda sering mendatangkan Dosen dan Narasumber/ahli dari mancanagara, seperti Belanda, Jepang, Australia, Amerika, Inggris, dan negara lainnya. Untuk itu, para mahasiswanya pun dibekali beragam mata kuliah terkait bahasa, seperti Sansekerta, Kawi (Jawa Kuno), Arab, Inggris, Belanda, dan Sunda Kuno. Dari segi filologi, diperkenalkan aneka ragam naskah dan seluk beluknya, meliputi naskah obat-obatan, kuliner, agama/religi, pemerintahan, pertanian, hukum, kosmologi, kepemimpinan, astronomi, yang akan berguna bagi bidang ilmu lain secara multidisipliner. Aksara yang diajarkan khususnya Aksara Sunda (Kuno), Cacarakan, Pegon, di samping Jawa Kuno, dan Sansekerta. Hal ini bertujuan agar lulusannya mampu bersaing dengan universitas lain. Alumninya menjadi ASN di pemerintahan, bank, Guru, Dosen, anggota DPR, wiraswasta, PJKA, Disparbud, Balai Bahasa Prov. Jabar, Perpusnas RI, Dispusipda, dan bekerja di Belanda. Ada beberapa mahasiswanya yang pernah ke luar negeri melalui pertukaran mahasiswa, seperti Amerika, Korea, Jepang, dan negara lainnya. (****














Komentar