Oleh: Gilarsi W. Setijono
Abstrak
Di Demak, Jawa Tengah, desa-desa pesisir seperti Betahwalang dan Bedono pernah menghadapi takdir yang tampak pasti: abrasi yang melahap daratan, banjir rob yang rutin merendam rumah, dan anak-anak muda yang satu per satu pergi ke kota karena laut tidak lagi memberi makan. Tapi kisah mereka tidak berhenti di sana. Dengan merestorasi mangrove, mengelola perikanan secara berkelanjutan, dan mengembangkan ekowisata berbasis alam, desa-desa ini membuktikan bahwa blue economy dan circular economy bukan sekadar jargon—keduanya adalah strategi bertahan hidup yang mengubah “desa yang tenggelam” menjadi “desa yang regeneratif”.
Hasilnya? Air pasang melambat, tebing tidak runtuh lagi, ikan kembali beranak pinak di akar mangrove, dan yang paling mengejutkan: anak muda punya alasan untuk bangga pada kampungnya sendiri. Esai ini menceritakan tiga sumber nilai—ekologis, ekonomi, dan sosial—yang tercipta ketika desa pesisir berhenti mengekstraksi dan mulai meregenerasi. Dan ini adalah provokasi untuk pembuat kebijakan: insentif fiskal dan subsidi Anda hari ini lebih banyak mengalir ke model ekonomi yang menimbulkan banjir dan abrasi, bukan ke desa-desa yang justru melindungi daerah hilir dan menjaga garis pantai.
Desa yang Tadinya Tenggelam
Coba, bayangkan sebentar: Anda tinggal di Betahwalang, sebuah desa di pesisir utara Demak, Jawa Tengah. Tahun 1995, abrasi datang seperti pencuri berulah—setiap tahun garis pantai mundur, menelan sawah tambak, merobohkan rumah panggung, dan mengubah daratan jadi lautan. Air pasang rob menjadi rutinitas yang menakutkan: setiap bulan purnama, air laut masuk ke halaman, merendam dapur, menghancurkan panen garam, dan meninggalkan trauma yang tidak bisa dijemur seperti ikan asin. Hutan mangrove—yang tadinya berdiri sebagai benteng alami—sudah hampir habis ditebang untuk kayu bakar, tambak udang, dan pembangunan yang mengutamakan keuntungan jangka pendek tanpa perhitungan jangka panjang.
Anak-anak muda di desa itu melihat masa depan yang suram: laut yang dulu memberi makan kini justru mengancam. Tangkapan ikan semakin sedikit karena habitat pesisir rusak. Kepiting yang dulu melimpah kini jarang terlihat. Satu per satu, mereka pergi ke kota—mencari kerja di pabrik, jadi buruh bangunan, atau supir ojek online—karena tinggal di kampung tidak lagi terasa seperti pilihan, melainkan jebakan. Desa-desa pesisir ini seperti perahu bocor: bukan karena ombak terlalu besar, tapi karena papannya sengaja dibongkar untuk dijual.
Blue Economy: Laut Sebagai Sumber Nilai, Bukan Sekadar Tambang
Lalu datanglah kesadaran—atau lebih tepatnya, keputusasaan yang memaksa kesadaran. Pada awal 2000-an, komunitas lokal, dibantu oleh pemerintah daerah dan organisasi konservasi seperti Wetlands International, mulai merestorasi hutan mangrove. Tidak dengan retorika heroik atau janji politik, tapi dengan tindakan konkret: menanam bibit mangrove satu per satu di lumpur yang becek, membangun permeable groyne (pemecah ombak hibrida yang memperlambat gelombang tanpa menutup aliran air), dan mengelola perikanan secara berkelanjutan.
Inilah yang disebut blue economy: ekonomi berbasis laut yang tidak lagi hanya mengekstraksi, tapi meregenerasi. Blue economy berarti mengelola sumber daya laut—ikan, rumput laut, mangrove, terumbu karang—dengan cara yang memastikan ekosistem tetap hidup untuk generasi berikutnya. Bukan sekadar “jangan overfishing”, tapi “bagaimana caranya tangkapan hari ini juga menyuburkan ekosistem untuk tangkapan tahun depan?”.
Di Demak, blue economy diterjemahkan ke dalam tiga praktik sederhana namun revolusioner:
- Restorasi Mangrove: 445 bibit mangrove ditanam dengan sistem adopsi melibatkan masyarakat, sekolah, dan universitas—setiap pohon punya “orang tua angkat” yang bertanggung jawab memantau pertumbuhannya. Hasilnya? Dalam tiga bulan, 87 persen bibit bertahan hidup di lokasi pertama. Hutan mangrove yang tadinya gundul kini kembali hijau.
- Perikanan Berkelanjutan: Nelayan yang tadinya menggunakan pukat harimau dan bom ikan—metode yang membunuh ekosistem—kini beralih ke alat tangkap selektif yang membiarkan ikan kecil lolos, memastikan populasi ikan tetap berkembang. Tangkapan hari ini tidak lagi mengorbankan tangkapan masa depan.
- Ekowisata Berbasis Alam: Hutan mangrove yang dulunya “hanya hutan” kini menjadi destinasi wisata edukasi. Pengunjung datang untuk belajar tentang pentingnya mangrove, berfoto di dermaga kayu yang berkelok-kelok di antara akar napas, dan menikmati matahari tenggelam di balik kanopi hijau. Dan yang penting: uang masuk ke kantong warga desa, bukan ke korporasi jauh.
Circular Economy: Tidak Ada yang Terbuang, Semua Tersirkulasi
Blue economy di desa pesisir ini tidak berdiri sendiri—ia terjalin erat dengan prinsip circular economy. Circular economy berarti tidak ada “sampah” atau “limbah” dalam sistem; yang ada hanya bahan baku untuk proses berikutnya. Di hutan mangrove, ini sudah terjadi secara alami selama jutaan tahun: daun gugur menjadi kompos, kompos menjadi nutrisi tanah, nutrisi diserap akar, pohon tumbuh, buah dimakan kepiting, kotoran kepiting menyuburkan tanah lagi. Siklus tertutup. Tidak ada yang hilang.
Desa-desa di Demak meniru prinsip ini:
- Limbah organik dari rumah tangga dikembalikan ke tanah sebagai kompos untuk kebun sayur.
- Hasil hutan non-kayu—seperti buah mangrove yang bisa diolah jadi sirup, daun untuk obat tradisional, dan cangkang kepiting untuk kerajinan—dimanfaatkan tanpa merusak pohon.
- Rumput laut yang dibudidayakan di perairan pesisir tidak hanya dijual mentah, tapi diolah jadi produk bernilai tambah seperti agar-agar, kosmetik, dan pupuk organik—dan sisa pengolahan dikembalikan ke laut sebagai nutrisi untuk biota lain.
Ini bukan teknologi canggih. Ini hanya meniru cara kerja alam—dan hasilnya luar biasa efektif.
Tiga Sumber Nilai: Ekologis, Ekonomi, dan Sosial
Setelah lebih dari dua dekade restorasi, desa-desa seperti Betahwalang, Bedono, dan Wedung menyaksikan tiga perubahan mendasar:
- Nilai Ekologis: Air Lebih Pelan, Banjir Berkurang, Tebing Tidak Runtuh
Hutan mangrove yang kini rapat kembali berfungsi sebagai benteng alami. Gelombang pasang yang tadinya menghantam pemukiman dengan ganas kini diperlambat oleh akar-akar mangrove yang padat seperti jaring raksasa. Abrasi yang tadinya merenggut puluhan meter daratan setiap tahun kini melambat drastis—bahkan di beberapa titik, sedimen mulai terakumulasi kembali, “menumbuhkan” daratan baru. Air rob masih datang, tapi tidak lagi setinggi dulu, tidak lagi membawa kekuatan destruktif yang menghancurkan rumah.
Seperti yang diungkapkan oleh penelitian di Demak, mangrove yang direstorasi tidak hanya memperlambat abrasi, tetapi juga menjebak sedimen dan memperbaiki kualitas tanah pesisir. Tebing tidak runtuh lagi karena akar mangrove mengikat tanah seperti jahitan rapat.
- Nilai Ekonomi: Pendapatan Baru dari Hasil Hutan, Ikan, dan Wisata
Ekonomi desa berubah total. Tangkapan ikan dan kepiting meningkat karena ekosistem mangrove menjadi nursery ground—tempat ikan muda dan kepiting tumbuh sebelum keluar ke laut lepas. Nelayan tidak perlu melaut jauh lagi; ikan ada di dekat rumah.
Ekowisata mangrove Morosari di Bedono kini menarik ribuan pengunjung setiap tahun. Warga desa yang tadinya hanya nelayan kini punya peran ganda: sebagai pemandu wisata, penjaga pintu masuk, pengelola warung makan, dan produsen kerajinan dari hasil hutan non-kayu. Pendapatan meningkat signifikan—cukup untuk memenuhi kebutuhan harian dan bahkan menyekolahkan anak-anak ke jenjang lebih tinggi.
Valuasi ekonomi menunjukkan bahwa satu hektar mangrove di Demak memberikan nilai jasa ekosistem yang jauh lebih besar daripada jika hutan itu ditebang dan diubah jadi tambak. Dan yang penting: pendapatan ini berkelanjutan, tidak habis dalam satu generasi.
- Nilai Sosial: Anak Muda Punya Alasan Bangga, Bukan Hanya Ingin Pergi
Inilah perubahan paling mengejutkan: anak muda tidak lagi hanya ingin kabur ke kota. Kelompok pemuda desa kini mengelola nursery mangrove, mengorganisir tur ekowisata, dan mengajarkan pengunjung tentang pentingnya menjaga pesisir. Mereka tidak lagi melihat desa sebagai tempat “yang sudah tidak ada apa-apa”, tapi sebagai laboratorium hidup untuk ekonomi regeneratif.
Ada kebanggaan baru: desa mereka kini jadi contoh, dikunjungi peneliti dari berbagai universitas, dijadikan model untuk desa pesisir lain. Dan pembangunan di sini bukan berarti meninggalkan kampung, tapi membuat kampung layak untuk ditinggali—dan dibanggakan.
Pertanyaan: Subsidi Anda Mengalir ke Mana?
Sekarang mari kita bicara soal ironi paling menyakitkan: sementara desa-desa seperti Betahwalang dan Bedono berjuang keras untuk merestorasi mangrove dan menjaga garis pantai dengan dana swadaya dan bantuan terbatas, insentif fiskal dan subsidi pemerintah justru mengalir deras ke sektor-sektor yang menciptakan masalah yang sama.
Subsidi bahan bakar fosil—yang pada puncaknya mencapai miliaran dolar per tahun—mengalir ke industri ekstraktif yang memicu emisi, perubahan iklim, dan kenaikan permukaan laut yang mengancam desa pesisir. Tax allowance dan pembebasan pajak impor diberikan kepada perusahaan energi dan manufaktur yang modelnya linear: ekstraksi → produksi → pembuangan. Sementara itu, desa yang menanam mangrove, mengelola ikan secara berkelanjutan, dan mengembangkan ekowisata hampir tidak mendapat insentif fiskal signifikan.
Ini bukan sekadar alokasi anggaran yang salah—ini adalah desain ekonomi yang memberi hadiah kepada yang merusak dan mengabaikan yang melindungi.
Kepada Menteri Keuangan, Kepala Bappenas, Kepala Dinas Perikanan, dan siapa pun yang menandatangani kebijakan insentif: subsidi dan insentif fiskal Anda hari ini menentukan garis pantai sepuluh tahun ke depan. Setiap rupiah yang mengalir ke industri ekstraktif adalah investasi pada abrasi masa depan. Setiap pembebasan pajak untuk sektor yang tidak menghitung eksternalitas ekologis adalah tagihan yang akan dibayar desa pesisir dengan daratan yang tenggelam dan rumah yang hanyut.
Bagaimana jika insentif itu dibalik? Bagaimana jika desa yang merestorasi mangrove mendapat tax credit untuk setiap hektar hutan yang tumbuh kembali? Bagaimana jika nelayan yang beralih ke alat tangkap berkelanjutan mendapat subsidi peralatan? Bagaimana jika ekowisata berbasis konservasi mendapat pembebasan pajak, bukan hanya hotel bintang lima yang menggerus pantai?
Seperti Si Kabayan yang menggali lubang untuk menutup lubang lain, kita terus memberi subsidi pada yang merusak, lalu mengalokasikan APBD untuk tanggap darurat banjir dan abrasi yang kita ciptakan sendiri. Pertanyaannya bukan lagi “apakah kita mampu menyelamatkan desa pesisir?” Pertanyaannya adalah: “apakah kita berani menghentikan kebijakan yang menenggelamkan mereka?”
Blue Meets Circular: Prinsip Laut, Prinsip Hutan, Prinsip Hidup
Blue economy—yang “asalnya” dari laut—dan circular economy—yang “asalnya” dari cara kerja hutan—sebenarnya adalah dua nama untuk prinsip yang sama: tidak ada yang terbuang, semua tersirkulasi, dan setiap akhir adalah awal yang baru.
Di laut, ikan mati dimakan udang, kotoran udang menyuburkan plankton, plankton dimakan ikan kecil, ikan kecil dimakan ikan besar—siklus tertutup. Di hutan, daun gugur jadi kompos, kompos jadi tanah, tanah jadi pohon—siklus tertutup. Dan ketika desa pesisir meniru prinsip ini—merestorasi mangrove, mengelola ikan tanpa menghabiskan, mengolah hasil hutan tanpa merusak—mereka tidak sedang “menerapkan konsep ekonomi modern”, mereka hanya kembali ke cara kerja alam yang sudah berjalan jutaan tahun.
Ironinya? Kita merobohkan hutan dan menguras laut untuk membangun ekonomi linear, lalu membayar konsultan mahal untuk mengajari kita kembali ke cara kerja hutan dan laut. Kalau ini bukan absurditas, apa namanya?
Desa yang Tidak Lagi Tenggelam—dan Ajakan untuk yang Lain
Desa-desa di Demak membuktikan satu hal sederhana namun radikal: desa pesisir tidak harus tenggelam. Abrasi bukan takdir yang tak terhindarkan. Banjir rob bukan murka alam. Anak muda yang pergi ke kota bukan satu-satunya pilihan. Semua itu adalah konsekuensi dari keputusan struktural yang bisa—dan harus—diubah.
Bayangkan jika setiap desa pesisir di Indonesia—dari Aceh sampai Papua—mengikuti jejak Demak. Bayangkan jika 600.000 hektar target restorasi mangrove yang dijanjikan pemerintah benar-benar terealisasi dengan pendampingan yang kuat, insentif yang tepat, dan komitmen jangka panjang. Bayangkan jika blue economy dan circular economy bukan lagi jargon di dokumen perencanaan, tapi prinsip operasional di setiap desa, setiap kota, setiap bisnis.
Tidak perlu teknologi mahal. Tidak perlu konsultan internasional. Yang dibutuhkan hanya tiga hal: kesadaran bahwa ekosistem adalah aset, keberanian untuk mengubah kebijakan ekstraktif jadi regeneratif, dan komitmen untuk memberi insentif kepada yang melindungi, bukan yang merusak.
Pertanyaan terakhir, untuk Anda yang membaca ini—apakah Anda pembuat kebijakan, pengusaha, atau warga biasa: sanggupkah kita belajar dari desa-desa yang tadinya tenggelam, tapi kini bangkit karena mereka memilih meregenerasi, bukan mengekstraksi? Ataukah kita akan terus mengalirkan subsidi dan insentif ke model ekonomi yang menciptakan banjir, abrasi, dan desa-desa yang terus tenggelam—lalu heran kenapa garis pantai kita semakin mundur setiap tahun?
Catatan Kaki: Kondisi Terkini (November 2025)
Kisah Betahwalang, Bedono, dan Wedung yang diceritakan dalam esai ini didasarkan pada upaya restorasi mangrove yang dimulai awal 2000-an dan menunjukkan hasil positif dalam dekade pertama. Namun, perlu dicatat bahwa perjuangan mereka belum selesai dan masih berlangsung hingga hari ini dengan tantangan yang terus berulang.
Bedono adalah contoh paling menyakitkan: meskipun penanaman mangrove terus berlanjut—97.862 pohon ditanam sejak 2017 oleh berbagai pihak—200 rumah telah tenggelam akibat abrasi dan rob dalam 10-20 tahun terakhir. Analisis citra satelit menunjukkan kondisi mangrove meningkat dari 2014-2023, namun tidak cukup cepat mengimbangi laju abrasi.
Betahwalang masih aktif dalam konservasi mangrove hingga Oktober 2024, dengan penelitian struktur komunitas mangrove yang terus berlangsung. Namun desa ini tetap menghadapi tekanan abrasi dan risiko laut yang tinggi.
Wedung memiliki potensi ekowisata mangrove yang ramai dikunjungi, tetapi terkendala fasilitas penunjang seperti jalan dan dermaga yang belum memadai.
Yang paling penting: Kabupaten Demak, termasuk wilayah Sayung dan Bonang, masih menjadi langganan banjir dan rob hingga 2024. Banjir Maret 2024 melanda 89 desa di 11 kecamatan akibat jebolnya 6 tanggul Sungai Wulan.
Ini bukan untuk mengurangi nilai perjuangan mereka, melainkan untuk memperkuat provokasi esai ini: restorasi mangrove berhasil memperlambat kerusakan, tetapi tanpa kebijakan struktural dan insentif fiskal yang mendukung secara konsisten, desa-desa pesisir tidak akan menang melawan abrasi dan rob. Mereka sudah menanam—sekarang giliran pembuat kebijakan untuk “menyiram” dengan kebijakan yang serius. (***
GWS, 18 Desember 2025






Komentar